Desa harus jadi kekuatan ekonomi
Agar warganya tak hijrah ke kota
Sepinya desa adalah modal utama
Untuk bekerja dan mengembangkan diri
Walau lahan sudah menjadi milik kota
Bukan berarti desa lemah tak berdaya
Desa adalah kekuatan sejati
Negara harus berpihak pada para petani
…
Iwan Fals – “Desa”
Penggalan lagu Iwan Fals berjudul “Desa” sengaja dipilih dalam awal tulisan sebagai refleksi atas fenomena yang ada di sekitar, seperti kemunculan patung biawak dan garuda. Selain itu, sebagai kritik atas kehidupan dewasa ini yang terpusat di kota.
Dalam pandangan khalayak umum, desa atau kampung sering kali dianaktirikan oleh sejarah suatu bangsa. Salah satu penyebabnya adalah pandangan modernitas yang kerap melabelkan istilah ‘ndeso’ atau ‘kampungan’, dalam konteks negatif seperti ketinggalan jaman, kumuh, dan sebagainya. Namun, di satu sisi, desa atau kampung malah menjadi tempat untuk menjalani kehidupan nostalgia di usia senja bagi banyak masyarakat modern (kota).
Upaya untuk mengurangi kesenjangan antara desa dan kota melalui proyek pembangunan nasional sudah muncul sejak masa kolonial. Dalam tulisannya Under Construction: The Politics of Urban Space and Housing during Decolonization of Indonesia 1930–1960, Freek Colombijn mencatat bagaimana MH Thamrin pada 1920-an telah mendesak pemerintah kolonial agar memperhatikan kondisi kampung kumuh, khususnya terkait distribusi beras dan fasilitas drainase untuk air bersih (lihat juga Mohammad Hoesni Thamrin karya Bob Hering). Meski perbaikan fisik dilakukan di kota-kota besar seperti Batavia, Semarang, dan Surabaya, perhatian tersebut cenderung hanya menyentuh aspek infrastruktur, sementara peningkatan kualitas hidup masyarakat kampung tetap terabaikan.
Pandangan semacam itu telah berkembang sejak awal abad ke-20, ketika kolonialisme mulai memposisikan desa sebagai sumber masalah bagi kota. Kemodernan yang dibawa kolonialisme bukan hanya menyematkan label masalah pada desa, tetapi juga menggeser sistem budaya yang sebelumnya bercorak komunal menjadi lebih individualistik. Hal ini sering menimbulkan kekhawatiran karena perlahan-lahan mengubah identitas lokal dan menguburkan kearifan lokal—seperti tradisi dan nilai kekeluargaan—yang selama ini menjadi arus utama dalam membangun komunitas desa.
Desa (rural) atau kampung (urban) tidak semata menjadi ruang nostalgia bagi manusia modern; beberapa di antaranya justru menyimpan pengalaman sebagai wilayah pelacuran. Kampung Dolly di Surabaya dan Kali Jodoh di Jakarta, misalnya, dikenal sebagai kawasan wisata pelacuran yang menjadi tujuan masyarakat urban dalam melampiaskan hasrat birahi. Di kawasan Puncak, terdapat pula desa-desa yang dikenal sebagai lokasi praktik kawin kontrak. Ironisnya, desa kerap didengungkan sebagai lahan potensial untuk pembangunan ekonomi, namun kenyataannya sering kali justru menjadi objek eksploitasi, sebagaimana tergambar dalam peristiwa perlawanan warga Wadas yang menyingkap kerakusan demi kepentingan sepihak.
Desa atau kampung seharusnya mampu menjaga jarak kritis terhadap tren-tren yang berkembang di kota. Terlalu sering kita terjebak dalam ambisi mengejar nilai-nilai ekonomis, namun di saat yang sama kita abai bahwa sikap komunal yang menjadi ruh kehidupan desa justru perlahan memudar. Maka, pertanyaan sederhana pun muncul: apakah kecanggihan teknologi benar-benar membawa angin segar, atau justru menjadi awal dari bencana sosial yang berkepanjangan?
Arus Balik: Desa Sebagai Lumbung Kebudayaan
Di era disrupsi seperti sekarang, sulit membayangkan desa menjadi arus utama peradaban bangsa. Segala dinamika sosial, ekonomi, dan teknologi kerap dianggap berpusat di kota, sementara desa kerap tersisih dan diyatimpiatukan dalam narasi sejarah.
Kehidupan masyarakat desa di Indonesia sangat beragam karena dipengaruhi oleh karakteristik subjektif masing-masing desa. Namun secara umum, kehidupan sosial di desa ditandai oleh adanya harmonisasi dalam interaksi antarwarga, keberadaan tradisi yang menjadi landasan bertindak sesuai norma dan adat-istiadat setempat, serta sifat homogen dalam hal budaya, agama, dan bahasa.
Seiring dengan perkembangan dan kemajuan zaman, muncul berbagai gejala dalam kehidupan desa yang perlahan mengikis tradisi dan nilai kekeluargaan yang telah lama dibangun. Gejala tersebut antara lain meningkatnya pola hidup konsumtif, munculnya sikap mental yang transaksional, berkurangnya harmonisasi sosial, serta pengelompokan berdasarkan beragam identitas. Akselerasi zaman yang kini menjangkau hingga pelosok desa juga berpotensi menimbulkan berbagai masalah lingkungan. Dalam situasi seperti ini, menata desa menjadi tugas yang amat kompleks, terlebih jika tujuan akhirnya adalah membangun kehidupan masyarakat yang adil dan makmur.
Desa atau kampung bukan sekadar penyedia kebutuhan bagi kota. Kehadirannya dalam lembaran sejarah justru mencerminkan peran desa sebagai salah satu kran utama peradaban bangsa Indonesia. Sejarah kolonial Indonesia tak bisa dilepaskan dari peran pedesaan sebagai penyuplai komoditas utama, seperti rempah-rempah, ke pasar Eropa. Clifford Geertz dalam karyanya Involusi Pertanian mencatat bahwa mayoritas desa di Jawa menopang kehidupannya melalui sektor pertanian, yang menyatu erat dengan struktur sosial dan ekonomi masyarakatnya. Kebijakan tanam paksa pada masa kolonial menjadi bukti bahwa desa adalah arena penting dalam membentuk kesadaran kolektif rakyat, sebagaimana tercermin dalam peristiwa-peristiwa perlawanan seperti Pemberontakan Banten, Perang Padri, dan bentuk-bentuk resistensi lainnya.
Narasi kebudayaan lokal sering kali terpusat pada desa-desa di daratan, sementara wilayah kepulauan seperti Nusa Tenggara, Maluku, dan Maluku Timur justru kerap terlupakan. Ironis, mengingat sejak bangku sekolah dasar kita diajarkan bahwa Indonesia adalah negara maritim. Kawasan pesisir seolah terpinggirkan dalam wacana pembangunan dan kebudayaan, padahal mereka menyimpan tradisi, pengetahuan, serta cara hidup yang khas dan tak kalah penting. Kasus-kasus seperti pembangunan pagar laut di sepanjang pantai utara Jawa dan banjir rob yang terus melanda kampung-kampung nelayan di Marunda maupun Pekalongan seharusnya menyadarkan kita bahwa kampung pesisir membutuhkan perhatian serius—bukan hanya sebagai bagian dari ekologi maritim, tetapi juga sebagai penjaga peradaban pesisir yang selama ini luput dari narasi arus utama.
Baca juga:
– Desa, Cinta, Pesta
– Dari Api ke Gelombang: Sejarah Panjang Gerakan Perempuan Indonesia
Kenyataan sejarah menunjukkan bahwa pada abad ke-15 hingga abad ke-17, Nusantara memiliki kekuatan maritim yang besar. Hal ini terbukti dengan munculnya pelabuhan-pelabuhan penting sebagai pusat aktivitas perniagaan, seperti Sriwijaya, Malaka, dan Banten. Lautan Hindia kala itu bukan sekadar batas geografis, melainkan jalur penghubung yang mengaitkan Nusantara dengan jaringan perdagangan global. Dalam bukunya Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450–1680, Anthony Reid menggambarkan bagaimana kawasan ini menjadi simpul penting dalam arus komoditas dan budaya yang membentuk dinamika ekonomi kawasan dan dunia.
Dengan kata lain, kota sejatinya tumbuh dari aktivitas desa atau kampung yang berada di sekitarnya. Dalam lintasan sejarah, hutan dan laut merupakan pusat utama dalam membentuk kebudayaan agraris dan maritim yang menjadi fondasi peradaban Nusantara. Kebudayaan inilah yang dahulu menjadikan identitas bangsa Indonesia dikenal dalam jaringan global—sebagai bangsa pelaut, petani, dan penjaga keseimbangan alam. Menarasikan kembali kesadaran kebudayaan desa bukan sekadar romantisme masa lalu, melainkan suntikan dopamine yang menyembuhkan dari gejala latah tren kota—yang seringkali melupakan akar dan esensi kehidupan bersama.
Kembali ke Masa Depan: Kebangkitan Kebudayaan Desa
Sebagaimana yang diungkapkan Hilmar Farid dalam Pidato Kebudayaan pada Kongres Kebudayaan Desa Tahun 2020, “Revolusi desa adalah revolusi kebudayaan. Kerja kebudayaan bukan hanya sebatas kesenian atau warisan, tetapi mencakup dimensi yang telah dirumuskan secara kolektif seperti cara berpikir, kebiasaan, ritual, dan praktik.”
Gelombang modernisasi dan industrialisasi kini terasa begitu cepat menyusup ke dalam kehidupan masyarakat, menghadirkan keterkaitan yang semakin erat antara desa dan kota. Dalam buku Meniti Arus Lokal-Global: Jejaring Budaya Kampung, yang ditulis oleh tim dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia bersama para pegiat dan budayawan di Malang, salah satunya Prof. Melani Budianta, dipaparkan bagaimana globalisasi dan kemajuan teknologi informasi justru membuka peluang bagi komunitas-komunitas lokal untuk membangun jejaring budaya. Komunitas yang berjaring ini menciptakan konektivitas antara desa dan kota, membuka ruang baru bagi inovasi sosial dan kreativitas lintas batas.
Dominasi atas pasar menimbulkan persoalan bagi desa; untuk menyelesaikannya, bukan sekadar dengan meromantisasi kehidupan kampung. Desa atau kampung merupakan lumbung kebudayaan masyarakat dalam membangun peradaban bangsa. Pengetahuan lokal bukan berarti ketinggalan zaman. Covid-19 memberikan alarm tanda bahaya bagi kita—pertanyaan mendasarnya adalah: siapa yang benar-benar tahu kapan bencana alam akan datang? Namun yang kita ketahui, pengetahuan desa telah membuat masyarakat menjadi adaptif dalam menghadapi pandemi. Dua hal yang bisa kita pelajari dari desa adalah tradisi pangan dan kesehatan pasca pandemi.
Secara pemikiran rasional, kita kerap enggan mengakui keberadaan pengetahuan lokal tentang pangan dan kesehatan. Kita sering mendefinisikan kebutuhan pangan secara global, yang merujuk pada sistem pasar, atau menunggu vaksin sebagai satu-satunya jalan untuk menjaga daya tahan tubuh. Sering kali kita melupakan bahwa tradisi pangan telah menyelamatkan kita dari bencana kelaparan, dan bahwa tumbuhan herbal berperan menjaga kesehatan serta daya tahan tubuh kita.
Gerakan akar rumput pedesaan sebagai sebuah alternatif dalam membangun peradaban di berbagai daerah berhasil membentuk gagasan tentang desa serta terlibat dalam menentukan sikap terhadap persoalan politik dan masalah agraria sebagai bagian dari proses transformasi sosial. Fenomena gerakan akar rumput yang muncul di berbagai daerah juga dapat kita lihat dalam lanskap digital, seperti Hysteria, sebuah laboratorium pengetahuan yang menjadi ruang pencarian bersama warga dalam merencanakan dan membentuk kota, serta Studio Klampisan yang bergerak dalam wacana seni lintas disiplin bersama masyarakat untuk menjaring ingatan kolektif dan memproduksi pengetahuan baru.
Dengan demikian, kerja kebudayaan menjadi agenda penting dalam proses panjang sebuah desa atau kampung mentransformasikan kehidupan sosialnya dalam menghadapi tantangan masa depan. Desa yang kita bayangkan di masa depan bukanlah seperti lukisan mooi-indie atau konten slowliving, melainkan desa yang mampu memproduksi pengetahuan baru melalui kerja kolektif yang melibatkan aktor-aktor dengan kepakaran di bidang sains, teknologi, dan humaniora, bersama masyarakat desa atau kampung itu sendiri.
Suka dengan tulisan ini? Kamu bisa mengirimkan donasi kepada penulis agar penulis lebih semangat menulis.








