The Ugly Stepsister: Penderitaan di Balik Kecantikan Perempuan

Penulis

Perempuan dipaksa masuk dalam kubangan kontestasi yang bernama kecantikan. Standar kecantikan sosial yang tak ada habisnya. Bahkan ketika perempuan mengubah salah satu bagian dari tubuhnya untuk memenuhi standar itu, perempuan masih dituntut untuk menutupi upaya tersebut. Jika seorang perempuan ketahuan mengubah bagian tertentu pada tubuhnya, maka cemoohan yang akan menghampiri. “Tidak mensyukuri ciptaan Tuhan,” adalah cemoohan yang kerap saya temui di media sosial. Jadi, tak mengherankan jika ada tren gaya riasan alami – clean makeup. 

Setidaknya begitulah kira-kira Emilie Kristine Blichfeldt menyuguhkan kritik sosial terhadap standar kecantikan pada pembukaan film garapannya: The Ugly Stepsister.

Dalam pembukaan film yang berlatar waktu abad ke-19 di Eropa Tengah, Rebekka menegur Elvira untuk mingkem lewat dialog yang tersirat. 

“Elvira, your braces,” ungkap Rebekka sesampainya mereka di sebuah kastil seorang raja. Mereka disambut oleh seorang raja bersama dengan putrinya (Agnes) yang berparas cantik, anggun, dan nyaris nampak begitu sempurna. Elvira segera mingkem. Ia paham betul maksud ibunya.

Rebekka adalah seorang janda yang memiliki dua putri yaitu Elvira si sulung dan Alma si bungsu. Paras kedua putrinya jauh dari standar kecantikan sosial – memiliki tubuh gembul, gigi tak rapi, rambut yang bergelombang, dan hidung yang tak simetris. 

Film ini berdurasi 1 jam 45 menit dengan palet warna kekuningan – juga dengan permainan kontras tinggi-rendah – yang memberikan nuansa klasik dan mencekam. Penonton akan disuguhkan perbukitan, hutan nan asri juga kastil yang menjulang tinggi. Namun, siapa sangka, dibalik keindahan dan kesejukan itu ada penderitaan seorang perempuan yang tragis, horror, dan berdarah-darah. Semua itu demi menjadi “cantik” untuk menggaet laki-laki – seorang pangeran tampan. 

Seperti judulnya, alih-alih memusatkan perhatian kepada Agnes yang berperan sebagai Cinderella dalam penderitaannya sebagai anak tiri yang terpinggirkan, Emilie Kristine Blichfeldt mengambil sudut pandang dari Elvira. Seorang perempuan yang berupaya menjadi cantik untuk memenuhi standar laki-laki. Emilie berhasil memperlihatkan sisi gelap dari dongeng legendaris Cinderella yang mendunia itu. Ia menggali obsesi masyarakat terhadap kecantikan fisik perempuan yang dikemas menjadi kisah horror tubuh yang mencekam.

“Beauty is pain”: Jargon Kecantikan yang Menormalisasi Rasa Sakit Perempuan 

Emilie turut mengangkat sebuah jargon yang menormalisasi penderitaan perempuan: Beauty is pain. Dalam film ini, Elvira bersama ibunya disambut dengan plakat yang bertuliskan jargon tersebut tepat di depan ruangan operasi estetika. Elvira yang didampingi ibunya harus menghadapi rasa sakit untuk melakukan operasi hidung yang tak simetris. Hidungnya dipatahkan tanpa dibius disertai alat sekadarnya. Raungannya begitu memekik, menggema, memadati gedung praktik operasi estetika itu.

Kesakitan itu tak menjadikan Elvira kapok. Ia nekat menyiksa dirinya lagi setelah melihat bulu matanya yang tak seindah perempuan lain. Bulu matanya pendek dan tidak tebal. Kemudian hari ia melakukan tanam bulu mata. Lagi, tanpa bius, ia dieksekusi. Bulu matanya ditanam dengan cara dijahit secara langsung menggunakan jarum dan benang. 

Ia turut melakukan cara yang ekstrim untuk mendapatkan tubuh ideal yang diidamkan standar sosial. Kali ini bukan diet ekstrem seperti yang digambarkan Han Kang dalam Vegetarian yang berakibat pada gangguan psikologis – anoreksia –  Elvira secara sengaja memasukkan seekor cacing pita ke dalam perutnya. 

Ia berhasil. Ia mendapatkan tubuh yang ideal. Berat badannya turun drastis berkat cacing. Cacing itu telah menyerap seluruh nutrisi dari makanan yang dilahap Elvira. Meski ia harus membayarnya dengan rasa kelaparan di malam hari dan mengalami kerontokan rambut yang tidak wajar.

Di malam hari, ia merasakan lapar yang begitu hebat. Perutnya nampak bergejolak karena reaksi dari cacing tersebut hingga mengeluarkan bunyi. Emilie berhasil menyajikan kengerian atas perjuangan perempuan untuk mendapat tubuh ideal. Melalui adegan tanpa dialog, pesan itu mampu tersampaikan dengan baik. 

Emilie turut memunculkan konflik antara ibu dengan anak tiri yaitu Rebekka dengan Cinderella – Agnes. Bahkan dengan berani, Emilie menampilkan konflik itu pada durasi awal film. Sang raja alias ayah kandung Agnes meninggal saat mereka melakukan makan malam bersama.

Naas, jenazah sang raja tak segera dikebumikan. Rebekka tega menyimpan jenazah sang suami di sebuah ruangan hingga membusuk. Baginya, membiayai Elvira untuk menjadi ‘cantik’ jauh lebih penting daripada mengunakannya untuk upacara adat kepergian mendiang suaminya. Sebab, jika anaknya berhasil menjadi perempuan yang cantik maka ia akan terpilih menjadi pasangan pangeran penerus tahta dan kaya.

Secara bersamaan, ada upaya Emilie untuk mempertontonkan realitas sosial bahwa kecantikan sudah sewajarnya dibayar dengan rasa sakit-penderitaan bahkan hingga menghabiskan uang sekalipun. Begitulah harga yang harus dibayar untuk menjadi cantik versi konstruksi sosial. Sekaligus untuk memikat lelaki dalam usahanya – Rebekka sebagai seorang janda – untuk mendapatkan kepastian ekonomi dengan bergantung kepada lelaki. Ironinya, ia mengkambinghitamkan anaknya sendiri.

Perdagangan Bebas dalam Keluarga

Dengan brutal Elvira banyak mengubah bagian-bagian tubuhnya agar ia bisa memikat sang pangeran ketika malam sayembara pencarian jodoh. Dari operasi hidung secara ekstrem hingga nekat memasukkan cacing ke dalam tubuh untuk mendapat tubuh ideal. 

Upayanya pun tak sia-sia. Ia terpilih menjadi perempuan yang diajak berdansa oleh Pangeran. Selain parasnya yang nampak begitu sempurna, Elvira turut melakukan penipuan dengan mengenakan wig agar rambutnya nampak lebih panjang dan tebal. Pangeran pun terpesona dengan kecantikannya. Ia juga mengenakan gaun yang mampu menahan dan menaikkan payudaranya sehingga terlihat lebih bervolume. Ia pun berhasil menghipnotis Pangeran. Payudara menjadi perhatian tersendiri baginya. Ia menatapnya dengan birahi. Lantas, ia memilihnya sebagai pasangan berdansa. 

Upaya-upaya ini tak jauh dari tuntutan ibunya. Agar ia dipilih oleh sang pangeran sebagai pasangan hidup karena kelak ia mendapat tahta dan di kemudian hari ibunya membayangkan kehidupan yang berkelimang harta. Dan Elvira adalah seorang anak perempuan yang menjadi korban dari ibunya sendiri. 

Jika menilik latar belakang ekonomi, Rebekka adalah seorang janda yang tak berpenghasilan dan harus menghidupi kedua anak perempuannya. Ia tak mampu berdiri sendiri – tak memiliki kemandirian ekonomi. Bukankah begitulah gambaran realitas sosial dalam masyarakat patriarkal? 

Begitu banyak hal yang kemudian membuat perempuan sulit untuk bisa berdikari terutama dalam kemandirian ekonomi. Mulai dari stigma hingga upaya domestifikasi. Perempuan diminta bersolek untuk memuaskan hasrat lelaki.

Ia kemudian menciptakan perdagangan bebas dalam tataran keluarga. ‘Menjual’ anaknya kepada seorang pangeran untuk memenuhi imajinasinya: hidup diselimuti kekayaan. Namun, kemunculan Agnes dalam pesta dansa mengalihkan ketertarikan pangeran. Pada akhirnya, Agnes lah yang menang. 

Seperti dalam dongeng Cinderella, Agnes harus segera pergi sebelum pukul 00.00. Ia kemudian lari terbirit-birit dan meninggalkan jejak tanpa kesengajaan. Sandal hak tingginya sebelah kanan tertinggal. 

Cinta yang semula tulus dari hati Elvira berubah wujud menjadi obsesi. Ia rela memotong jari kakinya menggunakan pisau seperti yang tertera dalam poster film. Darah pun berhamburan menyembur lantai. Ibunya bahkan kaget melihat kenekatan putrinya. Tak lain lagi agar kakinya pas mengenakan sandal itu dan memenangkan sayembara. 

Naas, film ini berakhir tragis. Elvira tetap kalah. Ia kemudian diselamatkan oleh adiknya dari penderitaan akan rasa sakit. Diajaknya Elvira keluar dari kastil. Pertama-tama adiknya membantu mengeluarkan cacing melalui hidungnya. Sebab, ia tak kuasa menyaksikan penderitaan kakaknya untuk mendapatkan tubuh yang ideal.

Tak seperti film horror pada umumnya, film ini sangat minim jump scare. Film yang membuat melek dan penuh kejutan tragis, penuh penderitaan, rasa sakit, dan berdarah-darah. Film ini cocok bagi perempuan yang memiliki sikap kritis terhadap standar kecantikan. 


*Ulasan film berjudul The Ugy Stepsister (Den Stygge Stesøsteren) yang diproduseri Maria Ekerhovd, disutradarai Emilie Blichfeldt, dan diperankan oleh Lea Myren (2025, Scanbox Entertainment)


Editor: Dhika Marcendy


Hai, suka pada tulisan ini?
Kami paham, kehidupan yang menyebalkan sekarang sering membuat kita tak punya waktu untuk menulis, meski banyak kenyataan yang membuat kita berpikir dan bahkan yakin bahwa penderitaan ini sama pula dampaknya. Maka, mari biasakan untuk berterima kasih pada mereka yang telah meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk menuliskan keresahan serta kekecewaan kita. Dengan cara apa? Sederhana. Berilah apresiasi pada kerja-kerja sunyi mereka lewat link di bawah ini.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *