Nasionalisme dan marxisme sering kali menjadi air dan minyak, keduanya tak bisa bersatu. Para marxis melihat sinis para nasionalis sebagai gerakan reaksioner chauvinis, rasis, bahkan fasis. Nasionalis pun juga sama alerginya. Marxis, bagi mereka, adalah orang-orang perusuh yang ingin membabat habis nilai-nilai tradisional kebangsaan dan membubarkan negara lewat revolusi. Sebab itulah, keduanya tabu di dalam lingkar masing-masing kubu.
Jika bicara soal nasib mereka sekarang, dua -isme ini punya nasib yang amat jauh berbeda. Nasionalisme sedang bangkit-bangkitnya. Di Amerika Serikat dan Eropa, gerakan nasionalisme baru muncul dengan sosok politikus karismatik sayap kanan yang memimpin derap baris majunya. Donald Trump, Marine Le Pen, Victor Orban adalah sedikit di antara mereka yang jadi wajah baru gerakan nasionalisme abad ke-21. Menariknya, kebangkitan gerakan nasionalisme terjadi ketika nasionalisme sendiri diprediksi akan redup seiring dengan neoliberalisasi pasar dan globalisasi. Neoliberalisme menundukkan kedaulatan negara di bawah kehendak mekanisme pasar bebas global. Sementara masyarakat kosmopolitan diproyeksikan menjadi masyarakat terbuka yang saling terhubung, di mana batas kaku bangsa akan melebur menjadi masyarakat dunia.
Namun, neoliberalisasi ekonomi justru menciptakan kekecewaan baru bagi kelas pekerja yang kualitas hidupnya semakin menurun. Pun sama pada borjuasi nasional yang takluk oleh penetrasi kapital internasional. Terpaan kekecewaan ini belum memiliki bentuk untuk membangun resistensi terorganisir sampai suatu gerakan mampu membentuk massa sebagai satu kekuatan politik yang diperhitungkan.
Tanpa gerakan kiri yang kuat, para politikus karismatik bersama kapitalis nasional yang mendanainya berhasil mengakomodasi kekecewaan itu menjadi gerakan nasionalis kanan yang reaksioner. Kekecewaan itu diarahkan pada retorika merebut kembali negara dan menegakkan kedaulatan bangsa yang dijajah ‘asing’. Trump menyalahkan ketidakbecusan rezim Joe Biden dalam mengatasi gelombang imigran ilegal yang ia sebut sebagai “border bloodbath”, dan menyalahkan imigran ilegal telah merusak perekonomian orang Amerika. Pun, pemimpin sayap kanan Eropa membuat kebijakan anti-imigran dan anti Uni Eropa untuk mengembalikan kedaulatan negaranya.
Nasionalisme Kiri sebagai Alternatif?
Sementara sampai saat ini belum ada gerakan kiri yang kuat dengan visi yang jelas. Krisis kiri di tengah sapuan angin kedua nasionalisme kanan menyisakan pertanyaan tentang bagaimana masa depan gerakan ini. Sampai sekarang belum ada jawaban definitif, sampai setidaknya Jacopo Custodi memberikan jawaban yang kurang konvensional bagi politik kiri: gerakan kiri harus bersatu dengan nasionalisme. Apa maksud pernyataan yang mungkin terdengar gila di telinga marxis ini?
Dalam buku Radical Left Parties and National Identity in Spain, Italy and Portugal, Custodi melakukan penelitian terhadap tiga partai nasionalis kiri di negara yang tercantum dalam judul bukunya. Ia menemukan bagaimana partai kiri itu menyatukan marxisme dengan nasionalisme yang apinya membara di hati masyarakat suatu bangsa. Nasionalisme kiri yang mereka bangun berbeda dengan nasionalis kanan. Nasionalis kiri mengorientasikan pembangunan bangsa pada kepentingan kelas pekerja dan sosialisme. Ia pun menjunjung tinggi internasionalisme untuk membangun solidaritas antar bangsa tertindas. Perbedaan mencolok inilah yang membentangkan garis pemisah antara nasionalisme kiri dan kanan.
Custodi melihat sentimen nasionalisme sebagai suatu potensi politik yang harus direbut oleh kaum kiri. Ia melihat keberhasilan kelompok kanan mengeksploitasi sentimen nasionalisme rakyat menandakan bahwa nasionalisme belum mati. Kemenangan politik nasionalisme kanan ditandai dengan kemenangan mereka dalam pemilu di berbagai negara Barat. Di Amerika Serikat, kelas pekerja menyerahkan mandat politik kepada Trump yang populer dengan retorika Make America Great Again. Sebuah slogan yang menyeru kembalinya Amerika Serikat untuk bangsa Amerika yang berdaulat, bebas dari segala hal yang dicap ‘asing’. Delapan tahun kemudian, Trump kembali terpilih. Kini ia semakin serius dengan kebijakan deportasi agresif imigran ilegal di tahun pertama pemerintahannya.
Jauh di Eropa, partai sayap kanan memenangkan 178 kursi di Parlemen Eropa, meningkat dari 119 kursi dari 2019 lalu. Statistik ini menunjukkan bagaimana sentimen konservatif terkait isu imigrasi, identitas nasional, dan euroskeptisisme semakin mendapatkan ruang di benua biru. Sementara di Jerman, partai sayap kanan Alternative für Deutschland (AfD) memenangkan 16% suara, meningkat dari 11% pada pemilihan 5 tahun lalu. Sebagai negara yang trauma dengan fasisme Nazi, lonjakan ini menunjukkan retorika fasis yang kembali menguat dan beresonansi dengan keresahan sebagian rakyat Jerman.
Kondisi yang dijelaskan di muka menunjukkan nasionalisme bukan lagi menjadi residu masa lalu. Ia adalah energi politik yang berhasil dieksploitasi oleh kelompok kanan. Kenyataan ini menjadi seruan bagi kaum kiri untuk mempertimbangkan politik nasionalis dalam aras perjuangan mereka.
Menurut Custodi, kaum kiri harus merebut nasionalisme dari sayap kanan. Meminjam pemikiran Ernesto Laclau, ia melihat nasionalisme sebagai floating signifier (penanda mengambang), artinya nasionalisme adalah entitas simbolik yang maknanya terbuka untuk didefinisikan oleh suatu makna partikular sampai seakan-akan makna partikular itu menjadi makna universal. Hegemoni itu terlihat dalam bagaimana nasionalisme biasa dipahami sekarang: chauvunistik, xenophobik, militeristik, bahkan fasistik. Karenanya, kaum kiri harus merebut penanda-penanda itu melalui perjuangan kontra hegemoni. Dengan melihat keberhasilan kaum kanan dalam mengeksploitasi sentimen nasionalisme, Custodi mengajak kaum kiri untuk mengurangi kecurigaannya terhadap nasionalisme dan mulai melihat nasionalisme sebagai bagian dari perjuangannya. Nasionalisme kiri bisa menjadi jawaban alternatif dari kebuntuan politik kiri yang hilang arah. Walau begitu, Custodi juga memperingatkan, ketika nasionalisme kiri mulai menampakkan wajahnya seperti nasionalisme kanan, maka nasionalisme itu haruslah dibuang dari tubuh perjuangan kaum kiri.
Pertanyaan Indonesia
Gerakan kiri Indonesia tak jauh-jauh amat nasibnya dengan gerakan kiri global, mungkin malah lebih parah. Kehancuran marxisme semenjak pembantaian di Tragedi 1965-1966 dan pelarangannya sampai sekarang membikin gerakan kiri terseok-seok untuk bangkit kembali. Reformasi 1998 yang membuka lahan bagi tumbuhnya gerakan kiri baru sulit menemukan identitas dan metode gerakannya karena keterputusan tradisi pergerakan yang terjadi selama 32 tahun kekuasaan rezim Orba. Masalah lain yang tak kalah penting adalah tabu yang masih menempel pada marxisme yang diharamkan oleh konstitusi. Diskursus keilmuan Indonesia juga belum begitu mempertimbangkan marxisme sebagai pisau analisis dalam meramu gerakan yang akan mengatasi masalah sosial saat ini. Marxisme masih gagal mengambil posisi dominan karena tiada padu dalam internal gerakannya dan antipati publik terhadapnya.
Namun, gerakan perlawanan terhadap rezim masih terus terjadi dalam bermacam demonstrasi maupun kampanye media sosial. Biasanya ia terpantik ketika suatu isu memicu kemarahan rakyat, seperti pelemahan KPK, Omnibus Law, dan terakhir tunjangan mewah anggota DPR serta pembunuhan Affan oleh polisi. Namun, gerakan ini cenderung sporadis dan spontan tanpa visi jangka panjang. Gerakannya organik dan massa rakyat akan segara datang dari segala penjuru. Ideologinya populis, rakyat versus elit, tanpa corak ideologi partikular sama sekali. Ia cepat meledak, tetapi cepat pula redupnya. Dua sebab yang melatarbelakangi masalah ini antara lain adalah ketiadaan ideologi yang tegas dan organisasi politik yang mampu menjaga nyala api pergerakan itu.
Perlawanan-perlawanan itu selalu terikat dengan sentimen nasionalisme rakyat Indonesia walau tendensinya anti-rezim. Sudah bukan hal unik kita melihat bendera-bendera Indonesia dikibarkan oleh massa aksi ketika melakukan demonstrasi. Tak jarang pula lagu-lagu nasional dikumandangkan di jalanan penuh manusia. Pun retorika yang beredar juga mengungkapkan ekspresi kekecewaan publik terhadap kondisi negara yang dikuasai oleh elite politik dan oligarki yang semakin kaya dengan mengisap hidup rakyat.
***
Tulisan lengkap dari Langit Gemintang Muhammad Hartono ini bisa diakses dengan membeli zine (digital dan cetak) terbitan kami, SalingZineau Vol. 02 (September 2025). Mengapa kami mengeksklusifkan tulisan ini? Silakan baca di halaman SalingZineau.








