Aturan pada hakikatnya terdapat larangan dan perintah. Bagi mereka yang tidak menjalankan atau melanggar sebuah aturan tentu memperoleh hukuman.
Hukuman kerap kali hadir tidak berbentuk fisik, berupa jeruji besi ataupun tiang gantungan-melainkan berbentuk non-fisik, baik dalam lingkup masyarakat ataupun tidak. Bentuk hukuman itulah yang dialami oleh William Figueras, tokoh utama pada novel Penampungan Orang-orang Terbuang, karya Guillermo Rosales.
Melalui karyanya, Rosales hendak memunculkan apa yang berlangsung bagi mereka yang ‘kalah’ dalam carut marut politik.
Figueras sendiri merupakan tokoh berkebangsaan Kuba. Ia melarikan diri dari negeri asalnya atas tekanan yang berlangsung ketika dirinya berada di Kuba. Figueras merupakan seorang penulis tetapi karirnya hancur lebur atas sensor yang direkatkan oleh pemerintah Kuba. Mereka (pemerintah Kuba) menilai novelnya mengandung unsur cabul, murung, dan dekaden.
Novel yang dibuat Figueras mengisahkan hubungan asmara antara seorang komunis dengan anggota borjuis Kuba. Menilik Kuba merupakan negara komunis serta hubungan antara dua kutub berbeda mencemari nama agung komunis, maka dengan tegas karya Figueras tidak dapat beredar dan mengakibatkan psikisnya terganggu, menyebabkan ia menapaki dirinya seolah sampah di negeri asalnya. Alhasil, ia melarikan diri ke Amerika Serikat dengan harapan dapat meluluhkan beban yang menggantung kepalanya.
Keputusannya itu mengantarkan dirinya pada nadir yang lebih rendah. Ia sudah tidak bernilai bahkan pada sorot mata keluarganya. Lantas mengapa pengasingan diri dapat berubah menjadi sebuah hukuman?
Panti Sosial: Antara Tempat Pembuangan dan Praktik Dominasi Sosial
Sejak kepergiannya dari Kuba menuju Amerika Serikat, Figueras mengawali hidupnya dengan menumpang di kediaman bibinya, Clotilde. Ia hidup di sana selama tiga bulan dan selama waktu itu pula, ia melihat dirinya tidak berharga dan tidak dihargai di hadapan keluarganya, kecuali oleh bibinya.
Desakan demi desakan diterima bibinya, terkhusus sorotan kepada Figueras sejak pertama kali menapakkan langkahnya di Amerika Serikat. Hal tersebut menyebabkan Figueras dijebloskan pada boarding home—sebuah panti sosial yang terletak di Miami dan dihuni oleh mayoritas orang-orang dari Amerika Latin.
Clotilde menyerahkan Figueras kepada Curbelo—pemilik panti—dengan memastikan obat-obatan pribadi telah dipenuhi. Dari situlah Figueras sah menjadi penghuni panti.
Saat ia menapaki panti pertama kali, Figueras menyaksikan kehidupan “orang-orang terbuang” dan mengukur dirinya senilai dengan apa yang dilihatnya.
Mulai dari sosok René dan Pepe, kakak beradik yang mengalami keterbelakangan mental; Pino, laki-laki pendiam yang hanya melihat cakrawala dengan mimik kaku; Hilda, seorang perempuan tua yang senantiasa membasahi celananya; Reyes, pria tua bermata satu yang meneteskan nanah ke ujung matanya serta kerap membasahi pojok ruangan dengan air seninya; Napoleón, si cebol; dan tokoh-tokoh serupa yang mengalami masa kelam hidupnya.
Ia menyadari bahwa kehidupannya sudah tidak lagi sama. Kehidupan di panti sosial merupakan pengasingan secara halus. Alhasil, ia mulai menjalani kehidupan baru di panti itu.
Panti sosial—dalam catatan Rosales—digambarkan bahwa bangunan yang mengurusi orang-orang terbuang, tidak berlandaskan kemanusiaan tetapi hanya uang semata. Curbelo secara sistematis merenggut hak-hak para penghuni. Secara aturan, pemerintah Amerika Serikat memberikan sejumlah uang sebesar 38 US Dollar (USD) per bulan bagi setiap penghuni guna memenuhi kebutuhan yang diperlukan. Namun hal tersebut tidak dilakukan oleh Curbelo.
Curbelo lantas merampok uang mereka dengan berbagai cara, mulai dari tidak memberikan sebungkus rokok bagi penghuni yang membutuhkan, tetapi hanya memberikan satu atau dua batang saja agar kondisi mental mereka tidak tersentak; hingga yang paling menjijikan, menyajikan hidangan yang tidak layak bagi penghuni panti.
Curbelo seringkali menyajikan makanan hanya dengan merebus kacang polong dan kacang miju, lalu ditambahkan bawang putih bubuk sebagai bumbu. Sedangkan nasi dan lauk utama berasal dari katering yang bernama “Sazón” yang menghidangkan makanan berkualitas terburuk. Dengan ukuran menu hanya untuk 11 orang, Curbelo lantas menyajikan menu tersebut untuk 23 orang dan akan memberikan sorotan dan hentakan keras bagi orang yang menolak dan memakinya.
Makian Curbelo tidak dibalas dengan tuntutan makanan yang layak, mengingat mereka (penghuni panti) merupakan orang yang terbuang. Menentang Curbelo sama saja kehilangan alas berteduh. Begitulah panti sosial itu bekerja.
Figueras lantas mencoba beradaptasi dengan lingkungan barunya. Apa yang terlihat dari sosok Curbelo bukan satu-satunya orang yang berkuasa. Terdapat tokoh lain yakni Arsenio—seorang pengurus panti sekaligus sekretaris Curbelo—yang bertugas mengawasi panti selama 24 jam. Arsenio adalah sosok yang kasar, suka mabuk, dan menempatkan penghuni panti sebagai ‘mainan’ dan ‘budaknya’. Mulai dari menyuruh Pino untuk membelikan makanan di perempatan jalan; meminta rokok dari penghuni—tidak terkecuali dengan Figueras; memaksa Hilda untuk berhubungan seksual dengan membabi buta, dan masih banyak lagi.
Meskipun Arsenio bawahan Curbelo tetapi ialah yang berkuasa dan menempatkan seluruh penghuni panti sebagai bagian dari permainannya. Ia tidak khawatir Curbelo akan memecatnya, mengingat ia diberi upah rendah dan bersedia berada di panti sosial selama 24 jam. Ketiadaan hasrat untuk berkuasa layaknya Curbelo, telah menyenangkan tuannya. Ia menilai, berada di lingkungan panti memberikan kekuasaan yang sebelumnya tidak dimiliki.
Dominasi ini lantas membentuk hegemoni kultural di kawasan panti. Para penghuni panti lantas tidak digdaya atas perlakuan Arsenio dan Curbelo. Keputusasaan membentuk rasa ‘kepatuhan’ pada permainan keduanya. Gramsci memandang bahwa kekerasan adalah salah satu langkah dalam menerapkan norma dan dominasi kepada kelompok lain. Hal ini melahirkan satu ceruk pandang bahwa apa yang berlangsung adalah kelaziman.
Bagi penghuni panti, sengatan kekerasan bersifat fisik, verbal, seksual, bahkan ekonomi melalui tidak terpenuhinya hak-hak dasar dari pemerintah Amerika Serikat, merupakan hal yang lumrah karena mereka telah masuk ke dalam liang kehampaan dan keputusasaan atas masa lalu di hidupnya.
Hilda—yang merasakan sengatan seksual Arsenio secara membabi buta dalam memenuhi hasrat seksualnya—hanya berkata “sakit, dan binatang itu (Arsenio) selalu menusukku dari belakang.” Meskipun ia selalu menjadi objek seksualitas Arsenio, tetapi Hilda tidak pernah menuntut kepada Arsenio untuk membebaskan dirinya dan hanya mengungkapkan derita saat Arsenio menyetubuhi dirinya.
Gambaran itu pula yang menguatkan rasa putus asa bagi Figueras. Ia menilai bahwa kesamaan nilai dirinya dengan penghuni panti mendegradasi pikirannya dan hanya berusaha melakukan sesuatu yang disenanginya saja.
Memurnikan Pikiran, Jalan Terbaik bagi Figueras
Sebagai seorang penulis, Figueras memiliki kegemaran dalam membaca buku seperti kumpulan puisi penyair Inggris. Ia membacanya di kursi rombeng di ruang utama panti dan tiba pada halaman puisi karya Lord Byron:
Hari-hariku ibarat daun layu;
Bunga dan buah cinta telah tiada;
Duka lara, ulat dan benalu
Yang tersisa semata!
Ketika sampai di halaman itu, Figueras terlelap dalam bayang-bayang realitas dan ukiran kata Byron.
Kekalahan dirinya oleh pemerintah Kuba melalui sensor karya novelnya telah menekan dirinya dan terjebak atas sesuatu diluar kendalinya.
Saat melihat lingkungan dan menjalani kehidupan barunya, sesuatu yang dapat mengalihkan penderitaan hanya membaca buku dan berkeliling di sekitar lingkungan panti.
Menyaksikan orang lain dapat menjalani hidup dan menikmati hidangan di restoran seolah menjadi barang mewah bagi Figueras. Ia memahami bahwa ketika menapaki diri di Amerika Serikat, tidak ada sesuatu yang berubah sejak meninggalkan tanah kelahirannya.
Ia hanya dapat menghisap puntung rokok agar pikirannya tidak terlalu kalut, sembari menyibukkan diri dengan buku yang dimilikinya.
Tidak ada aktivitas lain yang ia lakukan selain mengkonsumsi makanan yang tidak layak, membersihkan diri, beristirahat, dan menyaksikan teman-temannya di panti.
Seolah tidak ada yang menarik dari itu, hingga ia menjumpai penghuni baru bernama Francesca. Wanita itu memiliki perawakan berbeda dari kebanyakan penghuni panti. Francesca memiliki paras yang menawan. Figueras menilai sosok secantik Francesca tidak akan muncul kembali di panti sosial itu.
Lantas, Figueras mendekati Francesca dan mulai mendekatkan tubuhnya. Awalnya, ia melakukan tindak kekerasan kepada Francesca, hingga terdengar suara lirih dari wanita itu. Merasa kasihan, Figueras menghentikan aksinya dan beralih pada aktivitas seksual.
Mereka kemudian saling menyatukan tubuhnya hingga klimaks, mencapai titik akhirnya. Keduanya berbaring di alas yang sama, sejak saat itu Figueras seolah memiliki tujuan baru.
Segala bentuk kekerasan, penghinaan, dan ketidakadilan yang ditemui selama hidupnya tergantikan dengan sosok Francesca. Keduanya bahkan berjalan-jalan di kota sekitar panti.
Mereka seolah pasangan muda yang baru menemukan arti kehidupan baru. Masa lalu keduanya seakan lenyap begitu saja. Kehidupan itu bahkan mendorong Figueras untuk memiliki perempuan itu.
Ia bahkan bertekad untuk menikahi dan menjalani awal yang baru. Tetapi impian itu akan tetap menjadi impian. Francesca telah pergi bersama ibunya dan meninggalkan sebuah lukisan yang menggambarkan seluruh penghuni.
Figueras tersentak dan hanya dapat meratapi situasi yang dihadapinya. Ia lantas bertahan di panti dan turut serta memparodikan kekerasan. Figueras melihat Arsenio memukul Reyes dengan sebuah gesper, akibat Reyes senantiasa membasahi sudut ruang tengah dengan air seninya. Ia lantas tidak menghentikannya justru mengambil gesper itu dan menghantam ke punggung Reyes tanpa belas kasih.
Begitulah aktivitas Figueras yang telah hancur segalanya. Ia turut serta menjadi aktor kekerasan di samping aktivitas biasa yang sebelumnya dilakukan.
Gambaran yang berlangsung dalam panti sosial itu, hendak menunjukkan bahwa keadilan tidak dapat dinikmati bagi mereka yang kalah.
Rosales menegaskan, kehancuran individu tidak hanya berasal dari penahanan fisik tetapi keterpukulan mental atas sensor yang direkatkan negara. Sehingga sosok Figueras menjadi cerminan, kekalahan yang menimpanya di Kuba bukan menjadi akhir tetapi awal penderitaan selama hidupnya.
Kepergian Figueras ke Amerika Serikat tidak menjadi tanda kemakmuran ataupun tiupan angin yang berbalik arah. Akan tetapi ia hanya dipaksa memilih lubang kebiadaban yang akan ditinggali selanjutnya.
Maka salah satu bait puisi Blake menjadi relevan, “Dan keadilan hanya berbentuk perawan tua kaya raya buruk rupa, berkekasih dengan ketidakmampuan.”
Begitulah Rosales menggambarkan kehidupan para pecundang. Mereka yang kalah akan terbuang dan akan direkatkan sebagai “sampah” dimanapun mereka berpijak.
Tidak ada kesenangan ataupun ketentraman, yang nyata hanyalah “sampah.”
*Ulasan novel berjudul Penampungan Orang-orang Terbuang karya Guillermo Rosales dan diterjemahkan oleh Gita Nanda (2020, Labirin Buku)
Editor: Patricius Sulistya Eka Apira Yogayudha
Hai, suka pada tulisan ini?
Kami paham, kehidupan yang menyebalkan sekarang sering membuat kita tak punya waktu untuk menulis, meski banyak kenyataan yang membuat kita berpikir dan bahkan yakin bahwa penderitaan ini sama pula dampaknya. Maka, mari biasakan untuk berterima kasih pada mereka yang telah meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk menuliskan keresahan serta kekecewaan kita. Dengan cara apa? Sederhana. Berilah apresiasi pada kerja-kerja sunyi mereka lewat link di bawah ini.








