YOGYAKARTA — Diskusi bertajuk Meneroka Semesta Karya S. Rukiah digelar dalam rangkaian Pekan Kata Warung Sastra bertema “Merayakan Sastra Indonesia 1945-1950” yang berlokasi di Warung Sastra, Yogyakarta, pada Kamis, 24 September 2026. Diskusi ini menghadirkan arsiparis partikelir Muhidin M. Dahlan (Gus Muh) dan sutradara teater Luna Kharisma sebagai pembicara, dengan Ruhaeni Intan sebagai moderator. Diskusi ini bertujuan untuk mengupas ulang jejak kolektivisme dan peran sastrawan perempuan Lekra, S. Rukiah, yang selama ini jarang dibahas secara mendalam.
Diskusi digelar untuk menegaskan kembali posisi S. Rukiah, yang tidak hanya dipandang sebagai penulis fiksi individual, tetapi juga bagian dari kerja kolektif di bidang jurnalistik dan pergerakan kebudayaan pada era 1950-1960-an. Keterlibatannya mencakup organisasi Lekra, majalah Api Kartini, hingga kolom Lentera di harian Bintang Timur bersama Pramoedya Ananta Toer.
Luna Kharisma, sutradara teater sekaligus perwakilan Mirat Kolektif asal Solo, menjelaskan bahwa timnya mulai mengenal S. Rukiah melalui karya berjudul Tandus. Sejak saat itu, mereka mulai rutin membaca karya-karya S. Rukiah hingga akhirnya menemukan empat gagasan penting dalam karya S. Rukiah.
“Kami menemukan empat gagasan penting dalam karya S. Rukiah dan melihatnya melalui gejolak batin perempuan, jejak perlawanan, gagasan kebangsaan, dan bagaimana tulisannya melintasi zaman,” Ujar Luna.
Luna menambahkan bahwa pembacaan lama oleh Annabel Teh Gallop yang menyebut karya S. Rukiah muram dan apokaliptik justru dapat dibaca ulang sebagai utopia, perlawanan terhadap halangan hidup dan kondisi zaman, serta harapan di tengah situasi politik yang keras.
Sementara itu, Gus Muh mengaku pertama kali menemukan nama S. Rukiah saat membaca catatan keanggotaannya di Lekra, yang tercatat bergabung sejak 28 Januari 1959 sebagai anggota pimpinan pusat.
“Saya mengenal S. Rukiah itu bukan sebagai sastrawan sebetulnya, lebih tepatnya redaktur bersama Pramoedya. Saya baru mengenal nama lengkapnya, “Siti Rukiah Kertapati”, ketika meriset sejarah kolom Lentera di Bintang Timur,” ujarnya, merujuk pada kemitraan keduanya sebagai pengelola rubrik Lentera sejak 1962.
Gus Muh juga menyoroti pengaruh suami S. Rukiah, Sidik Kertapati, seorang aktivis tani, terhadap semangat revolusioner S. Rukiah. Gus Muh kemudian menegaskan bahwa pada era 1960-an, sastrawan Lekra seperti S. Rukiah dan Pramoedya lebih banyak mencurahkan energi untuk kerja organisasi kebudayaan dan proyek Konferensi Sastrawan Asia Afrika, daripada menulis karya fiksi individual seperti pada dekade sebelumnya.
Meski menduduki jajaran pimpinan pusat Lekra sejak 1959, S. Rukiah tercatat tidak pernah resmi bergabung dengan Gerwani.
“S. Rukiah tetap berada dalam lingkaran strategis gerakan perempuan melalui majalah Api Kartini bersama sejumlah kawan seperti Sugiarti Siswadi dan Weni Rahua, yang membahas isu buruh hingga protes perempuan dari ruang dapur,” Ujar Luna sebagai penutup diskusi.
Editor: Benediktus Fatubun
Hai, SAM ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membacanya sampai akhir.
Jika kamu suka dan mendapat sesuatu dari tulisan ini, mari kita apresiasi penulisnya dengan klik link di bawah ini:








