Tolak Rezim Audisme, PSN 2026 Dorong Aksesibilitas Musik bagi Kelompok Tuli

Penulis

SURAKARTA — Konferensi daring Punk Scholars Network (PSN) Indonesia 2026 hari pertama pada Selasa (22/9/2026) menyoroti isu diskriminasi pendengaran atau audisme dalam industri musik. Topik tersebut mengemuka dalam panel diskusi satu (I)bertajuk “Sonic Politics: Voice, Access, and Resistance” yang dipandu oleh moderator Raden Arief Nugroho. Pemakalah Jay Afrisando bersama seniman Tuli, Arief Wicaksono, mempresentasikan rumusan untuk menciptakan kesetaraan akses musik bagi kelompok penyandang disabilitas sensorik. Presentasi ini dibawakan secara inklusif dengan memadukan penggunaan bahasa isyarat BISINDO serta panduan audio teks berbahasa Inggris.

Dalam pemaparannya, Jay Afrisando menekankan bahwa pengabaian aksesibilitas bagi pendengar Tuli merupakan sebuah pelanggaran hak. Praktik tersebut melanggengkan rezim audisme, yakni pandangan yang menganggap kemampuan pendengaran normal sebagai entitas yang superior. 

“Menolak akses berarti menolak hak asasi manusia, dan penolakan akses dalam musik adalah sebuah bentuk audisme” ujar Jay. Ia menilai musik arus utama saat ini gagal mengakomodasi ragam spektrum pendengaran manusia karena hanya didesain berdasarkan patokan suara fisik.

Menanggapi dominasi suara fisik tersebut, Arief Wicaksono memaparkan bahwa kelompok Tuli tetap mampu merespons musik melalui alternatif visual dan pengalaman taktil. Pemahaman musik dapat dibangun melalui kehadiran penerjemah bahasa isyarat, tata letak teks lirik yang ramah pembaca, hingga rambatan getaran instrumen. 

“Saya mulai mengenal musik bukan dengan mendengarkan, melainkan melalui getaran seperti drum, gamelan, dan djembe, dengan mengikuti temponya,” papar Arief melalui bantuan penerjemah bahasa isyarat.

Arief menambahkan bahwa elemen akses tersebut dapat diintegrasikan langsung sebagai bagian dari estetika pertunjukan, alih-alih sekadar dianggap beban tambahan. Ia mencontohkan, penyelenggara acara dapat memberikan ruang khusus bagi penonton Tuli di area terdepan panggung agar mereka dapat merasakan getaran langsung dari pengeras suara. Penyediaan aksesibilitas pada akhirnya bukan sekadar inisiatif inklusi sosial, melainkan sebuah strategi untuk mentransformasi budaya dominan di dalam ekosistem musik populer.


Editor: Benediktus Fatubun


Hai, SAM ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membacanya sampai akhir.
Jika kamu suka dan mendapat sesuatu dari tulisan ini, mari kita apresiasi penulisnya dengan klik link di bawah ini:

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *