Cinta Bisa Melahirkan Iblis

Penulis

Sejak kecil, kita diajarkan tentang iblis sebagai makhluk gaib yang punya rupa buruk dan sikap jahat. Narasi itu memberi dampak psikologis dan membuat kita bertanya-tanya. Seperti apa wujud iblis sesungguhnya? Bagaimana jika narasi tentang iblis yang menyeramkan itu adalah metafora atas sikap manusia? Bagaimana kalau sebenarnya iblis adalah diri kita sendiri? 

Leo Tolstoy, sastrawan Rusia, memberikan jawaban di dalam novelnya yang berjudul Iblis. Namun yang mengejutkan dari novel itu, Leo Tolstoy memperlihatkan bahwa sikap iblis di dalam diri manusia terlahir dari cinta. 

Barangkali ide Leo Tolstoy terdengar aneh. Bukankah cinta merupakan wujud yang romantis? Penilaian terhadap ide Leo Tolstoy itu lumrah karena selama ini kita dicekoki bahwa cinta sebagai dimensi keindahan. Akibatnya, kita lupa melihat “sisi gelap”-nya.

Sisi gelap cinta itulah yang coba diungkapkan Leo Tolstoy dalam novel Iblis. Iblis mengangkat latar masyarakat Rusia dengan konflik hubungan keluarga. Cerita dimulai ketika Eugene, anak orang kaya, memutuskan kembali ke desa untuk melanjutkan bisnis keluarga. 

Eugene bukan seorang pria yang benar-benar taat agama. Dulu saat merantau dari desanya, Eugene melakukan aktivitas seksual dengan perempuan. Kendati demikian, dia bukan pecandu seks yang akut. 

Di tengah kesuntukan karena bisnisnya banyak masalah, sebagai laki-laki remaja, gejolak nafsu Eugene bergelora. Pada saat gejolak nafsunya bergelora, Eugene bimbang harus bagaimana menyalurkannya. Soalnya, tidak mungkin menyalurkan gejolak nafsunya di desa dengan serampangan. 

Eugene berusaha menahan nafsunya. Namun, sekuat-kuatnya menahan nafsu, tameng penahannya akan runtuh jika tidak disalurkan. Hingga akhirnya, Eugene memutuskan untuk mendatangi gubuk milik Daniel, teman lama ayahnya. Di sana, Eugene menceritakan masalahnya. Daniel akan menolong Eugene. Daniel akan membawakan perempuan petani untuk Eugene esok hari. 

Keesokan harinya, Eugene pergi ke hutan, lokasi yang dijanjikan Daniel. Eugene bertemu perempuan petani bernama Stepanida. Di hutan itu, Eugene menuntaskan gejolak nafsunya bersama Stepanida. Pertemuan antara keduanya, terjadi bukan hanya sekali, tetapi berulang kali. Sampai tanpa disadari, Eugene menaruh hati kepada Stepanida. 

Meski menaruh hati kepada Stepanida, Eugene tidak menikahinya. Eugene memutuskan menikah dengan Liza. Eugene mengenal Liza karena sering bertemu keluarga Annenski di kota. 

Dalam pernikahan itulah, secara perlahan Eugene mengalami gejolak. Di satu sisi, Eugene mencintai Liza yang punya sikap pengertian, penyabar, dan penyayang. Di sisi lain, perasaan Eugene kepada Stepanida belum tuntas. Setiap kali Eugene bertemu Stepanida, ada getaran hati misterius yang terus muncul. 

Puncaknya di tahun kedua pernikahannya. Kebimbangan dalam diri Eugene kian klimaks. 

Dia ingin kembali menjalin hubungan dengan Stepanida, tetapi dia juga cinta kepada Liza. Jika memutuskan ingin menjalin hubungan bersamaan, tentu tidak bisa karena akan dikecam oleh keluarga dan masyarakat desa. 

Sempat perasaan kepada Stepanida menghilang, tapi hanya berjalan seketika. Perasaannya kepada Stepanida  kembali mencuat di dalam hati. Eugene dilanda kecemasan yang brutal. Hingga akhirnya, Eugene memutuskan bunuh diri untuk menyudahi penderitaan perasaannya. 

Menariknya, Leo Tolstoy menyajikan dua versi akhir cerita. Akhir cerita lainnya adalah Eugene memutuskan membunuh Stepanida di gudang. Lalu, Eugene diproses secara hukum. 

Tidak diketahui mengapa Leo Tolstoy membuat dua akhir cerita. Tidak ada catatan penjelasan.  Dalam interpretasi saya, dua versi itu sengaja diciptakan karena Leo Tolstoy ingin memperlihatkan bahwa di dalam kebimbangan tentang hubungan, ada banyak sikap yang bisa dilakukan untuk mengakhiri kebimbangan itu. Dan masing-masing sikap, selalu memiliki dampak negatif. 

Dan itu terbukti di kehidupan kita sekarang. Fenomena paling jelas adalah orang yang sadar pasangannya toksik.Orang tersebut umumnya terjatuh pada dua pilihan. Pertama, mengakhiri hubungan, tetapi akan merasa sedih sudah kehilangan pasangannya. Kedua, memilih setia agar tidak merasa kehilangan, tetapi penderitaan akan selalu menyertainya. 

Terlepas dari dua versi akhir cerita yang tersaji, Leo Tolstoy melalui cerita kebimbangan hati Eugene, ingin memperlihatkan bahwa cinta yang didasari “keyakinan lemah” akan menghasilkan kemelut tak berkesudahan. “Keyakinan lemah” adalah konsep dari Jean-Paul Sartre dalam menggambarkan kemunafikan individu untuk mengambil sikap terhadap kebenaran yang disadari. 

Eugene menyadari bahwa dirinya membangun perasaan kepada Stepanida. Namun, dirinya tidak berani untuk segera mengambil sikap untuk bisa segera “mendamaikan” perasaan itu. Sebenarnya, Eugene sebagai tuan, bisa meminta Stepanida untuk berhenti bekerja di tempatnya. Bukannya melakukan itu, Eugene justru meromantisisasi bahwa dirinya tidak bisa menjauh darinya. Justru Eugene menyalahkan Stepanida karena tetap bertahan di tempat kerjanya. 

Bukankah mendamaikan perasaan pada orang yang tidak bisa dimiliki harus dimulai dari diri sendiri?

Begitu juga sebaliknya, Eugene tidak berani untuk menceraikan Liza. Ketakutan itu lahir karena Eugene  memang mencintai Liza. Namun, ketakutan terbesar Eugene sebenarnya adalah tidak berani melanggar norma sosial yang menganggap perceraian sebagai keburukan. 

Bukankah pernikahan yang diisi dua hati lebih buruk daripada perceraian?

Dengan keyakinan lemah yang dimiliki Eugene, cinta yang seharusnya menjadi dimensi keindahan, berubah menjadi dimensi menyeramkan. Sebab, Eugene terjatuh pada keterasingan cinta. Cinta yang terasing akan membuat seseorang menderita karena ingin melihat orang lain senang, sedangkan kebahagiaan dirinya terabaikan. Lebih buruknya lagi, melihat orang yang dicintainya sebagai objek yang layak diperlakukan dengan kekerasan.

Kondisi itulah yang membuat cinta melahirkan iblis di dalam diri manusia karena menghasilkan kegilaan yang membahayakan. Sebagaimana Eugene di akhir cerita, ia memilih bunuh diri, atau versi kedua, membunuh Stepanida.

Dengan pesan moral yang mendalam, cukup disayangkan Leo Tolstoy membangun cerita dengan terburu-buru. Akibatnya, penokohan dan latar suasana tersaji secara dangkal. Oleh karena itu, efek emosional dalam Iblis kurang “nendang”. 

Meski kurang dari sisi emosional, Iblis layak dibaca untuk menjadi bahan refleksi bagi kita semua: Bagaimana membangun hubungan yang bermakna agar tidak berubah menjadi iblis? 


*Ulasan buku berjudul Iblis yang ditulis oleh Leo Tolstoy dan diterjemahkan oleh Saut Pasaribu (Yogyakarta: Diva Press, 2022).


Editor: Farras Pradana


Hai, suka pada tulisan ini?
Kami paham, kehidupan yang menyebalkan sekarang sering membuat kita tak punya waktu untuk menulis, meski banyak kenyataan yang membuat kita berpikir dan bahkan yakin bahwa penderitaan ini sama pula dampaknya. Maka, mari biasakan untuk berterima kasih pada mereka yang telah meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk menuliskan keresahan serta kekecewaan kita. Dengan cara apa? Sederhana. Berilah apresiasi pada kerja-kerja sunyi mereka lewat link di bawah ini.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *