Dokumenter “Woman of the Floating Island”, Potret Ketangguhan Perempuan Penenun Umapura

Penulis

YOGYAKARTA — Pemutaran film dokumenter bertajuk Woman of the Floating Island: The Living Colors and Traditions of Umapura sukses digelar di Cinema Hub, Jogja Film Academy, Yogyakarta, Senin (28/9/2026) malam. Film berdurasi 30 menit ini merekam jejak para perempuan di Desa Umapura, Pulau Ternate, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur, dalam menjaga tradisi tenun ikat dan pengetahuan pewarna alami yang diwariskan secara turun-temurun.

Karya dokumenter ini lahir dari kegelisahan minimnya arsip visual mengenai kekayaan budaya Nusantara di wilayah Indonesia Timur. Penulis sekaligus periset film, Balqis, mengungkapkan bahwa pendokumentasian tenun Umapura oleh sineas lokal masih sangat jarang dilakukan.

“Di sana pendokumentasiannya sangat kecil dan belum ada orang Indonesia yang mendokumentasikan. Padahal dari proses kerja keras untuk satu lembar kain itu, hasilnya sangat mewah dan pantas untuk didokumentasikan serta dikenalkan ke masyarakat,” jelas Gabrielle dalam sesi diskusi pasca pemutaran.

Secara visual, film ini memperlihatkan eratnya relasi masyarakat Umapura dengan alam. Para perempuan menenun berdasarkan pakem motif dari delapan suku setempat. Mereka juga memanfaatkan kekayaan biota laut serta tumbuhan hutan sebagai pewarna alami benang. Gabrielle, perwakilan tim produksi film, menyoroti dimensi sosial di balik aktivitas menenun tersebut. 

“Dari situ kami belajar bahwa perempuan Umapura itu seperti tulang keras yang diasah. Bagaimana cara mereka membaca gejala alam dan sangat fasih melihat permasalahan ekonomi maupun kewargaan,” ungkap Gabrielle merefleksikan pengamatannya selama 21 hari di Alor.

Acara penayangan yang didukung oleh program pendanaan kebudayaan Dana Indonesiana ini memantik diskusi antusias dari puluhan peserta yang hadir. Melalui dokumenter ini, tenun ikat Alor tidak lagi sekadar dilihat sebagai lembaran kain bermotif pelengkap fesyen. Produksi tenun tersebut nyatanya merupakan sebuah medium otentik yang merekam narasi panjang tentang kedaulatan, kelestarian alam, dan ketangguhan perempuan pesisir.


Editor: Benediktus Fatubun


Hai, SAM ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membacanya sampai akhir.
Jika kamu suka dan mendapat sesuatu dari tulisan ini, mari kita apresiasi penulisnya dengan klik link di bawah ini:

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *