Di ujung pulau terluar yang merupakan daerah pesisir dan terpisah dari pulau induknya berdirilah Sekolah Perempuan Pomakumote di desa Galo-Galo yang berada di Provinsi Maluku Utara. Sekolah yang lahir dari keprihatinan mendalam atas keterbatasan yang dialami perempuan di pulau ini. Minimnya akses jaringan komunikasi, informasi, dan layanan publik, terutama layanan kesehatan, telah lama menjadi persoalan serius. Sejak tahun 2020, Desa Galo-Galo tidak lagi memiliki bidan desa. Akibatnya, masyarakat harus menyeberangi laut selama 60 menit untuk sampai di Puskesmas atau rumah sakit terdekat demi mendapatkan layanan kesehatan bagi warganya, terutama ibu hamil. Perjalanan itu bukan hanya melelahkan, tetapi juga penuh risiko, apalagi saat cuaca buruk maka nyawa menjadi taruhannya. Tahun-tahun tanpa tenaga kesehatan di desa membawa duka mendalam. Angka kematian ibu dan anak meningkat akibat keterlambatan mendapatkan pertolongan medis. Ada bayi yang lahir dan meninggal tanpa sempat untuk menangis karena terlilit tali pusar, ada yang tak selamat karena posisi bayi sungsang membuat bayi menelan air ketuban dan nyangkut di jalan lahir, ada juga ibu yang kehilangan nyawa tanpa pernah melihat wajah buah hatinya lahir ke dunia akibat pendarahan pasca melahirkan. Di tengah situasi sulit itu, Sekolah Perempuan Pomakumote hadir membawa secercah harapan.
Melalui modul PAG (Pendidikan Adil Gender) yang disusun oleh tim KAPAL Perempuan dan rutin disampaikan oleh LBH PA, para anggota Sekolah Perempuan Pomakumote belajar memahami hak-hak mereka, mengubah cara pandang, dan menumbuhkan keberanian untuk bertindak demi perubahan. Salah satu kisah yang membekas adalah perjuangan Ibu Anti, salah seorang anggota Sekolah Perempuan. Meski tidak memiliki latar belakang pendidikan kesehatan, ia memberanikan diri membantu proses persalinan ibu-ibu di pulau tersebut. Ia hanya bermodalkan pengalaman mendampingi bidan desa sebelumnya. Selama periode 2022–2023, ia membantu tiga proses persalinan di tengah keterbatasan fasilitas. Bagi warga, keberanian Ibu Anti tidak dilihat sebagai tindakan “nekat”, melainkan wujud nyata kepedulian dan solidaritas di saat nyawa menjadi taruhannya. Masih banyak perempuan Galo-Galo yang memilih melahirkan di rumah dan tidak mau dibawa ke rumah sakit atau puskesmas yang ada di Daruba tanpa izin dari suami mereka. Para suami sebagian tidak memberi izin karena persoalan biaya. Mereka harus mengeluarkan Rp. 70.000,00/orang untuk satu kali nyebrang pergi pulang dari Galo-Galo ke Daruba. Belum lagi biaya bentor dari pelabuhan Daruba ke Rumah Sakit Umum (RSU) yang berkisar Rp.50.000,00/orang untuk pergi pulang. Ditambah lagi biaya makan untuk keluarga yang jaga di RSU yang juga sangat memberatkan bagi mereka.
Persoalan itu kemudian hari perlahan dapat teratasi dengan kehadiran Sekolah Perempuan Pomakumote. Sekolah ini kini menjadi ruang belajar, saling menguatkan, dan merancang perubahan bagi perempuan Galo-Galo. Sekolah ini bukan sekadar titik temu, tetapi simbol bahwa di tengah keterbatasan, mereka bisa saling menopang, bersuara, dan bermimpi untuk masa depan yang lebih baik. Atas dasar keprihatinan, mereka kemudian berdiskusi dan berinisiatif memfasilitasi sembilan ibu hamil di Pulau Galo-Galo agar bisa mendapatkan layanan USG di Rumah Sakit Umum Soekarno Hatta. Tujuannya sederhana namun mendesak: jika ada masalah pada kehamilan, dapat segera diketahui sehingga nyawa ibu maupun anak bisa terselamatkan. Kekhawatiran masyarakat di desa itu beralasan. Mereka pernah mengalami kasus empat ibu hamil yang harus dirujuk untuk melahirkan secara caesar akibat kandungan bermasalah; jika dipaksakan lahir normal, resikonya adalah kematian ibu dan bayi. Ada pula kisah tragis seorang ibu yang meninggal saat melahirkan anak ketiganya karena pendarahan hebat. Padahal, warga sudah menyarankan rujukan ke rumah sakit, namun sang suami melarang, dan karena kepatuhan kepada suaminya, sang ibu menolak dirujuk hingga akhirnya meninggal. Kasus kematian bayi pun pernah terjadi: ada yang meninggal karena terlilit tali pusat, ada juga yang tidak terselamatkan karena posisi sungsang di dalam kandungan.
Dari kasus ini dapat dilihat betapa tubuh perempuan yang dipaksa melahirkan keturunan seolah hanya menjadi mesin pencetak anak tapi tubuh mereka tidak mendapat perlindungan dan jaminan kesehatan. Perempuan di sana bahkan tak memiliki hak atas tubuhnya. Perempuan di desa Galo-Galo dipaksa hamil dan melahirkan agar tidak dikucilkan dari keluarga suami dan mendapat diskriminasi masyarakat. Bahkan seringkali perempuan di desa diceraikan jika tidak bisa memberikan keturunan. Inilah yang ingin didobrak dan dirombak oleh Sekolah Perempuan Pomakumote, perjuangan melindungi dan menyelamatkan para ibu hamil ini dengan modal perahu desa terbuat dari kayu yang tak lolos SOP, membahayakan keselamatan. Mereka menyeberangi samudra luas selama 60 menit dengan sembilan orang ibu hamil, dua orang pendamping serta seorang nahkoda.
…
Tulisan lengkap dari Institut KAPAL Perempuan dan LBH PA Morotai ini bisa diakses dengan membeli zine (digital dan cetak) terbitan kami, SAMZine Spesial Vol. 2 (Desember 2025). Mengapa kami mengeksklusifkan tulisan ini? Silakan baca di halaman SAMZine Spesial.








