Musim kemarau telah tiba saat aku pertama kali menginjakkan kaki di tanah Timor. Hamparan rumput kering di bawah sayap pesawat seolah mengamini perkataan teman kuliahku yang selalu bangga menyebut dirinya Atoin Meto1. Dalam hati, pertanyaan demi pertanyaan menari. Bagaimana mereka bertahan di tanah sekering ini? Bagaimana padi bisa tumbuh? Jangan-jangan, benar kata teman kuliahku dahulu, ini sebabnya beras Jawa dan Sulawesi membanjiri pasar di sini.
Sebulan berlalu, nampaknya hujan tak kunjung turun. Padahal di kota asalku, Bogor, hujan turun sepanjang tahun. Andai penyair Sapardi Djoko Damono yang selalu aku puja itu hidup di tanah kering ini, sudah pasti puisinya tak berjudul “Hujan Bulan Juni”. Mungkin saja puisinya akan berjudul “Matahari Bulan Juni” saat ubun-ubunnya disengat oleh Matahari yang garang. Puisinya akan menceritakan Matahari yang sanggup membakar setiap rindu menjadi abu, sampai-sampai tak setetes air mata berani menyentuh tanah karang yang kering ini.
Sekarang, aku bekerja sebagai staf khusus Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT). Selama lima tahun, aku akan tinggal di Kupang. Awalnya, aku datang ke tanah kering ini dengan penuh kecurigaan. Di Jawa, orang-orang Timor dikenal bengis dan sadis. Banyak orang Timor yang menjadi preman di tanah Jawa. Namun, setelah sebulan lebih tinggal di sini, prasangka-prasangka itu hilang. Orang-orang Timor, meskipun memiliki wajah yang seram—kulit hitam dan rambut keriting—sangatlah baik dan ramah.
Hidup di tanah yang penuh dengan orang-orang yang ramah ini sangat memudahkanku untuk mendapatkan teman. Molo, seorang mahasiswa semester akhir di Universitas Muhammadiyah Kupang, sudah menjadi sahabatku. Ia berasal dari Fatu’ulan, sebuah desa yang terletak di pedalaman Timor Tengah Selatan. Aku mengenalnya karena rumah kontrakanku bersebelahan dengan kos Molo.
Aku dan Molo selalu mengisi waktu luang dengan berdiskusi. Meskipun aku jauh lebih tua dan berpengalaman dari Molo, kalau sudah bicara tentang Timor, aku akan banyak bertanya dan mendengarkan penjelasannya. Pengetahuannya tentang Timor sangatlah luas. Selain karena ia adalah orang asli Timor, ia juga merupakan mahasiswa antropologi. Ini merupakan keunggulannya. Perbincangan-perbincangan kecil yang kami lakukan banyak mengubah persepsiku tentang Timor. Jika aku terlalu banyak bertanya, ia akan melemparku dengan kalimat, “Mas, tidak boleh melihat Timor dengan kacamata Jawa.”
Kalimat ini membuatku terpaku. Aku merasa tersentak. Padahal aku hanya bertanya, di tanah kering ini, bagaimana caranya mereka menanam padi dengan musim kemarau yang panjang seperti ini? Dari mana sumber airnya? Bagaimana cara mereka hidup di tanah kering ini jika tidak makan nasi?
Kebingungan atas pernyataan Molo itu selalu mengakhiri diskusi kami. Tingkah Molo yang kerap meninggalkanku dalam diam, membingungkan dan membuatku bertanya-tanya. Apakah ia sengaja membuatku penasaran? Mungkin inilah salah satu sifatnya yang unik.
Pada malam Minggu, ketika tidak ada pekerjaan, aku mengajak Molo untuk ngopi di luar. Banyak hal yang ingin aku tanyakan padanya. Tentang Timor, tentang bagaimana orang-orang Timor hidup di tanah kering ini, terutama tentang mengapa ia selalu meninggalkanku setelah aku kikuk dibuatnya.
Suatu malam Minggu, Molo menyanggupi permintaanku, tetapi dengan syarat bahwa ia yang memilih tempat untuk nongkrong. Pukul 20.00 WITA, aku dibonceng Molo menggunakan motorku. Aku tak ingin bertanya ke mana tujuan kami; perhatianku hanya ingin ia menjawab segala kegelisahanku.
Dari Kayuputih, kami menuju gedung keuangan. Kemudian melewati jalan El Tari lurus ke arah barat daya. Sepuluh menit perjalanan, kami berhenti di Bundaran Tirosa (Timor, Rote, Sabu), salah satu ikon Kupang. Masyarakat lebih sering menyebutnya dengan nama Bundaran PU. Banyak yang bilang bahwa penamaan ini didasarkan pada letak bundaran itu yang dekat dengan kantor Pekerjaan Umum (PU).
Setelah sampai, aku diajak menuju sekelompok anak muda. Ternyata sudah banyak temannya yang menunggu. Molo menjadi pemantik diskusi di salah satu komunitas; ia diminta untuk berbicara tentang Timor. Sebenarnya, aku sedikit terkejut, tapi bisa kuatasi. Suasana diskusi seperti ini sering aku ikuti juga saat masih menjadi mahasiswa.
“Malam, teman-teman, sesuai informasi yang telah dikeluarkan, malam ini kita akan melaksanakan diskusi mingguan kita. Diskusi kali ini saya sendiri yang akan menjadi moderator dan Bung Molo yang akan menjadi pemantik dan berbicara tentang Timor,” ucap seorang laki-laki yang menjadi pembuka diskusi.
Aku hanya mendengar dan tak berbicara. Sebenarnya yang dibicarakan Molo sudah menjadi bahan diskusi kami sebelumnya. Aku berpikir bahwa jika aku menyimak diskusi mereka, aku akan mendapatkan jawaban atas kebingunganku sebelumnya.
Diskusi telah selesai, tapi aku masih belum mendapatkan jawaban. Aku benar-benar bingung. Sepanjang jalan pulang, aku tak ingin bertanya. Aku takut jika Molo tersinggung kalau aku tidak menyimak. Sesampainya di kontrakanku, setelah mematikan motor, Molo berbalik ke arahku. Ia memasang wajah serius dan berkata, “Mas,” katanya pelan.
“Diskusi kita sebelum-sebelumnya dan tadi hanyalah sebuah pengantar.”
Dengan nada penasaran, aku bertanya, “Maksudnya?”
Senyum kecil muncul di wajahnya, kemudian ia melanjutkan, “Untuk memahami Timor tidaklah cukup dengan diskusi. Kalau serius ingin memahami rahasia tanah Timor, Mas, harus melihatnya sendiri. Saya rencananya akan pulang ke rumah saat liburan nanti dan mau mengajak, Mas.”
Aku kaget mendengarnya. Sebenarnya aku mau menanyakan hal ini, tapi Molo telah mengatakannya dahulu. Tanpa pikir panjang, aku langsung mengiyakan ajakannya. Aku berencana mengajukan izin observasi lapangan kepada gubernur untuk bulan depan. Sebagai staf khusus yang baru, aku merasa perlu melihat langsung kondisi masyarakat di pedalaman sebelum menyusun laporan kebijakan. Rasanya lima tahun rencanaku di sini akan sia-sia jika hanya mengenal Timor dari tumpukan dokumen dan tak turun serta mengenal Timor dari jantungnya.
Sebulan berlalu, liburan semester Molo telah tiba. Aku sudah mempersiapkan perlengkapan beberapa hari sebelumnya setelah izin kerjaku disetujui. Sehari sebelum berangkat, aku menawarkan kepada Molo agar kami menggunakan motorku. Besoknya, dengan mengenakan kaos lengan panjang tipis, celana jin, dan sepatu, aku bersiap untuk melakukan perjalanan.
Tak lama setelah aku siap, Molo datang dan mengatakan agar aku jangan lupa membawa jaket yang tebal. Aku berpikir, mengapa harus menyediakan jaket tebal? Bukankah Timor panas? Sebelum aku selesai menerka, Molo telah lebih dahulu membunuh rasa penasaranku dengan menjawab, “Kampung saya di puncak gunung, jadi udaranya dingin.” Setelah itu, aku mengambil jaket lalu memasukkannya ke dalam tas.
Tiap tikungan dan belokan selalu dibarengi dengan cerita tentang legenda lokal. Oesao, Camplong, dan Takari kami lewati dengan lancar. Ketika sampai di Batuputih, sekitar 500 meter setelah Jembatan Noelmina, kami beristirahat. Setelah selesai istirahat, kami melanjutkan perjalanan. Kali ini, Molo yang di depan. Berbeda dengan jalan-jalan sebelumnya yang didominasi oleh jalur rata, kini kami lebih banyak melewati jurang dan tebing. Aku tak mau banyak bicara atau bertanya agar Molo bisa lebih fokus mengendarai motor. Di sini, aku merasa sepenuhnya bergantung pada Molo dan kacamata Jawa-ku terasa mulai retak.
Setengah jam kemudian, kami telah memasuki kawasan Soe. Ini ditandai dengan udara yang dingin dan sebuah gapura bertuliskan, “Selamat Datang di Kota Soe, Uisneno Nokan Kit.2” Benar apa yang dibilang oleh Molo. Ternyata, tak semua tempat di Timor panas. Soe, Timor Tengah Selatan, adalah salah satu contohnya. Aku kemudian meminta Molo berhenti agar aku bisa mengenakan jaket yang kubawa.
“Mas, perjalanan kita masih jauh,” kata Molo, membuka pembicaraan. Aku hanya mengangguk dan menjawab bahwa aku baik-baik saja sambil mataku terus memperhatikan sekitar.
“Kota ini berkabut,” kataku dengan heran sambil menggelengkan kepala.
Molo diam. Mungkin ia tidak mendengarku karena sedang fokus mengendarai motor.
Seperti biasa, setiap kali melewati suatu tempat, Molo selalu memberitahu nama tempat tersebut. Niki-Niki, Oinlasi, dan Kecamatan Kie telah kami lewati. Sekitar 15 kilometer sebelum rumah, jalanan yang tadinya beraspal telah berganti rupa menjadi jalan tanah berbatu. Sesampainya di rumah Molo, pakaian kami dipenuhi debu putih.
Saat turun dari motor, kami disambut oleh seorang perempuan tua berambut perak dan beberapa anak kecil. Perempuan tua berambut perak itu adalah ibu Molo. Ia memeluk Molo dengan hangat. Anak-anak kecil itu juga berebut untuk memeluk Molo. Kemudian Molo berkata, “Mama, ini teman saya.”
Lalu, Molo berbalik ke arahku dan melanjutkan, “Mas, ini Ibu saya.” Aku kemudian meraih tangan perempuan itu lalu menciumnya seperti seorang anak yang sedang mudik. Setelah itu, kami diajak masuk, istirahat, lalu mandi.
Sore setelah mandi, dengan didorong oleh rasa penasaran yang tinggi, aku ke belakang dan bertanya kepada Molo, “Apa itu?” sambil menunjuk sebuah bangunan bulat kecil beratap jerami. Molo menjelaskan bahwa itu adalah Ume Kbubu.
“Ini adalah Ume Kbubu. Ume artinya rumah, Kbubu artinya bulat. Di suku kami, Suku Dawan, Ume Kbubu melambangkan persatuan, kebersamaan, dan otoritas perempuan dalam pengelolaan pangan. Ume Kbubu ini dipakai sebagai dapur,” jelasnya.
Aku kemudian diajak masuk ke dalam dan melihat ada jagung yang masih diselimuti kulitnya digantung di atas tungku. Bara api masih menyala mengasapi jagung tersebut. Molo kemudian menjelaskan bahwa di Timor, makanan pokok mereka bukanlah nasi, melainkan olahan jagung, umbi-umbian, dan lain-lain. Cara mengolahnya adalah dengan dikeringkan, diasapi, atau difermentasi.
Setelah itu, Molo mengajakku ke suatu tempat. Aku bertanya hendak ke mana ia membawaku, tetapi ia hanya bilang, “Mas, ikut saja.”
Aku mengamininya.
Kami tidak sendiri. Banyak anak-anak kecil yang mengikuti kami.
Di tengah jalan, aku bertanya, “Apakah anak-anak kecil ini adiknya?” Molo tak langsung menjawab.
Ia diam sejenak kemudian berkata pelan, “Mereka semua keponakanku.”
Lalu aku kembali bertanya, “Ke mana ayah dan ibu mereka? Sejak tadi aku tak melihat orang dewasa selain ibumu.”
Molo diam sejenak kemudian menjawab, “Ayah dan ibu mereka merantau ke Malaysia; kebutuhan kuliah dan hidup kami merupakan keringat mereka di sana.”
Aku kaget, tetapi berjuang keras untuk tidak menunjukkan ekspresi kaget. Inilah rahasia tanah Timor yang pertama: ketahanan yang dibangun di atas pengorbanan.
Lima belas menit berjalan kaki, kami sampai di sebuah puncak bukit. Pemandangan pegunungan yang indah dan megahnya Matahari jingga yang hendak tenggelam memanjakan mataku. Biasanya di Kupang aku melihatnya di pantai, sekarang aku melihatnya di gunung. Momen ini membuatku tak ingin banyak bicara.
Matahari telah sepenuhnya ditelan malam. Ini menjadi penanda bahwa kami harus segera pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, ayah Molo telah pulang dari kebun dan ibu Molo juga telah menyediakan jagung bose3 sebagai santapan kami malam ini. Pelengkapnya adalah tumisan daun singkong dan sambal lu’at4.
Makan malam yang nikmat ini dibarengi dengan penjelasan Molo tentang pertanyaan-pertanyaan dalam diriku.
“Awalnya, kami tak mengenal nasi karena tidak mungkin menanam padi di iklim dan kontur tanah kering seperti ini. Padi dan sistem pertanian monokultur ini pertama kali diperkenalkan oleh kolonial dan dilanjutkan oleh Orde Baru lewat program swasembada beras,” jelas Molo dengan detail. “Rahasia kami adalah menolak apa yang tidak bisa kami miliki. Kami merayakan bose karena bose tahu bagaimana caranya bertahan di sini.”
Pertanyaan-pertanyaan yang muncul sejak pertama kali mendarat di Kupang perlahan-lahan mulai menemukan jawabannya. Aku terpuaskan oleh semua jawaban dari Molo, dan malam ini berakhir dengan canda tawa seisi rumah.
Tiga hari di Fatu’ulan aku gunakan sebaik mungkin untuk menyerap realita di sana. Aku berusaha membiasakan diri dengan mengikuti kebiasaan orang-orang di sini. Pergi ke kebun, menggembala sapi, memberi makan babi, dan ke lembah untuk mengambil air. Sorenya, aku selalu ke puncak bukit. Sepertinya diam dan menyaksikan tenggelamnya Matahari sudah menjadi salah satu kebiasaan favoritku. Saat itu, aku akan merenung, masuk, lalu mencari “ke-Timoran” di dalam diriku.
Besoknya, aku dan Molo berpamitan untuk pulang ke Kupang. Pelukan haru antara Molo dan ibunya membuatku teringat kampung halamanku. Aku menangis, tapi air mataku tak keluar. Aku tak menangis karena sedih; aku terharu oleh suasana di sini. Orang-orang di sini dengan teriakan khas mereka saat malam tiba, jagung bose dan sambal lu’at, dan semuanya. Suasana ini merayuku agar aku tak pulang dan tinggal lebih lama di sini, tetapi masih banyak yang harus aku lakukan.
Pada akhirnya, aku dan Molo pulang. Seperti biasa, kami bercerita sepanjang jalan; tetapi jika medannya ekstrem, kami akan diam.
Dalam diam itu, aku berkata dalam hati, “Kacamata Jawa itu telah aku tinggalkan di Fatu’ulan, sebuah negeri di atas awan. Rahasia tanah Timor ternyata bukan tentang di mana air berlimpah, tetapi tentang bagaimana hati dan budaya mereka menolak layu, bahkan di tengah kekeringan paling panjang.”
Glosarium
- Atoin Meto: secara harfiah artinya “orang kering”. Secara kontekstual, artinya orang-orang yang hidup di tanah/daerah yang kering (Timor). ↩︎
- “Uisneno Nokan Kit” adalah frasa dalam bahasa Dawan (Timor) yang berarti “Tuhan Memberkati Kita” ↩︎
- jagung bose: olahan jagung khas masyarakat Timor ↩︎
- sambal lu’at: sambal fermentasi khas Timor. ↩︎
Editor: Farras Pradana
Hai, SAM ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membacanya sampai akhir.
Jika kamu suka dan mendapat sesuatu dari tulisan ini, mari kita apresiasi penulisnya dengan klik link di bawah ini:








