“Saya mengusulkan jalan untuk saudara-saudara saya yang tinggal di atas gunung, agar mereka bisa berobat dan belanja sayur murah.”
Suara Saraiyah terdengar jelas dalam Musrenbang Perempuan Kabupaten Lombok Utara tahun 2016. Ia bukan pejabat, bukan pula tokoh adat. Ia seorang ibu dari Dusun Lokoq Buaq, Desa Sukadana. Dengan keberanian besar ia menyampaikan usulan yang membuat banyak orang menoleh padanya kala itu. Tidak ada yang menyangka – dan bahkan mempertimbangkan – bahwa perempuan pengantar kue pesanan ibunya itu, kini berdiri tegap di forum pengambilan keputusan.
Jauh sebelum itu, kehidupan Saraiyah berjalan seperti pada umumnya perempuan di desanya. Ia membantu ibunya membuat dan mengantarkan kue. Setiap kali ada pesanan untuk kegiatan desa, Saraiyah ikut masuk ke ruangan lalu duduk diam dan mendengarkan. Rasa ingin tahunya tumbuh pelan-pelan, menjadi sebuah awal dari perjalanan panjang kepemimpinan yang belum ia bayangkan saat itu. Keingintahuannya juga minat belajar yang besar membuat Saraiyah sering diundang dalam kegiatan desa hingga kabupaten, meski ia bukan kader. Begitulah mulanya. Dari ruang-ruang informal itu Saraiyah mulai memahami bahwa selama ini, perempuan, terutama perempuan miskin di desanya, menghadapi banyak persoalan yang tak pernah dibicarakan secara terbuka.
Suatu hari, Saraiyah mendapati kabar bahwa Sekolah Perempuan akan menyambangi Desa Sukadana. Tanpa menunggu untuk diajak, ia langsung bertekad untuk ikut serta dan mengajak teman-teman sesama perempuan miskin untuk belajar bersama. Sekitar empat tahun lamanya, ia mengikuti seluruh proses Pendidikan Adil Gender di Sekolah Perempuan dengan semangat yang nyaris tak pernah surut. Dari ruang belajar itu, Saraiyah memahami hak-hak perempuan. Dari membongkar pembagian kerja rumah tangga yang tidak adil, dan belajar menggali persoalan perempuan hingga ke akar penyebabnya. Lebih dari itu, ia ditempa untuk berani berbicara di depan publik, sebuah kemampuan yang kelak menjadi modal penting dalam perjuangannya.
Perlahan, keberanian itu mewujud dalam aksi nyata. Saraiyah mulai mengadvokasi masalah perempuan di desanya dan desa-desa sekitar yang lebih marginal. Salah satu gagasan besarnya muncul pada Musrenbang Perempuan Kabupaten Lombok Utara di tahun 2016 itu. Yang ia maksud dengan “saudara-saudara saya” adalah warga Dusun Kebon Patu, sebuah dusun berpenduduk mayoritas Hindu yang hidup terpencil, dan jauh dari akses serta layanan-layanan dasar. Kesadaran bahwa pembangunan harus bisa dinikmati oleh siapa saja – tidak boleh seorang pun ditinggalkan – lahir dari proses panjang yang ia jalani di Sekolah Perempuan. Kemandirian, dan kepemimpinannya terpupuk dari pengorganisasian Sekolah Perempuan yang berbasis akar rumput dan pengalaman langsung. Bagi Saraiyah, keadilan harus merata, harus diperluas kepada banyak kelompok tanpa memandang agama maupun latar belakangnya.
Keberanian Saraiyah telah membawanya menjadi pemimpin perempuan akar rumput, khususnya untuk Sekolah Perempuan di wilayah tempatnya tinggal. Hari-harinya dipenuhi kerja-kerja pendampingan: menangani KDRT, mencegah perkawinan anak, memantau kepesertaan JKN/KIS PBI, dan melakukan pendataan kebencanaan. Sesuatu yang seharusnya menjadi tanggungjawab dan kerja-kerja negara, tetapi bergeser menjadi makanan sehari-hari Saraiyah dan anggota Sekolah Perempuan lainnya. Juga lewat kapasitas dan keberaniannya, Saraiyah terpilih menjadi anggota tim perencanaan. Dan yang paling luar biasa, ia menjadi perempuan pertama yang menembus Majelis Krama Adat Desa (MKAD), sebuah lembaga adat yang selama ini hanya diisi laki-laki. Masuk ke dalam lembaga adat bukan tanpa risiko. Ia menerima kemarahan, tekanan, bahkan ancaman dari berbagai pihak. Saraiyah pun sempat disingkirkan oleh keluarganya sendiri. Namun tekad besarnya untuk memajukan perempuan lebih kuat daripada rasa takut. Dalam posisinya di Majelis Adat Krama Desa, ia memperjuangkan perubahan aturan adat yang meminggirkan perempuan. Suaranya vokal mengawal isu-isu ketidakadilan. Mulai dari persoalan mahar perkawinan, pencegahan perkawinan anak, hingga mekanisme penanganan kekerasan terhadap perempuan.
…
Tulisan lengkap dariInstitut KAPAL Perempuan dan LPSDM Lombok ini bisa diakses dengan membeli zine (digital dan cetak) terbitan kami, SAMZine Spesial Vol. 2 (Desember 2025). Mengapa kami mengeksklusifkan tulisan ini? Silakan baca di halaman SAMZine Spesial.








