CIA, Marxisme Barat, dan Mengapa Banyak Intelektual “Progresif” Menjadi Pelayan Sistem Kapitalis

Penulis

“Siapa yang membayar peniup seruling, dialah yang memilih lagu.” Begitulah peribahasa yang dipinjam buku baru Gabriel Rockhill yang sangat penting ini, Who Paid the Pipers of Western Marxism, dengan subjudul “The Intellectual World War: Marxism Versus the Imperial Theory Industry.”1 Judul ini mengingatkan kita pada edisi Inggris dari buku terkenal sebelumnya, Who Paid the Piper? The CIA and The Cultural Cold War karya Frances Stonor Saunders.2 Namun, meski kaya akan detail faktual, karya Saunders jarang mampu melampaui kemarahan khas kaum liberal terhadap tipu daya, korupsi, pelecehan pada demokrasi, serta kekerasan brutal yang dilakukan CIA.

Buku Gabriel Rockhill adalah karya yang jauh lebih dalam dan ambisius. Ia tidak hanya menawarkan sejumlah kemajuan dalam teori marxis, tetapi juga menyoroti satu aspek spesifik dari Perang Dingin di ranah gagasan, yaitu upaya kelas penguasa kapitalis untuk menghancurkan musuh komunisnya dengan membentuk suatu “marxisme” gadungan bernama “marxisme Barat”, yang alih-alih mengancam status quo kapitalis, justru berfungsi sebagai kendaraan kontrol ideologis di bawah kapitalisme dan imperialisme. 

Pokok argumen Rockhill adalah bahwa sebagian besar dari apa yang kita kenal sebagai “marxisme Barat”—terutama aliran yang berkaitan dengan Mazhab Frankfurt atau Teori Prancis—bukanlah arus yang betul-betul revolusioner atau antikapitalis. Sebaliknya, ia berfungsi sebagai alat kontrol ideologis di bawah kapitalisme dan imperialisme. Melalui bukti arsip yang melimpah, Rockhill menunjukkan bahwa kepentingan-kepentingan kapitalis raksasa—termasuk negara, yayasan, dan institusi yang terhubung dengan kekuasaan imperialis—secara aktif telah mendanai dan mempromosikan apa yang kini dikenal sebagai tradisi “teori kritis”. Tujuan dari seluruh pendanaan dan promosi tersebut adalah melahirkan sebuah “kiri yang kompatibel”, yaitu kaum intelektual berhaluan kiri yang tampak kritis, tetapi pada akhirnya melayani kebutuhan kelas kapitalis yang berkuasa, dengan cara menggeser perhatian marxisme dari perjuangan kelas yang sistemik, perubahan sosial yang revolusioner, dan capaian-capaian sosialisme yang konkret.

Berbeda dengan Saunders, Rockhill memakai kerangka materialisme dialektis dan historis, dengan berargumen bahwa gagasan dan produksi intelektual tidak pernah berdiri sendiri, melainkan selalu terhubung dengan relasi kelas material dan struktur kekuasaan. Dia melakukan penelitian arsip dan sejarah yang detail untuk menelusuri jejaring finansial, institusional, dan politik antara institusi-institusi pengetahuan Barat—terutama yang terkait marxisme Barat—dengan kekuatan kapitalis dan imperialis. Buku ini menekankan konsep perjuangan kelas yang mencakup pula dunia intelektual. Dengan kata lain, budaya, teori, dan ideologi adalah bagian dari medan pertempuran dalam perjuangan global antara kekuatan kapitalis-imperialis dengan gerakan komunis, revolusioner, dan anti-imperialis.

Rockhill tidak melulu mendakwa marxisme Barat. Dia juga mengajak kita untuk menghargai dan melanjutkan tradisi marxisme-leninisme yang anti-imperialis, yaitu marxisme yang berkomitmen pada transformasi sosialis di dunia nyata, bukan sekadar kritik budaya. Dengan kata lain, buku ini adalah seruan untuk menolak tradisi intelektual marxisme Barat yang sarat pengaburan. Sebaliknya, kita perlu membangun kembali marxisme materialis yang berakar pada perjuangan kelas, solidaritas global, dan praksis sosialis yang konkret.

Rockhill sendiri mengakui ada masalah dalam istilah “marxisme Barat.” Seperti kita tahu, marxisme lahir di Eropa Barat. Sejak dekade 1840-an sampai 1890-an, Marx dan Engels bekerja di Jerman, Belgia, Prancis, dan Inggris untuk mengembangkan teori revolusioner mereka. Istilah “marxisme Barat” baru mulai dikenal pada 1976 setelah Perry Anderson, seorang penulis trotskis yang terafiliasi dengan jurnal Inggris, New Left Review (sekarang Verso), menerbitkan buku Considerations on Western Marxisme. Oleh karena itu, istilah “marxisme Barat” tidak merujuk pada seluruh pemikiran marxis di negara-negara Barat. Ada banyak marxis otentik di Barat yang sering kali juga berada dalam partai komunis. Sebaliknya, “marxisme Barat” merujuk pada satu penyimpangan yang sangat spesifik dari marxisme. Rockhill sendiri sebenarnya lebih menyukai istilah “marxisme imperialis” atau “marxisme kultural.” Namun, sejak Perry Anderson, istilah geografis tersebut tampaknya sudah terlanjur mapan dan dipakai secara luas. Dalam pengertian ini, marxisme Barat pada dasarnya bukanlah tradisi intelektual yang otentik dan independen, yang muncul secara organik dari gerakan buruh atau kaum intelektual Barat, melainkan sebuah proyek Perang Dingin yang bertujuan menjinakkan marxisme dan menjauhkan kaum intelektual kiri dari politik revolusioner.

Rockhill menulis:

“Buku ini, sebagaimana dua buku lain yang akan menyusul, berfokus pada peran intelektual, khususnya di ranah akademik, dalam perang melawan komunisme, dan lebih spesifik lagi, pada upaya membentuk suatu teori kritis kiri yang ‘kompatibel.’ Marxisme tak mungkin disingkirkan sepenuhnya karena ia memiliki daya tarik yang luas, penjelasan yang jernih dan kuat, serta kemampuan untuk mentransformasi tatanan sosial-ekonomi. Oleh karena itu, para manajer kelas borjuis ini menghadapi dilema tentang bagaimana harus menghadapinya.Seperti yang akan kita lihat, siasat mereka adalah memonopoli kontrol atas suprastruktur yang mampu mempromosikan ke seluruh dunia versi marxisme yang telah dikomodifikasi, yang sering disebut marxisme Barat atau marxisme kultural, sekaligus bermacam teori edgy lain yang mengklaim diri lebih radikal dan canggih dibanding marxisme. Jika disederhanakan, mantra tersirat yang menggerakkan industri teori imperialis ini adalah: jika Anda tidak bisa mengalahkan saingan Anda (kaum marxis sejati), maka banjirilah pasar dengan tiruan yang murah dan menggoda, promosikan tanpa henti, dan cobalah kubur saingan Anda dengan melabeli mereka sebagai sesuatu yang sudah usang.” (Who Paid the Pipers of Western Marxism? [WPPWM?] p. 151.)

Rockhill berhati-hati untuk tidak terlalu menyederhanakan persoalan ini. Dia menolak pandangan bahwa para intelektual itu sepenuhnya bertindak otonom atau sepenuhnya dikendalikan secara ketat oleh kekuatan eksternal. Pandangan semacam itu adalah penyederhanaan yang keliru.

“CIA mempromosikan para kiri non-komunis ini dari balik layar. Strategi ini justru menjadi salah satu cara paling efektif untuk memecah-belah gerakan kiri, dan yang paling penting, untuk melancarkan perang habis-habisan terhadap kiri yang ‘tidak kompatibel’, yaitu kaum komunis. Penting digarisbawahi, keterkaitan seorang intelektual dengan proyek ini tidak serta-merta membatalkan seluruh kontribusi intelektualnya. Seorang cendekia tidak harus berkolaborasi langsung dengan CIA untuk memainkan peran dalam perang dunia intelektual melawan komunisme.” (Ibid, p.39.)

Rockhill membuka buku ini dengan kisah tentang upaya CIA membunuh Che Guevara. Setelah CIA membunuhnya di Bolivia pada 1967, terjadi pertempuran lanjutan untuk membunuh gagasannya, terutama yang tertuang dalam buku harian Che selama di Bolivia. Buku harian tersebut jatuh ke tangan diktator Bolivia, René Barrientos, yang mencoba melelang hak penerbitannya pada penawar tertinggi. CIA beserta sekutu dan agen-agennya kemudian menerbitkan berbagai versi palsu dari buku harian tersebut. Setelah perjuangan panjang yang sengit, Fidel Castro dan majalah Ramparts akhirnya berhasil menerbitkan buku harian Che yang asli.

Rockhill mencatat bahwa Che mengalami radikalisasi ketika masih menjadi dokter muda di Guatemala, setelah melihat kampanye propaganda Amerika Serikat menjelang kudeta di negara tersebut. Kampanye ini menggambarkan Jacobo Árbenz, Presiden Guatemala yang progresif, sebagai kaki tangan Uni Soviet. Propaganda tersebut berperan memuluskan penggulingan Árbenz pada 1954. Kelak, di Kuba, Che membuat Radio Rebelde di Pegunungan Sierra Maestra, dan kemudian mendirikan Prensa Latina, sebuah kantor berita anti-imperialis. Pengalaman Che di Guatemala memberinya kesadaran tajam tentang pentingnya ideologi dalam perjuangan revolusioner. Peran sentral ideologi inilah yang menjadi salah satu tema kunci buku Rockhill.

Rockhill juga menulis bahwa Who Paid the Pipers of Western Marxism? memerlukan waktu penulisan selama tiga dekade (Ibid, p.47.). Selama rentang waktu tersebut, rencana awal satu jilid berkembang menjadi tiga jilid. Ketika masih kuliah di Iowa pada 1990-an, dia pernah mencari bentuk teori paling radikal untuk mengubah dunia yang penuh dengan eksploitasi dan penindasan ini. Teori yang dia dapat saat itu adalah Teori Prancis, Mazhab Frankfurt, dan teori serupa yang berkembang pesat di dunia akademik anglofon. Pada musim gugur 2001, di usia 29 tahun, dia tengah kuliah dan mengajar filsafat di Paris, Prancis. Dia merasa berada di puncak dunia, belajar bersama para dedengkot Teori Prancis, seperti Jacques Derrida, Alain Badiou, dan lainnya.

Ketika terjadi peristiwa 9/11 pada 2001, dia diminta untuk menjelaskan dan memaknai peristiwa tersebut dalam sebuah kuliah umum di salah satu institusi tempatnya mengajar. Dalam sebuah momen pencerahan mendadak—seperti ketika Paulus berada di jalan menuju Damaskus—, dia sadar tak punya apa pun yang masuk akal untuk dikatakan. “Setelah bertahun-tahun belajar di institusi-institusi paling bergengsi di Paris, saya sama sekali buta soal imperialisme dan dunia geopolitik tempat saya hidup. Saya tahu sangat banyak hal tentang perkara yang nyaris tak ada gunanya, tetapi justru kosong melompong soal hal-hal yang paling menentukan di dunia, yang secara harfiah menyangkut hidup dan mati mayoritas umat manusia dan biosfer. Apa yang selama ini saya pelajari ternyata adalah imperial ignorance—kemasabodohan imperialis.” (Ibid, p.49)

Perlu lebih dari satu dekade kuliah dan mengajar di Paris, dan nyaris dua dekade terlibat dalam aktivisme dan riset tentang sejarah marxisme anti-imperialis dan gerakan sosialis global, agar Rockhill dapat lepas dari jerat marxisme Barat dan memahami satu kebenaran bahwa apa yang selama ini dia anggap pendidikan, ternyata hanya pendoktrinan. Ketika dia kemudian mencoba menerbitkan kesimpulan “sesat” awalnya tersebut, dia harus berhadapan dengan “kekuatan kolosal para penjaga gerbang industri teori imperialis.” Dia bahkan membutuhkan waktu lebih lama lagi untuk betul-betul memahami dinamika kekuasaan dalam arena produksi pengetahuan dan dunia penerbitan.

Sejarah tandingan yang diajukan Rockhill menentang narasi arus utama yang menyatakan bahwa “marxisme Barat” adalah evolusi alami dari teori marxis. Marxisme Barat yang dimaksud di sini adalah pemikiran dari Theodor Adorno, Max Horkheimer, Herbert Marcuse, Erich Fromm, Walter Benjamin, Jürgen Habermas, Sidney Hook, James Burnham, Immanuel Wallerstein, Michel Foucault, Jacques Derrida, Raymond Aron, Hannah Arendt, Slavoj Žižek, Margaret Mead, dan masih banyak tokoh lain. Sebaliknya, ia berargumen bahwa marxisme Barat dipromosikan secara selektif oleh institusi-institusi tertentu untuk menciptakan bentuk marxisme yang “aman”, filosofis, dan berkebudayaan: sebuah marxisme yang tidak akan mengancam status quo kapitalis.

Istilah “the pipers” atau “para peniup seruling” dalam judul buku ini tentu merujuk pada para penyandang dana di balik layar. Rockhill dengan teliti mendokumentasikan bagaimana yayasan-yayasan besar Amerika Serikat yang terkait erat dengan kebijakan luar negeri, seperti Ford Foundation, Rockefeller Foundation, Carnegie Foundation, dan CCF (Congress for Cultural Freedom)—lembaga kebudayaan bentukan CIA pada 1950-an—telah mendanai secara sistematis berbagai posisi akademik, konferensi, dan pusat-pusat riset yang berfokus pada teori marxis, juga berbagai jurnal penting (seperti majalah Encounter di Inggris, Der Monat di Jerman, atau Horison di Indonesia3), dan berbagai proyek penerbitan antikomunis lainnya. Pendanaan ini juga menyasar para intelektual melalui pemberian beasiswa, hibah penelitian, atau penyediaan panggung-panggung akademik prestisius.

Menurut Rockhill, dukungan finansial ini bukanlah bentuk filantropi yang netral dan tanpa kepentingan, melainkan sebuah pengendalian yang halus. Tujuan utama dari seluruh pendanaan ini adalah untuk memisahkan Marxisme dari praksis revolusioner dan mengalihkan fokusnya dari ekonomi politik, perjuangan kelas, dan revolusi yang terorganisir menjadi persoalan filsafat, estetika, dan kritik budaya yang abstrak. Pendanaan ini juga bertujuan untuk mempromosikan apa yang ia sebut “kritik tanpa alternatif” sekaligus membentuk suatu Marxisme yang sangat kritis secara teori tetapi impoten secara politik. Ia adalah Marxisme yang sibuk membahas keterasingan dan budaya, alih-alih mendirikan dan mengorganisir partai-partai revolusioner atau menantang kekuasaan negara kapitalis. Pada akhirnya, tujuan dari pendanaan tersebut adalah untuk menjalankan Perang Dingin di medan intelektual dan menciptakan sebuah “kiri yang terhormat” yang memusuhi sosialisme yang benar-benar ada (Uni Soviet, Tiongkok, negara-negara Eropa Timur, dan lainnya) dan secara fundamental sejalan dengan demokrasi liberal Barat yang antikomunis dan anti-Soviet, serta “kompatibel” dengan kapitalisme. Semua ini pada intinya berfungsi untuk memecah belah kiri global.

Jadi, apa sebetulnya marxisme Barat? Rockhill menulis:

“Marxisme Barat adalah bentuk khusus dari marxisme yang lahir di pusat imperial dan disebarluaskan ke seluruh dunia lewat imperialisme kultural. Sejarah kapitalisme telah membangun negara-negara inti di Eropa Barat, Amerika Serikat, dan lainnya dengan cara mengerdilkan bagian dunia yang lain. Negara-negara inti tersebut merampas atau mendapat dengan harga sangat murah sumber daya alam dan buruh dari negara-negara pinggiran, sekaligus menjadikan wilayah pinggiran tersebut sebagai pasar dari barang-barang mereka. Proses ini menciptakan aliran nilai dari Selatan Global ke Utara Global. Kondisi ini melahirkan apa yang disebut Engels dan Lenin sebagai aristokrasi buruh di negara-negara inti, yaitu lapisan atas kelas pekerja global yang kondisi hidupnya jauh lebih makmur dibanding kelas pekerja negara pinggiran. Lapisan pekerja teratas ini mendapat keuntungan—secara langsung atau tidak langsung—dari aliran nilai yang telah dijelaskan tadi. Stratifikasi global kelas pekerja semacam ini menunjukkan bahwa kelas pekerja berprivilese di negara-negara inti juga mempunyai kepentingan material untuk mempertahankan tatanan dunia imperialis.4

Rockhill berargumen bahwa mesin institusional yang dibangun selama Perang dingin seperti CCF telah secara aktif membentuk kanon “marxisme Barat.” Institusi-institusi tersebut menentukan pemikir mana yang harus dirayakan, diterjemahkan, didiskusikan, sambil di saat bersamaan, meminggirkan pemikir-pemikir lain, terutama yang berasal dari Selatan Global atau tradisi revolusioner luar Eropa, seperti marxisme antikolonial. Menurut Rockhill, narasi tentang marxisme Barat yang “humanis” dan “filosofis”, yang selalu dipertentangkan dengan marxisme Soviet yang dianggap “dogmatis” dan “bobrok”, adalah sebuah alat propaganda Perang Dingin.

Sebagai konsekuensi, menurut Rockhill, tradisi marxis yang dominan dan diwariskan di dunia akademik Barat adalah marxisme yang telah didepolitisasi. Tradisi ini lahir dan dibentuk oleh kekuatan-kekuatan kapitalis—yang seharusnya menjadi objek kritik—dan tidak mungkin relevan untuk membangun alternatif revolusioner yang konkret.

Susunan Buku

Buku ini dibagi dalam tiga bagian utama. Bagian pertama “Pengetahuan Imperial” menguraikan metode marxis yang digunakan Rockhill dalam proyek ini, yaitu materialisme dialektis dan historis. Bagian ini juga meninjau apa yang dia sebut “aparatus intelektual imperial”, yaitu jaringan institusi yang berperan dalam pertempuran merebut hati dan pikiran. Misalnya, IRD (The Information Research Department) Inggris yang menjadi model bagi banyak institusi Perang Dingin Amerika Serikat. Dalam praktiknya, dana besar Marshall Plan (1948-1952) yang dibuat untuk mendorong pemulihan ekonomi Eropa Barat, kerap dialihkan oleh Amerika Serikat untuk membiayai operasi-operasi senyap perang politik dan psikologis. Sementara itu, OSS (The Office of Strategic Services), badan intelijen terdepan Amerika Serikat dalam perang melawan Blok Poros, kemudian bertransformasi menjadi CIA pada 1947. Banyak pejabat tinggi OSS berpindah langsung ke CIA. Musuh utama institusi baru ini adalah komunisme dan Uni Soviet.

Garda terdepan dari Perang Dingin kebudayaan CIA adalah CCF (Congress for Cultural Freedom). Organisasi ini dijalankan oleh seorang agen CIA yang menyaru, Michael Josselson, yang berbasis di Paris (WPPWM? p. 118.). Investasi CIA untuk CCF mencapai puluhan juta dolar. CIA juga tidak harus mempertanggungjawabkan pengeluaran mereka kepada satu pun anggota legislatif di Capitol Hill.

“Pada puncak kejayaannya, CCF memiliki kantor di tiga puluh lima negara, mempekerjakan puluhan staf, menerbitkan lebih dari dua puluh majalah bergengsi, menyelenggarakan pameran-pameran seni, memiliki jasa berita dan artikel, mengorganisasi konferensi internasional penuh prestise, dan memberikan berbagai penghargaan dan kesempatan pertunjukan publik pada para musisi, sastrawan, dan seniman. Misi mereka adalah menggeser perlahan minat kaum intelektual Eropa Barat yang masih sangat tertarik pada marxisme dan komunisme menuju pandangan yang lebih ramah dan akomodatif terhadap “the American way”—cara kerja Amerika. Para presiden kehormatan CCF mencakup nama-nama besar, seperti Benedetto Croce, John Dewey, Theodor Heuss, Karl Jaspers, Jacques Maritain, Bertrand Russell, dan Léopold Sédar Senghor. Saunders mengatakan bahwa jangkauan CCF begitu luas sampai hampir setiap intelektual, penulis, dan pelaku budaya di Eropa Barat pascaperang—sadar ataupun tidak—terjerat dalam jejaring mereka. (Ibid, p.121)

Pembahasan tentang “Industri Teori Imperial” merupakan salah satu gagasan paling penting dalam buku ini. Di sini, Rockhill mengungkap tentang adanya sebuah “industri teori”, sebagaimana terdapat industri musik atau industri film. Dia menjelaskan bahwa “sayap radikal dari industri teori ini” terhubung erat dengan tuntutan dan kepentingan militerisme dan imperialisme, kendati bentuk utamanya adalah perang intelektual terhadap komunisme—yang merupakan hambatan terbesar bagi imperialisme (Ibid, p.147).

Adapun bagian kedua, “Teori Kritis yang Kompatibel”, berfokus pada Mazhab Frankfurt, yang merupakan ujung tombak dari apa yang disebut Rockhill sebagai “sayap radikal industri teori.” Mazhab Frankfurt, yang didirikan pada 1923 dan secara resmi bernama Institute for Social Research, adalah sekelompok akademisi Jerman seperti Max Horkheimer, Theodor Adorno, dan Herbert Marcuse, yang bekerja dalam tradisi marxis, tetapi bersikap anti-Bolshevik. Rockhill menulis bahwa “jauh dari sosok revolusioner marxis, mereka justru secara oportunis melebur dalam tatanan borjuis sekaligus dekat dan mencari dukungan dari kelas kapitalis dan negara-negara imperialis garis depan.” Setelah menyelamatkan diri dari Hitler, mereka pindah dari Jerman ke Amerika Serikat pada 1933, di mana banyak dari mereka kemudian bekerja untuk pemerintah Amerika Serikat, termasuk di badan intelijen dan lembaga-lembaga propaganda. Pengabdian mereka ini kemudian membantu sebagian dari mereka mendapat posisi akademik elite di Amerika Serikat pascaperang. Pada 1949-1950, Mazhab Frankfurt pulang kampung ke Jerman Barat, tempat mereka bekerja dengan relatif nyaman di bawah rezim konservatif dan antikomunis Konrad Adenauer—yang nyaris tidak menggubris janji-janjinya pada 1945 untuk melakukan denazifikasi di Jerman Barat.

Pembahasan yang mungkin paling menarik bagi pembaca Amerika Serikat adalah kisah tentang Herbert Marcuse, pemikir Mazhab Frankfurt paling terkenal sekaligus simbol dari Kiri Baru (New Left), yang dikenal luas sebagai mentor Angela Davis. Rockhill menjulukinya sebagai “Peniup Seruling Radikal Marxisme Barat.” Dalam wawancaranya dengan Michael Yates dari Monthly Review, Rockhill berkata:

“Harus saya akui, saya cukup terkejut ketika pertama kali menyusun penelitian yang, seiring berjalan waktu, menjadi bab terakhir buku ini. Dengan membaca sejumlah karya ilmiah yang sangat bagus dalam bahasa Jerman, menelaah berkas-berkas FBI Marcuse yang super tebal, memeriksa arsip Departemen Luar Negeri dan CIA, dan melakukan riset di Rockefeller Archive Center, saya melihat dengan sangat jelas bahwa Marcuse berbohong dalam wawancara-wawancaranya ketika dia ditanya keterlibatannya dengan Amerika Serikat. Faktanya, dia secara rutin berkolaborasi dengan CIA. Tim Müller juga mengungkap bahwa Marcuse terlibat dalam setidaknya dua National Security Estimates—tingkat tertinggi dari produk intelijen Amerika Serikat. Kolaborasinya dengan aparatus keamanan nasional Amerika Serikat sama sekali belum berakhir ketika dia mendapat posisi sebagai dosen. Sebaliknya, sampai akhir hidupnya, dia terus menjalin hubungan dekat dengan para aparat negara, baik yang aktif atau sudah pensiun. Dia juga intelektual garis depan dalam Proyek Marxisme-Leninisme milik Rockefeller Foundation, di mana dia bekerja dengan sangat erat bersama teman dekatnya, Philip Mosely, seorang penasihat tingkat tinggi CIA yang menjabat dalam waktu cukup panjang. Proyek transatlantik yang didanai sangat besar ini punya misi eksplisit untuk mempromosikan marxisme Barat ke seluruh dunia sebagai tandingan sekaligus penantang marxisme-leninisme.5

Dalam bagian ketiga berjudul “Kesimpulan: Marxisme Imperial versus Marxisme Anti-Imperial, atau Bahaya Marxisme Barat”, Rockhill berargumen bahwa kaum marxis Barat telah berkontribusi besar dalam mempromosikan satu versi marxisme yang sama sekali tidak bertentangan, dan bahkan selaras dengan kapitalisme dan imperialisme.

Untuk mendukung analisis teoretisnya, Rockhill bertumpu pada literatur yang kini cukup melimpah dan membahas topik yang kurang lebih sama dengan buku Saunders,6 dan yang tak kalah penting, juga dari hasil riset arsip yang telah dia lakukan bertahun-tahun. Saya jarang memuji seorang penulis karena catatan kakinya, tetapi dalam hal ini, catatan kaki yang kaya tidak hanya memperkuat argumen Rockhill, tetapi juga menjadi panduan yang sangat penting untuk bacaan lanjutan. 

Buku ini memuat lampiran setebal 56 halaman yang menakjubkan, yang memuat berbagai dokumen penting, salah satunya adalah faksimile memorandum dari Psychological Strategy Board bertanggal 16 Mei 1952. Dibentuk pada 1951, dewan ini bertugas mengoordinasikan operasi perang psikologis yang dijalankan oleh CIA, Departemen Luar Negeri, dinas-dinas militer, dan lembaga pemerintah lain. Memorandum tersebut berjudul “Ideological Warfare” alias “Perang Ideologis”. Isinya menyerukan “serangan terhadap ideologi komunis yang dirumuskan dalam istilah marxis”, “serangan terhadap kemerosotan stalinis atas pemikiran Marx—sekali lagi dalam istilah marxis, tetapi dengan asumsi bahwa premis-premis dasarnya benar”, sekaligus “pembelaan terhadap masyarakat Barat dalam istilah marxis.” Rockhill menunjukkan bahwa inilah tepatnya yang dilakukan oleh marxisme Barat—yaitu marxisme antikomunis—dan oleh Mazhab Frankfurt.

Gabriel Rockhill adalah Profesor Filsafat di Universitas Vilanova. Dia mendapat gelar doktor di Universitas Paris 8 dan Universitas Emory. Sebagai akademisi yang namanya telah mapan, dia telah menerbitkan berbagai karya di banyak media dan penerbit, baik di Amerika Serikat atau Prancis. Dia juga penyunting edisi bahasa Inggris buku karya Domenico Losurdo, Western Marxism: How It Was Born, How It Died, How It Can Be Reborn (2017), yang juga diterbitkan Monthly Review Press.

Kesimpulan

Secara umum, buku ini ditulis dengan gaya bahasa yang jernih dan meyakinkan. Namun, jika ada satu kekurangan kecil, penulis terkadang tergelincir dalam bahasa akademik yang agak kaku. Meski begitu, kekurangan ini tertutup oleh kontribusi politik yang sangat besar dari buku ini. Karya ini telah memperkaya pemahaman marxis-leninis tentang imperialisme dengan mengungkap banyak materi baru tentang bagaimana imperialisme Amerika Serikat secara nyata melancarkan perang ideologi dan psikologis terhadap kiri komunis dan negara-negara sosialis selama Perang Dingin, 1945-1991. Imperialisme pada akhirnya memang memenangkan sebagian besar dari Perang Dingin. Namun, Perang Dingin baru telah dimulai. Para pejuang sosialisme sejati harus belajar dari pengalaman pahit selama Perang Dingin sebelumnya agar, di kesempatan selanjutnya, imperialisme dapat kita kalahkan dan hasil yang berbeda sekaligus lebih baik dapat kita wujudkan. Karya Profesor Rockhill ini adalah sumbangan sangat besar untuk tujuan tersebut.

  1. Buku ini merupakan jilid pertama dari sebuah trilogi. Jilid-jilid berikutnya yang akan terbit adalah Jilid II French Theory Made in the USA dan Jilid III Radical Theory’s Infantile Disorder. ↩︎
  2. Who Paid the Piper? The CIA and the Cultural Cold War karya Frances Stonor Saunders. (London: Granta Publications, 1999, 509 halaman). Ketika edisi Amerika dari buku Saunders terbit, seorang pengulas di New York Times tampaknya menganggap judul edisi Inggris tersebut ofensif. Ia menulis: “Keterkaitan CIA bukanlah kisah baru; cerita ini pertama kali diungkap tahun 1967 dan kemudian diperkaya dalam banyak buku dan artikel. Kini, Frances Stonor Saunders, seorang penulis dan sutradara muda asal Inggris, kembali menyajikan kisah tersebut. Dengan bijak, penerbit Amerika-nya telah mengganti judul Inggris di atas dan memilih judul yang lebih netral, Cultural Cold War.”(New York Times, 23 April 2000). ↩︎
  3. Tambahan dari penerjemah, baca: Kekerasan Budaya Pasca 1965 karya Wijaya Herlambang ↩︎
  4. “An Insider Critique of the Imperial Theory Industry: Gabriel Rockhill Interviewed by Michael Yates,” MRonline. November 25, 2025. ↩︎
  5. “An Insider Critique of the Imperial Theory Industry: Wawancara Gabriel Rockhill oleh Michael Yates,” MRonline, 21 November 2025. ↩︎
  6. Misalnya, buku Hugh Wilford, The Mighty Wurlitzer: How the CIA Played America (2008); serta karya Tim Müller, Krieger und Gelehrte (Warriors and Scholars) (2011). ↩︎


*Ulasan buku berjudul Who Paid the Pipers of Western Marxism karya Gabriel Rockhill yang ditulis oleh Joseph Jamison dan diterjemahkan oleh Ari Bagus Panuntun.


Editor: Ivo Trias Julianno


Hai, suka pada tulisan ini?
Kami paham, kehidupan yang menyebalkan sekarang sering membuat kita tak punya waktu untuk menulis, meski banyak kenyataan yang membuat kita berpikir dan bahkan yakin bahwa penderitaan ini sama pula dampaknya. Maka, mari biasakan untuk berterima kasih pada mereka yang telah meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk menuliskan keresahan serta kekecewaan kita. Dengan cara apa? Sederhana. Berilah apresiasi pada kerja-kerja sunyi mereka lewat link di bawah ini.

One comment

  1. Tulisan yang sangat menohok. Terlebih lagi, tentang Mazhab Frankfurt yang sudah terlanjur diakui sebagai bagian dari marxisme dalam kurikulum ilmu sosial di kampus.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *