Simposium Khatulistiwa Biennale 2026: Bagaimana Praktik Kuratorial melalui Etik Perawatan sebagai Strategi Politik dan Epistemik di Masa Kini

Penulis

YOGYAKARTA — Simposium Khatulistiwa “Niti Rumat” yang diselenggarakan di IFI Yogyakarta, Rabu (23/09/26) menjadi sebuah upaya untuk melihat kerja kuratorial sebagai praktik menata sekaligus merawat: menata ulang arsip, sejarah, dan pengetahuan yang terpinggirkan, sambil merawat relasi, medium, praktik, serta kemungkinan yang menjaga ekosistem seni tetap hidup. Tema yang digagas oleh Yayasan Biennale tahun ini menjadi sebuah ruang untuk menilik kembali bagaimana kurator bekerja dan mengambil posisi dalam konteks sosial politik di sekitarnya, sekaligus membuka dialog tentang bagaimana praktik kuratorial yang berkembang saat ini. 

Direktur Yayasan Biennale, Alia Swastika menyampaikan bahwa pada tahun ini, Biennale ingin mencoba mendiskusikan kembali kerja-kerja produksi pengetahuan dan memahami bagaimana praktik kuratorial berkelindan dengan gerakan sosial, baik secara global maupun situasi lokal. 

“Kami ingin membicarakan kembali kerja-kerja produksi pengetahuan, terutama memahami bagaimana praktik kuratorial berkelindan dengan gerakan sosial itu sendiri. Baik secara global maupun situasi-situasi lokal,” jelasnya pada sesi sambutan simposium khatulistiwa pagi itu. 

Selanjutnya, Alia mengimbuhi alasan mengapa pada masa kini penting membicarakan kerja kuratorial dalam konteks sosial politik. Menurutnya, kerja kuratorial berkaitan dengan politik ingatan dan penghapusan, kerja kuratorial dapat menjadi ruang untuk membongkar arsip sejarah yang dibungkam maupun disensor dan membuat alternatif atas arsip-arsip melalui karya-karya seniman. 

Brito, salah satu pengunjung yang mendatangi Simposium Khatulistiwa “Niti Rumat” Biennale 2026 memaparkan alasannya ia tertarik mengikuti rangkaian sesi diskusi. Menurutnya, diskusi yang membicarakan terkait praktik kuratorial sudah jarang ditemukan di masa kini dan praktik kuratorial seolah olah menjadi suatu hal yang enggan didiskusikan lebih lanjut. 

“Sekarang susah menemukan diskusi yang ngomongin praktik kuratorial, seakan-akan praktik kuratorial belakangan jadi suatu hal yang kurang dibicarakan lebih lanjut,” tuturnya saat diwawancarai pada siang itu. 

Simposium Khatulistiwa “Niti Rumat” Biennale 2026 mengundang berbagai narasumber dalam rangkaian diskusinya dengan judul, “Merawat Pengetahuan”, “ Merawat Memori”, “Merawat Ruang”, “Cultivating Media Ecology.”, dan “Merawat Proses Belajar”.


Editor: Benediktus Fatubun


Hai, SAM ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membacanya sampai akhir.
Jika kamu suka dan mendapat sesuatu dari tulisan ini, mari kita apresiasi penulisnya dengan klik link di bawah ini:

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *