Pulau Siput 

Penulis

Hari masih pagi dan antrean kendaraan sudah mengular di depan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Lamahora. As Hadungboleng mendorong sepeda motornya dengan letih. Tidak ada yang bisa dilakukan selain menunggu dan menunggu. Dia terjebak dalam kerumunan yang terus bertambah dan dia menggerutu. “Sialan, masih jauh sekali!” 

Di ujung sana, para petugas berbaju merah sedang mengisi bensin ke dalam tangki mobil dan sepeda motor. As hanya menatap dari kejauhan. Seperti hari-hari yang lalu, stasiun itu hanya buka selama enam jam. 

Hari semakin panas. Keringat mengucur dari keningnya. Dia putus asa karena menyadari usahanya mengantre bensin pagi itu sia-sia belaka. Dari tempatnya berdiri, As bisa melihat seorang petugas menutup pagar stasiun dan menyampaikan pesan singkat dengan suara keras. 

“Besok saja baru datang lagi. Sekarang sudah tutup!”

Kerumunan perlahan-lahan membubarkan diri dengan tertib, tetapi tiba-tiba sebuah Pajero Sport berwarna hitam pekat melintas dikawal ketat oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). Mobil itu melaju kencang. Para pengawal terus membunyikan klakson, memberi isyarat kepada para pemilik sepeda motor untuk membuka setengah ruas jalan. 

As melihat plat nomor mobil itu berwarna merah, tercetak: EB 1. Dia spontan berteriak lantang, “Itu oto bupati, itu oto bupati, itu oto bupati!” Teriakannya menyadarkan kerumunan yang sudah kepanasan disengat terik Matahari. Mereka ikut bersorak sinis kala mobil dinas itu membelah jalanan. 

“Bupati tidak becus, urus bensin saja tidak bisa. Dari dulu sampai sekarang sama saja.”  

Mobil itu melesat cepat ke arah timur seperti seekor anjing pemburu sedang mengejar mangsa, meninggalkan sorakan dan cacian para pengantre bensin. As menatap sekilas sambil tersenyum heran. Dia beranjak pergi dengan pikiran kacau dan perasaan kelam. Hari itu, dia tidak bisa menjual bensin eceran.  

As pulang ke rumah, duduk di teras dan meminta istrinya membuat segelas kopi hitam kesukaannya sembari membuka lembaran koran. Istrinya sibuk di dapur, terdengar bunyi denting gelas kaca dan sendok.

As melahap hampir seluruh halaman koran. Sebelum sampai halaman akhir, sorot matanya tiba pada judul besar: “Gubernur NTT dan Bupati Bahas Rencana Investasi Pariwisata di Pulau Siput”. Di bawah judul terpampang foto kedua pemimpin yang tersenyum lebar, sedang berada di sebuah bukit yang menghadap ke laut.

“Bapak,” istrinya berdiri di pintu depan, memanggil. As tak menggubris.

“Bapak,” terdengar panggilan kedua. As mengangkat kepala melihat perempuan tua berhijab di hadapannya berdiri seperti patung tanpa membawa secangkir kopi.

“Gula sudah habis, Pak!” timpal istrinya. As memandang istrinya lekat-lekat. 

“Lalu? Kalau begitu kopi pahit saja,” sambungnya, kembali membaca. 

Dia tak kunjung beranjak.

“Minyak tanah juga habis, Pak!” Suara istrinya lebih tinggi. As hanya bisa bengong. Pikirannya semakin kalut. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia mengangguk pasrah. 

Istrinya kembali ke dapur, samar-samar dia mendengar suaminya menghardik. 

“Dasar budak pariwisata, budak pariwisata, hidup makin susah saja!”

Istrinya tahu As melangkah setapak demi setapak ke arah kios Paman Bugis yang ada di perempatan jalan. 

“Paman, gula sekilo dan minyak tanah lima liter,” ujar As kepada pemilik kios. 

“Bon lagi?” 

“Iya, bon lagi, akhir bulan baru bayar lunas.” 

Paman memberikan sekantong gula dan lima liter minyak tanah, kemudian mencatat tagihan pada secarik kertas. As pamit. Tatapan paman mengikuti langkah kakinya keluar dari kios. 

“Hirosima hancur karena bom, bisnis hancur karena bon.” As mendengar lamat-lamat sindiran yang keluar dari mulut paman. Namun apa boleh buat, hidup semua orang memang sedang sulit. Pedagang kios, petani, nelayan sampai penjual bensin eceran membawa masalah di dalam kepala mereka masing-masing: biaya kuliah anak di kota, seekor babi untuk urusan adat, atap bocor yang perlu ditambal, atau kompor yang hanya terisi udara.

Masih juga As tenggelam dalam lamunan kosong. Belum jauh dia melangkah pulang, terdengar dari kejauhan bunyi klakson motor Satpol PP yang mengawal mobil Pajero bupati. Rombongan kendaraan itu melaju dengan kecepatan sedang, dan beberapa detik lagi melintasi jalan di depan kios Paman Bugis. Terbetik sekilas di dalam benaknya hal yang harus dia lakukan. Dengan tenang As memungut sebongkah batu cadas berukuran sekepal tangan. Berjalan pelan-pelan mendekati badan jalan, dia menghitung-hitung dengan akurat apakah batu cadas itu bisa menembus jendela Pajero yang setengah terbuka. Ketika jarak mobil dan tempat dia berdiri hampir sejajar, As langsung melempar dengan setengah tenaganya. Mobil melesat ke barat. 

As pulang ke rumah, menenteng gula dan minyak tanah. Kopi panas pun tersedia. Dia mendapat kabar dari koran keesokan harinya. Bupati masuk rumah sakit. Kepalanya bocor.

“Dasar budak-budak pariwisata.”

Dua hari kemudian, empat orang polisi berseragam lengkap datang ke rumahnya. 

“As Hadungboleng ada?” Seorang polisi bertanya pada istrinya yang berdiri gugup di ambang pintu. As sedang tertidur pulas di kamarnya. 

Perempuan itu buru buru membangunkan suaminya. 

Istrinya mulai khawatir. “Ada apa polisi datang pagi-pagi begini?” As bangun dari tidur, menenangkan istrinya supaya jangan panik. “ Nanti saya urus.”

As digiring ke kantor polisi. Istrinya menunggu di rumah, cemas. 

Di depan meja penyidik yang menginterogasinya, As berujar diplomatis, “Pak Polisi yang terhormat, siapa saja tentu akan masuk penjara karena melubangi kepala bupati. Itu hukuman untuk saya. Lalu, apa hukuman untuk bupati yang menjual tanah rakyat demi kepentingan bisnis pribadinya?”

Penyidik itu—yang usianya setengah dari usia As Hadungboleng—diam terpaku di depan layar komputer. Di ujung pemeriksaan, si penyidik menggamit tangan As Hadungboleng menunjukkan simpati dan memohon maaf. Hukum harus tetap ditegakkan.

“Bapak As bersalah karena main hakim sendiri. Negara bisa runtuh kalau semua orang main hakim sendiri!”

Tiga hari As menginap di sel tahanan polisi, kemudian diperbolehkan pulang ke rumah dengan syarat wajib lapor setiap hari Senin pagi. 

As terkenal dengan nama gelarnya yang panjang: Prof. Dr. Ir. As Hadungboleng, SH, SH, MH, PNPM. Prof artinya prof(v)okator, Dr artinya Dari Rakyat, Ir artinya Ingat Rakyat, As adalah nama panggilannya, Hadungboleng adalah nama warisan nenek moyangnya, SH adalah Sekolah Hala (Lamaholot: tidak sekolah), SH yang kedua artinya Susah Hidup, MH artinya Mengerti Hidup dan PNPM berarti Pejuang Nasib Petani Miskin.

Untuk seorang lulusan sekolah rakyat, semua orang tahu, rentetan gelar itu tentu hanya guyonan semata. Akan tetapi, ada prinsip hidup yang dia pegang teguh: jangan lupa asal, jangan lupa akar. Pesan itu dia dengar tersirat dari legenda yang dituturkan guru kelasnya bertahun-tahun yang lalu. Begini kisahnya. 

Suatu saat di Awololong diadakan sebuah pesta besar selama berhari-hari. Siang dan malam. Warga bermain tandak, menari sole oha dan hamang. Pada saat menari hamang, warga membentuk beberapa lingkaran saking banyaknya orang. Syair dilantunkan silih berganti dengan penuh semangat. 

Hentakan kaki penari yang sudah diikat giring-giring bergemerincing membuat pesta semakin ramai. Tiba-tiba muncul seekor anjing jantan besar berlari ke tengah kerumunan, berlari di antara kaki para penari. Karena kesal, beberapa penari mengusirnya keluar dari lingkaran tarian. Mereka menendangnya dengan kasar dan meludahinya. Seseorang menghardik anjing itu. 

“Kalau mau ikut menari bersama kami, siapkan diri dulu baru datang ke mari!”

Anjing jantan itu langsung berlari memasuki salah satu rumah penduduk, mengambil sebuah alas periuk (keneran) yang dianyam dari daun lontar. 

Dia memakai anyaman itu di kepala dan berlari kembali ke tengah lingkaran tarian hamang yang meriah. Sembari mengikuti gerak para penari hamang, anjing itu tiba-tiba ikut melantunkan syair dalam bahasa Lamaholot. 

“Ao ao kenali kawok o. Utim mato likat tawa lekem megali kawok ooooooo lau lau lau bera aka, jae jae bera nau.” (Hai anjing, makhluk hina. Sehari-hari hanya berbaring melingkari tungku dapur. Kemaluanmu kau letakkan dekat alas tungku untuk mengais abu dapur. Yang dari jauh segera datang bergabung)

Mendengar anjing itu berpantun seperti manusia, semua warga yang ikut berpesta langsung terdiam membisu. Ketakutan merebak seketika di seluruh kampung. Sesuatu akan terjadi. Mereka panik. Angin kencang menghantam pulau tersebut, pohon-pohon tumbang, ombak besar dari laut menggulung daratan, menghanyutkan semua yang ada. Hewan ternak dan manusia tersapu gelombang besar dan hilang ditelan bencana dahsyat itu. Sebagian warga lainnya menyelamatkan diri dengan perahu, membawa barang secukupnya dan pergi ke pulau Lepan Bata.

As Hadungboleng pergi ke sana terakhir kali untuk mengenang kembali cerita tenggelamnya Awololong. Di sana dia masih menyaksikan kebahagiaan orang-orang berburu siput untuk makan malam keluarga di rumah. 

Tidak lama lagi kebahagiaan itu sirna setelah dia membaca berita di koran dengan judul besar: “Pemerintah dan Investor dari Jakarta Ingin Bangun Resort Mewah di Pulau Siput”.

As Hadungboleng kembali mengantre bensin. Dengan tenaga yang tak lagi sama dia berseru. “Tidak ada lagi siput di pulau siput.”

Mobil dinas bupati melaju ke barat tanpa hambatan.


Editor: Farras Pradana


Hai, suka pada tulisan ini?
Kami paham, kehidupan yang menyebalkan sekarang sering membuat kita tak punya waktu untuk menulis, meski banyak kenyataan yang membuat kita berpikir dan bahkan yakin bahwa penderitaan ini sama pula dampaknya. Maka, mari biasakan untuk berterima kasih pada mereka yang telah meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk menuliskan keresahan serta kekecewaan kita. Dengan cara apa? Sederhana. Berilah apresiasi pada kerja-kerja sunyi mereka lewat link di bawah ini.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *