Ada satu pernyataan menarik yang disampaikan Smail dalam kata pengantar yang ditulisnya, “Harus ditegaskan bahwa sejarah yang dikupas di sini sama artifisial dan tidak lengkapnya dengan tulisan lain yang terlalu fokus pada konflik Belanda-Indonesia. Dengan mengesampingkan faktor tersebut bukan berarti saya menganggapnya tidak penting, namun membatasi pemahaman kita mengenai Revolusi.”
Dari pernyataannya di atas, dapat ditangkap bahwa Smail sengaja membatasi penelitiannya tentang revolusi yang terjadi di Indonesia di luar pembahasan konflik internal Belanda-Indonesia pasca kemerdekaan. Baginya, kajian-kajian domestik seperti yang dilakukannya merupakan materi yang penting untuk melihat bagaimana kaitan dan keterpengaruhan peristiwa domestik tersebut dalam sejarah revolusi nasional.
Memang tak dapat dipungkiri lagi bahwa di setiap daerah tentu mengalami pergolakan revolusinya masing-masing dan hal itu kadang tak mengarah langsung pada konflik Belanda-Indonesia pasca kemerdekaan. Oleh karena itu, Smail merasa penting untuk melakukan kajian yang memisahkan aspek domestik sebagai suatu historiografi yang berdiri sendiri (Smail, 2011: xvi).
Dalam hal ini, Smail menyatakan dengan jelas maksud dan tujuannya mengangkat sejarah domestik yang terjadi di Kota Bandung, Jawa Barat selama kurun waktu kurang lebih tujuh bulan dengan memfokuskan penelitiannya pada peristiwa pasca proklamasi kemerdekaan Indonesia hingga 24 April 1946 yang berakhir dengan peristiwa Bandung Lautan Api.
Menanti Kabar dari Jakarta
Smail membagi peristiwa revolusi di Kota Bandung dalam empat periode, yaitu Agustus dan September 1945, Oktober dan November 1945, Desember 1945 hingga Maret 1946, dan Peristiwa Bandung Lautan Api. Dalam periode pertama, Smail memberi gambaran tentang situasi masyarakat sipil pasca para tokoh nasionalis di Jakarta mengumandangkan kemerdekaan Indonesia.
Kabar yang dengan cepat menyebar melalui radio tersebut, tidak semeriah sambutan yang terjadi di Jakarta. Di Kota Bandung justru terjadi kebimbangan dalam masyarakat perihal status Indonesia waktu itu. Sebab, informasi mengenai kronologis kemerdekaan belum mereka terima sebelumnya.
Kejelasan mulai didapatkan sekitar 22 Agustus 1945 setelah muncul pengumuman resmi mengenai menyerahnya Jepang, yang di lain sisi meneguhkan kepercayaan masyarakat bahwa kemerdekaan yang diproklamasikan di Jakarta bukanlah hadiah pemberian Jepang. Hal ini kemudian disusul dengan pembentukan Komite Nasional Indonesia (KNI) tingkat keresidenan dan Badan Keamanan Rakyat (BKR) di Bandung.
Setelah dua lembaga ini terbentuk di Bandung, perlahan-lahan semangat revolusioner dalam masyarakat pun muncul dan jadi representasi awal aktivitas politik formal di Bandung selama masa revolusi sekaligus sebagai rancangan awal dari struktur institusional dalam sebuah republik yang masih bersifat abtrak (Smail, 2011: 58-59).
Pembangkangan Kaum Muda
Kekuatan revolusioner yang terbentuk di Bandung kemudian secara bertahap menjadi ujung tombak untuk menentang sisa-sisa kependudukan Jepang pada periode Oktober dan November 1945. Misalnya, aksi Divisi Pemuda yang memaksa dan mengancam pengalihan kekuasaan Jepang atas instansi Departemen Pos, Telegraf, dan Telekomunikasi (PTT) setelah instansi tersebut menjadi aset Jepang pertama yang dinasionalisasikan pemerintah pada 27 September 1945.
Selain itu, kelompok revolusioner juga mengambil alih senjata, mobil, truk, gudang penyimpanan, pabrik hingga hewan ternak (Smail, 2011:70). Tapi, dalam prosesnya terdapat perbedaan pandangan antara para pemuda dengan tokoh nasionalis Bandung yang mematuhi instruksi para tokoh nasionalis di Jakarta dalam mengedepankan diplomasi dan negosiasi.
Hal inilah yang membuat tokoh nasionalis Bandung melakukan negosiasi dengan Jenderal Mabuchi dalam hal pengambilalihan senjata. Selain itu, pola pendistribusian senjata yang telah didapatkan ke tiap unit-unit tertentu pun tidak sesuai dengan kemauan para pemuda yang ingin senjata dibagikan secara merata ke masyarakat.
Sehingga kekuatan revolusioner yang terbentuk di kalangan sipil menjadi sia-sia karena tidak memiliki persenjataan. Hal ini berakibat pada keberhasilan Jepang dalam mengambil kembali kendali militer atas Bandung pada 10 Oktober 1945 setelah memukul mundur massa yang ingin menyerang markas Kenpetai sekaligus menyerang balik kantor KNI keresidenan dan markas BKR di Bandung.
Peristiwa memalukan inilah yang membuat masyarakat Bandung, terutama para pemudanya menjadi antipati terhadap pemimpin nasionalis lokal. Selain itu, momentum itu pula yang membuat para pemuda mendirikan organisasi-organisasi yang pada akhirnya memegang peranan penting atas peristiwa-peristiwa revolusi pasca kedatangan Brigade ke-37 Inggris yang membuat Bandung terbelah menjadi dua wilayah administratif dan kedatangan Netherlands Indies Civil Administration (NICA) di Bandung.
“Mari Bung Rebut Kembali!”
Puncak ketegangan antara para pemuda militan dengan generasi tua diplomatis yang ada di Bandung adalah perihal sikap dan keputusan atas ultimatum Inggris pada 22 Maret 1946 yang meminta seluruh pasukan bersenjata (yang mayoritasnya adalah organisasi pemuda) untuk meninggalkan kota Bandung dengan radius 11 kilometer dari pusat kota.
Hal itu dimaksudkan agar Inggris bisa menguasai kota Bandung secara penuh tanpa adanya ancaman senjata dari pihak Indonesia. Dalam kondisi seperti itulah ide untuk mengevakuasi total seluruh elemen pemerintahan republik dan membumihanguskan kota yang mereka tinggalkan menjadi satu-satunya pilihan yang bisa direalisasikan para pemuda sebagai sikap revolusioner.
Akhirnya, setelah sekitar setengah juta penduduk kota meninggalkan kota dan kawasan sekitarnya menuju ke daerah pedesaan Priangan, suara ledakan dinamit terdengar dari waktu ke waktu dan api yang disulut para pemuda menyebar di seluruh sisi kota dan Bandung selatan pun menjadi lautan api pada 24 Maret 1946.
Secara keseluruhan, Smail menegaskan perbedaan pandangan sikap generasi nasionalis tua yang masih terhegemoni oleh praktik diplomasi kolonial dengan sikap para pemuda revolusioner yang militan dan radikal yang terjadi di Bandung selama masa revolusi, atau dalam istilah Smail (2011: 190) pemuda yang menunjukkan idealisme murni penuh pengorbanan.
*Ulasan buku karya John R. W. Smail berjudul Bandung in The Early Revolution, 1945-1946.
Suka dengan tulisan ini? Kamu bisa mengirimkan donasi kepada penulis agar penulis lebih semangat menulis 🙂








