Menyaksikan sinema bernuansa Islami, terkadang dapat menelurkan pertanyaan seperti “kok peran lelaki begitu dominan dalam penyelesaian masalah?” atau pertanyaan “apa benar perempuan selalu mengekor pada tiap keputusan yang diambil oleh pasangannya”.
Pertanyaan di atas mungkin setidaknya bisa “menyengat” cara berpikir kita. Menyengat di sini merujuk pada titik kegelisahan yang muncul dikarenakan nilai yang dipelajari terasa berbeda tatkala bercengkerama di tengah masyarakat.
Salah satu fungsi dari “pertanyaan yang menyengat” adalah mengajak diri kita untuk melakukan refleksi. Refleksi diri ini juga mampu mengajak kita agar tidak terlibat dalam penguatan citra dalam diri perempuan dan lelaki yang telah mapan. Citra tersebut biasanya menjelma pada sisi maskulinitas dan feminitas.
Untuk mengetahui seberapa jauh penguatan citra maskulin dan feminin, kita dapat membaca buku berjudul Gender, Muslim, & Sinema: Citra Maskulinitas dan Feminitas Tradisional dalam Film-film Islami Indonesia Pasca-Orde Baru karya Dwiki Aprinaldi (Warning Books, 2022). Sebelum masuk lebih dalam mengenai pembentukan dan pengukuhan akan citra, Dwiki Aprinaldi mengenalkan terlebih dahulu apa itu heteronormativitas, stereotip gender, performativitas gender, hingga bermuara pada penguatan citra maskulin dan feminin dalam sinema islami di Indonesia pasca-Orde Baru.
Dwiki Aprinaldi melakukan analisis terhadap 62 sinema islami pasca-Orde Baru. Dalam analisis tersebut, penulis salah satunya menitikberatkan pada pembagian peran sosial, sifat, dan perilaku yang diasosiasikan pada laki-laki dan perempuan. Melalui data yang didapatkan, pemilihan peran dengan jenis kelamin laki-laki dan perempuan ternyata jumlahnya tidak terpaut jauh.
Namun, letak permasalahannya lebih dari itu, tokoh laki-laki tetap harus memiliki sifat yang maskulin, seperti harus berani, dan memiliki peran sosial menjadi sosok pengembara dan haus akan karir. Sedangkan mayoritas tokoh perempuan digambarkan dengan sifat tidak kompetitif dan hanya menjadi pengekor bagi pasangannya.
Kondisi seperti ini mampu membuat reproduksi pengetahuan mengenai gender makin sempit dan sampai pada tahap pendisiplinan identitas gender. Pendisiplinan ini bertujuan agar tiap lelaki maupun perempuan harus tetap pada koridor yang telah ditentukan. Koridor tersebut mencakup peranan sosial, sifat, perilaku, dan atribut yang dikenakan harus sesuai dengan pemahaman yang telah mapan di pusaran otak masyarakat.
Dalam buku tersebut, setidaknya pembaca akan mampu memahami sedikit peran dari tiap tokoh melalui sinopsis yang dihadirkan oleh penulis. Selain itu, melalui sinopsis sinema juga, setidaknya kita dapat mengetahui bahwa sinema juga turut berkontribusi dalam melakukan sosialisasi gender.
Salah satu hal yang menakutkan dari sosialisasi gender ini adalah internalisasi pengetahuan. Internalisasi pengetahuan merupakan kondisi di mana proses penyerapan pengetahuan yang akan membentuk keyakinan, sikap, dan perilaku dari seseorang. Dengan pengetahuan terkait bias gender yang telah terinternalisasi, maka sangat memungkinkan kita juga dapat terserap dalam pengetahuan tersebut.
Lebih buruk lagi tatkala kita mencoba menanyakan perihal gender, tidak menutup kemungkinan kita akan “dihujani” ejekan, seperti “kamu kenapa bisa tanya seperti itu?”, atau “kan memang seharusnya kehidupan kita sebagai lelaki harus menjadi kuat dan selalu memimpin seperti yang muncul pada film-film”.
Sempitnya ruang untuk keluar dari citra maskulin dan feminin juga tercermin dari timpangnya jumlah sutradara laki-laki dan perempuan. Dampak dari ketimpangan ini akan membuat masyarakat sulit untuk menelanjangi citra yang telah mapan. Tatkala seseorang mencoba untuk menepi dari citra yang telah ada, lambat laun ia akan mulai mendapatkan teror verbal maupun non-verbal dari orang lain.
Terdapat satu kalimat dalam buku tersebut yang mampu mengajak kita untuk melakukan refleksi. Kalimat tersebut berbunyi, “Perkembangan film suatu bangsa hanya dapat dipahami secara utuh dalam hubungannya dengan pola psikologis aktual bangsa itu melalui teknik dan isi cerita dalam film yang menangkap kenyataan dan keseharian masyarakat yang lebih dekat pada kenyataan hakiki”.
Melalui kalimat yang dilayangkan di atas, dapat dipahami bahwa konstruksi pemahaman dari kehidupan masyarakat dapat ditelusuri melalui sinema yang diproduksi dan dikonsumsi. Meski terdengar menjadi kesimpulan yang prematur, setidaknya pengetahuan tersebut akan terus membawa kita berlabuh pada tiap pertanyaan yang akan dimunculkan. []
*Ulasan buku berjudul Gender, Muslim, & Sinema: Citra Maskulinitas dan Feminitas Tradisional dalam Film-film Islami Indonesia Pasca-Orde Baru karya Dwiki Aprinaldi (Yogyakarta, Warning Books, 2022)
Editor: Kanya Kiarra
Hai, suka pada tulisan ini?
Kami paham, kehidupan yang menyebalkan sekarang sering membuat kita tak punya waktu untuk menulis, meski banyak kenyataan yang membuat kita berpikir dan bahkan yakin bahwa penderitaan ini sama pula dampaknya. Maka, mari biasakan untuk berterima kasih pada mereka yang telah meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk menuliskan keresahan serta kekecewaan kita. Dengan cara apa? Sederhana. Berilah apresiasi pada kerja-kerja sunyi mereka lewat link di bawah ini.








