Sejarah panjang Indonesia berdiri tak bisa dilepaskan dari peran pemuda didalamnya. Mulai dari terlaksananya sumpah pemuda yang menjadi dasar penyatuan seluruh entitas bangsa hingga masa reformasi yang berhasil menurunkan rezim diktator Soeharto. Pemuda dilambangkan sebagai agen perubahan atau agent of change yang diharapkan mampu menjadi pembeda dengan spirit dan semangat juang yang masih menyalah-nyala. Tan Malaka juga pernah berujar bahwa “idealisme merupakan kemewahan terakhir yang dimiliki anak muda,” rasanya ungkapan tersebut tak salah. Sebab, anak mudalah yang selalu menjadi motor perubahan peradaban.
Anak muda Indonesia hari ini menghadapi permasalahan pelik, Mulai dari tingginya angka pengangguran, hingga minimnya ketersediaan lapangan kerja. Padahal di berbagai media, tahun 2030-an Indonesia digadang-gadang memiliki bonus demografi dengan jumlah anak muda dan angkatan kerja mendominasi persentase dari total jumlah warga negara. Jangan sampai ledakan bonus demografi tersebut justru tidak dibarengi dengan peningkatan kapasitas anak muda dan kesiapan negara dalam mengelolanya. Ledakan bonus demografi yang harusnya berdampak positif jangan sampai menjadi bencana demografi akibat negara gagal dalam mewadahi kepentingan anak muda, khususnya soal penyediaan lapangan kerja.
Bicara mengenai peran pemuda, khususnya mahasiswa, peran mereka tak hanya berhenti pada ruang intelektual dalam kelas saja, melainkan lebih dari itu. Mereka dibebani tanggung jawab moral untuk membela kepentingan masyarakat yang selama ini banyak dirugikan akibat kebijakan ngawur penguasa. Dalam sejarahnya, peran mahasiswa sebagai social control sangat penting sebagai pengontrol kebijakan penguasa. Rezim Soeharto yang mampu berkuasa selama 32 tahun pun pada akhirnya runtuh karena didesak mundur oleh mahasiswa yang menduduki gedung DPR-MPR RI walaupun institusi resmi negara, seperti kekuasaan legislatif dan yudikatif termasuk TNI/POLRI, di bawah kendalinya. Hal ini lantas membuktikan bahwasanya sejarah panjang pergerakan mahasiswa Indonesia akan selalu berbenturan dengan perangkat kekuasaan. Hal tersebut perlu diimbangi juga dengan kesolidan mahasiswa untuk berdiri bersama rakyat.
Kondisi pergerakan mahasiswa yang akhir-akhir ini sangat mudah terfragmentasi membuktikan negara berhasil memecah belah kesolidan yang menjadi fondasi awal dalam melakukan pergerakan. Sialnya, organisasi mahasiswa seperti Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) justru sibuk mencitrakan dirinya sebagai kekuatan yang ekslusif melalui pembentukan aliansi besar seperti BEM SI, BEM NUS dan aliansi BEM lainnya. Justru kehadirannya tersebut menjadi celah masuk kepentingan negara dan aparat melalui pendanaan kegiatan dan lain sebagainya, sehingga—melihat kondisi hari ini—BEM menjadi tidak relevan karena dirasa jauh dari kepentingan rakyat dan malah berkoalisi dengan aktor negara.
Masuknya Mahasiswa Dalam Pusaran Kepentingan Politik Praktis
Bukan menjadi rahasia umum apabila aktor organisasi mahasiswa banyak membuka jaringan dengan aktor politik, baik di tingkat pusat maupun daerah. Bahkan tak jarang mereka menggadaikan organisasinya untuk mendapatkan atensi sehingga dapat menaikan daya tawar. Banyak juga pengurus organisasi mahasiswa yang bahkan sudah masuk dalam kelompok politik tertentu walaupun masih menjabat dan berujung menggadaikan perjuangan kawan-kawan dalam organisasinya. Hal ini jelas menjadi puncak pengkhianatan yang tidak termaafkan. Bagaimana bisa pemimpin organisasi mahasiswa justru berlaku culas dengan memanfaatkan organisasinya sebagai kendaraan politik demi mengejar ambisi pribadi. Padahal jelas sebagai mahasiswa, stance yang harus digaungkan adalah dekat dengan rakyat dan jauh dari kekuasaan. Apabila hal tersebut dibalik, maka pada dasarnya mahasiswa telah kehilangan jati diri dan keberpihakannya kepada rakyat.
Beberapa waktu lalu, partai Golkar mengadakan penyambutan terhadap para eks pimpinan Cipayung plus dan Badan Eksekutif Mahasiswa untuk masuk dalam organisasi sayap partai yaitu AMPI. Tentu ini membuktikan bahwa partai politik juga sudah tidak mau bersembunyi dalam proses rekrutmen terhadap para pimpinan organisasi mahasiswa. Lambat laun, apabila praktik atau kondisi yang demikian dianggap biasa, maka mahasiswa justru hanya akan bermain sandiwara keberpihakan dan sibuk memoles citra diri untuk mendapatkan atensi dari petinggi dan politisi partai politik tertentu. Jika sudah demikian maka organisasi mahasiswa, baik intra maupun ekstra, pada akhirnya akan menjadi kendaraan politik dalam mewujudkan ambisi pribadi alih-alih sebagai alat untuk memperjuangkan kepentingan kolektif rakyat.
Pertanyaannya, apakah praktik keculasan macam ini akan dirawat atau justru digunakan untuk mengevaluasi keberjalanan organisasi mahasiswa? Budaya seperti inilah yang justru merusak citra mahasiswa sebagai agent of change dan social control. Akan sangat berbahaya apabila mahasiswa sudah terlibat dalam pusaran kepentingan politik praktis karena hal itu akan mengorbankan idealisme yang mereka miliki demi memenuhi ambisi pribadi, yang dampak jangka panjangnya akan menjauhkan mahasiswa dari rakyat yang harus mereka belanya.
Fragmentasi Gerakan Mahasiswa
Soekarno pernah berujar, untuk menciptakan adanya keselarasan dalam perjuangan, maka harus dilakukan dengan menghapus adanya steriliteit dalam gerakan mahasiswa. Steriliteit ini dapat berupa suatu hal yang dapat mencegah atau menghalangi perjuangan untuk selalu berpihak pada kaum marhaen—kelompok masyarakat marjinal dan lemah. Melihat dimensi gerakan mahasiswa hari ini, steriliteit ini begitu kentara dan mulai mengkhawatirkan. Banyak organisasi mahasiswa besar baik intra seperti BEM dan ekstra seperti kelompok Cipayung Plus yang berbenturan dengan adanya dualisme kepengurusan. Sebut saja aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM-SI) terpecah menjadi dua, yaitu BEM SI-Kerakyatan dan BEM SI-Rakyat Bangkit.
Bicara mengenai organisasi ekstra, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GmnI) yang mengilhami spirit perjuangan Bung Karno dan kaum marhaen justru menghadapi trialisme kepengurusan. Gerakan pemecahan yang seperti ini justru merugikan gerakan mahasiswa sendiri, sehingga cara publik melihat tak ubahnya aliansi mahasiswa tersebut sarat akan kepentingan politik individu dan kelompok tertentu alih-alih fokus pada penyelesaian persoalan kerakyatan. Tentu, fragmentasi yang demikian dibuat sedemikian rupa untuk memecah belah fokus dan kesatuan gerakan mahasiswa, alias penggembosan secara struktur dan sistematis.
Belum lagi jika dihadapkan dengan fakta bahwa aliansi gerakan mahasiswa yang terlalu besar justru rawan untuk dipreteli dan dibeli. Mengapa argumen itu muncul? Kenyataannya menghidupi organisasi yang besar tentu perlu adanya modal atau kapital. Celah tersebut dimanfaatkan segelintir orang untuk melakukan jual beli gerakan. Ironinya gerakan kontra intelijen bergerak senyap dengan membeli gerakan tersebut sehingga tujuan dari adanya gerakan yang terjadi di awal tidak akan pernah tercapai. Mahasiswa adalah kelompok rentan dalam gerakan, karena secara ekonomi mereka jelas belum berdikari. Akibatnya banyak dari mereka yang bermain dengan gerakan dengan harapan mendapat keuntungan.
Ada sebuah satire menarik, “jika ingin membeli mahasiswa, maka kenyangkanlah perutnya”. Tentu fragmentasi gerakan mahasiswa yang terjadi hari ini bukanlah suatu kebetulan. Hal tersebut merupakan akumulasi dari adanya nafsu kekuasaan pribadi, kesempatan dan juga dukungan aktor negara sehingga apabila ketiganya digabungkan dapat menjadi variabel yang dapat memecah gerakan mahasiswa.
Reposisi Gerakan Mahasiswa
Suka tidak suka, di balik permasalahan pelik gerakan mahasiswa hari ini, sejarah pergerakan dan perjuangan Indonesia tidak pernah lepas dari keterlibatan kaum intelektual. Di masa persiapan kemerdekaan Indonesia, Perhimpunan Mahasiswa Indonesialah yang menghasilkan tokoh seperti Hatta yang getol memperjuangkan kemerdekaan Indonesia melalui tulisan. Kemudian berlanjut dengan adanya Boedi Oetomo yang mengilhami lahirnya gerakan kepemudaan di Indonesia. Bahkan lecutan pertama terjadinya penyatuan identitas sebagai bagian dari kelompok yang mengalami penjajahan terjadi pada tanggal 28 Oktober 1928 melalui Sumpah Pemuda, yang melahirkan ikrar berupa satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa yaitu Indonesia. Sebelumnya perjuangan bangsa merebut kemerdekaan selalu terpecah belah melalui gerakan yang bersifat kedaerahan yang berujung mudah diadu domba (devide et impera) oleh penjajah. Maka, spirit gerakan mahasiswa hari ini harus mengedepankan asas persatuan, jangan mudah untuk dipecah belah oleh aktor negara.
Sejatinya, mahasiswa adalah kelompok yang diharapkan menjadi motor perubahan. Pembela kepentingan rakyat terhadap kebijakan negara yang merugikan. Tidak ada eksklusifitas yang membedakan mahasiswa dari kelompok rakyat lainnya baik itu buruh, petani atau nelayan. Merekalah yang disebut Soekarno sebagai kaum marhaen yang kesejahteraannya patut diperjuangkan. Pun patut diingat pula bahwa subsidi pendidikan yang dirasakan oleh mahasiswa hari ini hadir dan dibayar juga oleh para petani, nelayan, buruh, bahkan pengemudi ojek online sekalipun. Sehingga, kedudukan mahasiswa tidak bisa merasa superior dan harus duduk sejajar dalam membangun gerakan. Tan Malaka juga pernah mengingatkan, “bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali”. Hal ini juga berarti bahwa dalam membangun gerakan, mahasiswa harus mampu menyentuh grassroots dan mampu menerangkan kepada masyarakat dengan bahasa sederhana bukan dengan bahasa akademis yang terlalu tinggi dan tidak menapak tanah.Terakhir, perlu adanya reposisi gerakan mahasiswa hari ini agar tujuan dari adanya gerakan dapat tercapai. Pertama, bangun keberpihakan terhadap kaum marhaen. Kedua, bangun koalisi dengan rakyat bukan dengan penguasa. Ketiga, bangun peta jalan perjuangan jangka panjang dan jangan per isu. Keempat, perlu adanya pencerdasan ke arah grassroots dengan pendekatan kerakyatan dan menggunakan bahasa yang sederhana. Terakhir, hindari segala bentuk cawe-cawe aktor negara untuk menghindari terjadinya steriliteit dan fragmentasi dalam gerakan mahasiswa.
Hai, suka pada tulisan ini?
Kami paham, kehidupan yang menyebalkan sekarang sering membuat kita tak punya waktu untuk menulis, meski banyak kenyataan yang membuat kita berpikir dan bahkan yakin bahwa penderitaan ini sama pula dampaknya.
Maka, mari biasakan untuk berterima kasih pada mereka yang telah meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk menuliskan keresahan serta kekecewaan kita.
Dengan cara apa? Sederhana. Berilah apresiasi pada kerja-kerja sunyi mereka lewat link di bawah ini.








