Adalah demagog keparat, bagi mereka, orang-orang yang menebar kebodohan struktural pada tiap jengkal kehidupan. Dengan bermodal lisan yang manis mereka memborong simpati siapa pun guna melancarkan proyek penggiringan massal yang rapi dan nyaris tak terasa. Macam penjahat cinta, mereka merayu dengan segala obral janji sembari perlahan melucuti nalar korbannya.
Menjumpainya di masa sekarang teramat sangat mudah. Lihat saja sebagian politikus yang gemar berkeliling dengan menjual kata “rakyat” sambil menumpuk kepentingan. Mereka piawai mengaduk emosi sembari menciptakan musuh imajiner, lalu berlaga sebagai penyelamat. Mereka mewariskan loyalitas semata tanpa kesanggupan membedakan antara janji dan bualan basi. Wajah lain demagog muncul dari mimbar ke mimbar. Penceramah instan memproduksi ketakutan dan harapan secara bersamaan. Dalil diperas menjadi slogan. Jamaah diajak menangis, takut, lalu patuh. Pertanyaan dianggap gangguan. Keraguan dicap penyakit. Akal sehat dikeluarkan dari ruang ibadah secara halus. Di sekolah dan kampus, demagog bersembunyi di balik status pendidik. Kelas dijadikan panggung monolog. Murid dan mahasiswa dilatih menghafal, bukan memahami. Nilai menjadi alat penjinakan. Kritik dibaca sebagai pembangkangan. Pendidikan kehilangan daya pembebasnya dan berubah menjadi mekanisme reproduksi kepatuhan.
Dampaknya terasa ke mana-mana. Kebodohan tampil percaya diri di ruang publik. Orang-orang lantang berbicara tanpa beban pengetahuan. Diskusi menjelma ajang saling mengafirmasi. Bangsa ini penuh suara, miskin pikiran. Wabah demagog bekerja senyap, rapi, dan mematikan, menggerogoti nalar kolektif sambil dipuja sebagai pencerahan. Terdefinisikanlah demagog sebagai mereka yang lihai mengelola kata tanpa tanggung jawab pada kebenaran.
Dalam The Republic, Plato menyebut tipe semacam ini sebagai perusak demokrasi. Merekalah para keparat penggugah emosi massa yang hidup dari hasrat rendah publik sambil mematikan kemampuan berpikirnya. Mereka tidak membimbing akal, mereka mengeksploitasinya. Mereka tidak mengejar pemahaman, melainkan kendali.
Paulo Freire, melalui kritiknya atas banking education, menempatkan praktik demagog sebagai bentuk penindasan halus. Pendidikan diperlakukan sebagai proses penyimpanan, manusia direduksi menjadi wadah pasif, dan bahasa dijadikan alat domestikasi. Di titik itu, pengajaran berubah menjadi teknik penjinakan dan kebodohan dipelihara secara sistematis.
Demagog hadir dengan wajah teramat ramah dan suara kepalang meyakinkan. Ia tidak memaksa tapi ia merayu. Ia tidak membungkam tapi ia membelokkan. Dan justru karena itu, wabah ini begitu berbahaya. Ia bekerja sambil dipuja dan merusak sambil dianggap mencerahkan. Selama demagog terus diberi panggung, negara ini akan tetap ramai oleh suara dan tetap sekarat oleh ketiadaan pikiran.
Mengendus Ciri-ciri Para Demagog
Ketimbang menyesal setengah mati sebab dihipnotis setengah sadar oleh para demagog, agaknya perlu sedikit latihan mencium bau. Sebab demagog, seperti asap rokok murahan, selalu meninggalkan aroma meski pelakunya sudah pergi.
Pertama, kecanduan simplifikasi. Jacques Ellul dalam Propaganda: The Formation of Men’s Attitudes menunjukkan bahwa penyederhanaan ekstrem memudahkan massa diarahkan, sebab berpikir mendalam membutuhkan energi yang sengaja dihindari. Demagog selalu menyederhanakan persoalan yang sebetulnya kompleks. Ketimpangan ekonomi dipersempit menjadi soal malas atau rajin. Krisis pendidikan direduksi menjadi soal moral murid. Contohnya tampak pada pidato politik yang menjelaskan kemiskinan sebagai akibat kurang bersyukur, tanpa menyentuh kebijakan, struktur upah, atau akses pendidikan.
Kedua, alergi terhadap pertanyaan. Demagog selalu gelisah saat ditanya. Dalam forum keagamaan, jamaah yang bertanya dianggap kurang iman. Di kelas, mahasiswa kritis dicap sok pintar. Contohnya dosen yang memotong pertanyaan dengan kalimat, “Ikuti saja dulu,” atau penceramah yang menyebut bertanya sebagai tanda hati yang kotor. Paulo Freire dalam Pedagogy of the Oppressed menegaskan bahwa pendidikan yang memusuhi dialog sedang menjalankan praktik penindasan kognitif.
Ketiga, eksploitasi emosi kolektif. Pola ini persis seperti yang dikritik Plato dalam The Republic, bahwa massa digiring melalui emosi, lalu akal dilepas dari proses pengambilan keputusan. Demagog piawai mengaduk takut, marah, dan harap secara bergantian. Dalam kampanye politik, publik ditakut-takuti oleh musuh imajiner, entah itu yang katanya asing, liberal, kafir, komunis, atau istilah elastis lain. Setelah itu ditawarkan figur penyelamat.
Keempat, kultus figur. Demagog menempatkan dirinya sebagai pusat kebenaran. Ucapannya dianggap rujukan final. Kesalahan dimaafkan atas nama jasa. Contohnya tokoh publik yang tetap dipuja meski terbukti keliru, sebab pengikutnya lebih sibuk membela figur daripada menilai gagasan. Neil Postman dalam Amusing Ourselves to Death menjelaskan bagaimana otoritas modern dibangun lewat citra dan performa dan bukan dari argumen yang bisa diuji.
Kelima, bahasa manipulatif. Demagog gemar memakai kata-kata luhur yang kosong makna operasional. Istilah seperti “demi umat”, “demi bangsa”, atau “demi moral” digunakan tanpa penjelasan kebijakan nyata. Contohnya regulasi yang menindas dibungkus dengan narasi ketertiban atau pembungkaman kritik yang dinamai persatuan. Hannah Arendt dalam Truth and Politics mengingatkan bahwa bahasa moral yang dilepaskan dari fakta melumpuhkan kemampuan publik membedakan kebenaran dan kebohongan.
Semua contoh tadi jangan dianggap kejadian luar biasa, sebab justru itulah kesehariannya. Contoh tadi muncul secara berulang dan kadang kita sendiri yang menyiapkan kursinya. Bacaan-bacaan yang disentil di atas sejatinya tak jauh dari kehidupan kita hari ini, bahkan terasa terlalu dekat untuk diakui. Membacanya memberi satu kecakapan sederhana untuk mencium gelagat sebelum rayuan itu terdengar masuk akal. Selama kita lebih gemar bertepuk tangan daripada mengernyitkan dahi, lebih suka diyakinkan daripada repot memeriksa, para demagog akan terus hidup tenteram dan disambut sebagai pencerah oleh orang-orang yang sedang merasa pintar. Dan pembaca yang budiman tentu maklum, daftar ciri semacam ini tidak pernah benar-benar selesai. Barangkali masih banyak bau lain yang bisa kita endus bersama, asal hidung tidak kita lipat sendiri.
Vaksin Bernama “Pedagog”
Demagog hanya bisa hidup ketika pedagog disingkirkan. Pedagog adalah mereka yang memilih membangunkan nalar ketimbang memabukkannya. Dalam kerja pedagog, kata-kata dipakai untuk membuka jalan memahami persoalan secara utuh. Pendidikan diperlakukan sebagai proses pemanusiaan, bukan teknik penyeragaman. Pertanyaan dirawat, keraguan dihormati, dan kebenaran didekati lewat kesabaran berpikir, bukan teriakan keyakinan.
Karena itu, perlu ditegaskan kembali secara konseptual apa yang dimaksud dengan pedagog. Istilah ini berakar pada paidagōgos dalam tradisi Yunani Kuno, yakni figur pembimbing yang mengantar manusia menuju kedewasaan berpikir. Dari sini pula gagasan paideia dirumuskan oleh Plato dan Aristoteles sebagai proses pembentukan manusia yang adimanusia dengan rasional dan watak etisnya. Dalam kerangka tersebut, pedagog dipahami sebagai penjaga laku berpikir, bukan penguasa pikiran orang lain. Garis pemaknaan ini kemudian berlanjut dalam filsafat pendidikan modern—dari John Dewey hingga Paulo Freire—yang menempatkan pedagog sebagai subjek dialogis. Tugasnya pun jelas, melatih kemampuan menimbang, membedakan, dan menguji, alih-alih sekadar menjejalkan isi kepala.
Maka, jadilah pedagog dengan cara-cara yang kelihatannya sepele dan nyaris tak heroik. Mulailah dengan kebiasaan menunda tepuk tangan sebelum memahami apa yang ditepukkan. Biasakan bertanya “maksudnya apa?” sebelum mengangguk setuju. Di kelas, jangan puas hanya dengan mencatat, ganggulah dosen dengan pertanyaan yang membuat suasana sedikit canggung. Di mimbar, dengarkan ceramah sambil membawa akal sehat pulang, bukan dititipkan di sandal. Di ruang publik, bacalah satu berita sampai tuntas sebelum ikut marah. Hal-hal kecil semacam itu memang tidak membuat nama dikenal, tapi cukup merepotkan para demagog.
Jadilah pedagog dengan kesediaan untuk berkata “saya belum paham” tanpa malu, dan “saya keliru” tanpa drama. Rawat kebiasaan membaca lebih dari satu sumber, mendengar lebih dari satu suara, dan curiga pada kalimat yang terlalu rapi. Jika ada yang menawarkan jawaban instan untuk persoalan rumit, mintalah penjelasan tambahan. Jika ada yang marah saat ditanya, ajukan pertanyaan kedua.
Dan bunuhlah demagog. Tentu bukan dengan kekerasan, sebab mereka justru hidup dari hiruk-pikuk semacam itu. Bunuhlah dengan cara paling menyebalkan. Matikan daya rayunya dengan kebiasaan memeriksa. Lumpuhkan senjatanya dengan ketenangan berpikir. Demagog mati pelan-pelan ketika kata-katanya tidak lagi dianggap wahyu, ketika kefasihannya hanya dinilai sebagai suara, bukan kebenaran.
Editor: Balqis Nabila
Hai, suka pada tulisan ini?
Kami paham, kehidupan yang menyebalkan sekarang sering membuat kita tak punya waktu untuk menulis, meski banyak kenyataan yang membuat kita berpikir dan bahkan yakin bahwa penderitaan ini sama pula dampaknya. Maka, mari biasakan untuk berterima kasih pada mereka yang telah meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk menuliskan keresahan serta kekecewaan kita. Dengan cara apa? Sederhana. Berilah apresiasi pada kerja-kerja sunyi mereka lewat link di bawah ini.








