Musik Arab: Dari Gejolak Sosial Sampai Romantisme Bangsa Arab

Penulis

Hampir setiap hari lirik “Tab Tabi Tab” berseliweran di media sosial. Semua orang terngiang-ngiang ketika mendengarkan lagu “Sawt safiri el bolboli” dinyanyikan oleh Ahmed El Qatane. Di bulan Ramadan tahun ini, lagu tersebut mewarnai konten-konten lucu. Musikal Arab sendiri mempunyai sejarah yang panjang dan unik sehingga mampu mengudara di seluruh penjuru dunia.

Ketika saya menyaksikan konten “Tab Tabi Tab” mengingatkan pengalaman saya terhadap lagu-lagu Arab.  Ada beberapa syair Arab yang membuat saya tergoda. Perkenalan saya dengan musik Arab diawali dengan “Magadir” yang dibawakan oleh Nasida Ria. Hampir setiap pagi saat usia sekitar empat atau lima tahun, sedikit lupa usia berapa, tapi yang pasti menjelang masuk Taman Kanak-kanak. 

Kala itu, hampir setiap pagi bapak sering memutarnya. Suasana itu sangat syahdu. Bapak akan duduk menikmati kopi sambil merokok Dji Sam Soe, lalu radio disetel di meja potong kain. Biasanya kalau lancar, musik “Magadir” langsung memenuhi udara, tapi kalau bermasalah, sayalah yang disuruh menggulung kaset terlebih dahulu. Setidaknya, itu menjadi kesenangan untuk diri saya. Dari situlah saya mulai memiliki ketertarikan pada musik gambus (sebutan yang amat terkenal). Siapa sangka sampai saat ini, musik orkestra Arab menjadi andalan untuk me-restart diri. 

Lantunan kebahasaan memang menggoda telinga. Walaupun hingga saat ini saya memiliki kelemahan dalam bahasa Arab, dan itu agak membuat saya malu mengingat latar belakang yang pernah belajar di pondok pesantren, dari Aliyah sampai Perguruan Tinggi Islam. 

Namun, entah kenapa alunan kebahasaan Arab itu sangat mendistorsi suasana kehidupan di sekitar saya. Suatu momen, saya sempat mengalami tak bersentuhan kembali dengan syair atau musik Arab. Sebab ketika saya di akhir bangku 4 SD hingga akhir SMP, saya mulai mengakrabkan diri dengan musik Barat. 

Memasuki Aliyah atau fase hidup di pesantren, mau tidak mau saya jadi sering mendengar syair Arab atau selawatan, bahkan ikut mengayunkan kebahasaan Arab. Ada beberapa syair yang menjadi favorit kala berzanji. Alasannya, pertama terkait nabi dan kedua terkait nama kakek ada di dalam lirik. Namun, ada juga seperti lagu “Ya Habibal Qolbu”, yang membawa saya masuk pada suasana melankolis.

Kehidupan dewasa hari ini penuh hal-hal yang terdramatisasikan. Setidaknya panggilan anak kecil di dalam diri saya membuat suasana lebih terdistorsikan dengan mendengar ayunan kebahasaan Arab, walaupun di beberapa bagian banyak pula yang tak saya mengerti.

Sebelum menulis esai ini, saya merenung terlebih dahulu terkait kebahasaan Arab itu sendiri. Renungan itu berupa ayat-ayat Al-Qur’an seperti Ar-Rahman atau saya mencoba mengingat mata pelajaran tafsir di Aliyah terkait beberapa penggalan ayat yang sering muncul. Setidaknya, menurut saya, kebahasaan Arab punya energi bagi manusia. Misalnya, manusia seperti saya yang belum mengerti arti dan maknanya, tetap bisa merasakan adanya keterguncangan secara batin. Bahkan sudah terbukti oleh sosok Umar Bin Khattab, yang dilabel sebagai orang yang keras menolak kemunculan Islam, di kemudian hari malah menyerahkan kehidupannya di jalan keislaman.

Kebahasaan Arab berkembang pesat pula di dataran Eropa. Kemunculan Umm Kulthum, penyanyi asal Mesir abad 20, tidak terlepas dari gejolak sosial politik Arab. Kala itu, wacana yang digaungkan berupa nasionalisme Arab. Umm Kulthum mempunyai hubungan dekat dengan Gamal Abdel Nasser (Presiden Mesir). Hubungan keduanya nampak pada sikap Nasser ke Umm Kulthum yang menjadikannya diva untuk menyuarakan pesan-pesan Pan-Arabisme, terutama pada lagu “Enta Omry”. Sang diva berhasil meninggalkan legasi yang berpengaruh hingga saat ini. Kehadirannya menginspirasi penyanyi Arab lainnya, salah satunya Warda Al-Jazairia.

Saya sangat tergoda dengan lagu Umm Kulthum, salah satunya berjudul “Alf Leila wa Leila”. Secara pengucapan, lagu itu enak didengar, terlebih jika dibawakan dengan nuansa orkestra. Saya juga sempat mencoba menjelajahi lagu “Alf Leila wa Leila” dan latar belakang sosok Umm Kulthum. Informasi yang saya dapatkan dari artikel Arab American Institute membuat takjub karena sosok ayahnya yang merupakan seorang petani dan imam masjid di kampung halamannya, sangat mendukung bakat Umm Kulthum, Sang Diva yang sampai saat ini namanya mengudara  di Timur Tengah. 

Baca juga:
Dangdut Sebagai Lumbung Kebudayaan Rakyat Kecil

Seiring perkembangannya, melodi musik Arab juga memberikan pengaruh dalam pertunjukan musik di Indonesia, khususnya gambus. Lagu romantis Umm Kulthum berjudul “Ghannli Shway Shway” menjadi playlist dalam acara hajatan di masyarakat Indonesia. 

Musikal Arab pun memberikan pengaruh pada kehidupan masyarakat Indonesia, khususnya selama bulan Ramadan. Bukan hanya “Tab Tabi Tab” yang viral, ada beberapa lagu seperti “Ya Tabtab”-nya Nancy Ajram yang pernah dibawakan oleh grup musik Sabyan Gambus dalam acara Syiar Ramadhan di Global TV pada 29 April 2020.


Suka dengan tulisan ini? Kamu bisa mengirimkan donasi kepada penulis agar penulis lebih semangat menulis.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *