“I’m gonna tell all you fascists
You may be surprised
The people in this world
Are getting organized
You’re bound to lose
You fascists are bound to lose
…”
Woody Guthrie, “All You Fascists Bound to Lose,” (1944)
Pada 30 September 2022 silam, Indonesia masih disibukkan untuk menayangkan kembali film usang berjudul Pengkhianatan G30S-PKI. Dua stasiun TV nasional saling bergantian meneruskan pembodohan massal di hari itu. NET TV menayangkannya di pagi hari, pukul 10.30 WIB dan malamnya pada pukul 20.00 WIB, giliran TV One yang mengemban tugas penanaman memori kolektif tentang normalisasi pembantaian oleh negara.
Film propaganda yang digarap Arifin C. Noer itu memang masih laris sampai saat ini karena operasi kekuasaan yang bekerja di belakang tiap layar tancap antarkomplek atau layar hitam-putih televisi di tiap rumah, begitu tersistematis.
Fakta itu cukup untuk menyebut bahwa wacana anti-komunisme masih jadi senjata doktrinisasi para penguasa hari ini. Lebih jauh, penayangan massal film propaganda Orde Baru tersebut menandakan bahwa negara sungguh membumikan watak fasis dari rezim militerisme ala Soeharto CS. Di hari yang sama di Amerika—negara sponsorship fasisme Orde Baru, sebuah album anti-fasis justru mengudara.
Dropkick Murphys, band folk rock asal Amerika merilis album studio kesebelas mereka di Dummy Luck Music. Album tersebut diberi judul This Machine Still Kills Fascists. Judul provokatif tersebut tentu saja langsung mengingatkan kita pada satu sosok musisi legenda yang, sepertinya, terlupakan di benua itu bahkan dunia.
This Machine Still Kills Fascists adalah remake-an dari kalimat legendaris sang martir perkembangan musik folk perlawanan di Amerika pada 1940-an. Dialah Woody Guthrie, sang pemburu fasis yang di sisi atas gitarnya tertempel selembar stiker tanda pengenal bertuliskan, “This Machine Kills Fascists”. Kalimat ini menyebar seperti virus dan menjadi tagline dalam jejaring kolektif lintas kultur di dunia. Namun, tak banyak yang tahu dari mana kata-kata itu bermula.
Woody Guthrie lahir pada 14 Juli 1912 di Okemah, sebuah kota kecil di wilayah Okfuskee County, Oklahoma, Amerika. Dia anak ketiga dari lima bersaudara. Orang tuanya adalah Nora Belle dan Charles Edward Guthrie, seorang pengusaha sekaligus politikus demokrat konservatif. Tak heran jika sejak awal sang ayah memberinya nama Woodrow Wilson Guthrie, mengacu pada sosok Presiden Amerika ke-28 dari Partai Demokrat, Thomas Woodrow Wilson.
Ayah Woody juga tergabung dalam Ku Klux Klan (KKK), salah satu organisasi rasial dalam sejarah Amerika yang berkontribusi dalam agenda supremasi kulit putih. Sikap politik dan watak rasis ayahnya kelak turut menjadi pemantik besar atas hasrat pembangkangan Woody terhadap keluarga dan dunia.
Dari Pengamen Jalanan ke Penyanyi Rakyat
“Aku tak punya rumah, aku hanya berkeliaran
Pekerjaanku adalah mengembara, pergi dari kota ke kota
Dan polisi mempersulit ke mana pun aku pergi
Dan aku tak punya rumah lagi di dunia ini
…”
Woody Guthrie, “I Ain’t Got No Home in This World Anymore” (1938).
Sejak kecil, Guthrie dan empat saudaranya dibesarkan dalam keluarga yang kaya. Namun, kehidupan mereka sekeluarga jadi porak-poranda seketika oleh tiga kebakaran hebat yang melanda mereka, dari hangusnya rumah hingga tewasnya sang kakak, Clara akibat membakar diri setelah bertengkar dengan ibunya pada 1919. Demikian pula ibunya yang dalam rentetan waktu itu mengalami sakit-sakitan akibat menderita huntington chorea dan terpaksa dimasukkan ke RSJ Oklahoma.
Ayah Woody lalu memilih pergi membawa dua anak bontotnya, Mary Jo dan George ke Pampa, Texas dengan meninggalkan Woody dan anak tertuanya, Roy di Okemah. Di Texas, Charles berharap dapat pekerjaan layak demi membayar tumpukan utang dari bisnis real estate yang gagal dan bangkrut. Akhirnya, di usia Woody yang ke-14, dia dipaksa menghadapi keras dan bengisnya sistem sosial yang menjadi selimut bagi mimpi buruk Amerika dan dunia.
“Pada titik ini Woody pertama kali menghasilkan uang dengan kemampuan bermusiknya—bernyanyi, menari, serta memainkan harmonika dan sendok di jalan untuk mendapatkan uang receh. Dia juga mencari barang bekas di gang-gang dan tumpukan sampah Okemah untuk dijual. Kadang-kadang, keluarga teman-temannya menampungnya untuk waktu yang lama, tapi dia sering kali sendirian. Selama waktu ini, dia juga mulai mengembara, menjadi gelandangan ke Teluk Meksiko dan kembali, serta melakukan berbagai perjalanan di daerah tersebut,” tulis Jackson dalam artikelnya.
Namun, kemampuan bermusik justru didapatnya pada 1929, ketika Woody pergi ke Pampa, Texas untuk menyusul keluarga besarnya yang ada di sana. Saudara tiri ayahnya, Paman Jeff adalah gurunya bermusik. Hingga beberapa tahun setelahnya, bersama para pemusik pemula lainnya, Woody membentuk Corncob Trio. Di fase ini, Woody kemudian menikahi Mary, adik dari Matt Jennings salah satu personil di trionya, pada 1929. Namun naas, Great Depression yang melanda Amerika pada 1930-an sebagai imbas dari Perang Dunia Pertama, membuat masyarakatnya menderita.
Masa itu, pada periode 1910-an harga gandum dan biji-bijian lainnya melambung tinggi selama masa perang di Eropa. Hal itu membuat masyarakat membuka lahan besar-besaran hingga jutaan hektar. Padang rumput asli segera tergantikan oleh lahan pertanian. Namun, karena para petani mayoritasnya adalah pemula, maka keminiman pengetahuan dalam praktik pertanian mengakibatkan gagal panen dan menyisakan padang gersang di wilayah dataran selatan Amerika saat memasuki musim kemarau pada 1930-an. Kebijakan negara yang serampangan, hasrat perang yang membuncah, dan naluri survival masyarakat setidaknya menjadi faktor perubahan ekologis yang signifikan. Bencana inilah yang kemudian dikenal sebagai Dust Bowl.
Menurut Jackson, rentetan bencana sosial dan ekologi yang saling berkaitan ini pula yang membuat Woody pertama kali menyadari kekuatan musik untuk menangkap kebenaran tentang realitas sosial yang terjadi di sekitarnya. Hal ini bermula ketika wilayah Pampa dan sekitar dilanda amukan badai debu Black Sunday, sebuah fenomena badai debu hebat yang melanda negara bagian Midwest pada 14 April 1935. Woody lalu merekam peristiwa menakutkan itu dalam sebuah lagunya yang paling terkenal di masa awal berjudul “So Long, It’s Been Good to Know You”. Dalam lagu yang rilis pada 1935 ini, Woody dengan sangat puitik merekam badai debu yang tanpa ampun menyapu tempat tinggal orang-orang Oklahoma.
“I’ve sung this song, but I’ll sing it again
Of the place that I lived on the wild, windy plains
In the month called April, county called Gray
And here’s what all of the people there say
So long, it’s been good to know ya
So long, it’s been good to know ya
So long, it’s been good to know ya
This dusty old dust is a-gettin’ my home
And I’ve got to be driftin’ along
A dust storm hit, and it hit like thunder
It dusted us over, and it covered us under
Blocked out the traffic and blocked out the sun
Straight for home, all the people did run
Singin’
So long, it’s been good to know ya
So long, it’s been good to know ya
So long, it’s been good to know ya
This dusty old dust is a-gettin’ my home
I’ve got to be driftin’ along
We talked of the end of the world, and then
We’d sing a song and then sing it again
We’d sit for an hour and not say a word
And then these words would be heard
So long, it’s been good to know ya
So long, it’s been good to know ya
So long, it’s been good to know ya
This dusty old dust is a-gettin’ my home
And I’ve got to be driftin’ along
Sweethearts sat in the dark and sparked
They hugged and kissed in that dusty old dark
They sighed and cried, hugged and kissed
Instead of marriage, they talk like this
Honey
So long, it’s been good to know ya
So long, it’s been good to know ya
So long, it’s been good to know ya
This dusty old dust is a-gettin’ our home
And I’ve got to be driftin’ along
Now, the telephone rang, and it jumped off the wall
That was the preacher, a-makin’ his call
He said, “kind friend, this may the end
And you’ve got your last chance at salvation of sin”
The churches was jammed and the churches was packed
And that dusty old dust storm blowed so black
Preacher could not read a word of his text
And he folded his specs, ad’ he took up collection
Said
So long, it’s been good to know ya
So long, it’s been good to know ya
So long, it’s been good to know ya
This dusty old dust is a-gettin’ my home
And I’ve got to be driftin’ along
Pasca Black Sunday, sekitar empat ratus ribu orang melakukan migrasi massal ke wilayah California pada 1936. Di sana mereka berharap mendapat pekerjaan dan kehidupan yang lebih baik. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Lagu “Do Re Mi”, “I Ain’t Got No Home in This World Anymore”, “Talking Dustbowl Blues”, dan beberapa lagu lainnya adalah sederet karya ciptaan Woody yang merekam realitas sosial di California.
Galyean menyatakan bahwa semua pengungsi di California dicap sebagai ‘Okies’ oleh penduduk asli California terlepas dari negara bagian mana para pengungsi berasal. Bahkan menurutnya, para migran kerap menghadapi penghinaan dari warga California yang takut wilayah mereka akan diambil alih oleh ‘orang-orang desa’ yang mengungsi sehingga banyak tertera tulisan ‘No Okies’ di depan toko dan ruang publik.
Dari semua lirik ciptaannya, aspek paling kentara berisi keresahan Woody saat menyaksikan kondisi pelik yang mesti dihadapi oleh kelas pekerja migran. Kesejahteraan tak kunjung dirasakan, sementara kemiskinan semakin jadi bagian dari kehidupan. Seolah mengatakan bahwa California sebagai ‘tanah yang dijanjikan’ hanyalah sebuah mitos dari penguasa. Ini situasi yang nyaris sama dengan program transmigrasi di Indonesia, terutama di masa diktator Soeharto.
Di California, Woody bersama sepupunya, Jack Guthrie membentuk duet musik yang membawakan lagu-lagu country-western. Namun, duet ini tak bertahan lama sampai akhirnya Woody mengganti mitra musiknya bersama Maxine Crissman (Left You) dan cukup sukses mengantar perjalanan karir musiknya.
Selama periode ini, Woody memang tidak tergabung secara langsung dengan para pengungsi Dust Bowl yang mesti bekerja dan tinggal di kamp-kamp pengungsi. Woody hanya menjalankan fungsi sosialnya sebagai seorang seniman a.k.a musisi. Realitas sosial yang terjadi di sana, dicatat, dinyanyikan, dan disebarkan ke seluruh negara bagian oleh Woody selama musim semi 1938.
“Will Geer, seorang aktor dan penganut sayap kiri yang tekun, turut bergabung dengannya dan membantu Woody memahami ketidakadilan sistem ekonomi yang memungkinkan warga Amerika hidup dalam kemiskinan seperti itu,” ungkap Jackson dalam artikelnya.
Dua tahun kemudian, tepatnya pada 1940, Woody pindah ke New York City menyusul sahabatnya Geer yang harus memerankan Jeeter Lester dalam Tobacco Road. Jackson mencatat bahwa “Perang Dunia II sedang berlangsung saat Woody pertama kali datang ke New York. Setelah Amerika memasuki pertempuran pada akhir tahun 1941, (d)ia menyanyikan lagu-lagu yang menentang Nazi, seperti ‘Round and Round Hitler’s Grave’ dan ‘The Sinking of the Reuben James’. Namun, (d)ia terlibat lebih langsung pada musim semi tahun 1943 saat ia bergabung dengan Merchant Marine. (D)ia dikirim tiga kali dan ditorpedo dua kali. Kemudian pada Mei 1945, (d)ia direkrut menjadi anggota Angkatan Darat tepat saat perang berakhir, meskipun (d)ia kembali ke kehidupan sipil pada akhir tahun”.
Menjai Musisi Anti-Fasis
“Woody Guthrie adalah penyanyi folk Amerika yang sangat berpengaruh,
seorang komunis, dan anti-fasis yang vokal antara 1940-an dan 1960-an.”
– Brian J. Griffith.
Pertemuan antara Woody dan Alan Lomax, asisten yang bertanggung jawab atas Arsip Lagu Folk Amerika di Library of Congress, makin melejitkan karir sekaligus kehidupannya. Pada Juni 1941, Woody bergabung dengan The Almanac Singers yang beranggotakan Pete Seeger, Lee Hays, dan Millard Lampell. Dalam format ini, mereka cukup lantang untuk menentang fasisme yang tengah merajalela dan di satu sisi, memberi penghormatan besar pada kaum buruh di seluruh dunia.
Selama di New York City, Woody mengalami banyak peristiwa penting dalam kehidupannya. Dari karir yang melejit, terlibat dalam perang, hubungan romantik dengan Marjorie Mazia, hingga diagnosa huntington sejak awal 1950-an yang membuatnya berakhir sebagai pesakitan di sisa masa hidupnya.
Dari semua perjalanan Woody, perjumpaannya dengan masyarakat pengungsi di kamp-kamp merupakan satu penanda penting dari ketajaman lirik yang diciptakannya. Sebab, dalam masa ini, Woody begitu dekat dengan ketimpangan kelas sosial yang terjadi di Amerika. Di saat yang sama, dia juga menyaksikan bagaimana para komunis berupaya untuk mengorganisir kelas pekerja migran di kamp-kamp.
Akhirnya Woody pun makin akrab dengan ideologi tersebut. Tak jarang dia hadir dalam tiap rapat maupun pertemuan-pertemuan para komunis. Namun dengan kekhasan seorang individu bebas, Woody kerap tidur saat yang lainnya sibuk berdiskusi dan berdebat. Dia sama sekali tak menyukai ranah teoretis ala orang gerakan. Woody hanya akan terbangun saat jatahnya manggung tiba.
Sebagai seorang musisi, posisinya adalah menulis dan menyanyikan lirik-lirik kritik bagi para penguasa fasis dan rasis sekaligus membakar semangat masyarakat di akar rumput. Rutinitas ini membuatnya makin intens menulis lirik dari sudut pandang kelas tertindas yang mengarahkan kritik pada para tuan tanah, kapitalis, dan penguasa fasis cum rasis. Galyean menyatakan bahwa Guthrie pernah menulis sebuah lagu yang mengidolakan perampok bank Pretty Boy Floyd dan menganggapnya sebagai Robin Hood modern. Lagu itu berjudul “The Jolly Banker”, yang makna liriknya mengejek sistem bank karena dianggap telah membuat para migran menderita.
Murlin dalam artikelnya menyatakan bahwa Woody menjelajahi lanskap Amerika selama periode 1930-an, 1940-an, dan 1950-an, mengalami dan menulis tentang orang-orang pada masa Great Depression, Dust Bowl, Perang Dunia II, serta peristiwa sosial dan politik. Ketidaksukaannya pada situasi dan dampak perang yang terjadi juga sangat berpengaruh pada lirik-lirik yang diciptakannya. Apalagi pada masa itu, fasisme merajalela di Barat. Adolf Hitler, Benito Mussolini, hingga Francisco Franco adalah sederet dedengkot fasis yang masuk dalam target buruan perjalanan berkesenian Woody.
Saat bergabung dalam tur The Almanac Singers, Woody menjadi semakin dekat dengan gerakan-gerakan perlawanan kelas tertindas, baik kelas pekerja maupun kelompok-kelompok sayap kiri komunis. Situasi politik global yang kompleks dan melibatkan Amerika di dalam pusaran perang juga mengubah warna-warna lirik yang dimainkan The Almanac Singers.
Perubahan ini sejalan dengan sikap politik kaum komunis Amerika dalam membaca situasi perang masa itu. Ruhlmann menyatakan bahwa repertoar musik kolektif tersebut mulai tidak menekankan lagu-lagu serikat pekerja dan beralih pada lagu-lagu yang mencerminkan sentimen terhadap peperangan, seperti lagu “Reuben James” karya Woody yang ditulis untuk mengenang 115 pelaut AS yang tewas ketika pasukan Jerman menenggelamkan kapal sekutu. Di masa ini pula lagu “Round and Round Hitler’s Grave” menjadi populer setelah penyerangan Pearl Harbour yang dilakukan Jepang pada 7 Desember 1941.
Di sinilah, pada 1943-an, foto ikonik Woody tercipta. Dengan sengaja dia mengkonseptualisasikan kebenciannya pada para diktator melalui sebuah gitar dengan stiker bertuliskan “This machine kills fascists” yang setia menemaninya bernyanyi. Setahun kemudian, dia menciptakan lagu “Tear the Fascists Down”.
“Ada pertarungan hebat dan berdarah di seantero dunia malam ini
Dan pertempuran, bom dan pecahan peluru
Hitler mengatakan pada dunia sekitar dia akan menghancurkan persatuan kita
Tapi persatuan kita akan memutuskan rantai perbudakan
Persatuan kita akan memutuskan rantai perbudakan
Aku berjalan ke atas gunung di tengah langit
Bisa melihat setiap pertanian dan setiap kota
Aku bisa melihat semua orang di seluruh dunia yang luas ini
Itulah persatuan yang akan menghancurkan kaum fasis, hancurkan, hancurkan
Itulah persatuan yang akan menghancurkan kaum fasis
Ketika aku memikirkan orang-orang dan kapal-kapal yang tenggelam
Sementara Rusia bertempur di seberang Don
London hancur dan Paris dirantai
Orang-orang baik, apa yang kita tunggu?
Orang-orang baik, apa yang kita tunggu?
…”
Di tahun yang sama pula, tepatnya setahun sebelum berakhirnya Perang Dunia Kedua sekaligus kehancuran kediktatoran Mussolini dan Hitler, Woody merekam salah satu lagunya yang paling terkenal berjudul “You Fascists Are Bound to Lose”.
Perang Dingin dan Depolitisasi Woody
Woody dan komunisme memang tak bisa dipisahkan saat kita mencoba menelaah sosok musisi folk ini. Dari kisah perjalanan hidupnya, sejak di Oklahama hingga Pampa, Woody remaja dibesarkan oleh realitas sosial yang timpang. Amerika tak seindah apa yang dibayangkan. Perbudakan, perampasan, hingga peperangan membuat penderitaan tak berujung terjadi, terutama di negara-negara bagian.
Dalam masa pedih ini, Woody melihat orang-orang kiri sebagai anomali. Perjuangan yang dilakukan mereka memberi pengharapan dan semangat untuk melawan ketertindasan. Tak heran, keakraban yang terjadi membuat Woody sedikit demi sedikit bergeser sebagai musisi kiri yang turut berjuang dengan mengangkat lirik dan gitar.
Meski tak ada catatan resmi terkait apakah akhirnya Woody bergabung dalam Partai Komunis atau tidak, tapi ideologi kiri telah berkontribusi besar dalam perkembangan pikiran dan penciptaan lirik-lirik musik folk-nya. Salah satu lagunya yang cukup sering diputar adalah “This Land is Your Land”.
“Tanah ini adalah tanahmu, dan tanah ini adalah tanahku
Dari California hingga Pulau New York
Dari Hutan Redwood hingga perairan Gulf Stream
Tanah ini diciptakan untukmu dan aku
Saat aku berjalan di sepanjang jalan raya itu
Dan aku melihat di atasku jalan layang yang tak berujung
Aku melihat di bawahku lembah emas
Tanah ini diciptakan untukmu dan aku
Aku berkelana dan berkelana, dan aku mengikuti jejak langkahku
Menuju pasir berkilau di gurun berliannya
Di sekelilingku, sebuah suara terdengar
Tanah ini dibuat untukmu dan aku
Ada tembok besar dan tinggi di sana yang mencoba menghentikanku
Sebuah tanda dicat bertuliskan “Milik Pribadi”
Namun di belakangnya, tidak ada yang mengatakan apa pun
Tanah ini dibuat untukmu dan aku
Ketika matahari bersinar, saat itu aku sedang berjalan-jalan
Dan ladang gandum melambai, dan awan debu bergulung
Suara itu bernyanyi saat kabut terangkat
Tanah ini dibuat untukmu dan aku
Tanah ini adalah tanahmu, dan tanah ini adalah tanahku
Dari California hingga Pulau New York
Dari Hutan Redwood hingga perairan Gulf Stream
Tanah ini diciptakan untukmu dan aku”
Lagu ini ditulis Woody sebagai reaksi atas lagu “God Bless America” karya Irving Berlin yang hit di Amerika pada akhir 1930-an yang dianggapnya menutupi kebobrokan kapitalisme yang menindas masyarakat di Amerika. Lirik di atas mulanya berjudul “God Blessed America for Me”. Namun saat Woody pertama kali merekam lagu itu bersama Cisco Houston pada April 1944, dia mengubahnya menjadi “This Land is Your Land”. Dalam Library of Congress disebutkan bahwa Woody mendengarkan lagu Berlin berulang kali saat dia melakukan perjalanan lintas negara dan menjadi semakin kesal karena lagu tersebut menutupi distribusi tanah dan kekayaan yang tidak merata yang dia amati dan alami saat masih kecil.
Galyean mencatat bahwa “seiring dengan semakin populernya lagu ‘This Land is Your Land’, pesannya terkadang menjadi encer dan diambil alih oleh berbagai kepentingan yang bahkan saling bersaing. Kepentingan perusahaan seperti United Airlines dan Ford telah menggunakan lagu kebangsaan tersebut sebagai jingle iklan, dan kampanye presiden dari kedua partai telah mengadopsi lagu tersebut”.
Dengan berakhirnya masa Perang Dunia Kedua, Woody justru menerima perlakuan tak baik dari pemerintah Amerika yang masih terlibat Perang Dingin dengan Blok Soviet. Sebagaimana kita pahami, wacana anti-komunis yang menjadi prinsip kerja Blok Barat seolah menjadi ideologi tersendiri bagi negara pendulang minyak dunia tersebut.
Tak heran jika kelak, kepentingan politik Amerika berpengaruh terhadap memori kolektif masyarakat atas warisan budaya Woody. FBI memasukkannya dalam daftar target yang dicurigai komunis karena kedekatan Woody dengan serikat pekerja dan orang-orang komunis. Walau Woody sendiri pernah mengatakan bahwa dia bukan seorang komunis, dia hanya berhutang besar pada komunis.
Selain itu, budaya pop Amerika pun berperan besar dalam mendepolitisasi Woody yang revolusioner dan punya keberpihakan politik menjadi seorang musisi folk yang ‘sekadar’. Seolah ada kebimbangan bagi negara untuk menyebut sosok Woody, yang di satu sisi merupakan pahlawan bagi perkembangan musik folk dalam budaya modern Amerika dan dunia, tapi di sisi lain sikap politik Woody mendekatkannya pada ideologi kiri yang merupakan musuh dari pemerintah Amerika, dan antek dunia barat umumnya.
Referensi
Galyean, Crystal. 2024. “‘This Machine Kills Fascists’: The Life and Music of Woody Guthrie”. Stable URL: https://ushistoryscene.com/article/woody-guthrie/.
Griffith, Brian J. 2022. “Woodie Guthrie, “All You Fascists Bound to Lose” (1944)”. Stable URL: https://www.brianjgriffith.com/interwarcrisis/woodie-guthrie-all-you-fascists-bound-to-lose-1944/.
Jackson, Mark Allan. “Woody Guthrie and the Archive of American Folk Song: Correspondence, 1940 to 1950″. Stable URL: https://www.loc.gov/collections/woody-guthrie-correspondence-from-1940-to-1950/articles-and-essays/rambling-round-the-life-and-times-of-woody-guthrie/.
Library of Congress. 2002. “This Land is Your Land”. Stable URL: https://www-loc-gov.translate.goog/item/ihas.200000022/?_x_tr_sl=en&_x_tr_tl=id&_x_tr_hl=id&_x_tr_pto=wa.
Murlin, William. 2022. “Woody Guthrie and the Columbia River”. Stable URL: https://www.oregonencyclopedia.org/articles/guthrie_woody_and_the_columbia_river/.
Naarro, Fernando. 2023. “Why Woody Guthrie’s guitar was a killer of fascists”. Stable URL: https://english.elpais.com/culture/2023-07-21/why-woody-guthries-guitar-was-a-fascist-killer.html.
Ruhlmann, William. 2024. “The Alamanac Singers”. Stable URL: https://www-encyclopedia-com.translate.goog/arts/dictionaries-thesauruses-pictures-and-press-releases/almanac-singers?_x_tr_sl=en&_x_tr_tl=id&_x_tr_hl=id&_x_tr_pto=tc.
Suka dengan tulisan ini? Kamu bisa mengirimkan donasi kepada penulis agar penulis lebih semangat menulis.








