Elvis Presley lahir di Tupelo, Mississippi, pada 8 Januari 1935. Dia adalah seorang penyanyi, aktor, dan ikon kultural Amerika di abad ke-20. Namanya selalu dikaitkan dengan julukan King of Rock and Roll.
Elvis Presley memulai karir musiknya pada 1954 di Memphis, Tennessee, bersama Sun Studio. Salah satu lagunya yang paling menggelegar adalah “Heartbreak Hotel”, pada 1956, disusul dengan lagu-lagu lain seperti “Hound Dog”, “Love Me Tender”, dan “Can’t Help Falling in Love”. Dia dikenal sebagai musisi yang memiliki suara berat yang khas, aksi panggung dengan gaya yang sensual, dan aura panggung yang nyentrik.
Namun di balik ketenarannya, ternyata ada isu-isu kontroversial yang melekat pada Presley, mulai dari isu kekerasan hingga apropriasi musik-musik kulit hitam.
Kebenaran dari isu ini mencuat setelah kematiannya. Salah satunya berasal dari memoar yang ditulis Priscilla Beaulieu. Dalam memoar itu, dia mengungkap bahwa Elvis Presley pernah melakukan kekerasan rumah tangga dan bahkan memperkosanya.
Kemudian soal beberapa lagunya, Presley dinilai menjiplak karya musik kulit hitam yang kala itu sulit naik ke permukaan karena rasisnya industri musik. Penjiplakan yang dimaksud memang masih menjadi perdebatan dari apropriasi yang dilakukan oleh Presley.
Beberapa mengatakan bahwa penjiplakan semacam itu memang hal yang wajar dalam dunia musik. Namun sebagiannya lagi mengklaim bahwa Presley secara sadar memanfaatkan industri musik yang rasis untuk melejitkan karirnya.
Kesaksian Priscilla Beaulieu
Kehidupan asmara Presley sebenarnya telah lama jadi perbincangan, termasuk tentang hubungannya dengan banyak perempuan di bawah umur. Dia bahkan bertemu dengan mantan istrinya pada saat Priscilla masih berusia 14 tahun. Saat itu Presley sepuluh tahun lebih tua belum menjadi rockstar. Dia masih berprofesi sebagai seorang tentara yang ditugaskan di Eropa.
Pada saat itu, mungkin saja kisah cinta yang dijalaninya malah diromantisir dan dinormalisasi oleh para penggemarnya. Namun dalam kehidupan modern, Presley dinilai memanfaatkan kuasanya sebagai laki-laki untuk memperdaya perempuan muda yang masih rapuh. Bahkan berbagai kritik ditujukan padanya karena sering menyalahgunakan ketenaran untuk jadi alat pemuas hasratnya semata.
Dalam memoar yang ditulis oleh Priscilla, dia mengatakan bahwa pada saat itu Presley tak terlihat seperti orang yang mau berbuat macam-macam padanya. Dia hanya terlihat sebagai laki-laki rapuh yang hendak menceritakan seluruh kegelisahannya pada Priscilla muda.
Dia mengaku bahwa Presley seperti remaja yang sedang jatuh cinta. Sebabnya Priscilla sama sekali tak menghiraukan soal jarak usianya dengan Presley.
Priscilla yang waktu itu amat kesengsem dengan pesona Presley menghalalkan segala cara untuk mengejarnya ke Amerika. Orang tua Priscilla sempat menahannya untuk berangkat. Namun Priscilla keras kepala dan tetap menyatakan niatnya untuk melanjutkan sekolah di Amerika. Orang tuanya pun menyerah, lalu mengizinkan Priscilla untuk pergi menyusul Presley.
Priscilla secara terbuka menceritakan bahwa Presley merawatnya sampai mereka menikah pada 1967. Priscilla juga mengakui bahwa pada saat itu, dia “melakukan banyak keintiman tapi tidak bercinta” sebelum mereka menikah.
Setelah pernikahan mereka berlangsung dan Presley sudah terkenal, di situlah Priscilla menyadari bahwa Presley adalah seorang yang mudah marah. Mereka sering cekcok sampai merusak barang-barang. Bahkan, Priscilla mengakui bahwa dia pernah dipaksa bercinta dengan Presley.
Dengan tak sopan Presley mengatakan pada Priscilla, “ini adalah cara laki-laki sejati bercinta dengan perempuannya.” Priscilla sangat tak nyaman dengan kelakuan Presley yang seperti itu.
Dia juga menceritakan bahwa Presley adalah seorang laki-laki yang manipulatif. Setiap Presley meluapkan amarahnya, tak sampai 10 menit, dia sontak menjadi sosok yang lembut dan begitu mengakui kesalahannya. Itulah yang kemudian membuat Priscilla selalu luluh setiap kali Presley memperlakukannya semena-mena.
Dalam memoar yang sama, Priscilla mengaku bahwa dia pernah dicekoki obat-obatan oleh Presley dengan iming-iming obat itu akan membantunya tidur dan rileks. Dalam laporan lain, Presley disebut pernah memberikan Priscilla sabu-sabu untuk membuatnya tetap bangun dan bisa melakukan hubungan intim sepuas yang sang rockstar mau.
Apropriasi, Plagiarisme, dan Industri Musik yang Rasis
Tak bisa dipungkiri bahwa musik Elvis Presley sangat terinspirasi dari budaya musik kulit hitam pada saat itu. Rhythm and blues yang Presley bawa bukanlah aransemen baru. Sebagai contoh, lagu “Hound Dog” yang kerap dibawakannya itu bukanlah lagu miliknya. Lagu tersebut diciptakan oleh Big Mama Thornton. Sama halnya dengan “That’s All Right” yang aslinya ditulis oleh Arthur Crudup.
Namun Presley cukup fair menanggapi isu ini. Dia selalu mengatakan bahwa dirinya sangat berhutang dengan banyak musisi kulit hitam. Presley juga membayar royalti pada Big Mama Thornton atas lagu “Hound Dog” yang membuatnya populer.
Elvis Presley lahir dan dibesarkan di Tupelo, Mississippi, tempat musik blues berkembang pesat. Di sana dia berteman dengan orang-orang kulit hitam semasa kecilnya. Tak heran jika aliran musiknya mengapropriasi musik kulit hitam. Begitu pun kelak saat dia dewasa dan terkenal, Presley bergaul dengan banyak musisi kulit hitam seperti B.B. King, Sammy Davis Jr., hingga Fats Domino.
Dia pernah dituding mengatakan “satu-satunya hal yang bisa orang kulit hitam lakukan untukku adalah menyemir sepatuku dan membeli rekamanku.” Ujaran ini mengundang kemarahan dikalangan orang kulit hitam. Di majalah Jet, majalah yang pembacanya kebanyakan orang dengan kulit berwarna, Presley memberikan klarifikasinya.
Dia bilang bahwa dirinya tak pernah mengatakan hal seperti itu dan semua orang yang mengenalnya juga pasti tahu bahwa dia tak mungkin berbicara begitu. Presley juga mengatakan, “mari kita selesaikan ini: aku tak bisa bernyanyi seperti Fats Domino. Aku sadari itu.”
Meski tak ada bukti konkrit Presley melakukan tindak rasisme, seorang produser kondang, Quincy Jones, enggan bekerja sama dengannya karena kerasisan itu. Lalu dia menyampaikan bahwa Tommy Dorsey merasakan hal serupa, tak sudi bermusik dengan Presley karena wataknya yang terlalu rasis.
Terlepas dari isu rasisme yang melekat padanya, satu hal yang pasti adalah industri musik pada tahun-tahun itu memang sangat rasis. Musik rock and roll bukan musik baru. Alunan musik itu telah lama eksis di Amerika.
Rock and roll sudah sangat familiar di kalangan kulit hitam, tapi itu tak cukup untuk menyentuh permukaan musik populer. Elvis Presley mengapropriasi musik itu dan itu lah yang membuatnya terkenal. Entah secara sengaja atau tidak, entah sepakat atau tidak, karir suksesnya di bidang musik adalah buah dari rasisme yang begitu mengerat pada industri musik Amerika.
Dari serangkaian kontroversialnya, maka julukan King of Rock and Roll kurang tepat untuknya. King of Appropriation-lah julukan yang paling pas untuk seorang ‘musisi legenda’ yang sampai hari ini masih terus dinikmati banyak kalangan.
Suka dengan tulisan ini? Kamu bisa mengirimkan donasi kepada penulis agar penulis lebih semangat menulis 🙂








