Bulan Januari ini status saya sebagai fresh graduate akan segera kedaluwarsa. Saya akan jadi lulusan biasa yang tidak fresh lagi.
Di minimarket, barang yang sudah tidak fresh biasanya disimpan di barisan depan. Sedangkan yang segar dan baru dijejerkan di belakang. Logikanya sederhana: first in first out. Setidaknya itu yang saya dapatkan setelah berkecimpung di industri minimarket. Sebagai pelanggan, tentunya.
Setahun sejak lulus kuliah berarti saya sudah tidak fresh. Seharusnya saya sudah ditempatkan di barisan terdepan etalase minimarket ketenagakerjaan. Didiskon atau dijual paketan biar cepat laku.
Sayangnya, minimarket ketenagakerjaan tidak bekerja seperti minimarket biasa.
Di minimarket biasa, barang yang tidak laku dikembalikan ke pemasok. Setelah itu entah dijual murah, disimpan sampai berdebu, atau dihancurkan. Intinya, laku atau tidak, barang harus keluar dari peredaran.
Namun manajemen minimarket ketenagakerjaan yang kita hidupi hari ini, agaknya lebih ketat ketimbang minimarket biasa.
Dalam minimarket ketenagakerjaan, para lulusan seperti saya ini ditumpuk, fresh ataupun tidak, berjejer di etalase. Tiap hari, bulan, dan tahun, ratusan ribu yang baru masuk tidak sebanding dengan yang keluar. Seolah-olah etalase harus sesak.
Seperti itulah realitanya, pembaca sekalian. Kita memang sengaja ditumpuk dan itu bukan tanpa alasan.
Berdasarkan sedikit yang saya peroleh sebagai eks-mahasiswa fakultas ekonomi, sistem ekonomi-politik yang kita hidupi hari ini sudah pesakitan. Berkali-kali ia sudah di ambang ajal tapi belum mati-mati juga. Berbagai resep telah dicoba tapi semuanya hanya memulihkan gejala, sementara penyakitnya tetap di sana.
Salah satu konteks yang bisa kita bahas adalah tahun 1930-an di Amerika Serikat ketika sistem ini nyaris menemui ajalnya. Pada saat itu, sistem ini sudah lumpuh total karena perekonomian yang macet dan pengangguran yang meningkat drastis.
Namun, berkat resep yang diracik oleh Keynes, sistem ini pulih sementara. Dalam mengobati krisis ini, Keynes menawarkan agar negara mengeluarkan belanja publik secara agresif untuk mendorong produksi. Dengan demikian, lapangan kerja bertambah dan pengangguran bisa ditekan hingga ke tingkat yang paling rendah.
Akan tetapi, hanya 40-an tahun berselang, karena yang dipulihkan memang hanya gejala, sistem ini kumat. Resep yang diajukan oleh Keynes menemui kontradiksinya. Ketika semakin banyak orang bekerja dan cadangan pengangguran menipis, upah cenderung meningkat.
Bagi industri, kondisi ini tentu merupakan seburuk-buruknya mimpi buruk. Sebab upah tinggi membuat biaya produksi membengkak sehingga banyak yang tidak mampu bersaing dan pada akhirnya gulung tikar. Alhasil, di tahun 1970-an karena banyak industri gulung tikar, roda ekonomi kembali macet. Pengangguran kembali berjatuhan.
Dapat dilihat, pembaca sekalian, sistem ini sedari awal memang tidak menghendaki kita semua sekaligus untuk bekerja. Kegagalan formulasi Keynes mengisyaratkan bahwa sistem ini memang mensyaratkan lebih banyak yang mengantre di etalase pengangguran sehingga upah bisa ditekan seminimum mungkin.
Dalam hal ini, Marx menyebutnya reserve army of labour, pasukan cadangan pekerja yang selalu siap menggantikan kalau pekerja utama mulai rewel tentang upah.
Walaupun tidak menghendaki kita semua untuk bekerja sekaligus, sistem ini hidup dari konsumsi kita. Sistem ini hidup dari kemampuan kita untuk membeli.
Lalu apa syarat utama bagi kita untuk membeli, kawan-kawan? Betul. Upah. Upah diperoleh dari mana? Betul. Kerja.
Jadi, sistem ini mengharuskan adanya pengangguran (orang yang tidak diupah), namun di satu sisi juga memerlukan konsumen aktif (orang yang berupah) untuk tetap berdiri kokoh.
Kontradiktif bukan? Pesakitan bukan?
Bersamaan dengan itu, terciptalah pekerjaan-pekerjaan rentan, yang lebih bare ketimbang bare minimum itu sendiri, untuk tetap menjaga daya konsumsi. Tidak masalah berkontrak pendek, tanpa jaminan hari tua, tanpa pesangon, tanpa kontrak kerja yang jelas, dan sekelumit masalah ketenagakerjaan lainnya asalkan ada upah.
Dengan demikian, kemampuan untuk mengonsumsi tetap terjaga sehingga sistem tidak goyah.
Ada pula tawaran lain. Kendalikan inflasi, katanya. Namun mengendalikan inflasi sama sekali tidak menjawab persoalan sebagian orang yang tidak punya penghasilan tetap sementara diharuskan untuk terus mengonsumsi.
Lagi pula, datang dari mana kekuatan untuk mengonsumsi kalau bukan dari hasil kerja? Dari sedekah dan bantuan sosial? Berarti sistem ini lagi-lagi mensyaratkan sebagian manusia untuk hidup dari “kebaikan hati” manusia lain.
Pesakitan.
Jadi, fenomena pengangguran bukanlah bug dalam sistem. Kawan-kawan sekalian, apabila seseorang masih menganggur, itu tidak selamanya karena ia “kurang bertalenta”, “kurang berusaha”, atau “kurang berdoa”.
Pengangguran dan pekerja rentan adalah fitur utama dari kapitalisme. Syarat minimum dari sistem ini adalah memang harus ada yang menganggur dan direntankan. Harus ada yang tertumpuk di etalase.
Bagi saya, ada beberapa sudut pandang untuk menyikapi situasi ini. Dan menjadi Sisifus modern bukan salah satunya.
Pertama, sebagaimana penjelasan di muka, ada opsi untuk melihat sistem ini sebagai yang paling rasional. Kehadiran pengangguran tak bisa dielakkan. Harus ada orang yang tidak bekerja. Untuk itu, kita memang mesti saling berkompetisi agar bukan kita yang terpampang di etalase pengangguran atau agar tidak menjadi konsumen bantuan sosial.
Saya rasa yang pertama ini tidak menjawab apa-apa. Sebab betapa banyak pun sesama pekerja yang kita sisihkan, dan seberapa rutin pun bantuan sosial diturunkan, tidak akan pernah mengubah fakta bahwa kita semua sedang direntankan.
Untuk itu saya ajukan pandangan yang kedua. Kita bisa melihat sistem ini sebagai sistem yang menyapu rata semuanya sebagai pekerja.
Pandangan kedua ini logis. Sebab ketika seseorang sedang menganggur atau terlunta-lunta tanpa penghasilan tetap, dia sebenarnya sedang bekerja.
Pekerjaan mereka adalah menjaga ritme kapitalisme agar tetap berjalan sebagaimana mestinya. Mereka adalah tentara cadangan yang standby untuk menjaga napas kapitalisme. Tanpa mereka yang siap sedia, krisis 1970-an kemungkinan besar akan terjadi di negara kita, negara kapitalis pinggiran ini.
Dengan demikian, menurut saya, apabila negara ini tetap bersikukuh menjalankan corak produksi kapitalisme secara konsekuen dan kafah, semestinya para pengangguran itu juga diupah. Apabila militer bisa diupah untuk bersiaga, mengapa pengangguran tidak?
Sikap terakhir, menurut saya, dapat dimulai dengan pertanyaan: setelah melihat betapa kontradiktif dan irasionalnya kenyataan ekonomi-politik hari ini, apakah kita masih mau mempertahankannya, ataukah sudah tiba masa untuk memikirkan alternatifnya?
Sebab, jika benar sudah saatnya untuk menjemput alternatif itu, alternatif yang tidak hanya menjawab gejala tapi menjawab persoalan strukturalnya, maka kita sebagai segmen yang paling tidak diuntungkan hari ini yang mestinya paling bertanggung jawab untuk memikirkan itu.
Untuk kita, para pekerja rentan dan direntankan, juga para pengangguran.
Sadar. Sadar ….
Editor: Balqis Nabila
Hai, suka pada tulisan ini?
Kami paham, kehidupan yang menyebalkan sekarang sering membuat kita tak punya waktu untuk menulis, meski banyak kenyataan yang membuat kita berpikir dan bahkan yakin bahwa penderitaan ini sama pula dampaknya. Maka, mari biasakan untuk berterima kasih pada mereka yang telah meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk menuliskan keresahan serta kekecewaan kita. Dengan cara apa? Sederhana. Berilah apresiasi pada kerja-kerja sunyi mereka lewat link di bawah ini.








