Dalam perjalanan panjang perjuangan perempuan di Indonesia, kita mengenal sosok Gunarti pejuang Kendeng, Marsinah buruh yang pemberani, atau Mama Aleta dari Mollo. Bersama perempuan-perempuan Kendeng, Gunarti berjalan jauh ke Jakarta, membawa satu pesan: tanah adalah ibu dan ibu tak boleh dilukai. Di depan Istana Negara, dia mencelupkan kakinya dalam adonan semen. Dia tidak hanya berdiri untuk dirinya sendiri, tetapi untuk anak-anaknya, untuk sungai yang memberi air, untuk sawah yang memberi makan. Sementara di Sidoarjo, Marsinah dan rekan-rekannya menuntut hak mereka: upah yang layak, jam kerja manusiawi, dan keadilan bagi buruh perempuan. Namun, malam itu, rumahnya tak menyambutnya. Jalan yang dia lewati tak membawanya pulang. Beberapa hari kemudian, tubuhnya ditemukan di sebuah ladang, dengan luka-luka yang berbicara lebih banyak daripada kata-kata. Lalu jauh di Timur, ketika ekskavator mulai merobek perut gunung, Mama Aleta tahu dia tak bisa tinggal diam. Gunung Batu Nausus dan Mutis bukan hanya tanah kelahirannya—mereka adalah sumber air bagi ratusan keluarga, tempat para perempuan menenun dengan tangan, menciptakan motif yang menyimpan kisah nenek moyang.
Tiga perempuan pejuang HAM yang hingga saat ini ceritanya menjadi peringatan tentang ketidakadilan kemanusiaan dan lingkungan, menjadi nyala api yang memantik gerakan di mana-mana. Namun, Gunarti, Marsinah, dan Mama Aleta tidak pernah seorang diri. Ada banyak perempuan lain yang turut melawan. Ada banyak cerita yang tidak kita dengar. Tentang anak perempuan yang tidak sekolah lalu dipaksa kawin, tentang perempuan yang mengalami eksploitasi dan pelecehan di ruang kerja, tentang perempuan pejuang lingkungan, hingga tentang perempuan muda yang mengubur cita-citanya. Kisah-kisah ketidakadilan yang pada kenyataannya dihadapi oleh banyak perempuan di berbagai wilayah (minim akses dan terbatas) Indonesia. Di tempat-tempat di mana suara mereka diredam, di mana pendidikan masih menjadi hak istimewa, di mana tubuh mereka lebih sering menjadi ranah perdebatan ketimbang milik sendiri.
Bicara tentang perjuangan perempuan, mari mundur sedikit ke ‘98. Saya jadi ingat sebuah buku yang ditulis Yanti Muchtar–salah seorang pendiri KAPAL Perempuan–dengan judul Tumbuhnya Gerakan Perempuan Indonesia Masa Orde Baru. Buku itu mendudukkan rangkaian kondisi perempuan di masa Orde Baru, yang tidak hanya membahas soal perjuangan, tetapi juga tentang kekuatan perempuan Indonesia dalam menggugat negara atas pemenuhan kebutuhan dasar mereka. Dia menjabarkan tentang bagaimana pada masa itu perempuan menjadi satu-satunya subjek dalam urusan domestik. Kampanye tentang peran bapak rumah tangga, pengasuhan dan perawatan tak berbayar yang masih jauh panggang dari api, menjadi dasar tuntutan utama perempuan; tentang ekonomi, kesehatan ibu dan anak, serta harga bahan pokok saat itu. Sebab bagaimana bisa para suami memberi nafkah–yang dikelola dan diolah menjadi sandang pangan oleh istri–bila kondisi ekonomi kacau balau?
Perjuangan perempuan akar rumput seperti Mama Aleta Baun, Gunarti, dan Marsinah, atau semua perempuan pejuang di luar sana, tentu tidak berdiri sendiri. Gerakan mereka memiliki keterkaitan erat dengan gerakan perempuan dan organisasi perempuan di Indonesia, baik dalam hal advokasi, dukungan hukum, maupun solidaritas antarperempuan. Di tahun 2000 pasca runtuhnya Orde Baru, kondisi organisasi perempuan di Indonesia mengalami perubahan signifikan. Terjadi ledakan organisasi masyarakat sipil termasuk organisasi perempuan. Banyak organisasi dan gerakan perempuan yang sebelumnya ditekan oleh negara dan terkooptasi oleh pemerintah–seperti Dharma Wanita dan PKK–mulai menghidupkan kembali aktivitas mereka dengan lebih mandiri dan progresif. Salah satu contoh organisasi itu adalah KAPAL Perempuan, dengan fokus pada pemberdayaan perempuan akar rumput melalui pendidikan feminisme. Beberapa capaian penting yang lahir dari upaya banyak organisasi/gerakan perempuan di masa itu adalah UU No. 23 Tahun 2004 tentang penghapusan KDRT, kuota 30% perempuan di parlemen, serta diskusi intensif RUU Penghapusan Kekerasan Seksual yang mulai dirancang meskipun pengesahannya terjadi bertahun-tahun kemudian.
Peta perjalanan gerakan perempuan di Indonesia telah menemui titik panjangnya. Sudah sangat lama organisasi seperti KAPAL Perempuan dan sejenisnya memperjuangkan hak-hak perempuan dalam berbagai aspek, mulai dari hak agraria, buruh, lingkungan, hingga kekerasan berbasis gender. Perlawanan yang dilakukan Mama Aleta Baun dan Gunarti adalah bentuk dari kelanjutan jejak perjuangan feminis terdahulu dengan membawa isu-isu spesifik ke ranah publik dari akar rumput. Walau begitu, tentu dalam perjalanan ini, organisasi perempuan seperti KAPAL Perempuan mengarungi proses yang tidak mudah. Gerakan perempuan di banyak wilayah dan ruang menghadapi tantangan struktural yang berlapis. Dominasi patriarki yang mengakar dalam institusi negara, partai politik, dan masyarakat membuat banyak kasus krusial tidak dapat tertangani dengan mudah. Kasus kekerasan berbasis gender meningkat, sedangkan sistem hukum belum berpihak sepenuhnya kepada korban. Selain itu, dampak krisis ekonomi 1998 masih terasa dan memengaruhi kondisi perempuan pekerja saat itu. Mereka terdampak kebijakan ekonomi neoliberal yang semakin mengikis hak pekerja.
Di beberapa aspek, ketimpangan gender dan ketidakadilan sosial yang ditangani oleh organisasi dan gerakan perempuan Indonesia menghadapi situasi kompleks, terutama di tengah perubahan politik, ekonomi, dan krisis yang terus terjadi. Sebagai organisasi yang berfokus pada pendidikan kritis dan pemberdayaan perempuan dari kelompok marjinal, organisasi seperti KAPAL Perempuan tetap berupaya menjadikan program-programnya terus signifikan. KAPAL Perempuan mendirikan Sekolah Perempuan sebagai wadah pengetahuan kritis perempuan akar rumput dan mengubah permasalahan sistemik yang terjadi. Perempuan memahami soal daya, pilihan, dan hak melalui Sekolah Perempuan, dan membuat perempuan akar rumput memiliki kesempatan untuk terus belajar, menghentikan perkawinan anak, bersuara atas kekerasan, serta memperjuangkan kebutuhan ekonomi perempuan.
Banyak organisasi perempuan yang mengembangkan pos pengaduan kasus bagi korban kekerasan, yang kemudian hal ini mendorong pelibatan perempuan dalam kebijakan desa, agar regulasi bisa berpihak pada korban dan agar upaya penghapusan kekerasan berbasis gender bisa dikerjakan oleh semua pihak secara bersama. Banyak organisasi perempuan yang dalam kerjanya tidak berdiri sendiri. Mereka berjejaring dan melibatkan diri bersama mitra lintas isu seperti lingkungan, pemulihan mental, masyarakat adat, pekerja migran, dan politik, agar upaya kesetaraan yang dikerjakan bisa semakin kuat dan mengakar. Hal ini membuat organisasi perempuan masih terus dibutuhkan, terlebih dalam konteks dunia yang terus berubah, di mana krisis ekonomi, perubahan iklim, dan ketimpangan gender semakin menajam. Tanpa gerakan semacam ini, perempuan dari kelompok paling rentan akan semakin tersingkir dari proses sosial dan politik yang menentukan kehidupan mereka.
Sebagai ruang perubahan, sudah seharusnya gerakan perempuan bersifat interseksional. Artinya, gerakan itu ikut memperhitungkan berbagai bentuk penindasan lain, seperti ras, kelas, dan orientasi seksual. Hal ini sejalan dengan yang disampaikan oleh bell hooks tentang kritik atas gerakan arus utama yang berpusat pada pengalaman perempuan kulit putih kelas menengah dan mengabaikan perempuan dari latar belakang yang lebih tertindas di masa pengalaman hooks saat itu. Dalam karyanya yang berjudul Ain’t I a Woman? Black Women and Feminism (1981) dan Feminism is for Everybody (2000), hooks menekankan bahwa gerakan perempuan harus inklusif dan memberdayakan komunitas secara kolektif, bukan hanya individu. Organisasi perempuan yang bekerja di tingkat akar rumput, seperti KAPAL Perempuan, sangat penting karena memberikan ruang bagi perempuan dari kelompok marjinal untuk berbicara dan memimpin perjuangan mereka sendiri. Sebab memang pada kenyataannya perempuan akar rumput menghadapi opresi ganda yang membuat perempuan semakin rentan untuk tersingkir.
Itulah juga mengapa feminisme dan gerakan perempuan harus menjadi gerakan kolektif, bukan elitis. Caranya adalah dengan tidak sekadar memasukkan perempuan ke dalam struktur yang sudah ada, tetapi menentang sistem tersebut. Perempuan harus menggugat sekaligus membangun solidaritas. Hal inilah yang diupayakan KAPAL Perempuan melalui Sekolah Perempuan. Melalui pendekatan bottom-up, KAPAL Perempuan memulai perubahan dari komunitas perempuan akar rumput itu sendiri. Gagasan yang dibangun oleh KAPAL Perempuan dalam membentuk Sekolah Perempuan adalah bahwa setiap perempuan pasti memiliki pengalaman berbeda. Dengan pendekatan ini, siapa pun akan merasa terlibat dalam kerja-kerja kesetaraan yang diperjuangkan.
Pada ruang periodik perjuangannya, feminisme sebagai ideologi yang dipegang oleh organisasi perempuan sebenarnya ingin menyampaikan kepada semua orang bahwa dunia yang lebih adil tidak hanya membebaskan perempuan, tetapi juga membebaskan laki-laki dari beban maskulinitas toksik, membebaskan kelas pekerja dari eksploitasi, dan membebaskan semua orang dari sistem yang menuntut agar beberapa harus kalah demi kemenangan segelintir orang. Maka bagi banyak kelompok, organisasi, dan gerakan perempuan progresif dan inklusif, feminisme tidak boleh hanya bergerak dari atas ke bawah. Ia harus berakar di komunitas, tumbuh dari pengalaman nyata, dan menyebar sebagai kesadaran yang bisa dimiliki oleh siapa saja. Ia harus membangun jembatan yang hilang antara kelas, ras, dan gender. Bila banyak perempuan kelas elit mendapatkan akses untuk bekerja di sektor profesional, yang membuat pekerjaan rumah tangga mereka dialihkan ke perempuan lain—biasanya perempuan yang dimiskinkan secara sistemik dan kultural—dengan upah rendah dan tanpa perlindungan tenaga kerja yang memadai, maka feminisme harus mengintervensi kondisi ini untuk menantang eksploitasi tenaga kerja.
Feminisme dan gerakan perempuan harus menggugat sistem yang menindas perempuan. Sebab feminisme bukan hanya soal pilihan individu, tetapi soal perubahan kolektif yang menghancurkan ketidakadilan di semua level. Jika gerakan perempuan ingin benar-benar transformatif, ia harus memastikan bahwa tidak ada perempuan yang tertinggal dalam perjuangan ini. Justru di ruangan kecil itu, di Sekolah Perempuan, semua perempuan terus berbicara, berbagi pengalaman, menyusun strategi, dan membangun dunia yang lebih baik. Di sanalah feminisme yang sesungguhnya sedang bekerja, di sanalah masa depan gerakan perempuan Indonesia tercipta.
Suka dengan tulisan ini? Kamu bisa mengirimkan donasi kepada penulis agar penulis lebih semangat menulis 🙂








