Rapor Merah 100 Hari Prabowo-Gibran

Penulis

Prabowo Subianto bersama Gibran Rakabuming telah menempuh 100 hari kerja dalam pemerintahan Indonesia. Kinerja Prabowo-Gibran memiliki tingkat kepuasan publik tertinggi sepanjang 10 tahun terakhir sejak 2015. Hal ini terbukti dengan survei yang dilakukan Litbang Kompas pada 4-10 Januari 2025. 

Melansir dari Kompas.com, tingkat kepuasan kinerja pemerintah pada Januari 2025 menyentuh angka 80,9%. Sedangkan untuk indeks ketidakpuasan hanya 19,1 persen. Bahkan sebanyak 89,4% responden turut menyatakan keyakinannya terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran. Sedangkan 10,6% lainnya mengaku tak yakin. 

Survei ini menuai kontra dari publik di media sosial X. Banyak yang heran bagaimana bisa kepuasan publik mencapai angka itu. Sebab, jika menengok ke belakang, ada banyak permasalahan selama Prabowo-Gibran menjabat. Mulai dari tingkah mantan utusan khusus presiden, Miftah hingga problematika program makan siang gratis. Lantas, seberapa jauh kinerja Prabowo-Gibran yang senyatanya?

 

100 Hari yang Penuh Drama

 

Menurut Feri Amsari, seorang akademisi Fakultas Hukum Universitas Andalas, konsep peninjauan 100 hari kerja memang tak ada dalam Undang-Undang. Ini merupakan tradisi ketatanegaraan yang tumbuh di Amerika. Kemudian tradisi itu banyak digunakan oleh negara-negara yang menganut sistem presidensial.

“Asal-muasalnya ketika mendekati krisis ekonomi luar biasa di Amerika, terutama menjelang Perang Dunia Kedua, tahun 1933. Saat itu Presiden Amerika adalah Roosevelt,” ungkapnya dalam Diskusi Publik BEM SI (22/01/25).

Feri melanjutkan diskusi dengan merefleksikan polemik yang muncul selama 100 hari kinerja Prabowo-Gibran. “Mari kita coba lihat 100 hari Prabowo,” ucapnya. 

Baginya, tanpa harus menunggu 100 hari, di hari pertama Prabowo menjabat sudah terlihat jika dia merupakan seorang presiden yang tak akan bisa menegakkan hukum seutuhnya. Sejak hari pertama, Prabowo bahkan telah melanggar Undang-Undang (UU) TNI. Hal ini dibuktikan dengan dilantiknya Mayor Teddy sebagai Sekretaris Kabinet, di saat Teddy masih aktif sebagai prajurit militer.

Dalam UU TNI sendiri, tidak ada satu poin pun yang mengecualikan jabatan Sekretaris Kabinet sebagai jabatan yang bisa diisi oleh TNI aktif. Oleh karena itu, Prabowo telah melanggarnya. Tindakan ini menunjukkan bahwa orang-orang yang ada di dalam istana bukanlah figur-figur yang patuh kepada hukum.

Tak hanya soal pelanggaran UU TNI. Terbaru, ada pagar bambu di laut Tangerang. Lucunya, tak diketahui siapa yang bertanggung jawab atas pemagaran itu. Terkait kasus ini, Feri mengatakan bahwa peristiwa hukumnya ada, tapi pelakunya tak ada.

Feri turut menilai kalau pemerintahan Prabowo-Gibran banyak omon-omon. Misalnya saja soal pemberantasan korupsi. Prabowo pernah mengatakan “kejar koruptor di antartika”. 

“Hukum sulit tegak apalagi banyak omon-omon. Kejar koruptor di antartika, yang ada kejar koruptor di antara kita yang perlu dilakukan. Jauh sekali ke antartika padahal yang di dekat banyak yang hanya dibiarkan,” jelasnya sambil tertawa.

 

Temuan CELIOS Lebih Realistis

 

Berbeda dengan temuan Kompas, CELIOS terlihat lebih menapak bumi. Melalui survei berbasis expert judgment, penilaian kinerja Prabowo Subianto mendapatkan rata-rata nilai 5 dari sepuluh. Sementara wakilnya, Gibran Rakabuming mendapatkan nilai rata-rata 3 dari 10.

CELIOS juga menemukan bahwa komunikasi kebijakan dalam 100 hari masih buruk. Hal ini sama dengan apa yang telah disampaikan oleh Feri. Dia menyebut, pidato-pidato yang disampaikan oleh presiden terlihat tak siap dan bermasalah. Banyak ungkapan-ungkapan seketika. 

“Tiba-tiba mengatakan ‘saya setuju dengan Pak Bahlil bahwa pilkada harus melalui DPRD’,” jelasnya. Padahal, sebagai seorang presiden, berkomunikasi dengan publik haruslah matang, tahu apa yang ingin disampaikan, mengerti tujuan juga sasarannya. Namun, pernyataan-pernyataan Prabowo hanya emosional sesaat dan sering muncul tiba-tiba. 

Selain kinerja presiden dan wakil presiden, CELIOS juga melakukan evaluasi terhadap kinerja Kabinet Prabowo-Gibran. Secara keseluruhan, kinerja kabinet Prabowo-Gibran jauh dari memuaskan. Terlihat dari 7% responden menjawab sangat buruk dan sebanyak 42% menjawab buruk.

Bahlil Lahadalia, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, masuk dalam barisan menteri dengan kinerja terburuk. Dia mendapat skor -25. Penilaian terhadap Bahlil berkaitan dengan efektivitas pengelolaan sumber daya energi, pengelolaan hilirisasi mineral, dan transisi energi bersih. 

Selanjutnya ada Budiman Sudjatmiko, mantan aktivis yang tergabung dalam Kepala Badan Ekonomi itu tak terlihat bekerja. Hingga sekarang belum ada rencana program atau pun kebijakan spesifik dalam upaya mengatasi kemiskinan. Sebanyak 30% responden menilai Budiman tak terlihat bekerja.

Di antara nilai-nilai buruk, tak lupa CELIOS juga mengungkap deretan menteri yang memiliki performa baik. Mereka adalah Nasaruddin Umar (Menteri Agama) yang menduduki skor tertinggi mendekati 100. Kemudian disusul Meutya Hafid (Menteri Komunikasi dan Digital). Lalu Abdul Mu’ti (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan).

Secara keseluruhan, berdasarkan studi CELIOS, Prabowo-Gibran bersama kabinetnya masih memerlukan banyak pembenahan. Seperti yang disampaikan juga oleh Feri, banyak PR untuk presiden. Dia juga memberi nilai yang sama dengan temuan CELIOS, yakni 5 dari 10.

Di akhir diskusi Feri menjelaskan perihal indikator yang bisa digunakan untuk mengukur presiden. Kinerja presiden bisa ditinjau lewat lima kewenangan presiden. Pertama, kewenangan eksekutifnya dalam tata kelola pemerintahan. Kedua, pembentukan perundang-undangan. Ketiga, kewenangan dalam memastikan keadilan bisa ditegakkan. Keempat, kewenangan pertahanan dan keamanan. Kelima, relasi hubungan luar negeri.

“Meng-output 100 hari kerja itu tak mungkin, tapi kita bisa mengukur apa yang dilakukan seseorang. Fungsi 100 hari adalah melihat bagaimana presiden betul-betul mampu mengkoordinir anak buahnya, mengatur strategi, dan berapa strategi itu dikeluarkan dalam bentuk kebijakan. Jadi bukan kita bisa memastikan output lima depan ke depan. Namun kita bisa memperkirakan dari seorang presiden. Jadi semacam penilaian sementara,” jelasnya. 

Referensi:

Diskusi Publik: Distopia Indonesia? Mengupas 100 Hari Prabowo-Gibran Bersama Bersama BEM SI. https://www.youtube.com/watch?v=6oTut2-z1fE

Askar, M.W., etc. (2025). Rapor 100 Hari Prabowo-Gibran: Kinerja, Tantangan, dan Harapan. CELIOS. https://celios.co.id/rapor-100-hari-kabinet-prabowo-gibran-kinerja-tantangan-dan-harapan/

Sanjaya, Y.C.A. (2025). 100 Hari Prabowo-Gibran, Tingkat Kepuasan ke Pemerintah Tertinggi sejak 2015. 24 Januari 2025. Diakses pada https://www.kompas.com/tren/read/2025/01/24/070000265/100-hari-prabowo-gibran-tingkat-kepuasan-ke-pemerintah-tertinggi-sejak-2015?page=2


Suka dengan tulisan ini? Kamu bisa mengirimkan donasi kepada penulis agar penulis lebih semangat menulis 🙂

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *