Film Pendatang: Toleransi yang Harus Dibayar dengan Nyawa

Penulis

Film Pendatang menjadi film Malaysia pertama yang mendapatkan dana sepenuhnya dari penggalangan. Berkat antusias masyarakat, Kuman Pictures berhasil mengumpulkan RM 400.000. Jumlah ini melebihi target. Maka sebagai ucapan terima kasih, para donatur pun akan mendapatkan poster dan kaos dari hasil dagangan film.

Amir, seorang produser film sekaligus pendiri Kuman Pictures memilih YouTube untuk merilis film ini. Baginya, YouTube adalah ruang yang tepat untuk merilis film karena orang Malaysia lebih banyak mengonsumsi video YouTube di antara negara dunia lainnya. Dia merujuk pada salah satu artikel di New Straits Times pada 2016. 

Sebelum tayang di YouTube, Pendatang sempat masuk ajang Luminescence di Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) 2023 di Yogyakarta. Film yang disutradarai Ken-Kin Ng ini mengangkat tema sensitif soal rasisme. Kin berhasil menggambarkan ketegangan keluarga kecil Tionghoa yang hidup berdampingan dengan seorang anak Melayu.

 

Rasisme yang Kentara

 

Mengambil latar belakang di Sarawak dan Sabah, film ini memperlihatkan secara gamblang rasisme yang terjadi. Bukan tanpa alasan, Kin mengambil wilayah itu karena terkenal dengan rasismenya. Kerusuhan antaretnis pernah terjadi di Malaysia hingga melahirkan UU Segregasi. 

Kin membawa alur film ini dengan penuh ketegangan. Bahkan kita sudah bisa merasakannya di 30 menit awal. Pendatang mengisahkan keluarga kecil dengan kepala keluarga Tuan Wong bersama istrinya Shah dan kedua anaknya Xin dan Bobby yang dipindahkan ke sebuah tempat terpencil. Wilayah yang dikhususkan untuk ras tertentu.

Mereka mendapatkan tempat tinggal berupa sebuah rumah tradisional Melayu yang terbuat dari kayu dan berpanggung. Rumah itu tampak usang dan lama tak dihuni. Tuan Wong yang memiliki sentimen terhadap Melayu pun menolak tinggal di sana. Dia meminta Vincent, seorang petugas relokasi untuk memindahkan jatah wilayahnya.

Tuan Wong menolak dengan dalih kondisi kesehatan anak bungsunya, Bobby, yang tidak bisa tinggal di rumah itu karena sangat berdebu. Sementara Bobby mengidap penyakit asma. Nyatanya, dia menolak karena rumah itu adalah rumah bekas milik orang Melayu. Alih-alih mengabulkan, Vincent menolaknya mentah-mentah.

Berbeda dengan Tuan Wong, istrinya dan Xin putrinya, tak mempermasalahkan rumah itu. Mereka menerima untuk tinggal di sana. Terlebih lagi, Xin justru lebih bersikap toleransi. Dia memiliki dua sahabat dari etnis berbeda, Melayu dan Tamil. Akhirnya dengan terpaksa, Tuan Wong menandatangani surat pernyataan untuk tinggal di rumah tradisional Melayu itu. 

Hari pertama tinggal, mereka tampak membersihkan rumah dan mengemasi barang-barang bawaan. Di tengah membereskan rumah, mereka terkejut dengan suara berisik di atas loteng. Mulanya, Tuan Wong menganggap suara berasal dari hewan. Ternyata, ada seorang gadis berusia 9 tahun yang bersembunyi di atap rumah. Gadis itu seorang Melayu. 

Ketegangan sekaligus rasisme dimulai dari sini. Selain karena memang sentimen terhadap etnis Melayu, Tuan Wong tak ingin dipenjara jika ketahuan satu atap dengan etnis lainnya. Dia bisa mendekam di jeruji besi selama 25 tahun karena terkena UU Segegrasi. Namun, istrinya tak menghiraukan. Baginya, anak itu tak bersalah dan seharusnya dilindungi. Ya, meskipun dia tahu bahwa nyawa bisa saja menjadi taruhannya.

Kin begitu berani menyuguhkan adegan rasisme di 30 menit pertama ini. Rasisme tampak ketika Tuan Wong menemukan gadis Melayu yang berlindung di atap. Dengan spontan Tuan Wong melontarkan perkataan, ekspresi, dan bahasa tubuh yang mengandung unsur kebencian. 

 

Taruhan Nyawa

 

Tuan Wong, sebagai kepala keluarga merasa harus melindungi keluarganya dari ancaman kematian dan pidana. Dia bersikeras mengusir gadis Melayu itu. Perseteruan antara Tuan Wong dan istrinya memuncak. Istrinya bersikeras menolak rencana suaminya untuk mengusir si gadis Melayu. Dia memilih dipenjara saja daripada harus mewarisi kebencian terhadap etnis lain kepada anak-anaknya. 

Tuan Wong pun mengamini. Dia lalu mengizinkan gadis itu tetap tinggal satu atap tetapi mereka dilarang mengajaknya berbicara. Cukup memberinya makan dan minum saja. Tuan Wong kemudian mengajukan satu rencana, yaitu dia akan menyelamatkan gadis itu dengan menyelundupkannya ke truk distribusi barang agar si gadis Melayu bisa berpindah ke wilayah lain. 

Aksi nekat itu tak berjalan mulus seperti yang dibayangkan. Tuan Wong yang menyamar dengan menggunakan topi akhirnya ketahuan juga oleh para tentara yang berjaga di pos di tengah perjalanan. Istrinya, Bobby, dan dirinya pun berakhir mati terbunuh. Hanya tersisa Xin dan gadis Melayu itu. Mereka berdua berhasil lolos dari buruan para tentara. 

Sebelumnya, mereka juga harus melewati malam yang mencekam karena ketahuan memiliki obat asma. Janji para tentara untuk memenuhi seluruh kebutuhan setelah menandatangani surat pernyataan itu hanya bualan. Mei, sahabat Xin, menolongnya. Dia menjadi salah satu bagian dari tentara itu. Mei memberikan obat asma untuk Bobby secara diam-diam.

Salah satu tentara mengetahuinya. Mei mendapat ancaman pembunuhan karena telah membantu warga antaretnis. Sementara rumah Tuan Wong disandera oleh tentara bersenjata. Sebagai hukumannya, Xin dibawa ke markas mereka dan berniat akan dijadikan budak seks. Namun, Tuan Wong dengan sigap menjemput anaknya. Niat itu pun tak sempat dilakukan.

Sekilas, film ini terlihat berani dan menjadi sebuah gambaran sejarah bagaimana kekerasan etnis antara Tionghoa, Melayu, dan Tamil. Kita akan dibawa dalam suasana tegang dan mencekam. Suara tembakan dan sirine turut melengkapi ketegangan. Namun, sangat mungkin bahwa film ini membangkitkan luka ataupun trauma yang pernah dirasakan para penyintas. 

Di konteks sejarah Malaysia, kekerasan etnik ini dikenal dengan Tragedi 13 Mei yang terjadi pada 1969. Memuncak sejak arak-arakan kemenangan partai oposisi seperti Partai Gerakan dan Democratic Action Party (DAP) pada pemilu 1969. Ucapan kasar dan provokatif selama arak-arakan merayakan kemenangan itu memancing kemarahan orang Melayu. Bagi orang Melayu, ejekan dan cemoohan adalah kesombongan kelompok oposisi. Terlebih lagi, kelompok oposisi yang mayoritas Tionghoa mendapatkan kursi di parlemen. 

Lantas, apakah sentimen antarentis ini baru muncul sejak peristiwa 13 Mei? Tentu tidak. ‘Pendatang’ hanya menyuguhkan point of view dari etnis Tionghoa saja, salah satu etnis yang didiskriminasi di Malaysia. Sebuah warisan kolonialisme Inggris. Jauh sebelum merdeka, Inggris melakukan pembagian kerja rasial antara orang Melayu (Bumi Putra), Tionghoa, dan India. 

Bumi Putera mendapat posisi lebih tinggi dibandingkan kedua etnis ini. Para petani lokal Melayu dibebaskan pada kegiatan berbasis pedesaan. Sementara petani Tuonghoa dipisahkan di tambang-tambang timah dan India kebagian sebagai kuli di perkebunan. Lebih jauh, Inggris mengeluarkan peraturan Reservasi Melayu yang dilembagakan pada tahun 1913.

Bahkan secara hukum, peraturan itu pertama kali mengkodifikasi siapa yang disebut sebagai ‘Melayu’ dan siapa saja yang boleh menanam padi atau karet. Sebuah langkah awal kolonial dalam menciptakan dan melembagakan kategori-kategori ras sebagai upaya strateginya dalam mempertahankan kekuasaan. Dari sini, peminggiran para migrasi (Tionghoa dan India) dimulai. Mereka dianggap bukan Bumi Putera atau orang ‘Melayu’.

Meskipun Malaysia telah merdeka, mereka tak bisa lepas dari bayang-bayang kolonialisme. Seperti yang terlihat dalam film Pendatang, UU Segregasi dikeluarkan sebagai alat kontrol dan administrasi utama negara pasca ke chaos-an pemilu yang disebut dengan peristiwa 13 Mei.

Tragedi 13 Mei menjadi peristiwa kelam bagi masyarakat Malaysia. Sebanyak 196 orang tewas dan 439 orang mengalami luka-luka. Pemberlakuan UU Segregasi juga dilakukan oleh pemerintah. Luka masa lalu bisa saja terasa kembali dengan melihat film ini. Beberapa adegan atau pun suara tembakan dan sirine bisa mengembalikan ingatan para penyintas. 

Film dengan durasi 98 menit ini tidak cocok ditonton oleh anak-anak. Sebab, ada banyak adegan kekerasan di dalamnya. Kini, Pendatang telah mencapai 4 juta penonton di YouTube.

 

Referensi:
  1. Yanuardi & Firdaus. (2023). Tragedi 13 Mei 1969 dalam Berbagai Perspektif. Jurnal Pendidikan Sejarah, 12(1): 74-96. Doi.org/10.21009/JPS.121.04
  2. Wee, Jared. (2023). Kuman Pictures’s crowdfunded film ‘Pendatang’ premiering on YouTube not because of censorship. 19 Desember 2023. Diakses pada https://www.malaymail.com/news/showbiz/2023/12/19/kuman-picturess-crowdfunded-film-pendatang-premiering-on-youtube-not-because-of-censorship/108289#google_vignette
  3. Gabriel, S.P. (2015). The Meaning of race in Malaysia: Colonial, post-colonial and possible new conjunctures. Journals Permissions, 15(6): 782-809.

*Ulasan film Malaysia berjudul Pendatang (Kuman Pictures, 2023) yang disutradarai oleh Ken-Kin Ng. 


Suka dengan tulisan ini? Kamu bisa mengirimkan donasi kepada penulis agar penulis lebih semangat menulis 🙂

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *