Saat Agama Bercumbu Mesra dengan Kapitalisme

Penulis

Hari ini, begitu mudah melihat (yang katanya) pemuka agama menjadikan simbol-simbol suci sebagai alat tukar, semata-mata untuk menggemukkan kantong pribadi. Betapa kontradiktifnya dengan seruan “beramallah karena Tuhan,” ketika di baliknya yang berjalan adalah kalkulasi keuntungan dan pencitraan. 

Sial betul nasib pemeluk agama, yang niat tulusnya diputarbalikkan menjadi keuntungan orang lain. Mereka berharap pahala dan makna sebagai bekal akhirat, tapi yang mereka terima hanyalah komoditas yang dikalkulasikan. Tidak ada yang gratis. Meminta doa berarti juga menambah laba bagi yang dimintai. Bahkan ketika pelaksanaan ajaran ditutup rapat oleh ritual dan simbol, jawabannya tetap sama. Semua dibuka kembali dengan mata uang.

Tanpa bermaksud menyudutkan, fenomena ini menegaskan bagaimana agama sering dijadikan lahan bisnis. Misalnya, biaya umrah yang naik dua kali lipat saat Ramadhan, harga kebutuhan pokok yang melambung menjelang hari raya, layanan akses pengetahuan agama berbayar, bahkan outlet yang menjual “surga” dengan tarif tertentu. Semua itu menunjukkan bagaimana niat tulus pemeluk agama untuk beribadah, belajar, dan mendekatkan diri pada Tuhan sering ditumbalkan menjadi peluang ekonomi yang menggiurkan. Sekali lagi, tanpa bermaksud menyudutkan, sehingga bilamana ada yang marah, tersinggung, tidak tahan kritik, atau langsung menghunus pedang setelah membaca lalu berapriori atau berapologi menganggap tulisan ini tendensius berarti ia masih berada pada masa-masa pubertas dalam beragama.

Di seluruh dunia, segala praktik lintas agama kini kerap diseret ke arena ekonomi. Fenomena ini dikenal sebagai religionomic, pertemuan mesra antara agama dan kapitalisme. Di mana kesucian dan spiritualitas berubah menjadi komoditas yang bisa diukur dan dijual.

Gejala Religionomic dan Akarnya 

Di tengah pasar rohani, praktik keagamaan bagai bertransformasi menjadi komoditas yang diperdagangkan. Fenomena religionomic menggambarkan bagaimana agama atau simbol-simbol sakral diperlakukan layaknya produk ekonomi yang bisa dipasarkan, diperjualbelikan, dan dikonsumsi. 

Nilai-nilai spiritual yang semestinya bersifat transenden berubah makna. Agama yang dahulu menjadi pedoman batin kini turut dijadikan arus komersial. Proses ini adalah perubahan fungsi agama dari sekadar pedoman hidup menuju produk ekonomi yang bisa dijual dan dibeli. Artinya, bahkan ritual dan identitas keagamaan dapat dikesampingkan ke ranah bisnis, sejajar dengan produk fesyen atau makanan. Sebagaimana dikritik dalam literatur, pada akhirnya yang suci turut direduksi menjadi sekadar alat konsumsi. Ini patutnya menimbulkan pertanyaan tajam, apakah yang sejatinya sakral kini tunduk pada mekanisme pasar banal?

Salah satu akar problem terletak pada orientasi umat sendiri. Praktik religius kerap bersifat transaksional, ibarat investasi untuk keuntungan duniawi. 

Banyak orang menundukkan ritual keagamaan pada logika untung-rugi. Mentalitas ini memupuk ekspektasi akan hasil cepat. Agama menjadi sumber pembayaran instan atas kebutuhan hidup. Ibadah tidak lagi dilihat sebagai jalan panjang menuju makna transendental, melainkan sarana tercepat untuk memenuhi ambisi materiil.

Orientasi seperti ini lahir dari kebutuhan akan kepastian duniawi yang terus meningkat. Seseorang rela menukar ketulusan dengan janji mukjizat segera, menanam pahala sembari berharap panen berkah konkret. Dalam simbiosis internal seperti ini, relasi antara pengharap dan Tuhan mirip kontrak dagang—isu batin dibiarkan sekunder oleh logika imbalan langsung.

Di luar umat, faktor eksternal memperkuat tren ini. Para pemuka dan institusi keagamaan turut berperan untuk mengkapitalisasi. Strategi komersial terlihat jelas pada beragam produk berlabel keagamaan—mulai dari industri busana, makanan, hingga pariwisata rohani—yang dilabeli nuansa religius demi menarik konsumen. 

Media sosial pun menjadi ruang monopoli komersial baru. Dakwah dan ceramah dipaket ulang dengan fitur berbayar atau iklan. Misalnya, monetisasi konten keagamaan di YouTube dan platform daring menghasilkan pendapatan bagi pendakwah lewat iklan, donasi, dan langganan berbayar. Selebritisasi pendakwah pun terjadi. Sebagian tokoh agama membangun personal branding berbasis jumlah pengikut, menyuguhkan konten viral demi daya tarik—kadang dengan mengorbankan kedalaman teologis. 

Lebih jauh, simbol-simbol suci dilebur ke dalam industri fesyen dan gaya hidup. Desain pakaian atau hiasan berlafaz agama dijual luas tanpa konteks ajaran, menekankan daya visual daripada substansi spiritual. Praktik-praktik ini mencerminkan bagaimana media dan teknologi kapitalistik memformasi ulang agama. 

Sementara itu, struktur ekonomi turut menyertakan agama sebagai instrumen. Ketimpangan sosial-ekonomi memicu belahan baru dalam spiritualitas. Pemerintah dan pemimpin agama sering menggunakan jargon “kebangkitan ekonomi keumatan” sebagai kampanye politik atau pasar. 

Misalnya, gerakan koperasi syariah dan pasar modal berbasis identitas agama kerap diorganisir untuk menunjukkan solidaritas dan melawan “kapitalisme global”. Namun di balik itu, inisiatif serupa justru dapat dimobilisasi sebagai modal politik atau strategi memperkuat loyalitas massa. Dengan kata lain, ketidakadilan ekonomi dieksploitasi untuk menciptakan pasar agama baru, di mana janji-janji keberkahan material dipertukarkan untuk komitmen politik ataupun donasi rutin kepada institusi tertentu. 

Tamparan untuk Pasar Iman

Ini pencurian yang berwajah suci. Ketika ritual dijual, doa dikemas, dan janji keselamatan dipatok harga, ruang batin digondol oleh logika pasar. Kita semua yang berperan sebagai penyaji, pembeli, dan penonton terlibat dalam rantai transaksi yang merampas makna. Habermas menamai proses serupa sebagai kolonisasi ranah kehidupan oleh mekanisme sistem. Di sini hasilnya lebih pribadi, yaitu kehilangan kemampuan agama untuk mengkritik dan membebaskan. Itu tamparan keras bagi siapa pun yang masih percaya bahwa kerohanian tidak memiliki harga.

Solusi untuk kanker religionomic tidak ada dalam wacana manis dan janji hampa. Tidak ada ruang untuk berfantasi, karena praktik ini lahir dari kombinasi kerakusan batin manusia dan oportunisme elit agama. Kuncinya ada pada kesadaran brutal. Umat harus berhenti menukar ketulusan dengan janji instan, dan para pemuka harus menolak godaan monetisasi spiritualitas. Kesadaran itu harus lahir dari penolakan keras terhadap setiap paket berkah yang dijual, setiap janji keselamatan yang dikapitalisasi, dan setiap ritual yang dijadikan tontonan.

Tidak cukup dengan teori atau kritik akademik. Ruang publik harus dijaga agar iman tidak disandera oleh logika pasar. Pendidikan spiritual harus membangun kapasitas kritis, mengajari umat untuk meresapi makna ritual, bukan sekadar mengukur pahala atau hadiah. Tanpa ini, agama tetap menjadi lahan komoditas, dan spiritualitas sejati tetap terjebak di balik layar keuntungan. Jika umat tidak menampar balik mekanisme itu, mereka sendiri yang menjadi korban kapitalisme iman.


Editor: Farras Pradana


Hai, suka pada tulisan ini?
Kami paham, kehidupan yang menyebalkan sekarang sering membuat kita tak punya waktu untuk menulis, meski banyak kenyataan yang membuat kita berpikir dan bahkan yakin bahwa penderitaan ini sama pula dampaknya. Maka, mari biasakan untuk berterima kasih pada mereka yang telah meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk menuliskan keresahan serta kekecewaan kita. Dengan cara apa? Sederhana. Berilah apresiasi pada kerja-kerja sunyi mereka lewat link di bawah ini.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *