SURAKARTA — Punk Scholars Network (PSN) Indonesia akan menggelar Konferensi Tahunan Ketujuh dan Simposium Pascasarjana di Lokananta Bloc, Kota Surakarta. Kegiatan akademik ini dijadwalkan berlangsung selama empat hari mulai tanggal 22 hingga 25 September 2026.
Konferensi tahun ini mengusung tema “Regimes, Negotiations, Resistance: Power & Popular Music Studies in Southeast Asia”. Berdasarkan keterangan pada akun Instagram PSN, acara ini menjadi forum pertukaran penelitian terkait kajian musik populer, subkultur, dan kekuasaan di kawasan Asia Tenggara.
Forum ini melibatkan tujuh puluh lima pemateri yang akan mempresentasikan enam puluh sembilan makalah penelitian. Panitia mengkonfirmasi penyelenggaraan delapan belas panel diskusi tanpa kehadiran pembicara utama atau keynote speaker. Keputusan ketiadaan pembicara utama tersebut diambil untuk memberikan porsi waktu dan ruang bicara yang setara bagi seluruh peserta. Hari pertama konferensi dilaksanakan secara daring melalui aplikasi Zoom, sedangkan hari kedua hingga keempat berformat tatap muka.
Pembahasan dalam belasan panel tersebut mencakup ragam disiplin ilmu yang beririsan dengan musik. Topik panel pemakalah meliputi kajian politik suara, ruang identitas, ekonomi mandiri, hingga wacana gender dan feminisme. Forum ini menyediakan ruang pembahasan mengenai lanskap musik di wilayah Indonesia Timur melalui panel spesifik bernama Timurnesia. Isu algoritma pada era digital, aktivisme musik, serta representasi visual subkultur turut menjadi bahan presentasi di atas mimbar.
Rangkaian konferensi ini memuat agenda tambahan berupa diskusi buku dari Muhammad Syafiq Yunensa serta lokakarya media bersama Semut Api. Sesi khusus bersama lembaga Serikat Pekerja Kampus, YAPPIKA, dan Sepaham juga dijadwalkan mengisi hari kedua dan keempat. Pihak penyelenggara kemudian menyiapkan sesi pesta purnakonferensi (after conference party) sebagai agenda penutup rangkaian kegiatan. Pelaksanaan simposium ini merupakan hasil kerja sama dengan Telkom University serta mendapatkan dukungan dari Basis Indonesia.
Editor: Benediktus Fatubun
Hai, SAM ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membacanya sampai akhir.
Jika kamu suka dan mendapat sesuatu dari tulisan ini, mari kita apresiasi penulisnya dengan klik link di bawah ini:








