Merenungkan Ulang Dunia Digital Kita

Penulis

Di tengah hiruk-pikuk dunia digital yang kita puja sebagai tonggak peradaban modern, pernahkah kita sejenak merenungkan, bagaimana dunia digital ini sebenarnya bekerja? Apa dan siapa di balik sistem ini?

Pertanyaan tersebut menjadi titik tolak reflektif dalam buku Psikopolitik: Neoliberalisme dan Teknologi Kekuasaan Mutakhir karya Byung-Chul Han, filsuf asal Korea Selatan yang dikenal karena ketajamannya membaca fenomena sosial kontemporer.

Han dalam hal ini tidak sekadar mengkritik teknologi, melainkan membedah secara konseptual bagaimana kekuasaan di era neoliberal berubah bentuk: dari represi fisik menjadi eksploitasi psikis. Di sinilah istilah ‘psikopolitik’ menemukan konteksnya.

Jika sebelumnya kekuasaan mengelola tubuh (biopolitik), kini kekuasaan mengelola jiwa: pikiran, emosi, dan perhatian. Seperti kata Han, apa yang diproduksi kapitalisme kontemporer bukanlah objek materiel lagi, melainkan objek imateriel—seperti informasi dan program. Produktivitas kini tidak lagi ditingkatkan dengan mengatasi hambatan fisik, melainkan dengan mengoptimalkan proses psikis atau mental (hal. 32). 

Buku setebal 111 halaman ini secara keseluruhan menampilkan 13 bab singkat yang dikemas padat, provokatif, dan sering kali menusuk nalar pembaca. Ruang lingkup utamanya kebebasan, kekuasaan, keadilan, big data, gamifikasi, sampai idiotisme. Bahkan secara lebih khusus menyoroti bagaimana logika produktivitas neoliberalisme bekerja. Salah satu bentuk uraian panjang dan pokoknya ialah bagaimana dunia digital membuat manusia menjadi subjek yang secara sukarela mengeksploitasi dirinya sendiri demi pencapaian-pencapaian personal. Gampangnya, kita berlomba menjadi ‘versi terbaik dari diri sendiri’, padahal tanpa sadar sedang mengikuti perintah sistem yang mengejar efisiensi dan keuntungan tanpa henti.

baca juga:
–Zaman Edan: Rupa Bangsa Indonesia dalam Lanskap Digital
–Media Sosial, Hoaks, dan Aktivisme Digital di Asia Tenggara

Filsuf yang banyak mengkritik proyek destruktif neoliberalisme ini menulis dengan gaya yang khas, ringkas, tajam, dan filosofis. Dia tidak menyodorkan solusi praktis, melainkan membangkitkan kesadaran kritis. Dalam setiap bab, kita diajak bukan untuk menolak teknologi, melainkan untuk mengerti bagaimana kekuasaan bekerja di baliknya. Inilah kekuatan utama buku ini: mengembalikan kesadaran kita yang perlahan dilumpuhkan oleh algoritma dan arsitektur digital.

Dengan mengutip berbagai pemikir seperti Foucault, Nietzsche, dan Marx, Han merangkai argumen bahwa kebebasan di era digital adalah paradoks: kita merasa bebas karena memilih, padahal algoritma telah menyusun dan mengarahkannya untuk kita. Meminjam istilah Jaron Lanier, kekuasaan algoritmis ini menyerupai ‘ilmuwan gila’—ia menghitung segalanya, tetapi tak pernah peduli pada nilai-nilai manusiawi. Yuval Noah Harari menekankan hal ini, jika sesuatu itu (informasi) tampaknya gratis, maka Anda-lah produknya.

Di balik layanan daring yang tampak murah hati, tersembunyi pertukaran yang timpang: data kita untuk keuntungan mereka. Kita menjadi subjek yang senang diawasi, bahkan tanpa diminta. Ini bukan lagi pengawasan seperti era totalitarian, melainkan pengawasan sukarela yang dibungkus kenyamanan dan hiburan.

Buku Psikopolitik: Neoliberalisme dan Teknologi Kekuasaan Mutakhir bukan bacaan ringan meski secara fisik tipis. Ia menuntut perenungan dan kepekaan intelektual. Bagi pembaca yang siap keluar dari ilusi media digital dan mulai bertanya “siapa sebenarnya yang berkuasa?”, buku ini adalah bacaan wajib. Ia adalah peta pemikiran yang membongkar logika kekuasaan baru—sebuah kekuasaan yang tidak lagi tampil bengis, tapi merasuk halus ke dalam sistem psikologis dan sosial kita.

Psikopolitik penting bukan karena menjawab semua persoalan zaman digital, tetapi karena ia berhasil memetakan bahaya yang sering tidak kita sadari. Di tengah masyarakat yang gemar kecepatan dan permukaan, Han mengingatkan bahwa merenung dan melambat, mungkin adalah bentuk perlawanan paling radikal hari ini.

*Ulasan buku berjudul Psikopolitik: Neoliberalisme dan Teknologi Kekuasaan Mutakhir yang ditulis oleh Byung-Chul Han dan diterjemahkan oleh Dwi Pratomo (Sumenep: literatus pustaka, 2025).


Suka dengan tulisan ini? Kamu bisa mengirimkan donasi kepada penulis agar penulis lebih semangat menulis.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *