Menelusuri Bias Antroposentris dalam Paham Heteronormatif dan Gender-Biner

Penulis

Pernahkah kita mendengar dan percaya bahwa manusia secara kodrati harus berada dalam hubungan yang heteronormatif (Betina – Jantan atau Perempuan – Lelaki)? Di tongkrongan, di kelas pendidikan agama, menguping pembicaraan orang lain, atau dimana pun? 

Kita seringkali mendengar, bahwa sudah sepatutnya untuk mengamini bahwa sudah menjadi hukum alam, hukum agama hingga hukum sosial dan budaya bahwa manusia dan seluruh makhluk hidup harus sepasang antara Perempuan dan Lelaki. Sebagian dari kita tanpa sadar-secara langsung setuju bahwa ini adalah sebuah kebenaran yang harus diterima secara objektif tanpa perlu dipikirkan ulang atau menolak, atau mungkin takut untuk menolak? 

Ketidaksadaran seperti itu tidak sepenuhnya salah ataupun benar, sebab begitulah bagaimana realitas sosial bekerja secara objektif. Sosiolog Emile Durkheim (1982), menyebut peristiwa semacam itu sebagai sui generis (Berger & Luckmann, 1966, 30). Sederhananya, apa yang menjadi cara pandang masyarakat secara umum lahir dari proses panjang konstruksi yang rumit; eksternalisasi, objektifikasi hingga internalisasi-yang meskipun terdapat proses dialogis antara individu dengan realitas objektif di luar dirinya, kesimpulan akhir daripada proses tersebut tetap mengarah pada rekonstruksi baru atas realitas kita (Berger & Luckmann, 1966, 77). Tanpa perlu menjelaskan banyak tentang kondisi masyarakat kita-inilah yang menjadi dasar sosiologis yang mensimulasikan bagaimana sebagian besar kita berpijak pada pandangan heteronormatif dan gender-biner atau cis-heteronormatif. 

Kedua, argumentasi ini kadangkala didukung oleh fakta evolusi di alam yang menyatakan bahwa hubungan jenis ini adalah sebuah keharusan untuk meneruskan garis evolusi melalui reproduksi seksual. Bagi penulis, fakta yang terjadi di alam adalah sesuatu yang harus diposisikan dari cara kita memandangnya. Dalam hal ini, interpretasi yang terjadi dalam logika sains adalah hal yang perlu untuk ditinjau kembali. Pemahaman yang menitikberatkan hubungan antara sains evolusi dengan cis-heteronormatif adalah hasil dari konstruksi sosial yang erat kaitannya dengan proses formasi diskursif yang membentuk konstruksi perihal seksualitas hari ini. Foucault (1976) mencatat bahwa sejarah seksualitas tidak hanya menjelaskan fenomena biologis secara netral, namun lebih dari itu, sejarah seksualitas adalah konstruksi historis yang dilakukan oleh institusi melalui diskursus (Bethari, 2024, 432). Melalui diskursus tersebut, relasi kuasa tidak hanya mengontrol bagaimana individu berpikir dan bertindak, namun ia juga bekerja sebagai alat kontrol yang dilakukan seorang individu atas dirinya sendiri. Maka sebutlah cis-heteronormatif, baik secara biologis maupun sosiologis, adalah diskursus yang diproduksi secara berulang untuk mengatur kita-dengan tentu saja tidak bebas nilai.

Tulisan ini mencoba menelusuri dan mengurai bagaimana pandangan cis-heteronormatif sebagai bias antroposentris yang tanpa sadar mempengaruhi cara berpikir kita. Tentang bagaimana ia pengetahuan tersebut diproduksi, didistribusikan hingga melegitimasi cara berpikir tanpa sadar.

Antroposentris yang Bersembunyi di Balik ‘Objektivitas’

Mari kita mulai pembacaan ini dengan melihat bagaimana kacamata sains bekerja dalam menangkap fakta reproduksi di alam semesta-apakah yang kita pahami dari sains adalah betul-betul mewakili sesuatu yang terjadi secara objektif, atau sebenarnya ia hanyalah perspektif kita; ilmuwan; seorang manusia yang mencoba menafsirkannya melalui pemahaman rasio-lewat apa yang ditangkap secara positif melalui penginderaan kita? Bagian ini bukan hendak membahas Antroposentrisme sebagai pandangan yang menjadikan apa yang bukan manusia sebagai objek, namun sebuah upaya mendekonstruksi makna antroposentris yang rasanya masih bias dan tersembunyi dari kesadaran kita.

Bagi penulis, pertanyaan di atas merupakan kunci yang mengantarkan pada gerbang awal perenungan tentang bagaimana alam ditafsirkan dalam perspektif kita; makhluk bernama manusia; seorang antro; homo Sapiens. Penulis sepakat, bahwa fakta biologis dalam sains tidak berbicara sendiri. Sebab pengetahuan bukan hanya menghasilkan fakta, namun bagaimana pengetahuan tersebut direduksi, diinterpretasikan hingga dijelaskan sampai kepada kita. Sepanjang sejarah pengetahuan berlangsung, alam sebagai pengetahuan tidak dapat dilepaskan dari cara pandang manusia; sang antro yang memproduksinya hingga hari ini. 

Pengetahuan yang kita bungkus dalam kerangka ‘objektif’ adalah sesuatu yang tidak netral dan selamanya bebas nilai. Objektivitas, tak ubahnya seperti sebuah ujaran (utterance) yang terus diulang-ulang sehingga dianggap sebagai sebuah pembenaran (statement). Inilah gambaran bagaimana konstruksi pengetahuan dalam sains bekerja melalui mekanisme penciptaan wacana melalui serangkaian formasi yang kompleks demi berlangsungnya kepentingan tertentu; manusia, laki-laki, barat dan berkulit putih. 

 Salah satu kritik yang relevan dalam tulisan ini adalah kritik Donna Haraway (1988) yang dengan renyah menyebut objektivitas sains modern sebagai The Gods Trick (Sk, 2026). Istilah yang diajukan Haraway berangkat dari kritiknya dalam perdebatan antara kelompok realisme tradisional yang mempertahankan objektivitas sains pada satu sisi, versus kelompok konstruksionisme radikal yang terus mempertanyakan dimanakah titik pijak sains yang diyakini bebas nilai. Haraway mengkritik keras bagaimana objektivitas dalam sains dibangun seolah-olah ia netral dan menampilkan fakta sebagai kebenaran yang absolut, alih-alih jujur. Namun pada satu sisi, meski ia setuju dengan kritik kelompok konstruksionis yang melihat objektivitas sebagai hasil retoris-agensif; laki-laki, barat dan berkulit putih-Ia juga khawatir kritik tersebut jatuh dalam skeptisisme dan relativisme yang radikal. Sebab bagi Haraway, upaya membongkar secara dekonstruktif tidak ada artinya tanpa dibuktikan secara empiris apabila hendak menariknya ke dalam ranah moral dan politik. 

The Gods Trick bekerja seperti ilusi yang menempatkan subjek yang memproduksi pengetahuan seolah-olah seperti Tuhan yang dapat melihat dari mana-mana dan memiliki posisi yang netral, objektif dan tanpa jarak. Posisi ini menempatkan subjek sebagai sesuatu yang seakan-akan tidak memiliki identitas posisional sehingga ia bisa mengklaim diri sebagai sang universal. Namun inilah bagaimana wajah dominasi justru bekerja dengan cara tidak menampakan diri dari tubuh siapakah ia berbicara dan dari ruang mana pengetahuan itu diproduksi. Berangkat dari kritik ini, Haraway menawarkan alternatif pandangan epistemologis yang lebih etis dan bertanggung jawab. Yakni pengetahuan sejatinya harus ditempatkan pada situasi dan posisi dimana subjek berdiri dan berbicara atas tubuhnya sendiri (Situated Knowledge) (Haraway, 1988, 580).

Sederhananya, jika kita meyakini bahwa cis-heteronormatif adalah satu-satunya kebenaran absolut yang telah dibuktikan oleh sains, melalui kacamata Haraway kita mendapatkan tamparan bahwa keyakinan kita memiliki bias yang tidak kita sadari. Mengapa? Sebab objektivitas cis-heteronormatif yang kita yakini atas dasar sains adalah hasil produksi pengetahuan yang disepakati segelintir kelompok yang bahkan kita sendiri berjarak daripada mereka. 

Disinilah letak bias antroposentris muncul. Perlu disadari, bahwa keyakinan semacam itu tak ubahnya untuk melanggengkan kekuasaan manusia lewat produksi pengetahuan. Berangkat dari asumsi umum masyarakat yang banyak menyatakan bahwa ini semua demi kelangsungan keturunan beranak-pinak. Sebab dengan beranak-pinak kelangsungan kehidupan berlanjut melalui institusi keluarga, lalu masyarakat, negara hingga seluruh dunia. Inilah simulasi sederhana dari bagaimana kekuasaan bekerja melalui pengetahuan. Kita perlu menyadari, bahwa proses beranak-pinak bukan hanya proses biologis semata, lebih dari itu ada struktur yang diwariskan untuk menghasilkan individu-individu yang ‘ideal’. Lalu cara menjaga status quo ‘yang ideal’ tersebut adalah melalui konstruksi sosial yang menyangkut transformasi nilai-nilai dan pengetahuan, termasuk didalamnya keyakinan heteronormatif dan gender-biner. Pertanyaan yang ingin penulis utarakan dari sini adalah; siapakah kita manusia ini? Apa yang suci dan berharga dari kita sehingga kita perlu melanjutkan keberlangsungan hidup di alam semesta?

Heteronormativitas dan Gender-Biner sebagai Naturalisasi Normatif

Kembali pada premis sebelumnya tulisan ini, sebagian masyarakat kita memahami bahwa cis-heteronormatif sebagai sesuatu yang alamiah. Artinya, hubungan antara lawan jenis adalah sesuatu yang kodrati sebab alam mengharuskan terjadinya proses reproduksi makhluk hidup antara Betina dan Jantan. Pada titik inilah letak pertemuan antara pemahaman sains biologis dengan konstruksi sosial yang mengatur bagaimana idealnya kita hadir dihadapan realitas sosial.

Heteronormatifitas seperti yang didefinisikan Michael Warner (1991) adalah sistem yang meresap (pervasive) dan seringkali tersembunyi dari penglihatan kita (invisible). Ia lebih dari sekedar bias yang dipahami ketika kita jeli. Heteronormatifitas tertanam dalam berbagai institusi, orientasi praktis, hingga ke dalam struktur pemahaman yang membuat kita seolah-olah melihatnya sebagai hal yang normal dan wajar. Yang paling menarik dari argumen Michael Warner adalah penjelasan soal bagaimana cis-heteronormatif bekerja dalam masyarakat. Mekanisme heteroseksual bekerja melalui apa yang disebut Warner sebagai repro-seksual dan repro-naratif (Warner, 1991, 8). Melalui repro-seksualitas, cis-heteronormatif dibangun melalui jalinan pengetahuan antara reproduksi biologis, reproduksi budaya, dan identitas pribadi. Kemudian repro-narasi menjelma menjadi wacana yang memberi makna melalui suksesi reproduksi yang diabngun atas pengetahuan-pengetahuan repro-seksualitas.

Kemudian titik temu lain yang menjelaskan keyakinan cis-heteronormatif dapat kita baca dengan baik melalui pandangan Gayle Rubin. Rubin menjelaskan bahwa keyakinan normatif masyarakat semacam ini adalah bentuk dari The Charmed Circle (gender.study, 2025). Lewat pembacaan ini, The Charmed Circle bekerja dengan menciptakan hierarki yang melimitasi makna gender dan seksualitas. Ia bekerja dengan menciptakan batasan antara apa yang dianggap baik dan normal (The Inner Limits) dan apa yang dianggap sebagai penyimpangan (The Outer Limits). Dalam hal ini, masyarakat yang dianggap baik dan normal-atau masuk dalam circle adalah mereka yang berada dalam posisi seksualitas dan gender yang aman-yang sudah tentu adalah cis-heteronormatif. Sebaliknya, mereka yang berada dalam garis luar adalah yang dianggap menyimpang secara gender dan seksualitas. Dalam hal ini, Rubin juga sepakat dengan Foucault, bahwa pembentukan hirarki gender dan seksualitas adalah instrumen stratifikasi seksual dan bentuk penundukkan berdasarkan sains dan medis.

Heteronormatif dan cis-heteronormatif Sebagai Bias

Jika kita membaca tulisan ini dan masih memiliki banyak pertanyaan, kebingungan dan rasa terusik, penulis berharap bagian ini menjadi sintesis akhir yang membantu keyakinan cis-heteronormatif untuk belajar berdialog dengan keragaman antitesisnya.

Pada akhirnya, tulisan ini menekankan cis-heteronormatif bukanlah sebuah keniscayaan biologis yang bersifat absolut atau kebenaran kodrati yang berdiri di atas ruang hampa. Ia adalah konstruksi diskursif yang, meminjam istilah Haraway, terselubung melalui mekanisme The Gods Trick yang kerap menyembunyikan posisi kuasa di balik topeng objektivitas yang dianggap netral. Keyakinan ini, yang selama ini kita amini tanpa keraguan, sebenarnya bekerja sebagai instrumen strategis untuk melanggengkan hierarki sosial secara gender dan seksual. Sebuah mekanisme yang menempatkan subjek tertentu ke dalam The Charmed Circle sembari secara sistematis meminggirkan keberagaman di garis luarnya. 

Penulis ingin menegaskan bahwa memandang cis-heteronormatif sebagai sebuah bias bukanlah upaya untuk menolak fakta biologis secara vulgar, melainkan sebuah langkah etis untuk mengakui bahwa setiap pengetahuan, bahkan melalui sains yang kita agungkan secara mutlak memiliki posisi situasional (Situated Knowledge) yang berjarak dengan kita dan dikonstruksi demi kepentingan tertentu. Disinilah letak Antroposentris bekerja. Ia tidak berbicara sebagai definisi paradigmatik, namun ia berangkat dari bagaimana manusia memelihara kepentingan melalui pengetahuan dan reproduksi. Kita diundang untuk memberanikan diri meninjau ulang bagaimana sebuah kebenaran diproduksi, didistribusikan hingga diinternalisasikan dalam kesadaran kolektif kita.

Kesadaran ini menuntut kita untuk mencoba keluar dari zona nyaman objektivitas baik secara saintik maupun sosiologis. Menghadapi antitesis cis-heteronormatif bukan sekadar toleran atas dasar inklusivitas. Namun soal keberanian untuk merekonstruksi akar-akar dominasi yang selama ini membatasi imajinasi kita akan hakikat antro-humanis.

Referensi

Berger, P. L., & Luckmann, T. (1966). The social construction of reality: A treatise in the sociology of knowledge. Anchor Books.

Bethari, R. A. (2024). Kekuasaan dan Seksualitas: Homofobia sebagai Konstruksi Sosial dalam Perspektif Foucault. Jurnal Filsafat Indonesia, 7(3), 430-436.

gender.study. (2025, September 9). Understanding Sexual Hierarchies and Their Consequences Last updated on: September 9, 2025.

Haraway, D. (1988). SITUATED KNOWLEDGES:THE SCIENCE QUESTION IN FEMINISMAND THE PRIVILEGE OF PARTIALPERSPECTIVE. 575-599. https://commons.princeton.edu/hum583-f21/wp-content/uploads/sites/283/2021/08/Haraway-Situated-Knowledges.pdf

Sk, K. (2026). Criticism Of Science: A Feminist Perspective In The Philosophy Of Science. International Journal of Creative Research Thoughts, 14(1), e731-e735.

Warner, M. (1991). Introduction: Fear of a Queer Planet. Duke University Press is collaborating with JSTOR to digitize, preserve and extend access to Social Text., (29), 3-17.


Editor: Dhika Marcendy


Hai, SAM ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membacanya sampai akhir.
Jika kamu suka dan mendapat sesuatu dari tulisan ini, mari kita apresiasi penulisnya dengan klik link di bawah ini:

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *