Melihat Lebih Dekat Buku Artistik di SOKONG! Reading Area

Penulis

21 Februari 2025, Semut Api Media menghadiri acara SOKONG! Reading Area, pembukaan toko buku TOS! dan studio bermain Zine Zan Zun. TOS! adalah toko buku dan perpustakaan yang dikelola oleh SOKONG!, sebuah penerbitan alternatif yang fokus dalam penerbitan buku dan zine fotografi. Konsep dari acara ini adalah ‘Pelan-pelan buka toko’. Sedangkan Zine Zan Zun adalah sebuah kolektif zine yang sementara ini, menerbitkan zine sastra dengan tawaran desain visual yang tak umum. Acara tersebut diadakan di Bolo Space, sebuah toko kopi yang di halaman belakangnya menyediakan ruang diskusi publik, tempat tersembunyi TOS! dan studio Zine Zan Zun berada.

 

[Tampak depan TOS!, Bolo Space, Yogyakarta, 21 Februari 2025 © 2025 Dhika Marcendy, arsip pribadi]

SOKONG! Reading Area sebenarnya adalah ruang baca temporer untuk aktivitas membaca, berbagi, dan berdiskusi dengan menghadirkan koleksi buku artistik pilihan di setiap edisinya. Pada edisi khusus kali ini, buku-buku yang hadir berasal dari Pentas Buku Foto 2025 yang menyajikan 37 buku atau zine Indonesia. Mereka juga memamerkan 51 buku foto Dummy Award ‘24 Shortlist. Selain itu, mereka juga mengadakan Sesi Percakapan Kecil yang membicarakan seluk beluk kerangka kerja penerbitan artistik dengan para pegiat dan penikmatnya.

 

Mendengarkan Obrolan Kecil antara SOKONG! dan Zine Zan Zun

 

[Prasetya Yudha (kiri) dan Kurnia Yaumil Fajar dari SOKONG! sedang membuka Sesi Percakapan Kecil, Bolo Space, Yogyakarta, 21 Februari 2025 © 2025 Dhika Marcendy, arsip pribadi]

Dalam Sesi Percakapan Kecil kali ini, SOKONG! memberikan sedikit pengantar tentang acara yang mereka buat dan menceritakan sejarah singkat tentang asal usul SOKONG! dan TOS!.

 

“TOS! dibuka, art book shop and library by SOKONG!, mohon doanya. Jadi, sesinya dalam rangka pelan-pelan SOKONG! buka toko ini, kami mengadakan SOKONG! Reading Area dan ada juga Sesi Percakapan Kecil yang kita mulai dengan kita berdua. Kenapa ya kita berdua? Untuk mengenalkan SOKONG!. Jadi hari ini kita akan ngobrol sama TOS!, mungkin kami hanya memperkenalkan TOS!, kemudian kita akan ngobrol juga sama Zine Zan Zun. Jadi, kami akan ngobrol berempat antara SOKONG! dan Zine Zan Zun yang akan menjadi tetangga dalam beberapa waktu ke depan,” kata Kurnia Yaumil Fajar, yang akrab disapa Nia, dalam Sesi Percakapan Kecil.

 

Sedikit tentang SOKONG!, mereka berdiri pada 2018. Ia diprakarsai oleh Danysswara, Deni Fidinillah, Kurnia Yaumil Fajar, Moh. A. Ulul Albab, dan Prasetya Yudha. Mulanya SOKONG! menjual hasil karyanya, baik digital dan cetak, secara daring di situs web mereka.

Kemudian, Prasetya Yudha, akrab disapa Pras, menceritakan alasan mengapa mereka membuka TOS! sebagai toko luring sekaligus perpustakaan. 

 

“Jadi ide awalnya adalah membawa percakapan-percakapan di rumah kami di Keparakan Kidul untuk di Bolo gitu, Bolo Space ini. Karena biasanya di rumah kami berdua sekaligus di SOKONG!, tapi juga sekaligus jadi ruang publik. Kadang tuh kayak ruang privat sama ruang publik tipis karena kalau ada teman yang dateng, kami gantian jadi teman berbincang gitu, yang kadang tamunya nggak tahu waktu. Tapi kita juga hmm hmm hmm gitu, jadi bagaimana membawa percakapan itu ke ruang publik itu ya… Jadi ada sebuah cerita, di tahun 2019, ada seorang peneliti dari Taipei datang ke Jogja untuk meneliti soal penerbitan mandiri, penerbitan foto independen. Terus waktu itu ditanyain soal apa yang kalian bayangkan lima tahun ke depan. Terus salah satu dari kami menjawab, pengen bikin perpustakaan. Terus ya itu terus di tahun ini, dengan energi yang melimpah gitu hasil dari tahun 2024 berkeliling menjadi organisasi festival dan punya jaringan yang bertemu dengan banyak orang… Terus melihat bahwa praktik penerbitan, membuat buku, membuka sekali peluang untuk berinteraksi sosial gitu, alih-alih berdagang ya. Jadi bagaimana menjadi penerbit, terus membuka toko buku, membuka akses ke perpustakaan… Jadi dorongan untuk bertemu dengan lebih banyak orang atau membuka interaksi sosial yang lebih, bagaimana buku berpotensi untuk membangun peristiwa sosialnya sendiri,” ungkap Pras.

 

[Suasana dalam TOS! dengan beberapa buku yang bisa dibaca oleh pengunjung, Bolo Space, Yogyakarta, 21 Februari 2025 © 2025 Dhika Marcendy, arsip pribadi]

Dan kebetulan beberapa waktu ke belakang, Nia dan Pras dipertemukan dengan Bagus Suitrawan, pengelola Bolo Space. Dalam pertemuannya, Bagus menceritakan keinginannya untuk membuat halaman belakang Bolo Space menjadi sebuah ruang publik, juga ruang untuk komunitas, tapi tetap menjadi ruang komersil. Nia dan Pras merasa ini adalah waktu yang tepat untuk mewujudkan keinginan mereka membuka toko dan perpustakaan. Kebetulan, Nia dan Pras cocok dengan suasana halaman belakang Bolo Space.

Nia dan Pras juga mengakui bahwa mereka sempat hilang semangat mengelola penerbitan ini. Namun pada 2022, semangat mereka pelan-pelan mulai terbakar lagi setelah mengikuti Jakarta Art Book Fair di tahun itu. 

 

“2022, Jakarta Art Book Fair untuk pertama kali, juga terbilang baru. Waktu sampai sana ternyata cukup banyak penerbit di Indonesia yang berfokus di art book. Teman-teman desain, terus banyaknya desain. Pas di sana, aku pribadi sangat senang berjualan. Proses ketemu orang di table booth book fair, buatku sangat menyenangkan. ‘Oh kayaknya (kalau punya) toko lucu ya…’ Sekarang kita punya toko. Pertemuan-pertemuan itu (membangun rasa) percaya diri. Terus di tahun kemarin ada Yogyakarta Art Book Fair, juga ketemu teman-teman pegiat yang bikin art book dan zine di Jogja. Kayaknya oke ya kalau misalnya ‘Eh, ada toko yang secara khusus menjual art book dan zine’. Toko buku banyak banget di Yogyakarta, tapi kami tahu sebenarnya beban dari publisher kami, agak kesulitan untuk menaruh produk kami di toko buku-toko buku itu, misalnya kayak di Buku Akik, di Bawa Buku, di Warung Sastra, misalnya. Karena stok teman-teman yang bikin zine bikin art book itu pasti sedikit, kita nggak mungkin (cetak) sampai 1000 gitu,” ujar Nia.

 

Kemudian Nia dan Pras menceritakan contoh art book yang mereka beli waktu menghadiri festival art book di Indonesia maupun di luar negeri. Ada empat buku yang mereka perlihatkan ke pengunjung. Keempat buku tersebut temanya berbeda-beda dan memiliki nilai artistik yang unik–alasan mereka memilih karya-karya itu sebagai referensi SOKONG! ke depannya. Mereka menilai setiap buku yang dipamerkan itu sangat mengejutkan dan bisa jadi referensi baru bagi pegiat fotografi di masa mendatang.

Selesai dengan SOKONG!, Nia dan Pras mengundang Zine Zan Zun maju ke kursi pembicara untuk memperkenalkan diri dan menceritakan awal mula terbentuknya kolektif ini.

 

[Kumpulan koleksi zine karya Zine Zan Zun dan beberapa buku koleksi mereka yang bisa dibaca oleh pengunjung, Bolo Space, Yogyakarta, 21 Februari 2025 © 2025 Dhika Marcendy, arsip pribadi]

Zine Zan Zun adalah kolektif zine yang diprakarsai oleh Barorka dan Azka Elfaatih. Kolektif ini umurnya masih sangat muda, baru tiga bulan. Di waktu yang singkat itu mereka memberanikan diri untuk membuka studio. Ruang kerja itu didedikasikan sebagai ruang bebas untuk semua orang belajar membuat zine dan memajang hasil karya mereka sendiri agar dibaca oleh para pengunjung yang datang.

 

“Kenapa kita bikin Zine Zan Zun ini, sebenarnya alasan personal aja ya dulu bikin zine itu. Awalnya kita ini di-lay off dari perusahaan dan gara-gara di-lay off itu, kita kepikiran berdua ngobrol di 774 (toko kopi). Dari hasil ngobrol di 774 itu, kita punya kesamaan suka menulis… Kita tidak berani sebenarnya untuk menerbitkan buku yang official, karena ya karena kita masih masih punya ketakutan-ketakutan kecil terhadap banyak suara dari luar. Akhirnya kita cari bentuk apa nih yang bisa mengakomodir kesukaan menulis kita, akhirnya bikin zine itu. Dan zine itu, yang volume pertama terbit ini adalah tentang keresahan-keresahan kita dan tentang pengalaman kita selama bekerja itu, gitu sih latar belakangnya,” kata Azka Elfaatih, yang akrab disapa Azka.

 

Sejauh ini, Zine Zan Zun sudah menerbitkan tiga zine. Zine pertama dibuat oleh Barorka, akrab disapa Akbar, yang berisikan kumpulan puisi pilihannya. Kedua adalah zine buatan Azka yang berisikan kumpulan prosa pendek. Ketiga adalah sebuah zine ilustrasi yang dilengkapi oleh potongan-potongan puisi pendek, dibuat oleh Juwita Khoirunissa.

Ketiga zine tersebut dibagikan ke pengunjung yang sedang mendengarkan Sesi Percakapan Kecil.

Lalu Pras menceritakan awal pertemuan SOKONG! dengan Zine Zan Zun dan memberikan beberapa pertanyaan.

 

“Jadi pertemuan kita pertama di Pasar Wiguna. SOKONG! diajak ke Pasar Wiguna, terus kami bikin SOKONG! Reading Area. Lalu kami bertemu Zine Zan Zun. Terus diperlihatkan oleh zine itu, terus ‘wah promising zinester ini, promising banget.’ Tapi ketika ditanya soal apa sih maksudnya zine ini tuh? Bagaimana kalian mendeskripsikan zine ini? Akbar dan Azka bilang kalau ini medium bermain atau wahana, bukan wahana tapi kayak medium bermain, play-nya tuh karena terasa banget di bagaimana mereka mengolah visual dan bagaimana kata-kata jadi image gitu. Terus kayak nggak ada pakem yang perlu diikuti gitu, jadi semangat zine-nya itu emang sebagai medium eksplorasinya tuh kuat. Jadi sebenarnya bermain itu yang bagaimana? Bagaimana kalian memaknai bermain itu di dalam media zine? Karena bahkan playfulness tuh seperti apa sih kalian menerjemahkannya? Playfulness di dalam praktik artistik kalian sendiri, padahal isu dalam zine itu ya berat ya?” tanya Pras.

 

[Akbar sedang membuat contoh zine,  Bolo Space, Yogyakarta, 21 Februari 2025 © 2025 Dhika Marcendy, arsip pribadi]

Azka menjawab, “Menerjemahkan playfulness karena sekali lagi kita berangkat dari di-lay off ya ini… Dan sebagai bentuk coping mechanism… kita cari satu medium lain yang kita bisa have fun gitu, yang intinya adalah kita bisa bermain-main… zine yang kita tahu adalah sesimpel magazine kecil, majalah kecil yang bisa di-publish sendiri. Jadi kita tinggal ke percetakan, kita punya desain, kita cetak, jadi. Tapi setelah kita mendalami, kemudian kita nyoba nyetak-nyetak, terus banyak kegagalan-kegagalan kecil dan kita menemukan resolusi-resolusi baru ya dari internet.”

 

Lalu Pras menguatkan penjelasan Azka dengan mengatakan bahwa praktik artistik Zine Zan Zun ini bukan sekadar pada karya cetakan saja, tapi pada konten-konten di media sosialnya. Pras mengaku dirinya mustahil bisa bikin konten sosial media seperti Zine Zan Zun.

 

“Ya benar sekali. Jadi karena kita berangkat dari spirit have fun, kita pengen melanjutkan spirit have fun itu sampai nantilah… Dalam membuat buku, kan nggak harus serius-serius amat ya kayaknya, biar bisa dinikmati sama semua orang. Sama kita yang sebenarnya, karena kalau balik ke konten tadi sebenarnya kita ini adalah dua pemuda pengangguran yang suka dengan konten-konten brain rot di Twitter (X) gitu, di Twitter dan di TikTok, sehingga referensi-referensi konten kita adalah konten-konten brain rot itu, yang sangat brain rot ya, yang sangat gen alpha… Kita menganggap itu adalah cara yang playful untuk mengomunikasikan ide kita, dan menularkan biar teman-teman bisa ikut have fun dalam membuat buku, dalam membuat zine, dan lain sebagainya,” Tambah Akbar.

 

Di akhir sesi, Akbar dan Azka masing-masing memperkenalkan karyanya dalam zine yang diproduksi Zine Zan Zun. Akbar membaca puisi dan Azka membaca prosa pendek.


Suka dengan tulisan ini? Kamu bisa mengirimkan donasi kepada penulis agar penulis lebih semangat menulis 🙂

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *