Bayangkan sebuah rumah kayu di tepi Sungai Kapuas. Di sana, seorang anak lelaki duduk dengan tenang di bawah lampu minyak, menatap potongan pesawat kertas yang dia bentuk dari lembaran LKS bekas. Dia bukan anak Jakarta, bukan anak Parepare. Dia anak Kalimantan Barat, tapi cita-citanya sama: membelah langit.
Apakah kita akan mengenalnya sebagai Prof. Dr. Ing. B. J. Habibie, Sang Presiden RI ke-3? Atau hanya sebagai Adi, pemuda cerdas yang kisahnya tak pernah tertulis karena tak sempat dilihat?
Jika Bacharuddin Jusuf Habibie lahir di Kalimantan Barat, bagaimana kisahnya akan berjalan? Akankah dia punya akses ke pendidikan berkualitas? Apakah dia akan diterima di SMAK Dago seperti dulu? Ataukah dia harus melewati sekolah-sekolah dengan ruang kelas retak, guru honorer tak terbayar, dan perpustakaan yang kosong?
Habibie, dalam banyak wawancara, selalu menekankan pentingnya pendidikan dan dukungan lingkungan. “Kalau bukan karena ibu saya, saya tidak akan bisa kuliah ke luar negeri,” katanya suatu waktu. Namun, di Kalimantan Barat, apakah ada cukup ‘ibu-ibu’ seperti Hasri Ainun untuk membakar api semangat anak-anaknya?
Data menunjukkan bahwa rata-rata lama sekolah di Kalimantan Barat adalah 7,6 tahun—di bawah rata-rata nasional. Artinya, banyak anak merasakan hangat bangku sekolah hanya sampai tingkat SMP. Sementara itu, akses ke pendidikan tinggi masih sangat rendah: hanya 5,67% warga Singkawang menyelesaikan kuliah pada 2024.
Habibie kecil tumbuh di Parepare, Sulawesi Selatan, tetapi mendapat akses pendidikan di Jawa. Dia kemudian dikirim ke Jerman, tempat di mana nalar teknokratnya benar-benar terbentuk.
Di Kalimantan Barat, anak-anak tumbuh di antara hutan lebat dan sungai luas. Mereka tak kekurangan imajinasi. Namun mereka kekurangan panggung. Di daerah perbatasan seperti Entikong atau daerah pegunungan Kapuas Hulu, sekolah-sekolah masih kekurangan listrik dan guru.
“Buku fisika hanya dua di perpustakaan, itu pun dari tahun 1995,” ujar Pak Suyatno, guru di Sekadau. “Kalau ada yang tanya tentang roket, saya buka YouTube—kalau sinyalnya ada.”
Infrastruktur dasar seperti internet, listrik stabil, atau pelatihan guru masih menjadi tantangan harian. Kalimantan Barat bukan tak punya anak jenius. Namun sering kali, sistemnya tidak cukup kuat dan layak untuk menemani mereka tumbuh.
Potensi yang Tak Tergarap
Coba bayangkan Habibie kecil duduk di SDN 06 di pinggiran Sintang. Dia membuat kapal mini dari batang pisang, mencoba menyeberangkannya di sungai. Guru fisikanya adalah guru PNS satu-satunya yang tersisa, sedang guru IPA lainnya sudah berhenti karena tidak diperpanjang kontrak.
Bagaimana mungkin seorang calon perancang pesawat bisa tumbuh tanpa laboratorium?
Padahal, Kalimantan Barat memiliki kekayaan konteks yang luar biasa untuk eksplorasi: energi terbarukan, konservasi hutan, teknologi pemetaan, bahkan kajian kebudayaan multietnik. Namun, tanpa SDM dan dukungan sistemik, semua itu tinggal potensi diam.
baca juga:
–Riwayat Kebudayaan Pangan Indonesia
–Masyarakat Adat Korban Pembangunan: Realita di Balik Narasi Kemajuan
Habibie menulis ratusan paper teknik pesawat dan dikenal sebagai otak di balik pesawat CN-235. Dia menulis karena punya pembimbing, laboratorium, dan misi.
Di Kalimantan Barat, pada 2022 hanya ada sekitar 45.000 mahasiswa aktif di perguruan tinggi—sebagian besar di Pontianak. Sementara kabupaten lain belum punya universitas negeri dengan spesialisasi kuat.
“Minat terhadap sains dan teknologi masih rendah,” kata Dr. Rini, dosen di UNTAN. “Bahkan di kampus, lebih banyak mahasiswa memilih bidang manajemen dan hukum.”
Ketiadaan ekosistem riset, minimnya pendanaan, dan kurangnya kolaborasi dengan sektor industri membuat banyak mahasiswa cerdas akhirnya berhenti di tengah jalan. Seandainya Habibie lahir di Kalbar, mungkinkah dia menjadi akademisi atau malah menjadi petani sawit seperti teman sekolahnya?
Salah satu mahasiswa FKIP UNTAN, Arif, mengatakan, “Kalau Habibie lahir di Kalbar, dia butuh banyak keberuntungan untuk bisa sampai seperti sekarang.”
Dia menyoroti bahwa kurikulum di kampusnya masih terlalu teoritis, jarang menyentuh isu pendidikan pinggiran. “Kami belajar pedagogi, tapi tak pernah diajak melihat bagaimana cara mengajar di perbatasan atau komunitas adat.”
Mahasiswa FKIP punya potensi menjadi agen perubahan pendidikan. Namun mereka juga butuh ruang berpikir, peluang magang berbasis masalah nyata, dan dosen yang mengajak berdialog soal pendidikan yang kontekstual, bukan hanya teknis.
Dalam banyak diskusi publik, pendidikan Kalimantan Barat hanya disebut sekilas. Padahal, sebagai provinsi yang strategis (berbatasan langsung dengan Malaysia), pengembangan SDM di Kalbar seharusnya jadi prioritas nasional.
Sayangnya, alokasi anggaran untuk pendidikan masih belum berbanding lurus dengan kebutuhan daerah-daerah 3T (Tertinggal, Terluar, Terdepan). Padahal, membangun laboratorium fisika atau mengirim guru terbaik ke desa-desa bukan hal mustahil—jika ada kemauan politik.
Jalan Keluar: Menciptakan Ekosistem Habibie Baru
Seandainya BJ Habibie memang lahir di Kalbar, satu-satunya peluangnya adalah ekosistem yang berpihak. Beasiswa afirmatif daerah tertinggal yang bukan hanya untuk kuliah, tapi juga untuk riset dan magang teknologi. Penguatan LPTK daerah, seperti kampus pendidikan yang harus mulai membuka program inkubasi pendidikan lokal, bukan hanya menyalin kurikulum pusat.
Lalu kolaborasi lintas sektor, seperti riset pendidikan berbasis hutan, ekologi, atau sosial budaya Kalbar dapat menjadi bahan pembelajaran yang khas dan relevan. Bahkan literasi dan eksplorasi sejak dini, seperti Habibie yang diajak ibunya belajar teknik dari kecil, anak-anak Kalbar perlu dikenalkan pada eksperimen, percobaan, dan permainan berpikir sejak SD.
Hal yang terpenting bukan di mana, melainkan apa yang kita buat di sana. Habibie memang tidak lahir di Kalbar, tapi ada ratusan, bahkan ribuan anak Kalimantan yang menatap langit dan bermimpi seperti dia.
Pertanyaannya: apakah kita siap membuka langit itu untuk mereka?
Sebab setiap provinsi di Indonesia seharusnya bisa melahirkan seorang Habibie—asal kita cukup berani untuk membangun ekosistem pendidikan yang berpihak, kontekstual, dan berkelanjutan.
*Tulisan ini dipublikasikan pertama kali pada 12/07/2025 (https://irvanaruna.blogspot.com/2025/07/jika-bj-habibie-lahir-di-kalimantan.html?m=1).
Suka dengan tulisan ini? Kamu bisa mengirimkan donasi kepada penulis agar penulis lebih semangat menulis.








