Bayangan ruang-ruang kelas sebagai persemaian bagi pemikiran “radikal” kini mulai tereduksi. Entah seberapa besar, namun ia terlihat juga pada akhirnya. Ruang-ruang kelas barangkali kini menjadi pabrik yang mereproduksi nalar kapitalisme berkedok rasionalitas intelektual. Hal ini terekam jelas saat seorang rekan intelektual yang saya hormati berpendapat lantang dalam sebuah perkuliahan: “Perjuangan itu percuma dan sia-sia jika tidak menghasilkan perubahan besar yang kasat mata, pada akhirnya percuma juga kita punya pandangan kritis.”
Sekilas, pernyataan itu terdengar seperti pragmatisme yang kritis. Namun, jika dibedah dan ditelisik lebih dalam, bagi saya itu adalah suara arogansi epistemik yang telanjang. Dia tidak berbicara sebagai seorang intelektual mandiri. Sebaliknya dia menjadi juru bicara–entah disadari atau tidak–mesin kapitalisme itu sendiri.
Saya menyadari kita seringkali tanpa sadar telah terpedaya—atau lebih tepatnya, terjajah secara mental—oleh indikator keberhasilan sang penindas. Muaranya datang dari logika kapitalisme dan developmentalism. Sebuah paham pembangunan yang telah meracuni cara kita memandang perlawanan dengan tuntutan agar segala hal memiliki nilai tukarnya. Paham tersebut nampak dari keyakinan bahwa perlawanan adalah perlawanan ketika mewujud menjadi revolusi akbar, melengserkan pemimpin, atau bahkan merubah tatanan dunia yang saat ini sedang menciptakan kesenjangan yang besar. Perlawanan-perlawanan kecil, senyap, dan konsistensi di akar rumput, dianggap nihil keberadaannya.
Sulit menamai fenomena yang ditunjukkan rekan intelektual saya itu. Namun, mari kita sebut saja sebagai kekerasan epistemik yang justru dilakukan oleh kaum terpelajar; membunuh perjuangan sejak dalam pikiran. Sikap seperti itu menunjukkan penolakannya terhadap perlawanan-perlawanan kecil yang telah dilakukan masyarakat. Intelektual pragmatis semacam itu menggunakan indikator dan logika kolonial (saya percaya dirinya sendiri pun tidak menyadari) untuk menilai dan mendiskreditkan perjuangan masyarakat yang ditindas.
Jika kita melepaskan kacamata elitis tersebut dan membaca anatomi kekuasaan secara jujur, kita akan menemukan dominasi penguasa jarang sekali runtuh oleh satu pukulan palu godam. Sejarah perlawanan justru lebih sering seperti kerikil di dalam sepatu yang mengganggu kenyamanan penguasa. Seperti rayap-rayap menggerogoti bangunan rumah, perlawanan-perlawanan kecil seringkali luput dari radar penguasa. Bergerak bersama, perlahan dan konsisten layaknya rayap, meruntuhkan struktur dari dalam. Pandangan yang menuntut masyarakat melahirkan perubahan besar untuk dapat diakui eksistensinya bukanlah sebuah sikap kritis. Itu wujud kemalasan intelektual dalam memahami kehidupan masyarakat.
Perlawanan Kecil yang Memiliki Arti Besar Bagi James Scott
Beberapa ilmuwan sosial telah banyak membahas gerakan keseharian tersebut. Antropolog James C. Scott salah satunya. Dia menyebut gerakan tersebut sebagai Infrapolitics atau politik tak kasat mata yang banyak dijelaskan dalam mahakaryanya Weapons of the Weak. Dalam buku tersebut, Scott menguliti kenaifan intelektual elitis yang selalu mengasosiasikan perlawanan dengan pemogokan massal atau revolusi heroik yang mengubah struktur negara. Bagi masyarakat di akar rumput—petani, masyarakat adat, atau kaum perempuan marjinal—melawan secara terbuka bukanlah pilihan. Itu adalah tindakan bunuh diri secara ekonomi maupun fisik karena berhadapan dengan mesin kekuasaan secara langsung.
Kita perlu memahami bahwa perlawanan keseharian merupakan pilihan paling logis berdasarkan kalkulasi untung rugi yang mereka alami. Praktik ini seringkali mengambil bentuk seperti tertundanya pekerjaan, sabotase kecil-kecilan, perlawanan pasif, mempertahankan ritus lokal secara diam-diam, hingga gosip dan humor sindiran yang menelanjangi wibawa penguasa. Atau jika kawan-kawan pembaca di sini penasaran bentuk konkritnya dalam konteks Indonesia, barangkali bisa membaca buku Bukan Timah Hitam: Petani Dairi Melawan Tambang terbitan InsistPress. Saya tuliskan ulasan singkatnya dalam media Anotasi (bisa baca di link ini) serta karya etnografer dari Hery Santoso berjudul Perlawanan di simpang jalan: Kontes Harian di Desa-Desa Sekitar Hutan di Jawa terbitan Interlude.
Di kacamata kawan yang pragmatis, taktik-taktik itu mungkin diejek sebagai angin lalu bagi kekuasaan. Atau dianggap percuma karena tidak menghasilkan lembaran kebijakan baru. Namun, Scott menegaskan bahwa pada ruang-ruang infrapolitik tersebutlah napas panjang masyarakat yang tertindas bersemayam. Sehingga mengabaikan senjata orang-orang yang kalah ini sama saja dengan menegaskan diri sebagai intelektual yang buta huruf dan miskin kosa kata terhadap bahasa politik rakyatnya sendiri.
Kembali pada obsesi di ruang kelas terhadap “hasil akhir yang besar”, menurut saya selama kita masih mengukur keberhasilan dengan metrik kapitalistik, proyek dekolonisasi pengetahuan tidak akan pernah ke mana-mana. Terlebih jika mempelajari dekolonisasi pikiran, bahwa proses atau tindakan tersebut bukanlah sekadar mengganti daftar bacaan dari sastra barat ke sastra lokal. Dekolonisasi sejati adalah keberanian untuk menghancurkan matriks sang penjajah, berhenti menuntut perubahan instan yang muluk-muluk, dan mulai meletakkan rasa hormat setinggi-tingginya pada daya dan perjuangan kecil keseharian yang menolak mati digilas zaman.
Kita Semua Menjadi Korban
Saya maupun rekan intelektual saya seringkali menjadi korban logika matriks dari kolonial. Kami adalah korban dari kuasa “tidak terlihat” yang membentuk kita menjadi mesin. Namun seperti di ruang kelas, sebagai seorang mahasiswa antropologi –tentunya kaum intelektual secara umum–kami dituntut bersikap reflektif terhadap fenomena yang terjadi di dunia ini. Ungkapan tersebut barangkali tepat dengan usulan Hannah Arendt untuk “memikirkan apa yang kita perbuat”–terutama dengan melakukan perenungan dan merefleksikan–yang mampu mengubah vita activa (manusia yang bekerja, bertindak dan mencipta) menjadi vita contemplativa (Arendt,1998).
Lebih lanjut jika merujuk tingkatan berpikir dari Heidegger, kita perlu melampaui fase berpikir yang tidak semata-mata “berpikir kalkulatif”. Sebuah paradigma perencanaan dan penyelidikan, namun tak pernah merenungkan efeknya karena hanya menekankan nilai-nilai keuntungan ekonomis. Sebaliknya, kita harus beranjak ke fase “berpikir meditatif”. Sebuah paradigma yang melampaui tujuan keuntungan praktis atau ekonomis semata. Sebab ia menembus pada kedalaman makna dari sesuatu, terkhusus mengandung makna-makna humanitas (Heidegger,1966)
Sebab akan menjadi berbahaya jika menjalankan hidup semata hidup. Begitu juga yang dilakukan Adolf Eichmann, seorang penjahat perang dari peristiwa genosida terhadap orang Yahudi di Jerman, semata-mata hanya menjalankan tugas, yang saya bayangkan juga sekadar menjalankan kehidupan. Akan tetapi dari sanalah sebuah kejahatan perang dan kemanusiaan dalam sejarah dunia terjadi. Kejahatan yang tidak datang dari monster menakutkan melainkan dari seorang yang memilih tidak berpikir dan menyerahkan pertimbangan moralnya pada sesuatu diluar dirinya. Hal ini yang disebut oleh Arendt sebagai Banality of evil.
Pada titik ini mendekolonisasi pengetahuan harus dimulai dengan menghancurkan ‘neraca’ atau alat ukur yang diwariskan oleh nalar kolonial dalam kepala kita. Terlebih jika kita menggunakan pemikiran dari Walter Mignolo (2009), dekolonisasi pengetahuan adalah sebuah upaya radikal untuk membongkar dan melepaskan diri dari hegemoni epistemologi Barat–diantaranya kolonialisme dan kapitalisme–yang selama ini mengklaim diri sebagai kebenaran universal. Terdapat beberapa cara, ketidakpatuhan epistemik (epistemic disobedience) diantaranya. Sebuah praktik yang menuntut kita untuk melakukan ketidakpatuhan terhadap aturan-aturan disiplin ilmu yang kebarat-baratan. Dekolonisasi dalam hal ini menempatkan pemulihan kehidupan manusia di atas produksi dan pertumbuhan ekonomi kapitalis.
Mendekolonisasi pengetahuan merupakan sebuah keberanian untuk berhenti menjadi intelektual yang hanya hidup sekadar hidup atau intelektual yang berpikir secara kalkulatif. Lalu kemudian beranjak menjadi manusia yang berani merenung (reflektif)—merawat bara perlawanan di dalam kesunyian hingga ia mampu meruntuhkan hegemoni yang membatu, bahkan sejak dalam pikiran. Dalam konteks tersebut, Pramoedya Ananta Toer dengan tegas mengatakan, “Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan.”
Optimisme sebagai Aksi Politik
Di tengah cengkeraman nalar kalkulatif dan banalitas kejahatan sistemik ini, lantas apa yang tersisa bagi kita untuk terus bergerak? Jawabannya terletak pada keharusan kita untuk mendefinisikan ulang makna optimisme dengan menghindari dua jebakan besar pikiran modern. Jebakan pertama adalah “optimisme palsu” yang dimonopoli oleh elite kapitalis. Mereka mengemborkan ilusi bahwa dunia sedang baik-baik saja, bahwa pertumbuhan ekonomi pada akhirnya akan menetes ke bawah (trickle-down effect), dan penderitaan hanyalah tumbal sementara bagi kemajuan. Optimisme semacam ini seringkali mampu menina-bobokan setiap orang serta merancang agar kita pasrah, diam, dan berhenti menuntut keadilan.
Di sisi lain, saat kita menyadari kebohongan dari optimisme elitis tersebut, kita sering kali terjerembab pada jebakan kedua yang sama berbahayanya; pesimisme buta. Sebuah kondisi keputusasaan yang melumpuhkan, sebuah ilusi gelap yang membisikkan bahwa mesin kapitalisme terlalu raksasa untuk sekadar disenyapkan apalagi diruntuhkan, dan bahwa perubahan adalah kemustahilan yang utopis. Kondisi semacam itu menumbuhkan kepercayaan bahwa selama kemenangan melalui perang secara instan tak kunjung terwujud, mustahil tindakan-tindakan kecil yang membutuhkan waktu lama bisa memetik kemenangan. Sebuah kondisi yang mencerminkan kekalahan mental sebelum bertarung. Ketika rekan intelektual yang saya hormati di kelas menganggap perjuangan kecil itu “sia-sia”, ia sejatinya sedang dijangkiti oleh pesimisme buta ini. Secara tidak sadar, keputusasaan semacam itu justru mampu melanggengkan status quo yang menindas.
Oleh karena itu, menolak optimisme palsu sekaligus melawan pesimisme buta saya insyafi sebagai sebuah aksi politik yang radikal. Optimisme radikal ini bukanlah kenaifan yang menunggu datangnya pahlawan atau juga ratu adil, melainkan keyakinan tegap bahwa daya sintas sekecil apa pun memiliki nilai sejarah yang tak terhingga. Dari sana terkandung kesadaran bahwa meskipun kita mungkin tidak akan melihat runtuhnya tirani di masa hidup, tugas yang jauh lebih penting adalah menolak menjadi nihilis. Tugas, yang barangkali mulia, untuk memastikan bahwa perlawanan keseharian itu tetap direkam, dihargai, dan diwariskan, karena dari sanalah bola salju perubahan itu perlahan-lahan mulai digulirkan.
Referensi
Scott, J. C. (1985). Weapons of the weak: Everyday forms of peasant resistance. yale university Press.
Arendt, H. (2019). The human condition. University of Chicago press.
Santoso, H. (2004). Perlawanan di simpang jalan: kontes harian di desa-desa sekitar hutan di Jawa. Interlude.
Mignolo, W. D. (2009). Epistemic Disobedience, Independent Thought and Decolonial Freedom. Theory, Culture & Society, 26(7-8), 159–181
Editor: Benediktus Fatubun
Hai, SAM ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membacanya sampai akhir.
Jika kamu suka dan mendapat sesuatu dari tulisan ini, mari kita apresiasi penulisnya dengan klik link di bawah ini:








