Setiap kali orang-orang di Kalimantan mau berbicara tentang persatuan, tentang perjuangan, tentang identitas Dayak, tentang ke mana Kalimantan seharusnya pergi, hampir pasti ada ritual yang dijalankan lebih dulu sebelum mulai. Orang Kalimantan menyebut nama Tjilik Riwut. Kadang dengan nada khidmat. Kadang dengan mimik seperti orang yang hendak berdoa. Seakan-akan tanpa ritual itu, argumen yang mau disampaikan tidak cukup sah untuk didengarkan.
Dalam hal ini, tampaknya praktik ini bukan lagi sebuah penghormatan, melainkan ketergantungan. Ketergantungan pada orang yang sudah meninggal lebih dari tiga dekade lalu adalah tanda yang cukup jelas bahwa kita hari ini tidak punya argumen yang kuat untuk berdiri sendiri.
Tjilik Riwut itu tokoh nyata dengan pencapaiannya yang nyata. Ia bukan mitos ataupun konstruksi romantis dari generasi yang tidak pernah hidup di zamannya. Laki-laki dengan nama lain Sanaman Lampang yang lahir di Kasongan, benar adanya bahwa ia besar di era kolonial Belanda, aktif dalam pergerakan kemerdekaan, berperan dalam pembentukan Provinsi Kalimantan Tengah, dan sempat menulis tentang kebudayaan Dayak—secara khusus Ngaju—di saat hampir tidak ada orang yang repot-repot melakukannya.
Untuk konteks zamannya, itu bukan perkara yang mudah. Tentu harus kita akui bahwa apa yang dilakukannya itu adalah kerja yang membutuhkan keberanian dan komitmen yang tidak bisa kita remehkan, tapi ada perbedaan yang sangat besar antara mengakui kerja nyata seseorang dan menjadikan orang itu sebagai satu-satunya referensi yang boleh kita pakai untuk memikirkan masa depan.
Kita sebetulnya perlu untuk dapat berbicara soal apa yang sebenarnya dilakukan Tjilik Riwut, bukan versi yang sudah dipoles dan ditanam rapi untuk konsumsi publik. Seperti narasi yang terkesan heroik yang selama ini telah menjadi konsumsi kolektif, kita mengakui kepahlawanan beliau dalam memilih membawa Kalimantan masuk ke dalam NKRI. Beliau dengan pemikirannya percaya bahwa integrasi ke dalam republik yang baru merdeka saat itu lebih baik daripada pilihan-pilihan lain yang tersedia pada zamannya. Keputusan itu tentu saja dibuat di tengah situasi yang rumit, di zaman yang tidak memberikan banyak ruang untuk memilih, dengan informasi yang terbatas, dengan tekanan yang barangkali tidak pernah kita rasakan sendiri.
Terkait hal itu, tentu kita tidak bisa marah pada beliau atas pilihannya bersama dengan segelintir rekan seperjuangannya. Tapi kita juga tidak bisa pura-pura bahwa keputusan itu memiliki konsekuensi yang masih kita tanggung hingga kini.
Mari kita hitung dengan kepala dingin. Berapa juta hektar hutan Kalimantan yang hilang sejak integrasi itu? Siapa yang menandatangani konsesi-konsesi pertambangan dan perkebunan itu? Siapa yang mengambil keputusan tentang sumber daya alam Kalimantan dari meja-meja di Jakarta selama puluhan tahun? Siapa yang memindahkan ibu kota ke tanah Kalimantan tanpa pernah benar-benar serius bertanya ke rakyat yang sudah tinggal di sana jauh sebelum narasi tentang ibu kota itu ada?
Semua itu terjadi di dalam bingkai yang sama persis dengan yang Tjilik Riwut pilih untuk masuk untuk bergabung dalam negara kesatuan hari ini. Negara yang katanya adalah rumah bersama. Tanpa kita sadari perjuangan yang dilakukan pada masa itu hanya sekedar upaya untuk berpindah dari mulut buaya kolonial Belanda, Kalimantan berjalan masuk menuju ke dalam mulut harimau Jakarta. Bedanya, harimau ini tampak lebih rapi berbicara tentang nasionalisme, tentang pembangunan dan pemerataan sambil terus merampas dengan cara yang jauh lebih canggih dan jauh lebih sulit untuk dilawan. Aktor yang tadinya berasal dari Den Haag, sekarang berganti kepemimpinan dari Jakarta dengan tetap membawa sifat tamak dan feodal yang sama.
Penting untuk kita pahami juga bahwa catatan kritis ini bukanlah tuduhan bahwa Tjilik Riwut sebagai pengkhianat. Sekali lagi, beliau membuat keputusan di zamannya dengan apa yang beliau punya dan dengan apa yang beliau tahu saat itu. Namun kita perlu jujur bahwa keputusan itu tidak menghasilkan apa yang telah dijanjikan kepada rakyat Kalimantan sepanjang musim ini. Kita juga perlu jujur bahwa terus-menerus mengangkat keputusan itu sebagai sesuatu yang harus kita warisi dan teruskan tanpa pertanyaan adalah kekeliruan. Kita memang sudah seharusnya setia pada sejarah tetapi jangan bodoh hanya karena keengganan untuk terus berpikir dan berefleksi.
Terdapat hal yang paling menarik jika kita lihat dari fenomena pengkultusan Tjilik Riwut hari ini. Kalau kita mau jujur melihatnya, ini bukan soal Tjilik Riwut, tapi soal cara kita melihat seorang tokoh besar. Kita yang merasa bahwa perjuangan kita baru sah kalau punya garis keturunan ideologis ke nama yang sudah diakui besar oleh banyak orang. Kita yang tidak cukup percaya diri untuk berdiri di atas argumen sendiri tanpa harus meminjam wibawa orang yang sudah mati. Itu bukan tanda dari komunitas yang sedang berjuang dengan serius tetapi tanda dari komunitas yang sedang tidak punya arah dan sedang mencari sesuatu untuk dipegang agar tidak merasa tersesat.
Dan apa yang kita pegang hari ini seakan menjadi nama yang tidak bisa dikritisi. Tjilik Riwut yang dikultuskan hari ini sejatinya bukanlah Tjilik Riwut yang pernah hidup dan punya kompleksitas sebagai manusia hari ini. Yang dikultuskan selama ini adalah versi steril dari beliau. Versi yang sudah dibuang semua kontroversinya, semua keterbatasannya, semua konteks zamannya yang membuatnya tidak bisa begitu saja dipindahkan ke tahun 2026. Versi yang tidak bisa salah karena tidak bisa ditanya. Terlalu nyaman untuk dipertahankan sehingga ketika kenyataan di lapangan sudah begitu keras, alhasil memukul kita hari ini.
Sekarang mari kita bicara soal narasi perjuangan dan kebudayaan Kalimantan yang selama ini hidup dalam bayang-bayang satu nama itu. Setiap kali ada diskusi soal identitas Dayak, pembicaraan tentang persatuan Kalimantan, dan seminar tentang masa depan Kalimantan ke depan, nama Tjilik Riwut selalu muncul. Seolah semua jalur pemikiran tentang Kalimantan wajib melewati satu titik yang sama sebelum bisa dianggap sah. Akibatnya narasi yang beredar jadi sempit.
Kita selama ini telah berbicara tentang Kalimantan melalui kerangka yang dirumuskan oleh seorang manusia yang hidupnya berakhir pada 1987. Padahal jelas, dunia sudah berubah drastis sejak saat itu. Struktur ekonomi politik sudah berubah total. Cara negara dan korporasi mengeksploitasi sumber daya sudah berubah, menjadi lebih canggih, lebih berlapis secara hukum, dan jauh lebih sulit untuk dilawan secara frontal. Semua penyakit negara yang kita tempati hari ini sudah sangat sistemik . Tapi kenapa kerangka berpikir kita tetap tidak bergerak terhadap semua preseden ini? Jawabannya adalah mutlak karena kita telah sibuk merawat kultus.
Sementara itu persoalan-persoalan nyata tidak pernah bisa menunggu. Konsesi tambang tidak menunggu kita selesai berdebat tentang narasi perjuangan yang telah kita kultuskan dari Tjilik Riwut. Kebijakan yang menggerus tanah adat tidak menunggu kita selesai membuat patung beliau di setiap sudut kota atau menuliskan namanya sebagai pembuka pidato. Migrasi besar-besaran yang sedang mengubah demografi Kalimantan secara permanen tidak menunggu kita selesai mengutip semangat perjuangan yang dirumuskan di zaman yang sama sekali berbeda kondisinya.
Hal itulah yang akhirnya melahirkan dampak kerusakan nyata yang sedang terjadi sekarang ini dan kita sedang menggunakannya sebagai bahan pidato sambil terus mengacu pada satu nama yang tidak lagi punya kapasitas untuk menjawab skala dan kompleksitas masalah yang sedang kita hadapi hari ini. Alhasil, pengkultusan ini tanpa kita sadari melahirkan cara kerja yang efisien dalam mematikan nalar dan pikiran kritis kita pada era rusaknya pembangunan hari ini.
Generasi-generasi kita hari ini harusnya bisa saja mengajukan pertanyaan yang menggugat. Misalnya mempertanyakan apakah integrasi ke NKRI benar-benar menguntungkan rakyat Kalimantan dalam jangka panjang, atau mempertanyakan apakah narasi perjuangan yang selama ini dipakai masih relevan untuk kondisi hari ini. Langsung, pertanyaan itu ditangkis bukan dengan argumen yang setara, tapi dengan nama. “…Tapi Tjilik Riwut sudah memperjuangkan ini. Kamu tidak menghormati perjuangan beliau. Ini warisan yang harus kita jaga…” Pertanyaan kemudian mati. Diskusi berakhir. Bukan karena pertanyaannya terjawab, tapi karena nama itu sudah cukup untuk membungkam nalar kritis kita terhadap persoalan kita hari ini.
Ini jelas bukanlah tradisi intelektual. Ini tak ayalnya mekanisme pertahanan diri komunal yang sengaja kita rawat untuk menghindari pemikiran yang tidak nyaman. Dan yang paling absurd adalah mekanisme ini terus berjalan bahkan ketika realita di lapangan sudah begitu keras dan terang-terangan menunjukkan bahwa ada yang salah, ada yang perlu dievaluasi, ada yang perlu diubah dari akarnya bukan dari permukaannya saja. Tidak ada perubahan yang bisa terjadi selama kita masih menggunakan nama seseorang yang sudah mati sebagai perisai untuk menolak pertanyaan yang perlu dijawab dengan serius.
Persatuan Kalimantan hari ini, kalau kita ingin serius membicarakannya dan bukan sekadar menjadikannya jargon untuk dikutip di seminar dan dijadikan tema spanduk, tidak bisa dibangun di atas fondasi kultus. Kultus hanya akan menyederhanakan realitas yang sebenarnya kompleks. Kultus membuat kita merasa sudah punya jawaban padahal kita belum pernah benar-benar menghadapi pertanyaannya.
Persatuan yang nyata justru harus dimulai dari pengakuan bahwa situasinya kompleks, bahwa ada kepentingan yang saling bertentangan di antara komunitas-komunitas di Kalimantan, bahwa tidak ada satu narasi tunggal yang bisa merepresentasikan semua orang yang hidupnya bergantung pada tanah ini. Dan pengakuan seperti itu tidak bisa lahir dari komunitas yang masih sibuk memuja satu nama sebagai satu-satunya sumber keabsahan.
Persatuan Kalimantan hari ini hanya bisa berjalan jika kita berani meninggalkan pengkultusan terhadap masa lalu yang justru telah melahirkan kacaunya kondisi kita sekarang. Bukan melupakan sejarah. Sejarah tetap penting dan perlu dipelajari dengan teliti. Tapi ada perbedaan besar antara belajar dari sejarah dan menjadikan sejarah sebagai tempat persembunyian untuk menghindari tanggung jawab berpikir di masa kini.
Kita perlu merumuskan sendiri atas apa yang kita hadapi saat ini. Dengan kata-kata kita sendiri, bukan kata-kata yang dipinjam dari generasi yang persoalannya berbeda. Dengan kerangka analisis yang lahir dari realita yang sedang kita hadapi hari ini, bukan realita tahun 1950-an. Dengan keberanian untuk mengakui bahwa beberapa keputusan di masa lalu, meski dibuat dengan niat baik oleh orang yang kompeten di zamannya, menghasilkan konsekuensi buruk yang masih kita tanggung sampai sekarang dan kemungkinan besar masih akan ditanggung oleh generasi setelah kita.
Tjilik Riwut tentu dan sudah secara mutlak melakukan bagiannya. Di zamannya. Dengan cara yang beliau bisa dan dengan batas-batas yang zamannya berikan. Pertanyaannya sekarang sederhana. Sudahkah kita melakukan bagian kita?
Sadarilah bahwa selama kita masih sibuk merawat kultus terhadap beliau, maka selama nama itu masih kita pakai sebagai tameng untuk menghindari pertanyaan yang tidak nyaman, jawaban untuk pertanyaan itu sudah jelas dari jauh sebelum kita membukanya. Kita belum melakukan bagian kita. Kita masih terlalu nyaman bersembunyi di balik nama orang lain untuk menghindari kenyataan bahwa Kalimantan hari ini dalam kondisi yang rusak, dan sebagian kerusakannya dimulai dari keputusan-keputusan yang dulu kita rayakan sebagai kemenangan besar.
Editor: Dhika Marcendy
Hai, SAM ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membacanya sampai akhir.
Jika kamu suka dan mendapat sesuatu dari tulisan ini, mari kita apresiasi penulisnya dengan klik link di bawah ini:








