Pekan Kata Warung Sastra: Mengungkap Sejarah pada Masa Pendudukan Jepang 1945-1950 dalam Karya Sastra Idrus

Penulis

YOGYAKARTA — Diskusi “Membaca Kembali Idrus sebagai Sastra di Masa Peralihan Pendudukan Jepang” yang diselenggarakan di Warung Sastra, Rabu (23/09/26) mencoba menyibak cerita-cerita realitas sosial atau sejarah yang berasal dari sudut pandang kalangan bawah atau rakyat kecil dalam karya-karya sastra Idrus pada tahun 1945-1950. Dalam diskusi tersebut, Novita Dewi dan Eko Triono sebagai narasumber mengungkap bahwa Idrus berhasil menangkap perjuangan masyarakat kelas bawah dan menuliskannya dalam gaya bahasa yang tajam dan sarat akan sindiran pada masa pendudukan Jepang yang penuh akan sensor saat itu. 

Novita Dewi menerangkan bahwa Idrus merupakan sastrawan yang menuliskan cerita atau sejarah dari orang-orang kecil atau kalangan bawah yang tidak pernah disebutkan dalam sejarah formal.

“Idrus menuliskan cerita atau peristiwa dari sudut pandang masyarakat kecil atau kalangan bawah yang tidak pernah disebutkan dalam sejarah atau dapat disebut history from below,” tuturnya menjawab pertanyaan yang diajukan moderator malam itu. 

Eko Triono turut menambahkan bahwa Idrus berhasil menggambarkan kondisi krisis pangan atau beras yang terjadi di Jawa pada pemerintahan pendudukan Jepang dengan jelas dalam cerpen-cerpennya. Idrus bukan hanya sastra berdasar sejarah, dia menyaksikan sejarah tersebut berlangsung dan bagaimana dinamika pergolakannya, sehingga membuat karya-karyanya terasa seperti laporan-laporan langsung. 

Idrus merupakan salah satu sastrawan Indonesia yang juga diketahui sebagai pelopor prosa pada angkatan ‘45. Gaya penceritaan Idrus yang seringkali dipenuhi satir dan ironi menjadi sebuah perlawanan terhadap karya-karya sastra periode sebelumnya yang terlalu menonjolkan romantisme dan estetika. 

Rangkaian festival “Pekan Kata Warung Sastra” terdiri dari beberapa acara seperti, Jembatan Literasi, Ngulandara: Jalan-Jalan Sastra, Beasiswa Sastra, Malam Buku, dan Petang Syair yang dilaksanakan mulai tanggal 19 September hingga 26 September 2026. 


Editor: Benediktus Fatubun


Hai, SAM ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membacanya sampai akhir.
Jika kamu suka dan mendapat sesuatu dari tulisan ini, mari kita apresiasi penulisnya dengan klik link di bawah ini:

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *