SURAKARTA — Fenomena lagu satir politik di media sosial menjadi sorotan utama dalam hari ketiga Konferensi Punk Scholars Network (PSN) Indonesia 2026 di Surakarta, Kamis (24/9/2026). Dua akademisi, Akhmad Zakky dan Viera Rachmawati, mempresentasikan riset mengenai dua lagu viral yang sama-sama menjadikan figur Bahlil Lahadalia sebagai objek material. Zakky dan Viera membedah lagu buatan kecerdasan buatan bertajuk “Mas Bahlil Ganteng”—yang juga populer disebut “My Little Bolu Ketan”—produksi akun TikTok @vokaliz_netizen. Keduanya sepakat bahwa karya partisipatoris ini menciptakan ambivalensi di tengah kultur platform digital yang digerakkan oleh algoritma.
Zakky menjelaskan bahwa lirik yang sederhana dan melodi yang ramah di telinga membuat lagu satir tersebut mudah direpetisi hingga kehilangan daya kritisnya. “Ketika lagu ini dipotong, direpetisi, dan dilepaskan dari konteks politiknya, bentuknya cuma bertahan sebagai materi hiburan belaka,” tegas Zakky.
Melengkapi pandangan tersebut, Viera mengungkapkan bahwa konten ejekan yang dibuat sukarela oleh warganet ini justru berbalik menjadi sarana promosi gratis. Ia memperingatkan bahwa fenomena ini berpotensi memberikan panggung yang menguntungkan bagi figur politik yang sedang disindir.
Pergeseran fungsi dari kritik sosial menjadi komoditas atensi ini memancing kekhawatiran dari para peserta diskusi. Irfan, akademisi asal Universitas Indonesia (UI), mempertanyakan daya tahan publik dalam menjaga esensi kritik di tengah gempuran tren digital yang cepat memudar. “Kalau misalnya memang itu sesuatu yang terfokus dan diketuk terus, kira-kira publik punya daya tahan tidak untuk melakukan negosiasi dengan kuasa?” tanya Irfan. Diskusi ini menjadi peringatan keras mengenai kerentanan perlawanan kultural ketika berhadapan dengan mesin algoritma media sosial.
Pada hari terakhir, Jumat, 25 September 2026 terdapat lima panel diskusi. Sesi pertama mengusung tema Music in the Age of Algorithms: Streaming, Physical, and AI. Sesi kedua bertemakan Music, Lifestyle, and Social Identity in Everyday Life. Sesi ketiga membahas Music as Archive and Counter-Memory. Sesi keempat menyoroti perihal Music as Activism: Strategies, Generations, and Spaces of Resistance. Hari kelima ditutup dengan sesi bertemakan Music, Spirituality, and Religiousity in Subculture.
Editor: Benediktus Fatubun
Hai, SAM ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membacanya sampai akhir.
Jika kamu suka dan mendapat sesuatu dari tulisan ini, mari kita apresiasi penulisnya dengan klik link di bawah ini:








