One Piece, Anarkisme, dan Indonesia: Ketika Bajak Laut Lebih Bijak daripada Pejabat Negara

Penulis

Sebelum saya mengenal kisah petualangan Monkey D. Luffy, saya adalah orang yang tidak begitu menyukai anime. Menurut saya anime terlalu penuh fantasi dan sangat jauh dari realitas yang saya alami. Saya ada di posisi suka sama cerita fiksi ini, saat secara tidak sengaja melihat satu unggahan di Instagram. Di situ ditulis, “Anarkisme dalam Serial One Piece”. Saya pun berhenti scroll. Jujur saya agak kaget. “Hah? Kok bisa? One Piece penganut anarkisme? Luffy itu Mikhail Bakunin? Begitulah rasa kaget saya, sampai akhirnya saya kian penasaran dan mulai sedikit mendalami.

Saya sekarang tahu, One Piece bukan bajak laut menye-menye yang mencari harta karun. Karya Eiichiro Oda ini adalah bentuk kritik sosial yang disamarkan lewat kisah petualangan para tokoh fiksi. Kita disuguhkan tentang dunia yang diatur oleh World Government, institusi tirani yang korup dan menindas. Uniknya, yang jadi protagonis justru bajak laut, kelompok yang biasanya dicap sebagai kriminal (perlihat sama bukan dengan anarkisme yang selalu dianggap sebagai biang pelaku kekerasan saat terjadi gesekan). Sementara Angkatan Laut/Marine (ibaratnya aparat) yang seharusnya menjaga perdamaian, tetapi malah bertindak sewenang-wenang.

Di sini saya mulai berpikir bahwa ini bukan sekadar fiksi. One Piece merupakan simbol perjuangan sekaligus alat perjuangan. Maka, ketika akhirnya di negeri ini beramai-ramai ingin mengibarkan bendera Jolly Roger dari One Piece, saya sangat takjub. Saya sadar ini bukan sekadar fandom, ini bentuk perlawanan simbolik atas keresahan yang terjadi pada negara ini.

Anarkisme Bukan Kekacauan

Banyak orang salah kaprah memaknai anarkisme. Ideologi ini sering kali dianggap dan diidentikkan dengan kekacauan. Padahal dalam konteks sejarahnya, anarkisme merupakan keinginan untuk membentuk suatu tatanan masyarakat yang tanpa dominasi kelas, tanpa otoritas yang menindas, hingga tanpa hierarki yang kaku. Meski demikian, tatanan yang dimaksud bukan berarti hidup tanpa aturan, melainkan hidup yang erat dengan rasa solidaritas, saling bantu, dan kesetaraan antarsesama dalam mengambil keputusan. Sesuatu yang mendominasi dan dianggap sebagai bentuk penindasan adalah seperti yang hari ini dipertontonkan oleh negara.

Monkey D. Luffy adalah contoh nyata dari paham anarkisme. Ia adalah orang yang tidak pernah memerintah secara otoriter. Kapal yang membawanya berlayar bukan didasari oleh ketakutan kru atas kebijakan yang diputuskannya, melainkan karena adanya rasa kepercayaan antarkru. Semua di kapal itu punya peran masing-masing dan semuanya sama-sama saling menghargai. Bagi Luffy, semua orang bebas bermimpi dan menggenapkan mimpi masing-masing. Dia tidak pernah memaksa arah teman-temannya. Bahkan sering kali pula keputusan-keputusan penting justru datang dari teman-temannya (kru bajak lautnya).

Di sinilah letak pentingnya edukasi atas nilai anarkisme yang dengan salah kaprah kadung dicap sebagai biang kekacauan di masyarakat. Semoga kita yang belum memahami apa itu anarkisme, bisa sedikit memahami nilai-nilai tersebut, seperti pentingnya perjuangan untuk mencapai kebebasan, kesetaraan, dan perlawanan total terhadap otoritas yang menindas.

Aliansi yang Tidak Membentuk Kekuasaan

Saat Luffy mengalahkan Doflamingo, banyak bajak laut lainnya yang ingin menjadikannya pemimpin dari sebuah aliansi besar yang mereka bentuk. Namun, dengan tegas Luffy menolak. Di hadapan mereka, dengan tenang ia berkata, “Kalau suatu saat kami dalam masalah, aku akan berteriak memanggil kalian sekeras yang kubisa! Jadi datanglah pada saat itu! Kita tak harus membuatnya jadi seperti ini, kan?”

Kata-kata itu bukan hanya omon-omon biasa. Kalimat yang dilontarkannya adalah pernyataan sikap politik yang tegas (yang tentu jarang kita dengar di negeri ini). Luffy tidak mau menjadi pusat kekuasaan yang absolut. Dia percaya bahwa ikatan dan kekuasaan tidak harus dibangun dari perjanjian kosong, tetapi dari relasi antarmanusia yang sudah seharusnya diposisikan setara.

baca juga:
–Vonis Teoretis Anarkisme dalam Animal Farm: Negara Adalah Petaka Revolusi
–Tenda di Depan DPR: Simbol Perlawanan atas RUU TNI dan Kemunduran Reformasi

Pierre-Joseph Proudhon, seorang tokoh anarkisme, mengatakan bahwa relasi dari kontrak sosial yang hadir hanya berdasar pada motif ekonomi atau intrik tertentu. Maka, pembatasan terhadap solidaritas sosial, bahkan kontrak sosial sebagaimana yang tercermin dalam sistem negara sering kali dilakukan untuk menunjang kepentingan elite yang justru membungkam solidaritas yang sejati. Dalam One Piece, Luffy secara tegas menolaknya.

Konsep Keadilan yang Tidak Tunggal

Satu hal yang kuat dari anime ini adalah bahwa tidak ada satu bentuk keadilan yang tunggal. Marine (kelompok Angkatan Laut di One Piece) punya konsep ‘keadilan mutlak’ (absolute justice) dan dengan konsep itulah mereka punya legitimasi untuk dengan beringas membantai masyarakat lemah, menghabisi sebuah desa, hingga menghapus sejarah yang sebenarnya. Sikap Marine tentu sangat berbeda dengan Luffy. Dia digambarkan punya karakter keadilannya sendiri. Bersama anggota bajak lautnya, mereka tak pikir panjang untuk membela yang lemah dan melawan penindasan para penguasa. Namun, sekali lagi, tanpa pernah merasa bahwa apa yang dilakukannya membuatnya merasa sebagai seorang pahlawan. 

Di sinilah letak perlawanan yang paling keras dari anime One Piece. Di sepanjang arc (babak pertarungan/perlawanan), kita disuguhkan banyak rentetan peristiwa keji yang menggambarkan bahwa negara dan sistem di dalamnya adalah pusat dari penindasan dan ketidakadilan yang dirasakan masyarakat. Tenryuubito yang digambarkan sebagai kaum bangsawan adalah representasi elite penguasa (lokal-global) yang tidak tersentuh hukum. Dalam anime, para Tenryuubito sangat tega untuk memperbudak dan menindas yang lemah, dan paling memilukannya adalah para Marine serta aparatus kekuasaan lainnya justru menjadi pelindung garda depan mereka.

Sejauh ini, Luffy memang tidak pernah terang-terangan menunjukkan hasratnya untuk menjatuhkan pemerintah. Ia adalah bentuk anarkis pasif yang hanya bertindak ketika ketidakadilan yang disebabkan otoritas kekuasaan menyentuh ranah pribadinya.

One Piece dan Fenomena Bendera Jolly Roger di Indonesia

Bukan hal aneh jika belakangan ini makin banyak konten viral soal One Piece. Terlebih jika itu dikaitkan dengan isu sosial-politik yang terjadi di Indonesia. Salah satunya tampak dari kabar tentang seruan pengibaran bendera Jolly Roger di Indonesia pada hari kemerdekaan yang ke-80. Hal itu bahkan dianggap sebagai sebuah provokasi oleh Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad. Dia bahkan menduga ada gerakan sistematis yang ingin memecah-belah bangsa di balik aksi pengibaran tersebut. Lucunya lagi, aparat keamanan sampai dikerahkan negara untuk mengatasi hal ini.

Saya sangat tergelitik menyaksikan respons kepanikan penguasa. Menurut saya, bendera Jolly Roger merupakan simbol yang terasa lebih jujur dibanding harus mengibarkan sesuatu yang rasanya tak patut untuk hari ini dikibarkan. Sebab, kebijakan-kebijakan buruk pemerintah menyebabkan terjadinya banyak permasalahan di seantero negeri ini yang hingga hari ini pun belum terbenahi. Artinya, aksi pengibaran bendera One Piece adalah satu simbol dan bentuk perlawanan rakyat. Sebuah pernyataan sikap yang tegas terhadap kesemena-menaan penguasa.

Dari apa yang terjadi di Indonesia beberapa hari belakangan, saya menjadi semakin yakin bahwa meskipun ini merupakan karya fiksi anime, tapi One Piece benar-benar menyuarakan apa yang sering kali dirasakan rakyat dunia di bawah kekuasaan tunggal negara. Kita yang mau melawan dan memperjuangkan hak hidup layaknya para bajak laut di One Piece. Kita bukan kriminal, melainkan orang-orang yang masih punya harapan untuk menjalani kehidupan yang damai di masa depan.


Suka dengan tulisan ini? Kamu bisa mengirimkan donasi kepada penulis agar penulis lebih semangat menulis.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *