Seperti Anjuran Minum Obat di Sebuah Festival

Penulis

Seperti anjuran minum obat saja. Dalam sehari, berarti ia sudah bertemu dengan perempuan itu sebanyak tiga kali. Sekali, sewaktu dalam perjalanan menuju festival musik; sekali, di depan panggung yang letaknya hanya tinggal berjalan lurus dari pintu masuk; lalu sekali lagi, setelah berhenti mencari dari satu panggung ke panggung lain, ia bertemu dengan perempuan itu di depan panggung yang berada di pojok dekat pintu keluar, meski dengan kondisi yang tidak wajar: ia melayang-layang di udara, sedangkan sang perempuan berada di bawah.

Begini ceritanya sedari awal. Sore itu, dengan sepeda motor matic berkecepatan di atas 60 km/jam, ia berusaha untuk melawan waktu supaya tidak ketinggalan penampilan band-band favoritnya. Meski begitu, entah mengapa hari itu, waktu terasa lebih cepat melaju dibanding putaran roda-roda sepeda motornya. Silau cahaya jingga menyorot tubuhnya yang kurus ketika sepeda motor menaiki jalan layang, lalu berangsur tersisa sebagian, terhalang oleh gedung pusat perbelanjaan. Hanya angin yang terus menyerbu, membuat kedua ujung jaket army-nya yang tipis berkibar seperti bendera partai politik di ujung tiang bambu.

Setelah menuruni jalan layang, ia mengendurkan pegangan pada stang kanan. Sebab, cahaya merah lampu lalu lintas telah menunggunya di pertigaan depan. Mobil-mobil, sepeda motor pun ikut mengurangi kecepatan dan memancarkan cahaya merah dari lampu belakang, sebelum berhenti di pertigaan. Sementara itu, sepeda motornya bergerak bagaikan ikan gupi, meliak-liuk di antara celah kendaraan lain untuk sampai di baris terdepan. Namun, saking padatnya barisan depan, ia baru bisa menurunkan kaki tepat di tengah markah penyeberangan.

Sembari menunggu lampu berwarna hijau, ia menoleh ke kiri dan kanan, bersiap menyingkir jikalau ada pejalan kaki yang hendak menyeberang. Sekalipun tengah bersitegang dengan waktu, dalam hati ia masih menyimpan sedikit rasa malu. Namun yang terjadi malah sebaliknya: dari sisi kiri, satu per satu pengendara motor ikut berhenti di tengah markah, dan penglihatannya pun tertuju pada sosok perempuan berperawakan kecil yang duduk di belakang pengemudi ojek daring. Meskipun posisi wajahnya menghadap ke depan, perempuan itu terlihat mencolok di antara kerumunan orang; dengan kaus hijau alpukat kebesaran, celana jin biru pudar model longgar, serta sepatu Converse 70s tinggi berwarna hitam. Ketika lampu berubah hijau, tarikan gas sepeda motor membuat tas jinjing besar berwarna putih berbahan kanvas yang melingkar di bahu kanan sang perempuan sedikit berguncang.

Untuk beberapa saat, bisa dibilang jarak mereka cukup dekat. Mula-mula, perempuan itu berada persis di depannya, lalu perlahan sepeda motornya menyusul, sehingga mereka saling bersebelahan. Di sebuah perempatan, mereka berpisah jalan: sang perempuan lurus terus ke depan, sedangkan ia berbelok ke kiri, mampir terlebih dahulu ke tempat kerja temannya, Remon, untuk mengambil tiket masuk festival.

***

Setelah berpisah dengan perempuan berkaus hijau alpukat, ia mulai menelusuri lokasi yang Remon bagikan. Penelusuran itu membawanya memasuki sebuah gang yang diapit dua gedung besar dan dipenuhi orang-orang berkemeja, duduk-duduk di deretan warung makan. Pada sisi yang tidak terlalu ramai, ia mencoba menepi supaya dapat merogoh ponsel lalu mengirimkan pesan. Tak hanya satu, setelah melepas helm, ia membanjiri kolom percakapan WhatsApp mereka dengan beberapa pesan secara berulang hingga Remon membalas dengan kesal, dan tak lama muncul dari balik salah satu gerbang mengenakan kemeja kotak-kotak lengan panjang khas karyawan kantoran.

Sekalipun beberapa tahun ke belakang mereka hanya bertemu bila ada perlu, sosok Remon masih saja mengingatkannya pada waktu-waktu yang telah berlalu. Ketika mereka saling berhadapan, Remon menyambut kedatangannya dengan jabat tangan erat dan seringai yang menampakkan barisan gigi yang tidak rata. Mereka sempat berbasa-basi sebentar menanyakan kabar, sebelum kemudian Remon menyodorkan sebuah amplop berwarna merah berisi tiket masuk festival yang semula Remon rencanakan untuk sang pacar.

Dua hari sebelumnya, pada saat mereka masih sibuk bernegosiasi perihal harga tiket itu, Remon sempat menyelipkan cerita perihal sang pacar yang membatalkan rencana keduanya untuk datang bersama-sama ke festival. Tetapi, alih-alih menanyakan lebih lanjut, ia hanya membalas cerita itu dengan “wkwkwk”. Sebab, sepanjang ia mengenal Remon, anak anjing itulah yang kerap melakukan hal hina semacam itu. Terakhir, Remon mengajaknya menghadiri gigs Kelompok Penerbang Roket di Studio Palem Kemang, sebelum tempat itu ditutup setahun yang lalu. Dan, bisa ditebak? Pada hari ketika gigs akan dilaksanakan, anak anjing itu menghilang begitu saja tanpa kabar. Sehingga, ia yang terlanjur membeli tiket terpaksa datang seorang diri ke sana.

Ketika ia tengah menunduk, memandangi seutas tiket berbentuk gelang yang kini berada di pergelagan tangannya dengan perasaan penuh, Remon mengajukan pertanyaan terkait band apa saja yang hendak ia saksikan di festival. Ia pun mengangkat wajah dan menyebutkan beberapa nama, mulai dari grup hingga solois. Namun, di antara nama-nama itu, ada dua band yang tidak sabar ia saksikan penampilannya: pertama, Monkey to Millionaire; lalu kedua, The Jansen.

Dari akun Instagram mereka, ia mendapati info kalau Monkey to Millionaire akan merayakan 15 tahun perjalanan album Lantai Merah, sedangkan The Jansen hendak mencoba materi baru lewat album Durja Bersahaja. Selain lagu-lagu Dongker, kebetulan lagu-lagu dari kedua band itu beberapa bulan belakangan ini kerap menemani perjalanannya mengendarai sepeda motor selama berangkat dan pulang bekerja, sedikit memberi warna pada keseharian yang mulai terasa memuakkan.

Remon juga ingin menyaksikan Monkey to Millionaire. Hanya saja, Monkey to Millionaire bermain terlalu dini pada pukul enam lewat lima belas, sementara Remon baru bisa datang sekitar setengah delapan sehabis menyelesaikan sisa pekerjaan. Kalau The Jansen, Remon mengaku tidak terlalu mengikuti perkembangan band itu. Paling-paling, Remon hanya tahu beberapa lagu yang setahun dua tahun belakangan ini ramai didengarkan orang-orang. Walau begitu, Remon berpesan, jika nanti ingin menonton The Jansen bersama-sama, hubungi saja melalui WhatsApp.

Kalau Remon sudah menebar janji seperti seorang politisi, akan sulit membedakan mana yang sungguhan dan mana yang hanya sekadar bualan. Karena itu, ia hanya bergumam sembari mengangguk-anggukkan kepala saja. Lagi pula, sisa cahaya jingga juga sudah tak lagi terlihat di kejauhan. Namun, pada jeda yang ia niatkan untuk berpamitan, anak anjing itu malah memperpanjang percakapan mereka dengan menanyakan, apakah Minggu depan ia akan datang ke resepsi pernikahan Tanya?

Ia sudah mengira kalau Remon akan menanyakan hal itu, sebab kabar itu pun sudah tiba padanya, berupa undangan digital yang dikirim Tanya langsung ke pesan Instagram-nya sejak seminggu yang lalu. Hanya saja, ia belum membalas pesan itu. Ia rasa, kalau ada satu hal di mana ia balik mengecewakan Remon, itu pasti soal Tanya Rahayu Handayani. 

Ia, Remon, dan Tanya merupakan teman sekelas semasa bersekolah di Jalan Budi Utomo. Namun, Remon telah mengenal dan berteman akrab dengan Tanya sedari mereka bersekolah di tingkat sebelumnya. Berkat keakraban itu, ia yang baru berkenalan dengan Remon pada masa orientasi siswa seolah mendapatkan karpet merah untuk mendekati Tanya dibanding siswa yang lain. Ketika ia memberitahu Remon kalau ia tertarik dengan Tanya, Remon langsung memberikan PIN BlackBerry Messenger Tanya dan meminta Tanya untuk menerima permintaan pertemanan dari kontaknya.

Semenjak itu, ia dan Tanya kerap kali bertukar pesan, duduk berdekatan pada beberapa jam pelajaran, dan pulang dengan membonceng sepeda motor matic keluaran lama. Sebulan kemudian, tanpa berpikir panjang, mereka berdua akhirnya sepakat menjalani hubungan sebagai sepasang insan yang saling membagikan kasih sayang.

Meski hubungan itu telah lama berakhir, gugur seiring habisnya masa remaja, pertanyaan Remon membuat rasa sesal—yang selama ini terpendam karena mengakhiri hubungan lebih dulu—beterbangan di dalam gang, bagai serpihan debu. Apalagi, setelah bertahun-tahun, ia masih kesulitan mencari pengganti Tanya. Terakhir, ia gagal menjalin hubungan dengan seorang perempuan yang ia kenal selama setahun belakangan melalui media sosial dan memiliki ketertarikan yang sama dalam menulis cerita pendek. Padahal, ia sudah mengira, dengan berbagi kesukaan yang sama, dua orang insan akan lebih mudah memulai sebuah hubungan. Namun, sekarang bukan waktunya untuk terkungkung di dalam penyesalan; sebuah festival yang akan memberikan segudang kebahagiaan tengah menunggunya di depan.

Ia mencoba menyunggingkan senyum dan berkata, lihat nanti saja, seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Setelahnya, jeda kembali mengisi percakapan mereka berdua. Namun, sebelum anak anjing itu menyeretnya kembali ke masa lalu, kali ini ia berhasil mengulurkan tangan kanan seraya mengucapkan kalimat perpisahan.

***

Langit berpadu antara jingga dan ungu, diiringi gema azan dari jauh sewaktu ia tiba di parkir khusus peserta festival. Lalu, malam perlahan jatuh, begitu ia memasuki pintu masuk sembari menunjukkan tiket yang melingkar di pergelangan tangan kanan. Maju terus beberapa langkah, tepat di tengah-tengah perempatan, terdapat sebuah papan besar berisi peta area festival lengkap dengan susunan acara di bawahnya. Karena sudah melihat informasi itu di Instagram, ia tetap melangkah lurus—melewati beberapa stan minuman, makanan, cendera mata—menuju ke panggung tempat Monkey to Millionaire akan bermain.

Meski belum terlalu ramai, sebagian orang telah menunggu di depan panggung; sementara di atas sana, para kru masih sibuk menyiapkan berbagai macam peralatan. Seperti memasuki sebuah labirin, ia memanfaatkan celah yang disisakan penonton untuk sampai di baris terdepan. Tidak jauh dari pagar besi setinggi satu meter yang memisahkan area panggung dengan area penonton. Sembari menunggu para personel Monkey to Millionaire muncul, ia merogoh ponsel dari dalam kantong celana jin, lalu membuka Instagram. Namun, jari-jarinya tidak dapat berpindah dari satu postingan ke postingan lain dengan leluasa seperti biasa, dan sepintas muncul pemberitahuan yang keburu menghilang sebelum sempat terbaca.

Ternyata dari empat batang sinyal yang berbaris rapi bagai susunan anak tangga di kanan atas layar, tak satu pun dari mereka yang terlihat memiliki daya. Untungnya, pergerakan orang-orang yang serentak bangun dari duduk dan bergerak maju membuatnya lekas tersadar kalau keempat personel tambahan telah duduk di atas panggung: satu dengan selo dan tiga dengan biola menempel pada dagu.

Diiringi sayatan senar biola, perlahan ia terseret arus penonton yang terus berjejalan hingga ke depan pagar. Lepas permainan biola, para penonton sekonyong-konyong bersorak-sorai, menyambut kedatangan ketiga personel utama dan satu penyanyi latar perempuan. Sebagai tanda permulaan, sang drumer yang telah duduk berhadapan dengan satu set drum mengadu stik di kedua tangan sebanyak tiga kali, lantas sang vokalis yang juga bermain gitar menggenjreng senar dengan kekuatan penuh untuk memulai lagu pertama: “Replika”.

Seketika suasana menjadi begitu riuh. Sorot cahaya merah mengisi tiap sudut panggung. Videotron yang menjadi latar menampilkan animasi bertuliskan “Monkey to Millionaire” disertai kepala beberapa ekor monyet. Suara genjrengan gitar dan bas elektrik berpadu dengan tabuhan pada drum, membentuk sebuah irama yang membuatnya dan ratusan penonton lain ikuti dengan seruan dan anggukan kepala. Ketika ia lanjut mengikuti sang vokalis menyanyikan lirik pertama, ada perasaan yang tidak pernah ia rasakan selama menyanyikan lagu itu keras-keras sembari berkendara. Semacam aliran listrik menyelimuti sekujur kepala, menyisakan perasaan lega, seolah jiwanya baru saja membubung tinggi ke dalam gelap angkasa.

Seiring bertambah kerasnya nada, kerumunan penonton akhirnya terbelah menjadi dua: mereka yang mulai berjingkrak-jingkrak, berlarian sembari mengayunkan kaki dan kedua tangan; dan mereka yang terpaksa menyingkir hingga membentuk sebuah lingkaran. Ia yang semula larut dalam kelompok pertama ikut menyingkir ke sebelah kiri, setelah kepalanya terbentur sol sepatu salah seorang penonton yang tengah asyik melakukan seluncur massa. Seorang penonton berpostur tubuh gemuk bahkan nekat menaiki pagar, lalu menyelusup ke atas panggung, dan menyanyikan lagu tepat di mikrofon milik sang vokalis. Namun, sebelum penonton itu diminta turun oleh beberapa orang berambut cepak dari divisi keamanan, secara tidak sengaja, kedua matanya malah menangkap sosok yang terasa segar di dalam ingatan.

Di sana, di antara kerumunan penonton yang menyingkir ke sebelah kanan, ia mendapati sang perempuan berkaus hijau alpukat berdiri di sisi terluar, langsung berbatasan dengan penonton yang kesetanan. Meski sore tadi hanya melihat perempuan itu dari samping—dari postur tubuh, pakaian yang melekat, dan potongan rambut bob di atas bahu dengan poni menutupi kening—ia yakin kalau itu adalah dia. Dengan kamera DSLR di genggaman tangan, sang perempuan terlihat sedang asyik mengarahkan lensa ke arah personel yang dihujani kelap-kelip sorot cahaya, atau sesekali ke tingkah laku ajaib penonton di dalam lingkaran. Sehabis membidik, perempuan itu akan menunduk barang sejenak untuk melihat hasil bidikan, lalu senyum lebar perlahan merekah di wajah yang bulat serupa buah tomat.

Semenjak itu, ia kesulitan untuk menikmati lagu yang tengah dibawakan. Dari sela-sela penonton, pandangnya selalu mencuri-curi ke arah sang perempuan, seolah di balik gerak-gerik sang perempuan tertanam semacam magnet yang terus menarik perhatian. Selain itu, dari dalam hati, ada hasrat untuk menerobos kerumunan, menyeberangi lingkaran, lalu mengajak sang perempuan berkenalan. Namun, hasrat itu seketika surut bagaikan ombak di tepi pantai, mengingat kegagalannya menjalin hubungan dengan perempuan penulis cerpen. Sebagai gantinya, rasa debar malah menekan-nekan dada, dan membuat kedua lututnya lemas tak berdaya. Pada akhirnya, ia hanya bisa mengagumi sorot mata sang perempuan yang terlihat berkilauan dari kejauhan, sembari bernyanyi dan mengangguk-angguk pelan.

Tak lama setelah sang vokalis dan penyanyi latar menutup penampilan mereka dengan membawakan “Strange is The Song in Our Conversation”, ketika ia mengalihkan wajah sebentar, perempuan itu pun menghilang ditelan kerumunan penonton yang mulai bergerak bubar. Ia sendiri melangkah tergesa menuju panggung yang berada di samping danau, sebab para penampil terus berganti, dan berdasarkan susunan acara, band yang hendak ia saksikan selanjutnya sudah memulai penampilan mereka sedari 15 menit yang lalu.

Kerumunan penonton yang memadati area depan panggung sudah terpecah menjadi dua sesampainya ia di sana. Karena mereka berdiri rapat hingga hanya tersisa sedikit celah, aksi penyelinapannya tidak dapat berjalan mulus seperti sebelumnya. Ia terpaksa menghentikan langkah, dan hanya bisa melihat aksi energik para personel melalui videotron di sebelah kiri dan kanan panggung.

Mula-mula, ia mengira, bayang-bayang perempuan berkaus hijau alpukat akan segera menguap begitu ia berpindah tempat. Ternyata, pertemuan kedua dengan perempuan itu menancap cukup dalam di relung pikirannya. Perempuan itu berhasil membuatnya berulang kali celingak-celinguk, bahkan menengok ke belakang, mengira selera musik yang sama akan kembali mempertemukan mereka. Namun, dari panggung besar hingga panggung sedang, dari trotoar hingga jalan tempat orang-orang berlalu-lalang yang dihujani ribuan cahaya, hanya perasaan gagal layaknya seorang pecundang yang terus membayang karena tidak berani mengajak sang perempuan berkenalan.

Sembari berjalan menuju panggung tempat The Jansen akan bermain, ia pun mulai menyadari kalau kejadian semacam ini tidak hanya terjadi sekali: bertemu dengan perempuan di tempat umum, lantas perempuan itu menghilang sebelum ia berani mengajak berkenalan (atau, sekalipun berhasil berkenalan, selalu gagal naik ke tahap yang lebih mendalam). Dan sepulang dari festival, bayang-bayang perempuan itu paling-paling tidak akan bertahan lebih dari dua hari, tergantikan oleh permasalahan-permasalahan lain, atau kilas balik masa-masa indah bersama Tanya.

***

Sebelum berbelok memasuki area panggung yang terletak di pojok dekat pintu keluar, ia menyempatkan merogoh ponsel dan menghubungi Remon. Bukan karena ia goblok sehingga masih saja memercayai kata-kata Remon (entah, kata apa yang cocok untuk menggambarkan keadaan ini), tetapi karena sore tadi, sebelum ia benar-benar meninggalkan gang yang diapit dua gedung besar, Remon kembali berpesan untuk menghubungi melalui WhatsApp bila hendak menonton The Jansen bersama-sama.

Ia pun memilih menepi sejenak di samping bangunan yang dialihkan menjadi salah satu toko cendera mata karena ponselnya yang payah akan kesulitan mendapat sinyal jika ia memaksakan diri untuk terus melangkah. Selain itu, ia juga berharap Remon akan mengangkat dan menjaganya agar tidak terjatuh sewaktu melakukan seluncur massa, seperti di gigs-gigs sebelumnya. Namun, pesan-pesan yang ia kirim dengan maksud menanyakan keberadaan Remon hanya teronggok di kolom percakapan begitu saja.

Setelah menunggu beberapa saat, ia memutuskan untuk hanyut mengikuti kerumunan orang yang mulai berdatangan, dan baru berhenti melangkah ketika jaraknya dengan pagar hanya dihalangi tiga-empat orang. Sembari menunggu kedua personel The Jansen muncul di atas panggung, ia kembali mengecek kolom percakapannya dengan Remon.

Ketika tak mendapati perubahan dari pesan yang dikirim, ia lekas memilih pilihan panggilan. Keterangan “Berdering” terpampang pada layar, diiringi bunyi “tut… tut…” panjang yang agak teredam oleh bisingnya obrolan orang-orang. Berkali-kali ia mengulangi: menekan pilihan panggilan dan mendekatkan ponsel pada kuping kanan, tetapi nihil. Sampai para personel utama dan tambahan muncul, lalu para penonton bersorak menyambut kedatangan mereka seraya merapatkan barisan, ia hanya bisa mengembalikan ponsel itu ke dalam kantong celana jin dan memaki datar, “Anjing, anjing….”

Salah seorang personel tambahan membuka penampilan malam itu dengan memainkan semacam alat musik tiup (belakangan, ia baru tahu alat musik itu berasal dari Skotlandia); sementara, dari belakang, sang drumer mengiringi dengan ketukan pelan. Perpaduan antara kedua alat musik itu menghasilkan semacam kidung yang biasa dibawakan untuk melepas para kesatria sebelum berangkat berperang. Pada alunan penghabisan, sang drumer mengadu kedua stik sebanyak tiga kali, lalu raungan gitar elektrik lekas memulai lagu yang pertama.

Selain mengangguk-anggukkan kepala mengikuti tinggi rendahnya nada, ia pun ikut bernyanyi dengan lantang ketika sang vokalis yang juga memainkan gitar mulai angkat suara. Hanya saja, sepanjang lagu pertama dimainkan, ia tidak melihat para penonton di sekitarnya bertingkah antusias atau melakukan tindakan yang dapat menimbulkan perpecahan. Masuk lagu kedua, keadaan juga masih belum berubah. Kebanyakan dari mereka—anak laki-laki berumur di atas dua puluhan yang mudah tersulut sedari genjrengan pertama—hanya bergeming menghadap ke depan, padahal bising terus menggedor-gedor telinga, dan barisan lirik tampil bergantian pada layar videotron di kiri kanan.

Entah para personel di atas sana menyadari, atau daftar lagu yang direncanakan memang demikian, setelah memainkan tiga buah lagu lalu diselingi kata sambutan dari sang vokalis, akhirnya mereka membawakan “Berkelana dalam Ruang dan Mimpi”. Seketika para penonton yang tadi bergeming bertingkah bagai orang kesetanan: mereka berjingkrak-jingkrak, mengangkat kedua tangan, menabrakkan badan, bernyanyi keras-keras, menaiki pagar lalu berdiri di atasnya, dan mengoper salah seorang penonton dari satu penonton ke penonton lain dengan cara diangkat hingga terlihat penonton itu seperti tengah berselancar di atas ombak.

Agar sol sepatu tidak lagi menghantam kepalanya, sejenak ia memutuskan untuk melangkah ke belakang. Tepat di garis batas antara penonton waras dan penonton kesetanan, ia mendapati dua anak laki-laki yang termasuk ke dalam kelompok kesetanan tengah mengatur napas. Walau tak seorang pun dari mereka yang ia kenal, tetapi belajar dari pengalaman, dalam sebuah pertunjukan musik, siapa saja bisa menjadi kawan. Karena itu, sebelum keduanya kembali ke dalam kerumunan, ia segera melingkarkan kedua lengannya pada bahu mereka dan meminta untuk diangkat. Tanpa banyak tanya, mereka berdua pun menuruti permintaannya; dengan sigap, mereka mengangkat pundak dan pinggangnya yang berkeringat, lalu membawanya melesat bagaikan rudal ke baris terdepan.

Meski perjalanan itu tidak benar-benar berjalan mulus—berulang kali kedua kaki dan tangan yang ia rentangkan lebar-lebar membentur kepala penonton lain—namun, tidak ada yang bisa mengganggu perasaan ringan yang tengah memenuhi dada. Dari baris tengah ke pagar depan, lalu dari pagar depan didorong kembali ke tengah, tubuhnya seolah melayang lepas tak tentu arah di udara. Apalagi, jika ia menolehkan kepala, tidak hanya para penonton; berbagai masalah, rasa sesal, sampai kenangan buruk juga tertinggal jauh di bawah sana. Hingga akhirnya arus penonton membawanya ke sisi kanan, menemui seseorang yang menyadarkan: di antara banyak hal kelam, masih ada sesuatu yang terlihat gemilang.

Siapa sangka, setelah jemu mencari, ia malah bertemu dengan perempuan berkaus hijau alpukat di sini, di depan panggung yang berada di pojok dekat pintu keluar ini. Itu berarti, seperti anjuran mengonsumsi obat sakit kepala, dalam sehari, ia sudah bertemu dengan perempuan itu sebanyak tiga kali. Seperti tadi, sang perempuan berdiri di sisi terluar dengan kamera DSLR di genggaman tangan. Tanpa bisa dicegah, rasa debar kembali muncul, menyelinap di antara rasa riang yang mengisi dadanya, dan seketika membesar, ketika sang perempuan mengarahkan lensa kamera agak ke atas untuk menangkap tingkah konyolnya.

Namun, dibanding kedua pertemuan sebelumnya, runtutan kejadian yang terjadi pada pertemuan kali ini benar-benar di luar dugaan. Baru beberapa detik ia melihat senyum sang perempuan merekah; seorang laki-laki berambut ikal, berkacamata, mengenakan kemeja, merangkul bahu perempuan itu, dan keduanya pun bertatapan mesra. Untuk sesaat, ia merasa waktu di sekitarnya seolah membeku. Bising tak lagi menyusupi lubang telinga. Begitu pun, arus penonton hanya membawanya berputar-putar di tempat, lalu tak lama jatuh telentang kehilangan pegangan. Untungnya, ia lekas mendongakkan kepala seperti kura-kura, sehingga hanya bagian punggungnya yang merasakan nyeri saat mendarat di permukaan aspal. Tetapi, karena itu pula, tiba-tiba saja sesuatu yang keras membentur pelipis kanan, membuyarkan penglihatannya.

Mungkin tidak hanya satu benturan; mungkin tubuhnya akan mati terinjak-injak, andai salah seorang penonton laki-laki tidak berteriak-teriak memperingatkan, lalu menariknya paksa dengan kedua tangan. Setelah ia berdiri, penonton itu pun tidak langsung melepas pegangan; penonton itu memastikan kembali apakah ia tidak kenapa-kenapa. Namun, ketika wajah mereka saling bertemu, penonton itu malah memberitahu apa yang telah terjadi pada pelipis kanannya. Rasa perih masih tertinggal ketika ia menyentuh bekas benturan dengan perlahan, dan seketika tubuhnya diselimuti gigil, mendapati tetesan darah berkilauan bagaikan kepala ular menuruni jari-jari tangan.

Saking terkejut, ia baru bisa bergerak setelah seorang petugas keamanan menuntunnya menjauh dari riuhnya panggung. Sesampainya di tenda medis, seorang paramedis menyilakannya duduk menunggu di tepian ranjang, sementara paramedis itu menyiapkan obat-obatan. Ketika paramedis itu menekan lukanya dengan selembar tisu basah, rasa perih yang luar biasa membuatnya berulang kali mengaduh bagaikan seorang pecundang. Padahal, sembari membersihkan sisa-sisa darah, paramedis itu sudah menjelaskan kalau lukanya tidak terlalu dalam, hanya saja berada di area kepala, jadi darah yang merembes lebih besar dari biasa.

Setelah sang paramedis menutup lukanya dengan plester dan kain kasa, ia izin merebahkan badan barang sebentar karena kejadian barusan benar-benar menguras banyak tenaga. Lagi pula, setelah ini, ia masih ingin menyaksikan penampilan Hindia merayakan 5 tahun album Menari dengan Bayangan. Sekalipun tidak sampai berjingkrak-jingkrak, berdiri berdesak-desakan selama 45 menit juga membutuhkan tenaga tambahan. Selain itu, sepertinya tidak ada orang lain yang mengalami kecelakaan, sehingga ia bisa mencerna apa saja yang terjadi barusan. Namun, baru saja ia mengatur napas yang berantakan, terdengar suara seseorang yang amat akrab berseru memanggil namanya.

Ketika ia menolehkan kepala, tampak sosok Remon berdiri di depan pintu masuk tenda ditemani seorang anak laki-laki di belakang. Semula, ia ingin menyambut kedatangan anak anjing itu dengan beraneka macam makian. Sebab, secara tidak langsung, kebohongan Remon ikut mengantarkannya berbaring di ranjang medis ini. Tetapi, sialnya, sisa-sisa tenaga tidak cukup untuk melampiaskan emosi yang sudah naik memenuhi isi kepala. Pada akhirnya, ia hanya bisa mengembuskan napas berat, lalu kembali merebahkan badan, menganggap panggilan Remon tak lebih dari gonggongan anjing belaka.


Editor: Farras Pradana


Hai, suka pada tulisan ini?
Kami paham, kehidupan yang menyebalkan sekarang sering membuat kita tak punya waktu untuk menulis, meski banyak kenyataan yang membuat kita berpikir dan bahkan yakin bahwa penderitaan ini sama pula dampaknya. Maka, mari biasakan untuk berterima kasih pada mereka yang telah meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk menuliskan keresahan serta kekecewaan kita. Dengan cara apa? Sederhana. Berilah apresiasi pada kerja-kerja sunyi mereka lewat link di bawah ini.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *