Politik Penafsiran: Harian Merdeka dan Perbedaan Sikap Partai-Partai Indonesia atas Revolusi Hongaria 1956 

Penulis
Sebuah catatan koran lawas pada masa Demokrasi Liberal, yang memperlihatkan bagaimana pemberitaan Revolusi Hongaria 1956 menjelma menjadi politik penafsiran ideologis bagi partai-partai di Indonesia.

Pada masa Republik Rakyat Hongaria di bawah rezim János Kádár (1956–1989), Revolusi Hongaria 1956 dicap sebagai pemberontakan kontra-revolusi Horthyist.1 Propaganda bahwa Revolusi Hongaria 1956 dilakukan oleh pengkhianat kontra-revolusi terus didengungkan selama era rezim Kádár. Sejak saat itu, pembicaraan mengenai Revolusi 1956, pemerintahan Imre Nagy (yang dicap pemberontak dan “kontra-revolusi” oleh Kádár), dan Imre Nagy itu sendiri menjadi tabu di Hongaria.2

Dunia Kedua pun mengalami keretakan karena terjadinya Revolusi 1956, yang di mana Khruschev mengirim tank-tank Soviet ke Hongaria untuk menumpas pemberontakan dan mengembalikan kontrol Soviet di Hongaria (Bevins 2022:96). Narasi-narasi “kontra-revolusi” pun mulai didengungkan untuk melegitimasi intervensi Soviet di Hongaria itu.

Narasi “kontra-revolusi” tidak berhenti di Hongaria. Melalui berita-berita internasional dan kemelut Perang Dingin, cara memaknai Revolusi 1956 turut mempengaruhi pemberitaan di berbagai negara, termasuk Indonesia. Di Indonesia, pemberitaan mengenai Revolusi 1956 juga menjadi bagian dari politik penafsiran ideologis bagi berbagai partai saat itu yang membedakan posisi masing-masing partai. Artikel ini hendak menelusuri bagaimana Revolusi 1956 dipahami melalui pemberitaan harian Merdeka dengan adanya sikap politik PKI dan partai-partai nasionalis-agamis.

Harian Merdeka dalam Kemelut 1956

Harian Merdeka didirikan oleh B.M. Diah pada 1 Oktober 1945 (Wibisana 2022a). Harian Merdeka tidak hanya berisi B.M. Diah seorang diri dari awal, melainkan ada orang-orang lain seperti Rosihan Anwar dan Joesoef Isak (redaktur pertama).3 Menurut Wibisana (2022c) yang mengutip J.R. Chaniago dkk. dalam buku putih Ditugaskan Sejarah: Perjuangan Merdeka 1945-1985 (1987:73), periode Joesoef Isak sebagai redaktur, harian Merdeka tampil sebagai “koran pembela Manipol dan kebijaksanaan-kebijaksanaan politik Presiden Sukarno yang paling gigih.”

Pada masa itu, banyak koran yang memilih untuk berafiliasi dengan partai tertentu. Hal tersebut tidak dilakukan oleh harian Merdeka, dan mereka memilih untuk tetap independen, walaupun B.M. Diah sendiri sejatinya ialah simpatisan Partai Nasional Indonesia (PNI). Independensi harian Merdeka ini cukup istimewa pada saat itu, karena harian Merdeka merupakan salah satu dari dua koran yang mengambil sikap independen selain koran Indonesia Raya yang dipimpin oleh Mochtar Lubis, walaupun koran Indonesia Raya sendiri sejatinya dekat dengan Angkatan Darat (Wibisana 2022b).

Pada harian Merdeka edisi 26 Oktober 1956 (1956a), terdapat pemberitaan mengenai Revolusi Hongaria 1956. Harian Merdeka memberitakan bahwa “pemerintah Hongaria” tengah meminta bantuan Uni Soviet untuk menumpas amarah rakyat Hongaria terhadap pemerintahannya.

Gambar 1. Harian Merdeka edisi 26 Oktober 1956 (1956a) hlm. 1, yang memberitakan bahwa Hongaria dalam keadaan darurat. (Akses melalui Khastara Perpusnas)

Berita tersebut diambil dari kantor berita Reuters di Wina, Austria. Pada paragraf dua, tertulis bahwa: 

“Sebelum [keadaan darurat di Hongaria] ini, Radio Budapest pada malam Rabu [24 Oktober 1956] menyiarkan pengumuman kabinet Hongaria yang mengumumkan bahwa anasir-anasir kontra-revolusioner dan anasir-anasir reaksioner telah mengadakan serangan bersenjata terhadap gedung-gedung pemerintah dan kesatuan-kesatuan penjaga ketentraman umum Hongaria.”

Yang dimaksud sebagai anasir-anasir kontra-revolusioner dan reaksioner, dalam konteks kutipan di atas, ialah para demonstran yang menuntut reformasi dan liberalisasi Hongaria setelah sebelumnya diperintah oleh pemerintahan Mátyás Rákosi (1892-1971, menjabat 1945-1956) yang Stalinis. 

Tatkala Rákosi jatuh dari tampuk kekuasaan, demonstrasi tidak berhenti begitu saja. Hal itu karena pengganti Rákosi, Ernő Gerő, memiliki rekam jejak yang tidak jauh berbeda dengan Rákosi yang Stalinis. Demonstrasi pun masih terjadi, tetapi kali ini menuntut agar Gerő mundur, dan demonstran minta agar Imre Nagy, seorang Komunis yang lebih reformis dan liberal, menjadi Perdana Menteri Hongaria untuk kedua kalinya, setelah sebelumnya pada 18 April 1955 dipecat oleh Rákosi dengan pemerintahan Stalinis-nya (Adyatma 2026).

Gambar 2. Harian Merdeka edisi 26 Oktober 1956 (1956b) hlm. 2, sambungan dari hlm. 1. (Akses melalui Khastara Perpusnas)

Pada sambungan di hlm. 2, terdapat pemberitaan mengenai tuntutan demonstran agar Imre Nagy diangkat (kembali) menjadi Perdana Menteri Hongaria. Pada Rabu malam (24 Oktober 1956), Reuters Wina melaporkan bahwa terdapat 120 orang “kontra-revolusi” yang menyerahkan diri (Merdeka 1956b). Pada paragraf sembilan, tertulis bahwa:

“Keadaan sangat genting; kaum kontra-revolusioner menyerang gedung-gedung umum, membunuh penduduk sipil, serdadu-serdadu dan anggota-anggota kepolisian keamanan masyarakat. Pemerintah Hongaria minta bantuan kepada angkatan perang [militer] Uni Soviet yang ditempatkan di Hongaria. Tank-tank dan mobil-mobil lapis baja beserta serdadu-serdadu Soviet membantu tentara Hongaria.”

Kutipan tersebut menguatkan bahwa pemberitaan harian Merdeka menyiratkan kelompok kontra-revolusi—yang merupakan demonstran dan mahasiswa—sebagai villain. Walaupun begitu, berita edisi tersebut tidak berusaha menyalahkan Imre Nagy atas demonstrasi “kontra-revolusi” yang terjadi, dengan cara berusaha “memisahkan” Imre Nagy dengan demonstran, sebagaimana yang tertulis pada paragraf sepuluh:

“Kaum pemberontak [demonstran] telah mengabaikan tawaran penghentian tembak-menembak dari perdana menteri baru, Imre Nagy […].”

Pada 4 November 1956, Soviet benar-benar datang dan menginvasi Hongaria dengan mereka namakan sebagai Operasi Angin Puyuh (Vichr). Harian Merdeka edisi 6 November 1956 (1956c), memberitakan bahwa Soviet mengancam kelompok demonstran dengan narasi “nasionalis Hongaria”, agar segera menyerahkan diri. Berikut teksnya:

“Kementerian [L]uar [N]egeri Inggris mengumumkan hari Minggu [4 November 1956] ini, bahwa Uni Soviet telah memberikan ultimatum kepada pemerintah Hongaria, supaya kaum pemberontak yang terdiri dari nasionalis-nasionalis Hongaria segera menyerah. Kalau tidak, [ibu] kota Budapest akan dibom dari udara.”

Selain itu, harian Merdeka juga memberitakan bahwa János Kádár telah diangkat oleh Soviet menjadi Perdana Menteri Hongaria yang baru, menggantikan Imre Nagy. Untuk edisi kali ini, memang cukup banyak peristiwa selama Revolusi 1956 yang diberitakan oleh harian Merdeka. Selain itu, berita tentang Revolusi 1956 dalam harian Merdeka ini juga berbagi “ruang” dengan pemberitaan peristiwa besar lain dalam kancah internasional, yakni Krisis Suez.

Gambar 3. Harian Merdeka edisi 6 November 1956 (1956c) hlm. 1. Beberapa peristiwa yang terjadi selama terjadinya Revolusi 1956 juga dibahas dengan cukup detail di koran itu, sebagaimana yang akan kita lihat sebentar lagi. (Akses melalui Khastara Perpusnas)

Ada satu berita yang cukup menarik perhatian pada hlm. 1 itu, yakni perihal Ernő Gerő yang dibunuh. Penggunaan judul “Ernoe Geroe [sic] Dibunuh!” itu mungkin hanya dilebih-lebihkan, karena isi beritanya membahas tentang pemecatannya dari Partai pada 25 Oktober 1956 (Merdeka 1956d). Ernő Gerő sendiri meninggal pada 12 Maret 1980 di Budapest.

Selanjutnya, bagaimana nasib harian Merdeka setelah itu? Pada era ’60-an, harian Merdeka mengalami gonjang-ganjing yang membuatnya bergeser spektrum ideologi. Pada 17 Agustus 1963, Joesoef Isak didepak sebagai pemimpin redaksi (Kusumabrata 2024), dan posisi pemimpin redaksi digantikan oleh Hiswara Darmaputera, yang menggeser spektrum ideologi ke tengah-kanan (Wibisana 2022d).

Lalu, bagaimana dengan Joesoef Isak? Mengutip Kusumabrata (2024), Joesoef Isak sejatinya ditawari promosi jabatan oleh B.M. Diah menjadi direktur Dewan Pimpinan Merdeka yang tugasnya mengurus harian, majalah, percetakan, dan Indonesian Observer, koran berbahasa Inggris milik harian Merdeka. Namun, atas berbagai pertimbangan, Joesoef Isak menolak promosi jabatan itu. Akhirnya pada 20 Agustus 1963, Joesoef Isak sudah tidak lagi aktif di harian Merdeka (Wibisana 2022d).

Sikap PKI vs Partai Nasionalis-Agamis

Untuk melihat bagaimana PKI menyikapi Revolusi 1956, kita harus tahu bagaimana posisi politik PKI pada saat itu. Menurut Bevins (2022:95), PKI secara resmi pro-Soviet. PKI ikut aliran Khruschev yang berada dalam semangat de-Stalinisasi dan menuju masa depan moderat pasca-Stalinis. 

Namun, pada praktiknya, terutama pasca-Pemberontakan Madiun 1948, PKI melakukan reorganisasi di bawah kepemimpinan D.N. Aidit, yang menjadikan PKI sebagai partai dengan berbasis massa, dan ideologi yang fleksibel. PKI era Aidit menolak angkat senjata, dan kerap tidak mengindahkan instruksi dari Moskow, dan merapat ke Sukarno serta memasuki kancah politik elektoral (Bevins 2022:95).

Sekarang kita lihat bagaimana PKI menyikapi Revolusi 1956. Selain itu, kita juga akan lihat bagaimana masuknya informasi tentang Revolusi 1956 di Indonesia menjelma menjadi politik penafsiran bagi partai-partai di Indonesia saat itu.

Gambar 4. Masih pada edisi 6 November 1956 (1956e) hlm. 1, tetapi kali ini membahas perbedaan sikap antara PKI, PNI, Masyumi, PSII, dan NU. (Akses melalui Khastara Perpusnas)

Gambar 4 di atas menunjukkan bahwa harian Merdeka juga memberitakan sikap PKI terhadap Revolusi 1956 yang berseberangan dengan partai-partai nasionalis dan agamis. D.N. Aidit (PKI) menyatakan bahwa tindakan tentara Soviet ke Hongaria itu bukan agresi, karena tindakan Soviet tersebut berdasarkan pada ketentuan-ketentuan Pakta Warsawa (Merdeka 1956e).

Berbeda dengan Aidit, Supeni Pudjobuntoro (PNI), anggota Konstituante, menyatakan bahwa masuknya tentara asing ke dalam suatu negara dengan tidak dikehendaki apalagi masuknya itu dengan suatu kekuatan bersenjata, maka itu dianggap sebagai serangan. Oleh karena itu, masuknya Soviet ke dalam wilayah Hongaria adalah suatu pelanggaran yang harus dicela (Merdeka 1956e). 

Mohammad Natsir (Masyumi) juga berkomentar bahwa penyerbuan tentara Soviet ke Hongaria sejatinya sama saja dengan Krisis Suez yang pada saat itu baru saja dikecam oleh Pemerintah Indonesia. Natsir juga menambahkan (Merdeka 1956e):

“Apa yang terjadi di Hongaria itu adalah satu pemberontakan untuk membebaskan diri dari genggaman kekuasaan yaitu [Soviet] Rusia. Mereka [pemberontak Hongaria] berjuang menentang penindasan sistem diktator dari partai tunggal untuk menghidupkan kembali sistem demokrasi.

[…] Pemerintah Indonesia tak dapat tidak harus dengan konsekuen dan tegas berdiri di pihak [pemberontak] Hongaria [yang melawan Soviet], jikalau benar-benar kita [Indonesia] menegakkan politik bebas dan aktif.”

Senada dengan itu, Harsono Tjokroaminoto (PSII) menganggap kedatangan tentara Soviet ke Hongaria itu sebagai “agresi” karena melanggar kedaulatan negara lain (Hongaria). Lebih ekstrimnya, K.H. Dahlan Abdul Qohar (NU), menganggapnya sebagai tindakan “kolonial”, karena alasan Soviet menginvasi Hongaria ialah “aksi polisionil” yang sangat khas bernada kolonial (Merdeka 1956e).

Lebih Jauh Tentang Sikap PKI: Njoto, Aidit, dan Komite Sentral PKI

Pada 1958, Njoto, dalam pidatonya menyambut ulang tahun ke-6 koran Harian Rakjat, sempat menyinggung tentang situasi di Hongaria pada 1956. Pidato tersebut ada dalam buku Pers dan Massa (1958:59-84) karya Njoto. 

Menurut Njoto, Revolusi 1956 (23 Oktober–11 November 1956) digunakan oleh pers Barat untuk pengalihan isu terhadap Krisis Suez (29 Oktober–7 November 1956) yang waktunya memang sangat berdekatan. Berikut teksnya:

 “[…] pers imperialis internasional mengerahkan segala sesuatu untuk membelokkan perhatian dunia dari agresi yang sesungguhnya, yaitu agresi Israel-Inggris-Prancis [Krisis Suez] di Mesir, pada “agresi” yang sama sekali bukan agresi, yaitu bantuan Tentara Soviet kepada Hongaria, maka pers kanan Indonesia pun turut-turutan, ikut-ikutan mengerahkan segala kemampuan dan kekuatannya untuk membelokkan perhatian. Setiap berita bikinan [kantor berita] “UP[I]”, “AP”, “AFP” atau “Reuter[s]” mengenai Hongaria dibesar-besarkan demikian rupa, sehingga memenuhi halaman-halaman pers kanan itu, sedang berita-berita tentang [Krisis Suez] Mesir, meskipun berita yang paling besar sekalipun, mereka tempatkan di pojok, kecil, tidak menyolok mata, seolah-olah apa-apa yang terjadi [Krisis Suez] di Mesir itu “suatu permainan kanak-kanak” dan bukan kekurangajaran kapitalis-kapitalis yang tua bangka yang membunuhi ibu-ibu, anak-anak dan orang-orang tua Mesir dengan kepala yang sedingin-dinginnya!”

Lebih jauh, Njoto menegaskan bahwa kaum revolusioner Indonesia tidak akan goyah, tatkala pers-pers sayap kanan menyalahkan kelompok komunis dalam terjadinya Revolusi 1956. “Kesalahan mereka [kelompok sayap kanan] ialah, bahwa mereka menyamakan manusia Komunis dengan buah belimbing yang empuk, yang jika digoyah-goyahkan pohonnya agak sedikit sudah akan berjatuhan. Kalau mau diambil perbandingan juga, kaum Komunis adalah pohon durian yang kalaupun jatuh buahnya akan menjatuhi kepala si penggoyah pohon!” tandas Njoto.

Sebagai salah satu petinggi di dalam Harian Rakjat, Njoto juga secara khusus membahas bagaimana sikap Harian Rakjat terhadap Revolusi 1956 dalam pidatonya itu. Berikut teksnya:

“Harian Rakjat tidak henti-hentinya menelanjangi kepalsuan-kepalsuan dan kebohongan-kebohongan pers reaksioner dalam masalah Hongaria ini. […] Juga ketika mereka kabarkan Janos [K]adar “mati”, Harian Rakjat memastikan: pemimpin Rakyat pekerja Hongaria itu masih hidup. Harian Rakjat tidak mempunyai korespondennya di Budapest, dan hari-hari itu Harian Rakjat belum mendengar apa-apa tentang […] Kadar. Tetapi mengapa Harian Rakjat begitu berani menyangkal berita-berita pers kanan itu? Soalnya hanyalah sederhana: Harian Rakjat sudah faham akan bagaimana pers Imperialis dan pers reaksioner umumnya bekerja. Dengan sedikit ketajaman, kita bisa membedakan mana berita dan mana fitnahan, mana emas dan mana pasir. Ya, para hadirin dan para saudara, jika manusia biasa tidak bisa hidup tanpa nasi, kaum reaksioner tidak bisa hidup tanpa kebohongan!”

Dari teks-teks pidato Njoto di atas, terlihat bahwa Harian Rakjat—yang diwakili oleh Njoto—bersikap mendukung “bantuan” Soviet berupa datangnya militer Soviet ke Hongaria untuk menumpas pemberontakan. Selain itu, terlihat juga bahwa mereka menunjukkan sikap mendukung pemerintahan Kádár yang disokong oleh Soviet.

Namun, kalau kita lihat secara garis besar, pidato Njoto tersebut secara lebih luas membahas perihal politik penafsiran antara pers sayap kiri dan pers sayap kanan—baik pers lokal maupun luar negeri—tentang pemberitaan Revolusi 1956. Hal itu khususnya berkaitan dengan sikap Harian Rakjat terhadap Revolusi 1956, mengingat Njoto adalah salah satu petinggi Harian Rakjat.

Berbeda dengan Njoto yang lebih banyak membahas perihal politik penafsiran dalam pers, D.N. Aidit dalam Revolusi Indonesia dan Tugas-tugas Mendesak PKI, yang terdapat dalam buku Kibarkan Tinggi Pandji Revolusi! (1964:24) karyanya, terang-terangan mengutuk Revolusi 1956 dan menganggapnya sebagai pemberontakan kontra-revolusioner. Berikut teksnya:

“Internasionalisme proletar […] telah berkali-kali diuji oleh peristiwa-peristiwa dalam dan luar negeri. Di antaranya ialah soal pemberontakan kontra-revolusioner di Hongaria (t[a]h[u]n 1956) dan tindakan Soviet membantu Pemerintah Buruh dan Tani [Revolusioner] Hongaria4 menindas kontra-revolusi itu. Kaum Komunis Indonesia dengan bulat menyokong tindakan Soviet itu dan tidak ada keragu-raguan sedikitpun.”

Senada dengan itu, pada Pesan CC PKI Kepada Kongres Ke VIII Partai Buruh Sosialis Hongaria (1962), yang terdapat dalam Sosialisme Hari Ini dan Hari Esok Bangsa-bangsa (1963:64-67), Komite Sentral (CC) PKI menyampaikan salam persahabatan yang hangat serta ucapan selamat kepada Kongres ke-VIII Partai Pekerja Sosialis Hongaria (MSZMP) yang diselenggarakan pada 20-24 November 1962. Pesan tersebut disampaikan oleh Ismail Bakri selaku Ketua Delegasi Persahabatan CC PKI dalam Kongres tersebut, dan sempat menyinggung Revolusi 1956:

“[…] pengalaman kelas buruh negeri kawan-kawan [Hongaria] yang tak ternilai pentingnya itu telah memberi pelajaran kepada kaum proletar sedunia bahwa jika rakyat menghendaki Sosialisme, maka tak ada kekuasaan apapun di bumi ini [yang bisa menghalangi], juga tidak gabungan kekuasaan kaum kapitalis yang anti-kemanusiaan [yang menghalangi cita-cita Sosialisme], sebagaimana pernah mereka lakukan pada hari-hari November dan Oktober tahun 1956, yang bisa menyelewengkan jalan pembangunan Hongaria Sosialis seperti yang didambakan oleh rakyat kawan-kawan [Hongaria].

[…] Hari-hari [Revolusi 1956] itu merupakan hari-hari yang menentukan dan penuh cobaan, dan kalian proletariat Hongaria, dengan patut mendapat kecintaan dan kekaguman kaum proletar sedunia karena pembelaan kawan-kawan yang begitu cemerlang dan begitu berani dalam mengibarkan tinggi-tinggi panji-panji Sosialisme.”

Dari teks di atas, secara tersirat memperlihatkan bahwa rakyat Hungaria-lah yang tidak menghendaki adanya “pemberontak kontra-revolusi” yang akan “memulihkan kapitalisme”. Pemerintahan Imre Nagy pada Revolusi 1956 tampak dibenturkan dengan “keinginan rakyat” yang menghendaki sosialisme.

Narasi “kontra-revolusi” juga digunakan dalam pesan CC PKI tersebut. Selain itu, CC PKI juga berpendapat bahwa Kongres juga tengah dipantau oleh “reaksioner internasional” yang akan menyebarkan kebohongan lewat pers-pers mereka. Berikut teksnya:

“[…] Suatu Hongaria yang dikonsolidasi dan bersatu, yang dengan gigih berketetapan untuk meneruskan jalan [Sosialisme] yang sudah dipilihnya dan yang dipertahankannya selama [masa] kontra-revolusi [1956] […]. Kongres […] diikuti […] juga oleh reaksi[oner] internasional yang dengan menyebarkan segala macam kebohongan lewat pers imperialisnya [dan] mencoba untuk memberi kesan pada dunia bahwa perkembangan-perkembangan pengonsolidasian yang sekarang terjadi di negeri kawan-kawan itu adalah pertanda, menurut kata mereka, dari “sistem yang sedang mengalami disintegrasi”. Kita sama-sama mengetahui bahwa mereka ingin menyebarkan kekacauan dalam barisan proletariat sedunia; mereka ingin menggelapkan kenyataan bahwa kelas buruh Hongaria telah memberikan jawaban pada impian-impian jahat mereka untuk membelokkan jalan Sosialis Hongaria di tahun 1956.”

PKI menyatakan bahwa mereka mendukung sepenuhnya pemerintahan Kádár yang—bersama Soviet—telah menumpas “kontra-revolusi”, yakni pemerintahan Imre Nagy pada Revolusi 1956. “Persahabatan Indonesia – Hongaria, Hidup!” tulis penutup pada pesan CC PKI kepada Kongres tersebut.

Namun, sejauh ini, setidaknya hanya ada tiga arsip PKI yang menyinggung Revolusi 1956 secara detail yang saya temukan. Saya juga belum menemukan arsip koran Harian Rakjat yang memberitakan mengenai Revolusi 1956, dan pemberitaan Revolusi 1956 dari pers-pers sayap kanan Indonesia.

Penutup

“Saya percaya, akan tiba waktunya, ketika dalam situasi yang lebih tenang dan perspektif yang lebih jelas, serta dengan pengetahuan fakta yang lebih baik, keadilan dapat ditegakkan dalam kasus saya juga.”
Imre Nagy, 19585

Butuh waktu 33 tahun untuk nama baik Imre Nagy pulih dari cap “kontra-revolusi” yang terus digaungkan oleh pemerintahan Kádár dan partainya, Partai Pekerja Sosialis Hongaria (MSZMP). Nama baik Imre Nagy dipulihkan tatkala ia—bersama korban Revolusi 1956 yang lain—kembali dimakamkan secara terhormat di Plot 301, Budapest pada 16 Juni 1989. Tanggal 16 Juni ini bahkan adalah tanggal yang sama ketika Imre Nagy dieksekusi pada 1958.

Revolusi 1956, yang terjadi nun jauh di Hongaria sana, informasinya sampai ke Indonesia dengan terdapat politik penafsiran pada masanya. Pemberitaan harian Merdeka memperlihatkan bahwa terdapat politik penafsiran ideologis antara partai-partai di Indonesia dalam menyikapi Revolusi 1956.

Partai-partai nasionalis dan agamis satu suara dalam menyikapi Revolusi 1956: tindakan invasi Soviet ke Hongaria melanggar kedaulatan negara lain. Natsir bahkan menyerukan agar Indonesia berpihak pada “kontra-revolusioner” Hongaria yang tengah berjuang melawan Soviet.

Berbeda dengan partai-partai nasionalis dan agamis, PKI menunjukkan keberpihakan yang tegas dengan terang-terangan membela tindakan Soviet dan pemerintahan Kádár. Walaupun penulisannya berbeda-beda antara Njoto, Aidit, dan CC PKI dalam menyikapi Revolusi 1956, tetapi intinya tetap sama: Revolusi 1956 adalah pemberontakan kontra-revolusi yang harus ditumpas demi mempertahankan sosialisme di Hongaria.

Pada akhirnya, artikel ini masih menyisakan ruang yang besar untuk ditelusuri lebih jauh. Arsip mengenai pemberitaan Revolusi Hongaria 1956 di Indonesia masih tersebar dan belum seluruhnya terdokumentasikan secara memadai, terutama arsip Harian Rakjat maupun koran lain yang memiliki afiliasi politik yang berbeda.

Catatan Kaki

  1. Ini merujuk pada Miklós Horthy (1868–1957, menjabat 1920–1944), pemimpin Kerajaan Hongaria yang berumur 26 tahun (1920–1946), yang pada era Perang Dunia II berada dalam Blok Poros, lebih jauh lihat Cox 2021. Untuk cap “kontra-revolusi Horthyist” dari Kádár, lihat Kádár 2024. ↩︎
  2. Lebih jauh lihat Adyatma 2026. ↩︎
  3. Untuk mengetahui orang-orang di dalam harian Merdeka, lihat Rahzen et al, Seabad Pers Kebangsaan, 1907–2007, 2007:538-540. ↩︎
  4. Ini merujuk pada pemerintahan Kádár pertama yang bernama Pemerintahan Buruh-Petani Revolusioner Hongaria (bahasa Inggris: Revolutionary Workers’-Peasants’ Government of Hungary), yang menggantikan pemerintahan Imre Nagy. Lebih jauh lihat Kádár 1956. ↩︎
  5. Kutipan tersebut diucapkan oleh Imre Nagy di depan hakim Ferenc Vida, tatkala Imre Nagy dijerat hukuman mati pada 1958. Lihat Nagy 2018. ↩︎

Referensi

Adyatma, F. M. (2026, April 24). Revolusi Hungaria 1956: Kisah Revolusi yang Dikubur dan Ingatan yang Bangkit. Dipetik Juli 7, 2026, dari Semut Api Media: https://semutapi.id/revolusi-hungaria-1956-kisah-revolusi-yang-dikubur-dan-ingatan-yang-bangkit/

Aidit, D. N. (1964). Revolusi Indonesia dan Tugas-tugas Mendesak PKI: Laporan untuk Sekolah Partai Tinggi CC Partai Komunis Tiongkok, Peking, 2 September 1963. Dalam D. N. Aidit, Kibarkan Tinggi Pandji Revolusi! (hal. 24). Jakarta: Jajasan Pembaruan. Dipetik Juli 8, 2026, dari https://www.marxists.org/indonesia/indones/1963-AiditTugasMendesak.htm

Bevins, V. (2022). Metode Jakarta: Amerika Serikat, Pembantaian 1965, dan Dunia Global Kita Sekarang. Tangerang: Marjin Kiri.

Comite Central (CC) PKI. (1962). Pesan CC PKI Kepada Kongres Ke VIII Partai Buruh Sosialis Hongaria. Dalam Depagitprop CC PKI, Sosialisme Hari Ini dan Hari Esok Bangsa-bangsa (hal. 64-67). Jakarta: Pustaka Marxis. Dipetik Juli 12, 2026, dari https://www.marxists.org/indonesia/indones/SosialismeHarIniDanHariEsokBangsaBangsa/PesanCCPKIPBSHongaria.htm

Cox, J. K. (2021). Horthy Consolidates Power in Hungary. Dipetik Juli 7, 2026, dari EBSCO: https://www.ebsco.com/research-starters/social-sciences-and-humanities/horthy-consolidates-power-hungary

Kádár, J. (1956, November 4). Kadar Appeals to the Hungarian People. Dipetik Juli 20, 2026, dari Seventeen Moments in Soviet History: https://soviethistory.msu.edu/1956/hungarian-crisis/hungarian-crisis-texts/kadar-appeals-to-the-hungarian-people/

Kádár, J. (2024, November 1). 1957 – Kádár János május elsején (részletek) – János Kádár’s May 1 Speech (Excerpts). Dipetik Juli 7, 2026, dari GeneralForgeron (YouTube): https://youtu.be/FbVw7wt7KvU?si=5fkvqgD1wy29ER6t

Kusumabrata, A. (2024, Februari 7). Joesoef Isak, Sosok di Balik Anak Rohani Pramoedya Ananta Toer. Dipetik Juli 7, 2026, dari Tirto: https://tirto.id/joesoef-isak-sosok-di-balik-anak-rohani-pramoedya-ananta-toer-gVlr

Merdeka (Redaksi). (1956a, Oktober 26). Seluruh Hongaria dalam Keadaan Darurat. Dipetik Juli 7, 2026, dari Khastara Perpusnas: https://khastara.perpusnas.go.id/reader/?id=360507

Merdeka (Redaksi). (1956b, Oktober 26). Hongaria dlm bahaja. Dipetik Juli 16, 2026, dari Khastara Perpusnas: https://khastara.perpusnas.go.id/reader/?id=360507

Merdeka (Redaksi). (1956c, November 6). Sovjet antjam nasionalis² Hongaria dgn bom. Dipetik Juli 9, 2026, dari Khastara Perpusnas: https://khastara.perpusnas.go.id/reader/?id=360507

Merdeka (Redaksi). (1956d, November 6). Ernoe Geroe Dibunuh! Dipetik Juli 9, 2026, dari Khastara Perpusnas: https://khastara.perpusnas.go.id/reader/?id=360507

Merdeka (Redaksi-Koresponden). (1956e, November 6). Ketjuali PKI Partai² Njatakan Tindakan Rusia Agresi. Dipetik Juli 9, 2026, dari Khastara Perpusnas: https://khastara.perpusnas.go.id/reader/?id=360507

Nagy, I. (2018, Maret 18). 1958 – Nagy Imre az utolsó szó jogán – Last Words of Imre Nagy. Dipetik Juli 8, 2026, dari GeneralForgeron (YouTube): https://youtu.be/zCef-conSaQ?si=XIwdoVIU9qM_digJ

Njoto. (1958). Pidato Nyoto Menyambut Ulang Tahun ke-VI Harian Rakyat. Dalam Njoto, Pers dan Massa (hal. 59-84). N.V. Rakjat. Dipetik Juli 8, 2026, dari https://www.marxists.org/indonesia/indones/1958-NjotoHarianRakyat.htm

Rahzen, T., Hartanto, A. D., Ali, A. T., Wida, D. A., Raditya, I. N., Zara, M. Y., . . . Tauladan, T. (2007). Seabad Pers Kebangsaan, 1907–2007. Yogyakarta: I:Boekoe.

Wibisana, C. (2022a, Oktober 20). Revolusi Butuh Pelantang, Lahirlah Harian Merdeka. Dipetik Juli 7, 2026, dari Tirto: https://tirto.id/revolusi-butuh-pelantang-lahirlah-harian-merdeka-gxsn

Wibisana, C. (2022b, Oktober 21). Harian Merdeka Bersiasat Meniti Revolusi & Menyongsong Era Baru. Dipetik Juli 7, 2026, dari Tirto: https://tirto.id/harian-merdeka-bersiasat-meniti-revolusi-menyongsong-era-baru-gxwK

Wibisana, C. (2022c, Oktober 22). Di Sisi Kaum Nasionalis, Merdeka Mengawal Pendirian Sukarno. Dipetik Juli 7, 2026, dari Tirto: https://tirto.id/di-sisi-kaum-nasionalis-merdeka-mengawal-pendirian-sukarno-gxAv

Wibisana, C. (2022d, Oktober 23). Terseok Arus Zaman, Riwayat Merdeka Tuntas di Awal Milenium Baru. Dipetik Juli 7, 2026, dari Tirto: https://tirto.id/terseok-arus-zaman-riwayat-merdeka-tuntas-di-awal-milenium-baru-gxBL


Editor: Dhika Marcendy


Hai, SAM ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membacanya sampai akhir.
Jika kamu suka dan mendapat sesuatu dari tulisan ini, mari kita apresiasi penulisnya dengan klik link di bawah ini:

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *