Kedigdayaan dan kecanggihan barat tak muncul dari ruang hampa. Ia adalah hasil pertumbuhan berbagai peradaban yang ada, yang sayangnya sengaja dihapuskan perannya.
Perang yang dibawa AS-Israel ke Iran tempo hari menjadi gambaran bahwa penggunaan artileri jenis roket mendefinisikan bagaimana perang berlangsung di zaman modern. Negara yang digdaya stok misilnya, jauh jangkauan roketnya, dan mematikan daya ledaknya akan semakin disegani. Itulah yang selama ini membuat militer AS dan sekutu baratnya begitu ditakuti. Mereka bisa bicara perdamaian sambil memarkir kapal induk. Bisa mengutuk kekerasan sambil memastikan roket yang dikirim menyasar infrastruktur sipil.
Namun pernahkah kita menanyakan, sejak kapan kita begitu otomatis membayangkan teknologi roket sebagai milik Barat? Padahal, salah satu bab penting dalam sejarah roket perang justru datang dari tanah jajahan Inggris di India, yakni Kesultanan Mysore.
Utang pada Mysore
Perang menjadi sarana penaklukan kolonial Inggris lewat tangan East India Company (EIC). Salah satu wilayah yang paling makmur sekaligus paling gigih melawan adalah Kesultanan Mysore (Maisuru), penguasa pesisir timur di selatan anak benua ini. Tentara kolonial itu harus mengakui keunggulan kesultanan itu dalam tiga perang dari empat perang yang mereka langsungkan di abad 18 itu. Militer Mysore memiliki senjata yang tak mampu diantisipasi oleh pasukan Britania yakni hujan roket membuat barisan kuda kocar-kacir.
Roket sebenarnya bukan barang baru dalam sejarah perang. Tiongkok, dunia Islam, Mughal, dan berbagai peradaban lain sudah mengenal proyektil berbasis mesiu jauh sebelumnya. Namun, Sultan Tipu (Fateh Ali Tipu) dari Mysore sukses menginovasikan proyektil udara itu. Pasukan kesultanannya ialah perintis pertama yang menggunakan roket berbahan logam. Bentuknya kerucut sepanjang 20 sentimeter dengan hulu ledak di kepala, roket terbang dengan jangkauan hingga dua kilometer.
Gugurnya sang sultan dalam Perang Anglo-Mysore Keempat pada 1799 membuat Inggris berkesempatan merebut banyak roket dan peralatan pembuatannya. Dari situlah teknologi roket Mysore dipelajari, dibawa ke Inggris, lalu menginspirasi pengembangan Roket Congreve yang kelak digunakan Inggris dalam Perang Napoleon dan Perang 1812.
Tentu saja, dalam buku-buku sejarah populer, cerita ini sering tidak mendapat panggung yang layak. Yang lebih sering kita dengar adalah kemajuan Barat, kecerdasan insinyur Eropa, dan lompatan teknologi militer modern. Nama Mysore muncul sebagai catatan kaki. Tipu Sultan jadi semacam figuran dalam kisah besar imperialisme. Padahal, tanpa eksperimen dan inovasi dari India Selatan itu, sejarah roket Barat mungkin tidak akan berjalan dengan cara yang sama.
Eropa-sentris
Kelangkaan apresiasi terhadap bangsa-bangsa terjajah atas penemuan itu adalah salah satu pengaruh kolonialisme yang paling halus sekaligus paling mengakar. Bukan hanya menyasar sistem politik dan ekonomi saja, kolonialisme turut membangun pengetahuan kita atas peradaban. Saya menyaksikannya ketika di bangku kuliah saat mata kuliah filsafat ilmu diperkenalkan. Tradisi yang disuguhkan di awal cerita selalu berangkat dari filsafat Yunani kuno, lalu melompat ke abad pertengahan Eropa. Seolah-olah peradaban manusia hanya mekar di satu titik saja.
Padahal, tak akan ada filsafat Eropa tanpa terjemahan atas literatur Yunani kuno yang dilakukan oleh para pemikir Islam. Nama-nama seperti Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, dan Al-Khawarizmi adalah para polimat abad ke-8 hingga ke-12 yang punya sumbangsih tak ternilai bagi peradaban manusia. Mereka ikut membentuk cara manusia memahami logika, kedokteran, matematika, astronomi, dan metafisika.
Yunani kuno tak melulu jadi titik nol sejarah pemikiran. Bahkan saat Eropa merasa dirinya menjadi pusat akal sehat semesta, berbagai tradisi pengetahuan telah tumbuh di banyak tempat. Benih-benih kebijaksanaan turut muncul seperti tradisi Zoroastrian di Iran kuno, beragam tradisi Veda di tanah Hindu, hingga Taoisme dan Konfusianisme di Tiongkok, sistem pengobatan lokal di Afrika hingga pengetahuan navigasi dan perbintangan masyarakat Pasifik.
Cebok dan rasa percaya diri
Hegemoni barat pun tak cuma menyasar produksi hal adiluhung seperti filsafat ilmu. Perkara menjaga kebersihan diri juga tak luput dari konstruksi sosial era modern ini. Seperti cebok sehabis BAB hanya menggunakan tisu adalah keutamaan dalam higienitas. Di Amerika Serikat dan sebagian Eropa Barat, kebiasaan menggunakan tisu toilet masih sangat dominan. Sampai-sampai saat pandemi, panic buying memicu keributan warga AS rebutan tisu toilet.
Rasa gumun ternyata mewarnai saat tersiar kabar pemasangan bidet oleh Zohran Mamdani, Wali Kota New York keturunan India dan Muslim, di Gracie Mansion, tempat wali kota bertempat tinggal. Bagi sebagian orang Amerika, toilet duduk dengan penyiram air itu mungkin terdengar seperti pembaruan fasilitas kamar mandi. Namun bagi kebanyakan warga Asia dan Afrika membersihkan diri dengan air setelah buang hajat adalah kebiasaan yang sangat wajar. Justru kebiasaan membersihkan diri tanpa air sulit untuk diterima. Kalau tangan terkena kotoran, kita tidak akan membersihkannya hanya dengan tisu kering. Kita pakai air. Seperti kalau piring berminyak, kita tidak mengelapnya dengan tisu lalu merasa selesai. Kita mencucinya. Itulah kenapa di Indonesia, gayung air adalah benda yang keberadaannya tidak perlu filsafat. Ia ada begitu saja tanpa mengundang banyak tanya.
Merasa paling bersih
Dunia modern yang Eropa-sentris ini memandang rendah perilaku bebersih warga negara dunia ketiga. Padahal, jauh sebelum kita berbicara soal sistem sanitasi modern, orang-orang Eropa yang datang ke Afrika pada abad ke-17 dan ke-18 sempat dibuat terperangah oleh Kota Benin, pusat Kerajaan Benin yang kini berada di Nigeria. Kota itu dikenal memiliki tata kota yang teratur, jalan-jalan lebar, rumah-rumah tertata, serta sistem pertahanan berupa jaringan tembok dan parit tanah yang sangat luas. Jika dihitung sebagai keseluruhan sistem earthworks, jaringan Benin itu diperkirakan membentang hingga ribuan kilometer.
Jaringan kompleks itu berbentuk benteng, parit, dan batas permukiman. Bahkan kota kuno itu memiliki drainase air yang menjaga kebersihan kota dan mencegah air meluap. Pembangunan yang kompleks itu menunjukkan adanya organisasi sosial, perencanaan ruang, dan kemampuan teknik yang sama sekali tidak cocok dengan imajinasi kolonial tentang Afrika sebagai wilayah “primitif”.
Sementara itu, pada era yang sama, Sungai Thames di London justru menjadi selokan raksasa. Limbah pabrik dan kotoran manusia bermuara di sana. Pada musim panas tahun 1858 gelombang panas membuat sungai surut. Alhasil seluruh kotoran menumpuk dan menimbulkan bau busuknya menyengat seantero kota. Periode itu dikenang dalam sejarah Inggris dengan nama The Great Stink.
Solidaritas
Kepercayaan diri negara-negara bekas jajahan perlu ditingkatkan. Apalagi melihat kondisi pasca perang yang dibawa AS-Israel ke Iran. Persenjataan dengan harga triliunan dolar bukan jaminan menang atas konflik tersebut. Blunder-blunder kebijakan luar negeri Trump yang semakin nyeleneh mulai dianggap sebagai kedodorannya Barat yang mencitrakan diri sebagai mitra kerja yang stabil. Sampai-sampai lembaga pemeringkat kredit internasional, Moody’s, menurunkan peringkat kredit AS. Sinyal bahwa kepercayaan dunia bisnis mulai goyah. Di tengah kemunduran hegemoni AS itu, banyak negara mulai menanggalkan ketergantungan pada patronase Barat. Aliansi-aliansi baru di tengah dunia yang multipolar pun terbentuk. Hubungan bilateral antar negara menguat.
Mungkin sudah waktunya kita lebih serius membangun kerja sama dengan sesama negara-negara Asia, Afrika, Amerika Latin, dan dunia Selatan yang juga punya masalah serupa. Kerja sama Selatan-Selatan (South-South Cooperation) bukan sekadar jargon konferensi. Ia bisa menjadi cara untuk saling menguatkan tanpa harus selalu menunggu restu dari pusat-pusat kekuasaan lama. Seperti diingatkan Vijay Prashad dalam kuliah umumnya, negara-negara Global South kini mulai mengembangkan ‘agenda mereka sendiri’, tidak lagi sekadar mengikuti apa yang ditentukan oleh Barat. Kita, sesama negara-negara bekas jajahan bisa saling belajar soal pangan, energi, kesehatan, teknologi tepat guna, pendidikan, budaya, hingga cara membangun masyarakat yang makmur dan sejahtera.
Saya suka menganalogikannya: kenapa kita harus memaksakan diri berdagang dan menggantungkan seluruh orientasi ekonomi pada orang (negara-negara) kaya, jika sesungguhnya kita bisa mengonsolidasikan kebutuhan dengan sesama orang (negara) yang kurang kaya alias miskin? Solidaritas sejati sering kali lahir dari kesamaan nasib. Kesamaan itu justru bisa menjadi fondasi kerja sama yang lebih seimbang. Ketimbang memaksakan diri masuk ke dalam kemitraan yang timpang dengan negara maju. Di mana arah pembangunan dan ekonomi berpotensi dikendalikan dari luar. Seperti yang pernah terjadi ketika IMF memasukkan agenda pembangunannya ke dalam negeri ini sebagai syarat pinjaman lunak yang kita terima.
Rasa minder memandang diri sendiri sebagai wilayah yang kurang maju sedikit banyak membuat orientasi pembangunan kita tanpa disadari mengejar pengakuan dari negara-negara kaya. Sampai-sampai pemimpin kita asyik wara-wiri ke luar negeri bersua pemimpin negara-negara kaya itu, berharap kecipratan untung. Langkah lama membebek pada kekuatan barat itu sudah seharusnya dapat ditinggalkan. Apalagi di tengah merosotnya kekuatan Barat terhadap dunia. Kemunduran itu menimbulkan pertanyaan, seberapa andal persekutuan dengan mereka tetap harus dipertahankan. Saya pikir hanya dengan tekad dan perasaan yang tajam kita sebagai bangsa dapat keluar dari pola pikir memuja kemajuan barat itu. Dan memperkuat kerja sama yang erat dengan bangsa-bangsa senasib lainnya, South-South Cooperation, untuk menyongsong kemajuan bersama. END
Editor: Benediktus Fatubun
Hai, SAM ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membacanya sampai akhir.
Jika kamu suka dan mendapat sesuatu dari tulisan ini, mari kita apresiasi penulisnya dengan klik link di bawah ini:








