Proletarier aller Länder vereinigt Euch!
(Para proletar sedunia, bersatulah!)
Kalimat pendek itu pasti sangat dikenal. Kalimat itu juga termaktub dalam Manifesto Partai Komunis dan di batu nisan Karl Marx. Setiap orang punya makna dari kalimat ini. Imajinasi persatuan yang kuat tentang perlawanan terhadap penindasan majikan kepada kelas buruh.
Di Indonesia, tradisi Marxisme telah musnah sejak Pembantaian Massal 65. Sekaligus membuat Indonesia bertransformasi menjadi negara yang alergi dengan ajaran tersebut. Kalimat pendek itu juga kerap dipakai secara semu oleh serikat-serikat buruh, baik dari kiri hingga yang ‘plat kuning’ dalam selebaran-selebarannya. Memang, masyarakat yang literasinya rendah akan gandrung dengan kutipan heroik dan terpaksa relate supaya dianggap paham. Padahal praktiknya menjauh dari ajaran yang sebenarnya. Meski dunia telah berubah ratusan tahun, konteks dalam kalimat pendek tersebut masih sangat relevan hingga hari ini.
Ada desakan penting dalam kalimat pendek itu di Manifesto Partai Komunis, yakni penghapusan individualitas borjuis, kemandirian borjuis, dan kebebasan borjuis; demi terciptanya penghapusan kepemilikan borjuis. Desakan lainnya karena buruh tidak memiliki tanah air. Maksudnya, dia dicerabut dari kepemilikan alat produksinya dengan dalil industrialisasi. Tanahnya dirampas bahkan kuburan leluhurnya pun terkena imbas industri. Artinya, selain tidak memiliki keterikatan dengan asalnya, dia juga telah kehilangan segala mata pencahariannya. Mau tidak mau dia melamar sebagai buruh yang pabriknya berdiri dari tanah yang dirampas darinya. Mudahnya ini disebut proletarisasi.
Proletarisasi selalu dianggap sebagai kemajuan dalam pandangan industri. Pencangkokan industri di negeri-negeri agraris dianggap akan mewujudkan kesejahteraan (invisible hands), trickle down effect, bahkan patokan pertumbuhan ekonomi. Padahal menimbulkan ekses-ekses yang berkepanjangan, seperti pemiskinan struktural hingga dominasi negara dominan terhadap negara inferior. Negara justru mendorong hal tersebut dengan membuka keran investasi asing, mendulang utang-utang luar negeri, hingga menciptakan kebijakan publik demi karpet merah industri.
Proletariat bukan hanya di dalam pabrik karena penindasan selalu hadir selama ada kaum borjuis. Sementara itu, borjuasi telah menyelinap ke berbagai lapisan masyarakat. Wataknya yang paling kentara ialah bahagia atas pemilikan pribadi, fokus terhadap pelipatgandaan kapital, memadatkan penduduk dari yang terpencar-pencar, memusatkan alat produksi, mengonsentrasikan properti ke segelintir orang, hingga gemar meniduri istri dan anak perempuan kaum proletar. Betapa bahayanya watak borjuis jika para proletar ini tidak menghentikannya. Selain di pabrik, proletariat juga seperti sebuah rantai penindasan yang panjang. Kaum borjuis berhasil menenggelamkan kelas lainnya ke dalam lumpur yang paling hina melalui utang jangka pendek dengan bunga maksimum serta hiburan judi daring. Maka kepentingan kaum proletar harusnya selalu sama, entah dia buruh kontrak, buruh tetap, freelancer, maupun buruh harian lepas.
Anehnya di Indonesia tidak ada kesatuan pandangan dalam aksi. Hal itu diakibatkan ketidakmampuan kaum proletar mengidentifikasi kesatuan pandangan dalam aksi. Aksi buruh berserakan menjadi berbagai macam rupa akibat dari kepentingan para elit serikat buruh yang keborjuis-borjuisan. Fisiknya proletariat tetapi wataknya culas, gemar membodohi anggotanya dengan tidak menanamkan kesadaran kelas yang konkret dengan kontradiksinya, gemar bersekongkol dengan para borjuis serta asosiasinya, sekaligus menghisap anggotanya melalui iuran tanpa ada perubahan signifikan dan nyata. Di samping itu pula ‘genit’ dengan pendonor-pendonor luar negeri karena tidak memiliki imajinasi politik proletariat yang sesungguhnya. Hal tersebut bisa dilihat, mungkin tidak semua, karena minimnya program politik perburuhan di dalam internal serikat buruh di tingkatan nasional. Imbasnya, meski beranggotakan ribuan akan tetapi ‘keropos’ secara internal. Tidak adanya pendidikan mandiri dan berjenjang sesuai kebutuhan, ketergantungan dengan program dan pelatihan donor, konsolidasi menggunakan surat instruksi tanpa ada proses satu kesatuan yang terhubung antara politik-organisasi-ekonomi, hingga terbelenggu pada kerangka legalistik. Hasilnya, ketika mengalami PHK massal, kontrak pendek, hingga pemberangusan serikat, serikat nyaris tidak berkutik.
Maka sebenarnya kalimat pendek itu memiliki makna yang sangat luas bagi praktik kritis perburuhan kita. Kaum proletar harus sadar terhadap kelasnya, kontradiksinya, musuh-musuhnya, hingga membetulkan kesalahan-kesalahan praktik yang dilakukan selama ini. Kalimat yang sependek itu juga mengingatkan bahwa proletariat adalah kelas mayoritas di berbagai tempat. Pengkristalan atas preteks penindasan dan penghisapan yang telah terjadi selama berabad-abad menghasilkan suatu tuntutan zaman berupa menaikkan upah, kurangi jam kerja, dan rebut alat produksi. Nyatanya tingkatan tuntutan tersebut hanya mandek di urutan pertama.
Di Indonesia, tuntutan mengenai jam kerja masih dirasa belum genting. Selain itu, tuntutan rebut alat produksi, sepengetahuan penulis, pernah terjadi ketika peralihan masa kolonialisme ke kemerdekaan. Bentuknya adalah nasionalisasi perusahaan kolonial menjadi beberapa perusahaan BUMN yang kita kenal hari ini. Namun di era sekarang, justru tuntutan rebut alat produksi telah sirna dari percakapan perjuangan serikat buruh. Terlihat dari ketika perusahaan yang telah gulung tikar dan tidak berhasil membayar hak para buruh, bukannya mengambil alih alat produksi, para serikat buruh mendorong untuk masuk ke dalam Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial (PPHI).
Kapitalisme telah memasuki babak dan bentuk baru. Ia tidak lagi hanya ada di pabrik atau di tempat kerja. Ia telah menyelinap masuk ke dalam kamarmu, bahkan mimpi tidur malammu. Serupa dengan kondisi itu, kesadaran kelas harus dibangun melalui mimpi-mimpi panjang proletariat. Tuntutan naikkan upah, kurangi jam kerja, dan rebut alat produksi harus dapat direlevankan di kondisi hari ini. Agar ketika terbangun, para proletar telah siap dengan segala daya, upaya, serta risiko perjuangan. Selama ini perjuangan kaum proletariat selalu dihadang oleh ancaman, hukuman, pemecatan, bahkan kematian. Oleh karena itu, penting untuk diingat adalah bahwa kenyamanan kerja yang hari ini dirasakan telah dibangun di atas tumpukan mayat kaum proletariat.
Suka dengan tulisan ini? Kamu bisa mengirimkan donasi kepada penulis agar penulis lebih semangat menulis.








