Yuliono Singsot Gelar Konser Tunggal Bertajuk Manusia Jenaka di Miftah Rizaq Art Studio

Penulis

YOGYAKARTA — Musisi Yuliono Singsot menggelar konser tunggal pertamanya bertajuk Manusia Jenaka pada Sabtu (26/09/26), yang berlokasi di Miftah Rizaq Art Studio, Yogyakarta. Acara ini turut menghadirkan penampilan dari komika Teguh Nurwantara dan Whynut Akustik, dengan Sigit Hariyo Seno sebagai pembawa acara. Keunikan konser ini terletak pada sistem tiketnya yang tidak menggunakan uang, melainkan sembako dan buku bagi para penonton yang hadir.

Dalam konser tersebut, Yuliono membawakan delapan lagu, yakni Satu Rasa, Kenal Kamu, Gembira Loka, Anak Ayam, Mosquito, Tongsis/Silfie, Laki-laki Cinta, dan Kimcil Girl. Meski sudah lama malang melintang di berbagai panggung, ini merupakan konser tunggal pertama baginya setelah kurang lebih 20 tahun berkarya di dunia musik dan pantomim. Yuliono menjelaskan bahwa lagu Anak Ayam menjadi karya yang paling berkesan baginya karena menyimpan kritik sosial yang dalam. 

“Lagu Anak Ayam ini sebenarnya berisi tebak-tebakan untuk menghibur masyarakat di tengah krisis ekonomi yang membuat hidup jadi susah dan tidak aman, bahkan anak-anak pun rentan mengalami pelecehan seksual meski sudah dititipkan di pondok pesantren. Itu sangat memalukan, dan seharusnya ada ruang yang benar-benar aman untuk perempuan dan anak-anak. Ada celotehan-celotehan satir juga untuk menyuarakan agar pemerintah dapat berlaku adil,” ungkapnya. 

Selain menyimpan kritik sosial, beberapa lagu Yuliono juga membawa kisah perjalanan hidupnya sendiri, termasuk kisah cinta yang tumbuh dan kemudian kandas di Bantul akibat kondisi ekonomi yang sulit.

Sementara itu, penggagas tempat sekaligus sahabat lama Yuliono, Miftah Rizaq, mengungkapkan bahwa ide konser ini bermula dari iseng belaka, sekaligus menjadi upayanya untuk mencoba peruntungan pada format pertunjukan musik.

“Awalnya cuma pertanyaan iseng, apakah Mas Yul pernah bikin konser tunggal, dan ternyata belum. Rencana awal digelar outdoor, tapi akhirnya dibuat lebih intimate di tempat ini, yang biasanya digunakan untuk galeri seni rupa dan pameran. Kami memang ingin menghadirkan format pertunjukan musik juga, dan ini semacam legacy lah untuk perjalanan 20 tahun Mas Yul berkarya,” jelasnya. 

Miftah Rizaq juga menambahkan bahwa tema Manusia Jenaka lahir dari pandangan orang-orang di sekitar Yuliono yang menganggapnya sebagai sosok jenaka, sekaligus mencerminkan kejenakaan tim di balik layar acara tersebut. Terkait konsep tiket berupa sembako dan buku, Miftah menyebut hal itu merupakan kelanjutan dari program “urunan sembako” yang telah dijalankan Miftah Rizaq Art Studio sebelumnya. 


Editor: Benediktus Fatubun


Hai, SAM ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membacanya sampai akhir.
Jika kamu suka dan mendapat sesuatu dari tulisan ini, mari kita apresiasi penulisnya dengan klik link di bawah ini:

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *