Membaca Serial Vikings: Dari Balik Layar ke Unsur Kebudayaan

Penulis

Saya baru saja menyelesaikan serial televisi Vikings (2013-2020). Untuk menyelesaikan tontonan ini, saya membutuhkan waktu hampir sebulan. Alasannya, beban kerja yang sangat berat dan menyita banyak waktu. Namun, saya sudah niatkan untuk menghabiskan waktu setiap minggu atau bulan untuk menyelesaikan berbagai tontonan film yang telah tertunda berbulan-bulan lamanya. Jika filmnya tidak berseri, saya bisa saja menyelesaikannya tidak sampai sehari. Namun, berbeda jika sebaliknya.

Vikings merupakan serial televisi yang diproduksi oleh Michael Hirst. Terdapat enam sesi yang saling berkaitan secara naratif di dalamnya. Sesi pertama memiliki 9 episode, sesi kedua dan ketiga masing-masing memiliki 10 episode, sesi keempat dan kelima masing-masing memiliki 20 episode, serta sesi terakhir memiliki 21 episode. Durasi setiap episodenya mencapai rata-rata 45 menit.

Secara garis besar, film ini menarasikan perjuangan The Great Warrior of Scandinavian, Ragnar Lodbrok, dalam menemukan tempat yang layak—kaya akan sumber daya alam—untuk dimukim oleh masyarakat Skandinavia. Dalam perjalanan hidupnya di film tersebut, hanya dua tempat yang ditemukan olehnya, yaitu di Inggris (wilayah pemukiman Anglo-Saxon) dan Prancis. Ekspedisi yang dilakukannya di Inggris, mengalami pasang-surut. Meski pasukannya mendapatkan banyak harta melalui perampasan atau pemberian raja dan juga pengetahuan, tetapi tak ada satu pun tanah yang mampu dihidupinya. Hal ini berlangsung hingga akhir hayatnya yang dicitrakan secara tragis melalui sesi keempat, episode ke-15. 

Namun, narasi Lodbrok tidak berhenti di situ. Perjuangannya diteruskan oleh keturunannya, meski pada akhirnya kebanyakan di antara mereka mengalami kegagalan. Hanya Ubbe selaku anak sulung dari istri keduanya, Aslaug, yang menemukan sebenar-benarnya tempat itu dan hal itu ditandai melalui scene akhir dari film tersebut dengan memperlihatkan akhir yang indah bersama senja di bibir pantai.

 

Di Balik Layar: Vikings dan Konfigurasi Kenikmatan 

 

Saya merasa bahwa produksi serial tersebut tidak semata-mata berdasar atas nilai moral dan etika, tetapi juga dilandasi oleh nilai ekonomi yang diterjemahkan melalui estetika tanda. Tujuannya untuk memenuhi hasrat kenikmatan penonton. Ini sama dengan beberapa karya sinematografi yang ada—meski tidak semua. Sebagai fiksi populer, serial Vikings tidak terlepas dari riset terhadap selera masyarakat di berbagai segmen, lalu produser menyesuaikan dengan keinginan masyarakat. Di balik layar, produsen seolah-olah bertanya, “what do you want?” Meskipun di sana tertulis untuk 21+, tetapi kenyataannya, penanda etis memberikan makna bahwa tim produksi adalah orang-orang yang beretika.

Dalam sistem klasifikasi melalui genre, misalnya, serial ini tidak hanya mampu diklasifikasikan sebagai kisah petualangan, tetapi juga drama, romansa, politik, dan sejarah. Setidak-tidaknya hal inilah yang dapat disaksikan di fitur genre Netflix. Hal ini bertujuan mendistribusikan kenikmatan di setiap segmen. 

Genre dalam konteks ini sangat berbeda dengan apa yang dipahami dalam konteks sastra pada umumnya. Seperti Aristoteles yang memetakan puisi berdasarkan efek poetika (tone) yang ditimbulkan. Atau seperti genre secara umumnya yang melihat dari bentuk faktual dan perangkat sastra dari karya sehingga mampu mengklasifikasi perbedaan antara prosa, puisi, dan drama. Namun, genre dalam konteks ini adalah genre populer yang diproduksi oleh masyarakat berdasarkan pada formula yang diinginkan oleh masyarakat dan juga mampu mengikat semua kebudayaan.

Berkaitan dengan konsep tersebut, serial Vikings sepertinya membangun dua genre yang umum, yaitu adventure dan action. Namun, di antara keduanya, genre petualanganlah yang paling mencolok dengan melihat secara teliti dari beberapa scene dan urutan sequence Vikings di semua sesi. 

Meskipun di dalamnya diselipkan pula formula romansa, tetapi unsur itu dibangun melalui adegan pornografi, seperti seks, ketelanjangan, dan sebagainya. Bukan hanya Vikings, beberapa film Western kerap kali menjadikan formula tersebut sebagai struktur dalam film. Cawelti dalam Adventure, Mystery, and Romance: Formula Stories as Art and Popular Culture (1977) mengatakan pornografi mungkin dapat menjadi sebuah pelarian sementara untuk memuaskan fantasi penonton, batasannya hingga kenikmatan orgasmik hadir di penghujung adegannya. Dari titik inilah penonton kembali ke realitas film. Lebih lanjut, Cawelti juga mengemukakan bahwa formula action juga berlaku demikian. 

Kedua unsur formulaik tersebut, rupanya tidak hanya hidup di dunia Western. Namun, berhasil menghegemoni sebagian kebudayaan di seluruh dunia. Keberhasilan tersebut dapat disimak dari respons masyarakat dengan melihat perilaku atau cara mereka berkomunikasi. Selain itu, dapat juga disimak melalui fenomena layar sinema atau media kita di Indonesia. 

Namun, terlepas dari kedua unsur formulaik tersebut, Vikings rupanya dapat menjadi medium edukatif untuk lebih dekat memahami beragam kebudayaan. Beragam kebudayaan tersebut melalui konfigurasi simbol dan penanda yang terbangun di dalam formula adventure. Bagi saya, bangunan artistik dalam setiap bagian mise en scene di dalam Vikings sangat penting untuk ditelusuri.   

 

Vikings dan Komunikasi Kebudayaan

 

Terdapat setidak-tidaknya dua hal yang dikomunikasikan oleh Vikings, yaitu kebudayaan dan sejarah. Film adalah sarana artistik untuk mengomunikasikan sesuatu—termasuk yang saya sebutkan sebelumnya. Dalam konteks tersebut, film mengomunikasikannya melalui citra visual, audio, pencahayaan, komposisi, penataan set, gaya bahasa, dan sebagainya. Penataan citra-citra ini dikemas untuk menghasilkan efek dan tentu saja pesan ke alam interpretasi penonton. 

Dalam konteks kebudayaan dan peradaban, Vikings memperlihatkan citra yang berbeda-beda dari setiap latar tempat yang dijelajahi oleh Lodbrok dan keturunannya. Melalui sudut pandangnya, kita akan berjumpa dengan kebudayaan Nordik di Skandinavia, Anglo-Saxon di Inggris, dan Arab di Spanyol. 

Religiusitas, misalnya, ketiganya memiliki cara yang berbeda. Orang-orang Nordik menjadikan darah dan patung sebagai penanda kesucian yang mampu menjadi medium di antara dirinya dengan Odin, Thor, Freya, dan sebagainya. Sementara Anglo-Saxon menjadikan salib suci sebagai medium antara dirinya dan Tuhan. Kemudian, Arab tentu saja dianggap tidak menjadikan apa-apa sebagai mediumnya dalam serial tersebut.

Selain itu, Vikings juga memproyeksikan yang lain, seperti cara makan, peralatan makan yang digunakan, tempat tinggal, cara bertani, cara berperang, perangkat perang, cara berbahasa, dan masih banyak lagi yang dikomunikasikannya.

Namun, ada hal yang menarik ketika serial Vikings mengomunikasikan hal tersebut. Salah satunya melalui efek pencahayaan. Elemen ini menjadi sesuatu yang penting dalam mengemas berbagai kebudayaan. Di Arab Spanyol, misalnya, efek pencahayaan terang dan bergelimang serta didukung dengan properti lampu bergelantungan dan sebagainya, memberikan pengetahuan bagi penonton bahwa Arab memiliki kebudayaan dan teknologi yang lebih maju ketimbang lainnya. Berbeda ketika Skandinavia, efek pencahayaan yang divisualisasikannya sedikit redup dengan penanda properti sumber pencahayaan yang masih terbatas. 

Kendati demikian, setiap kebudayaan memiliki kelebihan dan kekurangannya. Nordik, misalnya, memiliki kebudayaan maritim yang kuat. Bahkan mereka jauh lebih mengenal teknologi navigasi ketimbang yang lainnya. Namun jika ditinjau dari kebudayaan tulis, Nordik yang paling tertinggal. Mereka masih menggunakan kekuatan kelisanan untuk mendistribusikan pengetahuan leluhurnya. Sementara orang-orang Anglo-Saxon sudah mengenal keaksaraan melalui pengaruh gereja.  Namun di Arab, citra ini tidak ditampakkan dalam serial karena interaksi kebudayaan mereka pun sangat sedikit. 

Kebudayaan kelisanan dan keberaksaraan ini sangat penting untuk disimak lebih jauh, karena di sinilah komunikasi kebudayaan itu terjadi bahkan saling memengaruhi antarsatu sama lain di kemudian hari.  

Kebudayaan bersastra dalam serial ini hanya ditampakkan melalui dua latar tempat, yaitu di Skandinavia dan Inggris. 

Sebelum kedatangan Vikings di Inggris, karya sastra hanya diwarnai dengan proses intertekstualitas Bible ke hal lain, seperti “Cædmon’s Hymn”, “Deor’s Lament”, atau “The Seafarer”. Fungsinya untuk digunakan sebagai doa pujian atau ratapan di dalam katedral. Meskipun ada pula beberapa karya lain seperti sejarah yang ditulis oleh Pastor Bede atau Santo Bede dengan judul Ecclesiastical History of the English People. 

Dalam serial tersebut—bahkan dalam sejarah Sastra Inggris Kuno, keberadaan sastra sangat erat kaitannya dengan spiritualitas Kristiani. Hal ini sangat diwajarkan, karena pengetahuan saat itu, sepenuhnya dikontrol oleh gereja. Bahkan ketika melakukan pembacaan filologis karya-karya kuno, maka para pastorlah yang menjadi filolog. Cara mereka berdialog sehari-hari pun memang sering menggunakan gaya bahasa ironi dan simbolisme, tetapi tetap terdeterminasi dari Bible. 

Namun, mendaratnya bangsa Viking di tanah Inggris, setidak-tidaknya terdapat beberapa genre baru yang didistribusikan oleh orang-orang Viking di Inggris, seperti petualangan (adventure) dan kepahlawanan (heroes), kisah-kisah (sagas) tentang keluarga, dan mitos-mitos penciptaan hingga Ragnarok. Semua cerita-cerita tersebut dilisankan kepada anak-anak mereka dan kerabatnya. Hal inilah yang setidak-tidaknya diproyeksikan dalam serial Vikings.

Tidak ada latar khusus untuk melantunkan cerita-cerita tersebut. Terkadang dilakukan sebelum tidur, di meja makan, ketika mereka kumpul bersama, bahkan di kapal saat mereka melakukan ekspedisi. Cerita-cerita tersebut adalah hiburan yang bisa mengisi hari-hari mereka. Meskipun dilisankan, tetapi hal itu bisa bertahan hingga berabad-abad lamanya dan begitulah cara mereka menarasikan kebudayaannya.

Salah satu karya yang paling terkenal dan memengaruhi Inggris Kuno adalah “Beowulf”, karya yang sangat fenomenal sepanjang sejarah Sastra Inggris dan berkontribusi memberikan ribuan bahasa figuratif baru—bahkan bahasa baru—bagi Inggris Kuno. Karya ini diidentifikasi sebagai puisi epik oleh para sarjana-sarjana Inggris abad ke-9. Tidak ada latar tempat yang merujuk pada Inggris di puisi ini, semuanya berlatarkan Skandinavia. Akibat puisi inilah—yang salah satunya—cerita-cerita Inggris Kuno berwarna—khususnya Saxon Barat. Meskipun masih banyak karya-karya lain yang belum saya sebutkan satu per satu.

Ingatan cerita-cerita dari Skandinavia yang dibawa oleh orang-orang Nordik terus hidup dalam kebudayaan tulis di Inggris. Cerita-cerita tersebut didokumentasikan oleh para rohaniawan gereja di Inggris. Meskipun terdapat kontroversi di dalamnya karena perubahan beberapa fakta-fakta dari kaum Paganisme. Namun kemungkinan, hal itu adalah cara untuk tetap mengarahkan masyarakat Inggris agar tetap patuh terhadap gereja meskipun terdapat kebudayaan baru yang didistribusikan oleh Nordik. Terbukti Inggris masih terkungkung di bawah kuasa gereja hingga akhir abad ke-15.

Dari serial Vikings, kita mampu memproyeksikan bahwa hubungan antara Skandinavia dan Inggris tidak sekadar dimediasi oleh darah yang tertumpah di medan perang. Namun komunikasi kebudayaan melalui berbagai medium, justru menjadi penghubung yang kuat di antara mereka.   


Suka dengan tulisan ini? Kamu bisa mengirimkan donasi kepada penulis agar penulis lebih semangat menulis 🙂

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *