Pakta Ledak: Lebih dari Sekadar Film

Penulis

Saya kira ini hanya penayangan film pada umumnya, ternyata ini adalah sebuah kolaborasi seni antara film, musik, pertunjukan, dan kidung. Semua jadi satu dalam sebuah rangkaian acara berjudul Pakta Ledak. Dalam selebaran yang diberikan pada penonton—yang ditulis dengan gaya yang sastrawi ketimbang informatif—Pakta Ledak itu sendiri merupakan sebuah manifesto geopuitik dan ritualistik yang lahir dari guratan luka sejarah, kehancuran ekologis, dan dislokasi spiritual tubuh pada zaman ekstraksi, militerisasi, dan mesin intelegensi.

Saya kira rangkaian acaranya cukup mengejutkan. Ada semacam ‘ritual’ yang dilaksanakan sebelum penayangan film Pakta Ledak dimulai. Beberapa belas orang, yang ternyata adalah kru dan pemain gamelan, masuk ikut duduk dalam ritual dan sebagian sisanya tampak bingung harus buat apa, saya ikut gerombolan yang bingung. Saya memilih untuk keluar ruangan ketimbang mengganggu mereka yang sedang khusyuk. Tak lama setelah itu mereka keluar dan rangkaian acara dimulai.

Kemudian acara dibuka oleh MC, ia menyampaikan beberapa sambutan dan deskripsi singkat tentang Pakta Ledak. Kemudian lampu mulai meredup. Truk masuk dari arah selatan Ndalem Pakuningratan. Truk itu parkir tepat di balik layar. Lampu sorot yang berada di belakang truk dinyalakan memantulkan bayangan ke arah layar yang memberikan nuansa pewayangan. Satu per satu orang turun dari truk dan masuk ke pendhapa. Ya, mereka adalah para pemain gamelan dan performers yang akan ikut tampil berbarengan dengan film.

Penayangan pun dimulai.

***

Pakta Ledak, Irwan Ahmett dan kawan-kawannya, tampak ingin menyajikan kritik dalam bentuk yang tak umum. Ia menyajikan gambaran nyata—seperti dalam film dokumenter—dengan gamblang lewat shot di lereng gunung, pantai, lubang-lubang galian tambang, footage foto di wilayah perkotaan (beberapa diambil di Jakarta) yang dijahit jadi satu, penampakan bagian barat dan timur Yogyakarta lewat drone, dan lainnya. Namun ia tak berhenti di situ, ia mengambil menyajikan kumpulan fakta itu dalam bentuk yang puitis. Permainan antara extreme wide shot dan extreme close-up shot dengan tempo lambat memaksa penonton untuk merasakan film ini lewat unsur-unsur dalam film—batu, pasir, laut, kemiskinan, alam yang sehat dan yang rusak, ritual, dan tarian-tarian. Ditambah lagi dengan gamelan dan synthesiser, dan juga lafalan kidung, memperkuat nuansa spiritual. 

Dari segi wacana, Pakta Ledak berteriak tentang kondisi alam yang rusak akibat pembangunan dan bisnis ekstraktif tapi film ini menambahkan poin ritualistik yang membuatnya berbeda dari dokumentari soal isu-isu lingkungan. Menurut saya, poin ritualistik bukan sekedar pembeda tapi juga menjadi penegas penting bahwa alam yang semakin hari semakin rusak ini mengganggu keseimbangan spiritual—yang mungkin ditafsirkan sebagai ikatan antara manusia, bumi, dan ‘Tanpa Nama’.

Film ini juga menunjukkan bahwa alam yang sudah tereksploitasi masih bersabar sebelum akhirnya benar-benar ‘marah’. Kata ‘ledak’ itu sendiri, saya kira, merujuk pada ledakan gunung Merapi yang masih batuk-batuk sebelum nantinya akan sepenuhnya meledak. Ledak ini dimaknai sebagai tanda marahnya alam terhadap manusia yang merusaknya. Yang artinya, film ini tak menganggap ledakan vulkanik sebagai fenomena atau bencana alam biasa, tapi sebagai teguran atas alam yang rusak.

Meskipun saya terkagum-kagum dengan sinematografi dan kolaborasi seninya, saya sangat terganggu dengan subtitle yang ada dalam film. Karena ini kolaborasi seni, narasi dalam subtitle itu mungkin menawarkan unsur kesusastraannya—saya kira kidung sudah lebih dari cukup untuk menunjukan unsur sastranya. Subtitle tersebut mengganggu saya dalam berimajinasi dan menghayati setiap adegan-adegan yang didesain sepuitis mungkin. Subtitle, dalam bahasa Indonesia dan Inggris, membatasi saya dalam menarasikan ulang film ini dalam kepala saya. Subtitle itu mengganggu fokus saya dalam memaknai klaim “geopuitik dan ritualistik” dalam film. Saya harus membaca gambar, sekaligus membaca teks di waktu yang bersamaan. Extreme shot, gamelan, synthesiser, aroma dupa, dan pertunjukan yang sudah tersusun dengan rapi kehilangan fokus hanya karena dua lapis subtitle itu. Diperparah lagi, saya menemukan mistranslasi dalam subtitle bahasa Inggrisnya.

Saya bertanya-tanya apa fungsi dari subtitle ini, apakah sutradara/penulis naskah ragu filmnya gagal dipahami sehingga butuh penjelasan tambahan atau memang mau memperpadat film ini dengan narasi dalam bentuk subtitle? Terlebih subtitle-nya hadir dalam dua bahasa. Sebegitu pentingnya kah narasi itu sampai harus ada terjemahan bahasa Inggrisnya?

Saya kira, narasi dalam subtitle—jika dipindahkan ke atas kertas kosong—terformat sebagai poem-prose atau monolog yang bahkan bisa berdiri sendiri tanpa film dan kolaborasi seni lainnya. Ia sendiri sudah bisa sebagai karya sastra. Sedangkan kolaborasi lainnya saling melengkapi satu sama lain. Film akan terasa kurang tanpa gamelan. Gamelan akan kosong tanpa synthesizer. Semuanya tak lengkap tanpa pertunjukan langsung di awal dan akhir film, kecuali narasi dalam subtitle.

Jika narasi itu dibacakan seperti di bagian akhir tanpa subtitle—ketika seorang performer yang menggunakan topeng babi membacakan itu, jelas akan memperkuat nuansa ‘berisik’ film ini. Itu akan menjadi dramatical reading yang mengaburkan suara gamelan dan kidungnya dengan synthesizer sebagai penyeimbang dari gemuruh berisik yang ada. Nuansa seperti itu, menurut saya, akan mendorong penonton untuk berempati pada Merapi yang hari ini masih bersabar untuk meledak “menghancurkan wajah Jawa selamanya”. Ada perasaan kacau/keos yang bisa mempengaruhi afek penonton.

Meskipun begitu, kolaborasi seni ini masih sangat segar untuk ditonton dengan segala ke-tidak-umuman-nya.


Editor: Ivo Trias Julianno


Hai, SAM ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membacanya sampai akhir.
Jika kamu suka dan mendapat sesuatu dari tulisan ini, mari kita apresiasi penulisnya dengan klik link di bawah ini:

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *