Pagi datang dengan cahaya yang bening. Matahari merangkak pelan dari ufuk timur, menyirami atap-atap kos dengan warna keemasan. Burung-burung kecil bersuling riang, bertengger di genteng yang masih basah oleh embun. Di depan kos, sepasang suami-istri terlihat sibuk menata hari. Sang suami repot dengan mesin motornya yang sedang dipanasi, istrinya ruwet dengan anaknya yang rewel untuk berangkat sekolah. Di samping bangunan itu, seorang bapak muda dengan anak dua sedang asik menyiapkan rombong ciloknya, tangannya cekatan, bibirnya berdendang mengikuti irama dangdut, musik yang setia menemani langkah hidupnya.
Setiap pagi, halaman kos-kosan saya tampak ceria, penuh dengan suasana keluarga yang hangat. Namun yang ceria tidak selalu berbunga-bunga. Kadang kala ada sekam dalam keheningan. Seperti Joni—bukan nama asli—yang baru datang dengan senyum tipis dan wajah tampak segar, padahal baru saja pulang dari kerja. Ia datang saat yang lain baru beranjak dari kasur dan akan memulai hari dengan ringan, Joni sebaliknya, justru ia sedang ingin istirahat. “Capek bos, mau tidur dulu, nanti malam lanjut lagi.” kata Joni ke saya ketika masuk kamar, sambil menjuntai bajunya di balik pintu.
Joni adalah kawan saya yang cukup dekat, dulu pernah satu kontrakan, sekarang juga satu kos dengannya. Kami satu angkatan juga satu kelas ketika masa-masa kuliah, bahkan menyelesaikan kuliah bersama tepat waktu sebagai sarjana hukum. Karena Joni sarjana hukum, jangan kira ia baru tiba di pagi hari itu sebagai advokat kondang yang sibuk ngurus kliennya, atau sebagai hakim yang arif nan bijaksana ngurus tumpukan kasus kejahatan negara. Jauh panggang dari api.
Joni adalah kurir di salah satu platform e-commerce papan atas di negeri ini. Ia datang ketika matahari terbit setelah selesai mengejar targetnya mengirim pesanan. Ia sudah terbiasa membolak balikkan hukum alam; yang lain tidur ia bekerja, yang lain baru bangun ia mau tidur. “Kalau alarm ponsel saya bunyi, tolong bangunin ya, takutnya kebablasan” kata Joni berharap penuh ke saya.
Sudah lama Joni menyambung hidup sebagai kurir, tepatnya tak lama sejak ia lulus kuliah, sekarang mungkin hampir satu tahun. Sebenarnya ia orang yang tidak banyak bercerita tentang bagaimana pekerjaanya itu dijalankan, tapi saya sering bertanya padanya. Dalam cerita yang lembut, ia bilang ke saya bahwa pernah bekerja dalam batas waktu yang sangat tidak wajar. Satu hari ia pernah bekerja 16 jam untuk memenuhi target, sisa waktunya buat apa lagi kalau bukan untuk istirahat. Satu kali mengantar pesanan kira-kira ia dapat 5-10 ribu, jika hasilnya ditotal dalam sehari, dengan jam kerja yang tak wajar itu, kira-kira penghasilan kotornya akan nyentuh 250 ribu. Bukankah ini adalah rezeki yang nomplok dalam perhitungan hari? Benar, itu lumayan besar. Sayangnya Joni bukan mesin yang bisa digunakan sesuka hati, mesin pun juga butuh istirahat, apalagi Joni yang selain istirahat juga butuh hiburan. Itupun yang ia dapat belum untuk biaya makan, bensin, atau kebutuhan reproduksi lainnya.
Namun yang membuat saya semakin tertegun dengannya bukan semata-mata hanya ia sebagai kurir online. Sebenarnya Joni juga sebagai seorang suami sekaligus bapak. Ia telah menikah dalam usianya yang relatif muda, dan telah dikaruniai satu anak perempuan. Anaknya masih sangat belia, belum genap satu tahun. Adapun istrinya bekerja sebagai guru honorer yang sudah bisa kita tebak berapa gajinya, sangat pas pasan. Demi memenuhi kebutuhan keluarga kecilnya itu, Joni perlu merantau dan bekerja di kota lain, sambil tetap menyimpan cita-cita bahwa ia ingin melanjutkan studi magister. Sebagai kepala keluarga yang baik, ia rajin menyetor sebagian hasil kerjanya untuk kebutuhan istri dan anaknya di rumah.
Suatu hari saya pernah melihat ia sedang menerima telpon dari istrinya. Dalam percakapan itu saya tidak begitu mendengar jelas apa yang sedang mereka obrol, tapi saya mendengar anaknya sedang menangis. Selain rindu dengan suaminya, mungkin karena masalah anaknya itu istrinya menelpon, lalu Joni berusaha mendinginkan anaknya. Sebagaimana laku bapak yang baik, ia tak mau melihat buah hatinya menangis tak terbendung.
Sejujurnya saya sering patah hati dengan kondisi yang dialami kawan saya bernama Joni ini. Bebannya berlapis di usianya yang masih muda; sebagai kurir, suami, sekaligus bapak.
Sekarang Joni sedang menempuh kuliah magister, seperti yang ia inginkan dari awal. Ia masih berharap pendidikan, meski berbayar mahal, bisa mengubah nasib dan keluarganya. Biarpun sebagai mahasiswa tingkat lanjut, tapi ia tak pernah meninggalkan pekerjaan kurirnya itu, justru karena itulah ia semakin terdesak untuk bekerja lebih keras.
Kami Benar-Benar Lapar
Total anak kos di tempat saya seluruhnya ada 6 orang, awalnya hanya Joni yang bekerja, tapi makin ke sini satu per satu mulai terasa kejepit dengan kebutuhan hidup. Alhasil, telah ada 3 kawan yang lain turut mengadu nasib. Mereka juga memilih bekerja sebagai kurir, meski tidak setekun sang pelopor kurir di kosan ini, si Joni. Seluruh 3 kawan itu adalah mahasiswa kawakan, ada yang sudah lama lulus, ada yang sedang bertugas akhir ga selesai-selesai, ada pula yang sudah basi hampir ditendang dari kampus. Jurusannya pun macem-macem, ada yang hukum, sejarah dan satunya ekonomi. Mereka tak pernah terbayang sebelumnya jurusan bagus yang diambil semasa kuliah akan bernasib menjadi seorang kurir, meski mungkin itu pilihan sesaat. Belum lagi kawan saya lainnya di luar kos, juga telah banyak yang bekerja sebagai kurir. Semuanya adalah anak muda.
Seluruh kawan saya itu dan hampir semua pekerja kurir online, sebenarnya bekerja dalam kondisi yang sangat rapuh. Aplikator enggan menyebut mereka sebagai ‘pekerja’ seperti yang telah diatur dalam norma negara, melainkan disebut sebagai ‘mitra’. Sebab itu aplikator tak mau pusing memikirkan tanggung jawab untuk memberikan perlindungan, semua risiko akan dialihkan ke individu masing-masing. Katakanlah Joni mengalami kecelakaan ketika mengantar pesanan, apakah ia akan mendapatkan jaminan kesehatan? Tidak. Ataukah motornya akan di-service penuh oleh aplikator? Apa lagi itu, tentu tidak.
Adapun para kurir online itu tidak diatur oleh mandor secara langsung, tapi melalui sistem algoritma digital. Serba otomatis. Jika Joni terlambat mengantar pesanan, maka order akan berkurang. Jika menolak pesanan, peringkat akan turun. Jika rating jatuh, akun bisa dibekukan. Dan sistem algoritma ini tidak akan mengenal dialog, bagaimanapun aplikator tidak akan menerima alasan apapun. Seandainya Joni tidak sengaja kepencet menolak pesanan karena ada telpon dari istrinya, atau ia ketiduran karena capek seharian kerja, semua alasannya tidak akan diterima.
Model sistem kerja inilah yang disebut informalisasi kerja. Jenis pekerjaan yang ditandai dengan kerentanan yang meluas karena tidak adanya perlindungan hukum, tanpa jaminan sosial, relasi kerja longgar, dan pendapatan yang cenderung rendah. Menjadi kurir online, seperti Joni dan kawan saya yang lain, adalah salah satu jenis pekerjaan informal dari banyak jenis informal yang lain. Ini sama halnya dengan seseorang yang bekerja menjadi barista di coffee shop, editor konten, tukang sablon, kuli bangunan hingga pekerja di warung lalapan, dan mau sekeren apapun sebutannya, semacam freelancer dan project based worker, jika tidak mendapatkan perlindungan yang layak, mereka adalah pekerja informal. Semua jenis pekerjaan itu, pada prinsipnya setingkat dengan apa yang dialami Joni, hanya saja teknologinya yang berbeda.
Model pekerjaan seperti itu yang dominan di Indonesia. Tahun ini, dari sekitar 148 juta orang yang sedang aktif bekerja, hampir 58 persen—atau sekitar 85 juta lebih—berada dalam pekerjaan informal.1 Pendapatannya pun jauh dari standar hidup yang layak, mereka rata-rata mendapatkan upah tidak lebih dari dua juta per bulan.2 Apa yang mau ditabung dengan duit segitu? Nabung kesabaran? Mimpi membeli rumah, selamanya akan tetap jadi mimpi. Nah, dalam konteks inilah, banyak anak muda yang bertaruh di dalamnya. Bukanlah kebetulan, apalagi sebuah takdir, bukan pula karena mereka tidak memiliki skill dan males-malesan sehingga memilih pekerjaan yang rentan, melainkan karena hanya itu yang tersedia.
3Namun sebenarnya Joni masih tergolong orang yang ‘beruntung’ karena masih punya pekerjaan, meski hasilnya tak seberapa. Nyatanya ada lapisan orang yang lebih melarat darinya. Siapa? Merekalah yang sama sekali tidak punya pekerjaan atau menganggur. Dalam hitungan statistik negara, mereka disebut dalam kategori Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT), sebuah persentase yang menghitung jumlah orang yang sama sekali tidak bekerja. Dengan mudah kita bisa melihat angkanya. Sejak Agustus 2025, pengangguran di Indonesia ada sekitar 4,85% dari total angkatan kerja, atau sekitar 7,46 juta orang. Angka yang tidak main-main. Negara yang sering disebut ripah loh jinawi ini bahkan tingkat penganggurannya adalah yang terbesar seantero Asia Tenggara. Sebagai informasi, Finlandia itu total populasinya tidak sampai 6 juta. Jadi bayangkan, total pengangguran di Indonesia bahkan lebih besar dari total populasi satu negara.
Lebih sedihnya lagi, dari semua pengangguran itu setengah diantaranya adalah anak muda, yang sebagian besar tingkat pendidikannya adalah SMA/sederajat dan sarjana/diploma.4 Masihkah percaya pendidikan adalah tangga menuju kesuksesan?
Karena kombinasi antara mereka yang sudah bekerja tapi rentan dan mereka yang menganggur, maka tak heran ketika ada bursa lowongan kerja, yang datang sangatlah membludak. Contoh yang pernah viral belakangan ini terjadi di Cikarang, perusahaan-perusahaan yang membuka job fair waktu itu dibanjiri hingga 25 ribu pelamar, padahal yang dibutuhkan hanya 2 ribu pekerja, para pelamar bahkan saling ribut satu sama lain.5 Kondisi mengenaskan itu juga terjadi di daerah-daerah lain, karena saking banyaknya yang mencari pekerjaan layak.
Siapkah Kita Makan Orang Kaya?
Pertanyaannya, mengapa sebegitu besar pekerjaan rentan dan pengangguran? Logika sederhana mengatakan bahwa karena konsekuensi dari minimnya ketersediaan lapangan kerja yang formal, dengan kata lain industri di Indonesia tidak berkembang. Tapi pertanyaan selanjutnya jauh lebih rumit, mengapa industri di Indonesia berjalan sangat lambat bahkan cenderung stagnan? Jawabannya sangat kompleks, yang jelas, hemat saya, keterbelakangan industri ini bukanlah sebuah anomali. Ini merupakan bagian dari cara kerja sistem ekonomi yang dominan sekarang, bahkan secara global. Meski kita melihat ada industri atau pabrik-pabrik di beberapa tempat, itu tidak otomatis berarti industrialisasi mandiri. Beberapa di antaranya hanya berfungsi sebagai basis pengolahan awal untuk kepentingan komoditas yang dimiliki luar negeri, umumnya juga hanya menyerap sedikit tenaga kerja tetap dan menghasilkan nilai keuntungan kecil bagi ekonomi nasional, karena sebagian besar keuntungan dinikmati oleh pemilik modal-modal asing. Dalam bahasa teori, itu disebut sebagai perkembangan sistem kapitalisme yang bercorak neoliberal, di mana Indonesia berada di wilayah pinggiran. Disebut pinggiran karena posisinya subordinat, yang sekedar dijadikan sebagai pangsa pasar, pemasok bahan mentah dan tenaga kerja yang murah.6
Contoh sederhananya begini. Sebuah kaos merk H&M, yang dimiliki perusahaan multinasional asal Swedia, dijual dua ratus ribu di mal mungkin terlihat biasa saja. Tapi sebelum nangkring manis di etalase, kaos itu sudah keliling dunia. Desainnya dari Eropa, kainnya dari China, lalu dijahit di Brebes oleh buruh yang digaji pas-pasan. Selesai dijahit, kaosnya jalan-jalan lagi ke luar negeri, difoto, dikasih merek, lalu balik lagi ke Indonesia untuk dijual dengan harga yang tinggi. Yang jahit dapat hasil dua setengah juta satu bulan, pemilik merk bisa dapat miliaran.
Jadi, dalam rantai produksi global, bayangkan Indonesia ini seperti negara kuli, mengerjakan pekerjaan paling berat, paling melelahkan, dan paling murah, sementara cuan terbesarnya dinikmati modal-modal asing. Di sisi lain, tuan-tuan pemodal dalam negeri juga memperoleh keuntungan yang besar, mereka larut dan ikut serta dalam sistem ekonomi yang mengandalkan upah murah.
Sementara kelas pekerja harus banting tulang, tapi para pemodallah yang menikmati hasilnya. Dengan begitu maka tidak heran jika ketimpangan kekayaan di Indonesia selalu berada pada level yang tinggi. Menurut laporan yang ada, 10 persen orang terkaya Indonesia menguasai sekitar 59 persen total kekayaan dan menerima sekitar 46 persen dari total pendapatan nasional, sementara 50 persen kelompok terbawah hanya menerima 14 persen pendapatan.7 Ibarat satu loyang pizza yang harus dibagi ke seratus orang, sepuluh orang teratas itu mengambil hampir enam potong besar, sementara sembilan puluh orang lainnya berebut pada sisa-sisa yang tipis. Mereka yang kenyang bukan karena bekerja paling keras, tapi karena paling dekat dengan sumber pembagian. Data lainnya juga pernah memberikan laporan yang ekstrim, bahwa seandainya lima orang terkaya Indonesia belanja setiap hari dengan uang 2 miliar, mereka akan membutuhkan waktu 630 tahun untuk menghabiskan seluruh gabungan kekayaannya.8
Ketika saya membaca laporan itu, saya hanya bisa geleng-geleng kepala, dan ingat nasib Joni.
Lalu, apa yang bisa kita lakukan untuk menjawab persoalan yang sistemik ini? Bagaimana caranya kita bisa mengubah nasib kelas pekerja seperti Joni dan kelas tertindas yang lain? Tentu saja tak ada resep yang siap saji, tapi selalu ada remah-remah bahan dan petunjuk cara memasaknya.
Michael Kalecki, ekonom asal Polandia, pernah menulis bagaimana jalan keluar dari jerat kemelaratan untuk negara-negara kapitalis pinggiran, termasuk seperti Indonesia. Dia banyak menawarkan solusi yang bersifat ekonomis, mulai dari bagaimana caranya meningkatkan tenaga produktif dari hulu ke hilir, memilih investasi yang strategis, mengontrol harga, hingga peran negara. Tapi seluruh solusi ekonomis yang ditawarkan, menurut Michael, tidak akan bisa dijalankan jika tidak dimulai dari aspek yang paling dasar, yakni aspek politik. Bahwa aspek ekonomi itu tidak mungkin bisa ditegakkan jika tidak dengan dukungan massa yang kuat, karena praktiknya akan bertarung dengan kelas-kelas kapitalis. Dari situlah Michael selalu menempatkan perjuangan kelas pekerja sebagai titik tolaknya.9 Artinya, kekuatan politik kelas pekerja yang akan menentukan arah pembangunan.
Faktanya posisi kelas pekerja di Indonesia terlihat begitu lemah. Mengapa? Tentu saja ada faktor masa lalu yang kelam, ketika terjadi pembantaian atas politik kiri pasca peristiwa 65.
Melemahnya kelas pekerja masa kini salah satunya bisa dilihat dari rendahnya keanggotaan serikat, yang angkanya cuman sekitar 12 persen atau 18 juta dari 150-an juta seluruh pekerja di Indonesia.10 Bisa dibilang, mayoritas kelas pekerja di Indonesia sekarang menghadapi eksploitasi secara terpisah-pisah tanpa perlindungan kekuatan kolektif. Nah, di sinilah tugas pertama gerakan, yaitu bagaimana meningkatkan kesadaran kolektivitas dari kelas pekerja. Namun masalah lainnya bukan sekedar soal jumlah, karena tak sedikit serikat pekerja yang ada sekarang masih bergantung pada perusahaan, terjebak dalam birokrasi, bahkan dibodoh-bodohi oleh elit serikatnya sendiri, sehingga watak perjuangannya menjadi hilang. Inilah tugas kedua gerakan, yaitu bagaimana caranya menaikkan kemandirian serikat pekerja dan menuju kesadaran yang maju, mengerti akan posisi kelasnya dalam percaturan sistem ekonomi-politik yang eksploitatif. Singkatnya, untuk membalikkan keadaan, tugas gerakan yang maha penting sekarang adalah membangun organisasi politik yang kuat, mandiri dan sadar kelas.
Dengan menyadari kekuatan yang ada, menjadi paham mengapa belakangan ini kita selalu terpuruk dan rajin kalah. Bukan karena lawan terlalu tangguh, tapi karena kita yang terlalu lemah.
Membangun organisasi kelas pekerja tidak bisa lagi dimaknai sebagai jargon kosong, ini harus dimulai dari ruang-ruang terkecil di tempat orang-orang seperti Joni hidup dan bekerja; di teras kos, di posko ojek online, di grup WhatsApp, atau di sela-sela ketika mereka istirahat. Mulai saja, misalnya, dari obrolan seputar bensin, target dan capaian orderan, akun yang diblokir, insentif yang dipotong, bahkan service sepeda yang tak dijamin, atau pengalaman kerja sehari-hari lainnya. Dari sini, sangat mungkin kesadaran kolektif itu bisa tumbuh.
Begitu kolektivitas itu terjadi, maka selanjutnya adalah belajar bersama, menjalankan pendidikan politik secara pelan-pelan. Misalnya membedah kontrak kerja digital, menghitung upah riil, memahami undang-undang ketenagakerjaan, ngobrol tentang minimnya perlindungan sosial, diskusi cara kerja algoritma, dan seterusnya. Dalam rangka memahami bagaimana eksploitasi bekerja. Dengan begitu, kesadaran kelas tidak lahir dari hafalan teori, tetapi dari realitas sehari-hari.
Pada saat yang sama, perjuangan kelas pekerja juga harus diarahkan untuk membangun solidaritas lintas sektor, menghubungkan antara pekerja platform dengan sektor kelas pekerja atau gerakan rakyat lainnya. Sebagai upaya untuk membentuk kekuatan politik yang lebih luas dan terorganisir.
Saya sering mendengar dari kawan yang pernah terlibat serius dalam proses membangun kekuatan politik kelas pekerja. Memang tidak gampang. Mereka dituntut lebih dari sekedar waktu luang, mensyaratkan bagian penting dari hidup “normal” yang harus disisihkan. Menjalani masa dengan kehilangan yang paling konkret: isi dapur yang kadang kosong, membeli rokok kadang harus ngutang, piring yang hanya berisi nasi dan mie instan. Tubuh mereka dipaksa bertahan demi cita-cita politik. Kerja yang benar-benar tak nyaman, dan seringkali diterpa kelelahan dan keraguan.
Jadi, membangun kekuatan massa dengan kelas tertindas pada dasarnya bukanlah perkara yang mudah. Ia menuntut banyak energi, menyita waktu, butuh kesabaran yang panjang, dan pengorbanan hidup. Namun, jika kita menolak jalan ini, itu artinya menyerahkan hidup kita kepada mereka yang hanya ongkang-ongkang kaki yang sekedar peduli pada keuntungan. Keberanian mengambil pilihan hidup bersama mereka yang disingkirkan memang perlu dilatih setiap saat, setiap hari, setiap jam, setiap detik, dan setiap nafas kita mengalir.
Di titik ini, yang bergerak kadang kala bukan hanya pikiran dan pilihan politik, tapi juga panggilan hati dan moral. Dalam agama yang saya yakini, juga memberikan petunjuk, disebutkan dalam Al-Quran, yang berbunyi: “Dan kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi itu, dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang yang mewarisi bumi” (Al-Qashash, ayat 5). Saya bukan orang yang sangat taat ibadah, bukan pula penceramah moral yang baik. Namun mendengar ayat itu dan mengerti melaratnya nasib sebagian besar rakyat, membuat hati dan badan saya menggigil. Ayat itu memberikan makna yang terang, bahwa sejarah tidak pernah digerakkan oleh mereka yang hidup nyaman, melainkan oleh mereka yang dipaksa bertahan dalam kekurangan. Bahwa perubahan tidak lahir dari kepasrahan, tapi dari keberanian orang-orang tertindas untuk bangkit dan memimpin hidupnya sendiri.
Jika keberanian membangun kekuatan politik massa yang besar dengan kesadaran yang tinggi sungguh-sungguh kita wujudkan, di situlah, barangkali, letak dari ungkapan “suatu saat si miskin tak memiliki apapun untuk dimakan kecuali si kaya” akan menemui jalannya.
***
Genderang perang bertabuh, langit gelap bertabur bintang, sela-sela jendela tak ada cahaya dan tak ada suara. Di tengah suasana keheningan ini, suara ponsel berdering di pojokan, terdengar nyaris satu halaman kos-kosan. Saya baru ingat itu adalah suara dering alarm ponsel kawan saya, si Joni. Ia nampak tidur sangat mulas. Bergegaslah saya menghampirinya “woy Jon, bangun bangun, udah malem, saatnya makan orang kaya, eh saatnya kerja”.
Referensi
- Kanthi, “Jumlah Pekerja RI Naik Jadi 147,91 juta, 57,7% Berstatus Informal” CNN Indonesia, 6 Februari 2026, https://www.cnbcindonesia.com/news/20260205130516-4-708447/jumlah-pekerja-ri-naik-jadi-14791-juta-577-berstatus-informal. ↩︎
- Dilla Agustin, “Rata-rata Upah Buruh Indonesia Februari 2025, Sektor Mana Paling Tinggi?” Goodstats, 9 Mei 2025, https://goodstats.id/article/upah-rata-rata-buruh-indonesia-februari-2025-MDqCN. ↩︎
- Myesha, “Indonesia Peringkat Pertama Tingkat Pengangguran Tertinggi di Asean” Tempo, 16 Agustus 2025, https://www.tempo.co/ekonomi/indonesia-peringkat-pertama-tingkat-pengangguran-tertinggi-di-asean-2025-2059534. ↩︎
- Rania, “Sedih Setengah dari Pengangguran RI Adalah Anak Muda”, CNN Indonesia, 20 Juli 2025, Sedih! Setengah dari Pengangguran RI adalah Anak Muda, Jumlah Jutaan. ↩︎
- “Job Fair di Cakarang Membeludak Banyak Pelamar Kerja Jatuh Pingsan”, CNN Indonesia, 28 Mei 2025, https://www.cnnindonesia.com/nasional/20250528091502-20-1233981/job-fair-di-cikarang-membeludak-banyak-pelamar-kerja-jatuh-pingsan. ↩︎
- Lebih lanjut lihat Muchtar Habibi, Surplus Pekerja di Kapitalisme Pinggiran, (Marjin Kiri: Jakarta Selatan, 2023). Dan Candas Ayam, “Intan Suwandi: Neoliberalisme, Seperti Bentuk-bentuk Kapitalisme Lainnya, Bersifat Imperialistik”, Indoprogress, 17 Maret 2025, https://indoprogress.com/2025/03/intan-suwandi-neoliberalisme/. ↩︎
- Eva Rianti, “Analisis World Inequality Report: Oligarki dan Ekonomi Lemah Bikin Ketimpangan Indonesia Terus Awet”, republika.co, 12 Desember 2025, https://ekonomi.republika.co.id/berita/t74yv2490/analisis-world-inequality-report-oligarki-dan-ekonomi-lemah-bikin-ketimpangan-indonesia-terus-awet. ↩︎
- Celios, “Laporan Ketimpangan Ekonomi 2024, Pesawat Jet untuk Si Kaya, Sepeda untuk Si Miskin” September 2024, https://celios.co.id/wp-content/uploads/2024/09/Metodologi-Laporang-ketimpangan-2024.pdf. ↩︎
- Alnick Nathan, “Michal Kalecki dan Ekonomi Politik Full Employment” Indoprogress, 20 Juli 2024, https://indoprogress.com/2022/07/michal-kalecki-dan-ekonomi-politik-full-employment/. ↩︎
- Sarnita Sadya, “Data Persentase dan Jumlah Pekerja yang Tergabung dalam Serikat Pekerja” data Indonesia.id, 10 Mei 2024, https://dataindonesia.id/tenaga-kerja/detail/data-persentase-dan-jumlah-pekerja-yang-tergabung-dalam-serikat-pekerja-di-indonesia-pada-20162023. ↩︎
Editor: Patricius Sulistya Eka Apira Yogayudha
Hai, SAM ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membacanya sampai akhir.
Jika kamu suka dan mendapat sesuatu dari tulisan ini, mari kita apresiasi penulisnya dengan klik link di bawah ini:








