“Aku selalu suka sehabis hujan di bulan Desember… Di bulan Desember…”
Suara Cholil Mahmud mengalun lirih, sedikit pecah karena keluar dari sepiker laptop tuaku yang membrannya sudah robek. Lagu Desember milik Efek Rumah Kaca (ERK) itu telah berputar sebanyak sepuluh kali, menjadi mantra pengusir sepi yang justru makin mempertebal kabut di kepala.
Ironis. Cholil bernyanyi tentang pelangi yang setia menunggu hujan reda. Tentang harapan yang memulihkan luka. Namun, realitas yang kuhadapi malam ini jauh dari puitis. Di sini, di balik jendela nako yang berdebu, hujan tidak turun sebagai janji pemulihan. Ia turun sebagai kutukan.
Langit Yogyakarta malam ini tampak seperti kain kafan raksasa yang membungkus kota dengan warna abu-abu. Air langit itu jatuh menghunjam aspal, menciptakan orkestra kegaduhan yang menenggelamkan suara lonceng gereja di kejauhan, juga menenggelamkan elegi yang sedang kunyanyikan dalam hati.
Pukul sembilan malam. Ini adalah malam Natal.
Di belahan bumi lain, atau setidaknya di kafe-kafe Jalan Kaliurang yang lampunya berpendar hangat, orang-orang mungkin sedang merasakan “pelangi” seperti di lagu itu. Mereka memasak daging babi—atau setidaknya ayam bakar utuh—bertukar kado dengan kertas bungkus mengilap, dan tertawa dengan mulut penuh kebahagiaan.
Tapi di sini, di kamar kos ukuran tiga kali tiga meter yang lembap ini, lirik “sampai hujan memulihkan luka” terdengar seperti lelucon satir. Perayaan hanyalah sebuah eufemisme untuk kesepian yang memperkosa kewarasan.
Namaku Banyu. Dan seperti namanya, hidupku hanya mengalir ke tempat yang makin rendah, makin keruh, hingga berakhir di genangan yang tak seorang pun sudi meliriknya.
Aku duduk bersila di atas kasur busa tipis yang seprainya sudah sebulan tak kuganti. Di hadapanku, laptop tua itu—selain memutar lagu ERK—sedang berjuang mendinginkan dirinya. Kipas pendinginnya menderu-deru seperti mesin traktor yang kelelahan, memuntahkan hawa panas ke wajahku, bersaing dengan hawa dingin dari luar. Layarnya menampilkan dokumen Microsoft Word yang kursornya berkedip-kedip. Seperti detak jantung orang yang sedang koma.
SKRIPSI_BAB_4_REVISI_FINAL_BANGET_BISMILLAHCOK.docx.
Judul file itu tampak seperti lelucon yang paling tidak lucu yang pernah kubuat. Sudah enam bulan kursor itu tertahan di paragraf yang sama. Kalimat-kalimat akademis tentang “dekonstruksi sosial” dan “alienasi masyarakat urban” terasa begitu hambar. Betapa ironisnya. Aku sedang menulis skripsi tentang keterasingan manusia modern, sementara aku sendiri adalah monumen hidup dari keterasingan itu.
Perutku berbunyi, memecah syahdu lagu yang mulai masuk ke bagian outro. Suara gurgling yang memalukan. Makan malamku tadi hanyalah sebungkus mi instan yang kuah rebusannya kuminum sampai tandas demi menipu lambung. Di rak kayu reyot di sudut kamar, hanya tersisa tumpukan buku referensi pinjaman perpustakaan dan satu saset kopi instan yang sudah mengeras karena lembap.
Aku melirik ponsel pintar butut di samping bantal. Layarnya retak seribu, seperti nasibku. Tidak ada pemberitahuan. Tidak ada ucapan “Selamat Natal”. Tidak ada ajakan “Ayo keluar, Nyu”.
Teman-teman seangkatanku? Ah, mereka sudah punya orbit sendiri. Rio sedang pamer foto liburan di Bali bersama pacarnya di Instagram Story. Siska baru saja mengunggah foto cincin tunangan. Dan Aris, kawan seperjuangan saat ospek dulu, kini sudah bekerja di perusahaan start-up unicorn dan sering mentraktir kami—dulu, sebelum aku mulai menarik diri karena malu.
Kemiskinan bukan hanya soal tidak punya uang. Kemiskinan adalah tembok kaca. Kau bisa melihat dunia di luar sana bergerak, tertawa, dan bercahaya, tapi kau tak bisa menyentuhnya. Suaramu tak terdengar. Kau menjadi hantu di keramaian.
Aku teringat percakapan terakhir dengan Rio seminggu lalu.
“Nyu, Natalan ikut kumpul yuk di game cafe. Patungan lima puluh ribu doang, kok.”
“Nggak bisa, Yo. Aku lagi dikejar deadline Bab 4. Dosen pembimbingku galak.”
Itu bohong. Dosen pembimbingku bahkan sudah lupa namaku karena aku tak bimbingan selama dua bulan. Aku tidak ikut bukan karena sibuk. Aku tidak ikut karena lima puluh ribu rupiah adalah nyawaku untuk bertahan hidup seminggu ke depan.
Aku bangkit, berjalan dua langkah—hanya itu jarak yang bisa ditempuh di kamar ini—menuju jendela. Di seberang jalan, sebuah gereja kecil berdiri. Lampu-lampu hias warna-warni melilit pohon cemara di halamannya. Terdengar samar-samar nyanyian “Malam Kudus” yang kini beradu dengan sisa lagu ERK yang masih berputar.
“Malam kudus, sunyi senyap…” berbaur dengan “Selalu ada yang bernyanyi dan berelegi…”
Lagu itu melempar ingatanku, menarikku paksa kembali ke sebuah rumah kayu di pinggiran Klaten. Rumah simbah.
Ingatan itu datang dengan ketajaman visual yang menyakitkan. Aku melihat simbah duduk di kursi rotan kesayangannya. Tubuhnya ringkih, kulitnya keriput seperti peta jalanan tua, dan rambutnya seputih kapas. Matanya yang sudah rabun menatapku dengan binar kebanggaan yang tak pernah pudar, bahkan ketika aku pulang dengan tangan kosong.
“Le, Banyu…” suara Simbah serak, bergetar. “Kapan kamu wisuda?”
Pertanyaan itu. Pertanyaan yang lebih menakutkan daripada pertanyaan malaikat maut.
“Sebentar lagi, Mbah. Doakan Banyu, ya,” jawabku waktu itu, setahun yang lalu. Kebohongan demi kebohongan kutumpuk untuk menjaga senyum di wajah keriput itu.
Simbah adalah satu-satunya alasan aku masih bertahan di kota jahanam ini. Bapak hanya buruh serabutan yang penghasilannya habis untuk bayar utang. Ibu sudah lama sakit-sakitan. Simbahlah yang dulu diam-diam menyelipkan uang dua puluh ribu rupiah yang sudah lusuh dan bau apek bercampur balsem ke dalam saku celanaku saat aku hendak berangkat merantau.
“Untuk beli es teh di jalan, Le,” bisiknya waktu itu. Uang itu masih kusimpan di dompet, tak pernah kubelanjakan, menjadi jimat keberuntungan yang kini tampaknya sudah kehilangan tuahnya.
Tiba-tiba, rasa rindu itu menghantamku seperti pukulan palu godam di ulu hati. Aku ingin pulang. Ya Tuhan, aku ingin pulang. Aku ingin mencium bau balsem yang selalu menguar dari daster simbah. Aku ingin duduk di lantai tanah rumahnya, mendengarkan dongeng tentang masa penjajahan Jepang yang sudah diulangnya seribu kali.
Tapi tiket bus melonjak tiga kali lipat. Dan di saku celanaku sekarang hanya ada uang receh seribu perak dan selembar dua ribu. Pulang adalah kemewahan yang tak terjangkau.
Aku kembali duduk di depan laptop. Layar putih itu menyilaukan, menyakitkan mata. Lagu ERK sudah berhenti, berganti hening yang mencekam. Air mata—sialan, kenapa aku cengeng sekali—mulai menggenang di pelupuk mata.
Di luar, kembang api mulai meletus satu-dua. Darr! Darr! Percikan warnanya mungkin indah bagi mereka yang melihatnya dari rooftop hotel. Bagiku, itu terdengar seperti suara tembakan eksekusi. Setiap letusan menandai satu tahun lagi aku gagal. Satu tahun lagi aku menjadi beban keluarga. Satu tahun lagi aku membohongi Simbah.
Tiba-tiba, ponselku bergetar. Panjang.
Bukan pemberitahuan WhatsApp. Ini panggilan telepon.
Jantungku berhenti berdetak sesaat. Siapa yang menelepon di malam Natal pukul sepuluh malam? Penagih pinjol?
Aku meraih ponsel itu dengan tangan gemetar. Nama di layar membuat darahku surut dari wajah.
***
Perasaanku tidak enak. Firasat buruk menyergapku seperti angin dingin yang masuk lewat celah pintu. Biasanya bapak hanya mengirim SMS singkat karena hemat pulsa. Menelepon adalah perkara darurat.
Aku menggeser tombol hijau.
“Halo, Pak?” suaraku parau, kering karena seharian tak bicara dengan manusia.
Hening sejenak. Hanya ada suara desah napas berat dan kresek-kresek sinyal yang buruk. Di latar belakang, aku mendengar suara orang mengaji. Tidak, itu suara tangisan.
“Banyu..”
Suara Bapak. Pecah. Hancur. Seperti kaca yang dibanting ke lantai batu.
“Iya, Pak. Banyu di sini. Ada apa, Pak?” Aku mencengkeram pinggiran kasur busa sampai kuku-kukuku memutih.
“Simbah, Le…”
Duniaku berhenti berputar. Hujan di luar seolah dimute. Deru laptopku lenyap. Hanya ada suara bapak yang tersendat-sendat di ujung sana.
“Simbah kenapa, Pak?” teriakku, meski aku tahu jawabannya. Aku tahu, tapi aku menolak menerimanya.
“Simbah sudah nggak ada, Le. Barusan. Pas lonceng gereja bunyi…”
Deg.
Tidak ada ledakan emosi yang dramatis seperti di sinetron. Yang ada hanyalah kehampaan. Lubang hitam raksasa tiba-tiba terbuka di dadaku, menyedot semua oksigen, semua harapan, semua sisa kewarasanku.
Simbah pergi.
Simbah pergi saat aku sedang meratapi nasib di kamar kos busuk ini. Simbah pergi saat aku bahkan belum sempat membelikannya kain batik yang pernah kujanjikan tiga tahun lalu. Simbah pergi membawa serta janji wisudaku yang belum lunas.
“Pak… Bapak jangan bercanda, Pak…” Air mataku tumpah, deras, tanpa permisi.
“Bapak nggak bercanda, Le. Simbah sedo (meninggal) dengan tenang banget. Cuma…” suara Bapak tertahan isak tangis yang coba ia redam. Laki-laki tua yang keras itu menangis. Itu adalah suara paling menyakitkan di dunia. “Cuma tadi… sebelum napas terakhir, Simbah nyebut namamu, Le.”
“Mbah…” rintihku. “Maafin Banyu, Mbah…”
“Kamu bisa pulang, Le? Pemakaman besok siang. Emakmu pingsan terus dari tadi. Bapak…”
Tut.. Tut.. Tut..
Sambungan terputus.
Aku menatap layar ponsel dengan nanar. “Halo? Halo, Pak?! Pak!”
Hening.
Aku mencoba menelepon balik. Jari-jariku yang basah oleh keringat dingin menekan tombol panggil dengan panik.
“Maaf, sisa pulsa Anda tidak mencukupi untuk melakukan panggilan ini. Silakan lakukan pengisian ulang…”
Suara operator wanita yang datar dan sopan itu terdengar seperti vonis hakim yang paling kejam.
“Bajingan!!”
Aku membanting ponselku ke kasur. Aku berteriak. Berteriak sekencang-kencangnya. Tapi suaraku tertelan oleh dinding kamar yang lembap, tertelan oleh suara hujan yang makin gila di luar sana.
Aku merogoh saku, dompet, laci meja, tas ransel. Mencari recehan. Mencari keajaiban. Tujuh ribu rupiah. Total kekayaanku hanya tujuh ribu rupiah. Konter pulsa terdekat berjarak satu kilometer dan hujan sedang badai. Dan kalaupun aku punya pulsa, aku tak punya uang untuk tiket bus.
Aku terjebak.
Aku terpenjara dalam kemiskinan ini. Di saat paling krusial dalam hidupku, di saat aku harus mendengar suara bapak, di saat aku harus mengucapkan selamat jalan pada simbah, kemiskinan datang mencekik leherku, memutus kabel telepon, menutup jalan raya.
Aku merosot ke lantai dingin. Memeluk lutut. Menangis.
Bukan menangis yang cantik dengan air mata meleleh di pipi. Ini menangis yang jelek. Menangis menderu-deru. Ingus meleleh, napas tersengal, dada sesak seperti dipukul godam. Aku meraung seperti binatang yang terluka.
“Maafin Banyu, Mbah… Banyu anak nggak guna… Banyu cucu durhaka…”
Aku memukul-mukul kepalaku sendiri. Menghukum diriku atas ketidakberdayaan ini.
Di luar, suara kembang api menyahut lagi. Darr! Darr! Orang-orang merayakan Natal. Orang-orang menyambut kelahiran. Sementara di sini, aku merayakan kematian.
Tuhan, inikah humor-Mu? Mengambil satu-satunya orang yang percaya padaku di malam yang katanya penuh kasih? Apakah sinyal telepon juga memilih kasih? Apakah doa orang miskin jalannya lebih lambat sampai ke langit karena tidak punya kuota data prioritas?
Aku membayangkan jenazah Simbah yang terbujur kaku di balai-balai bambu. Di sekelilingnya pasti ada tetangga yang membacakan Yasin. Bau kemenyan. Bau bunga sedap malam. Dan aku tidak ada di sana. Aku di sini, dipeluk oleh bau apek kamar kos dan sampah mi instan.
Aku membayangkan bapak yang kebingungan mencari pinjaman untuk biaya pemakaman. Emak yang siuman lalu pingsan lagi memanggil namaku. Dan aku tidak ada di sana untuk memijat kaki emak atau menenangkan bapak.
Aku sampah. Ijazah sarjana, IPK tinggi, organisasi kampus, semuanya sampah. Tidak ada gunanya kalau aku tidak bisa membeli tiket pulang untuk mengantar simbah ke liang lahat.
Satu jam berlalu. Atau mungkin satu abad. Aku tidak tahu.
Tangisku sudah kering. Mataku bengkak dan perih. Aku duduk bersandar di kaki meja, menatap kosong ke arah laptop yang kini layarnya sudah gelap karena sleep mode.
Ponselku bergetar pendek. Sekali.
Aku tidak ingin melihatnya. Tapi ada secercah harapan bodoh bahwa itu transferan gaib atau keajaiban Natal.
Aku meraih ponsel itu. Layarnya menyala redup.
Satu pesan baru. SMS. Dari Emak. (Mungkin meminjam ponsel tetangga atau ponsel bapak yang baru diisi pulsa lima ribu rupiah).
Aku membukanya dengan tangan gemetar.
“Le, sing sabar ya. Bapak wis cerita kabeh (Bapak sudah cerita semua). Ora usah meksa mulih nek ora ono duwit (Tidak usah maksa pulang kalau tidak ada uang). Donga wae saka kana (Berdoa saja dari sana).”
“Simbah pesen, sakdurunge nutup mata mau: ‘Kandani Banyu, rampungke kuliah e. Ojo mulih nek durung dadi wong. Simbah pengen banget weruh Banyu nganggo toga. Tapi Simbah wis kesel (lelah). Simbah nunggu ning suwarga wae. Simbah wis seneng.’ (Bilangin Banyu, selesaikan kuliahnya. Jangan pulang kalau belum menjadi orang. Simbah ingin sekali lihat Banyu memakai toga. Tapi Simbah sudah lelah. Simbah nunggu di surga saja. Simbah sudah senang).”
“Wis ya Le (Sudah ya Le). Sing kuat (Yang kuat). Emak sayang Banyu.”
Aku membaca pesan itu berulang-ulang. Mengeja setiap hurufnya. Meresapi setiap spasi.
Ojo mulih nek durung dadi wong. Jangan pulang kalau belum jadi orang.
Pesan itu bukan sekadar kata-kata. Itu adalah cambuk. Itu adalah wasiat. Simbah, dalam detik-detik terakhirnya, tidak memintaku pulang untuk menangis di samping jasadnya. Dia memintaku bertahan. Dia memintaku menyelesaikan apa yang sudah kumulai.
Dia tahu. Dia tahu aku miskin. Dia tahu aku kesulitan. Dan dia membebaskanku dari rasa bersalah karena tidak bisa pulang. Dia memilih “pergi” agar aku tidak perlu membuang uang skripsiku untuk biaya tiket.
Pengorbanan macam apa ini? Cinta macam apa yang begitu menyakitkan?
Aku mendekap ponsel itu ke dada. Mencium layar retaknya seolah itu adalah tangan simbah. Tangisku pecah lagi, tapi kali ini bukan tangis keputusasaan. Ini tangis ikrar. Tangis janji darah.
“Banyu janji, Mbah…” bisikku pada kekosongan kamar. “Banyu bakal jadi orang. Banyu bakal selesaikan ini.”
Aku bangkit. Dengan sisa tenaga yang ada, aku berjalan ke kamar mandi, membasuh wajahku yang berantakan. Air dingin menyadarkanku. Aku kembali duduk di depan laptop.
Aku menekan tombol enter. Layar menyala. Kursor itu masih berkedip di sana. Menunggu.
Aku meletakkan jari-jariku di atas papan ketik. Jemariku masih gemetar, tapi ada api baru yang menyala di ujung-ujungnya. Api yang dibakar oleh rasa kehilangan dan dendam pada kemiskinan.
Malam itu, ditemani gema lagu Natal dari gereja seberang dan bayang-bayang wajah Simbah yang tersenyum, aku menulis. Aku menulis seperti orang kesurupan. Aku menumpahkan semua kemarahan, semua kesedihan, semua analisisku tentang dunia yang tidak adil ini ke dalam bab-bab skripsiku.
Aku tidak sendirian lagi. Ada Simbah yang duduk di sudut kamar, mengawasiku, menunggu di garis finis.
***
Setahun kemudian. Natal.
Kompleks Pemakaman Umum Desa Karangkono.
Rumput-rumput liar masih basah sisa hujan semalam. Langit mendung, tapi ada seberkas cahaya matahari sore yang menerobos awan, jatuh tepat di atas sebuah gundukan tanah yang nisannya masih terbuat dari kayu sederhana.
Seorang pemuda berdiri di sana. Tubuhnya kurus, tapi matanya tajam. Ia mengenakan kemeja batik yang agak kebesaran—batik lama milik bapaknya.
Di tangannya, ia tidak memegang bunga tabur. Ia memegang sebuah tabung selongsong berlapis beludru hitam berlogo universitas. Dan di kepalanya, bertengger sebuah topi toga dengan tali kuncir yang menjuntai di sisi kanan.
Banyu.
Ia berlutut. Celana kain hitamnya kotor terkena tanah lempung, tapi ia tak peduli. Ia meletakkan toga itu di atas nisan kayu yang bertuliskan nama simbahnya.
“Mbah…” suaranya bergetar, tapi tidak parau. Suara yang sudah berdamai dengan lukanya.
“Banyu pulang, Mbah.”
Angin sore berhembus pelan, menggoyangkan daun-daun kamboja. Suasana begitu sunyi, jauh dari hingar-bingar kota yang dulu hampir membunuhnya.
“Banyu sudah lulus, Mbah. Cum Laude,” ucapnya lirih, seolah sedang melaporkan hasil panen pada juragan tanah. “Sesuai pesan simbah. Banyu nggak pulang sebelum jadi sarjana.”
Ia mengusap nisan kayu yang kasar itu. Serat-serat kayunya mengingatkannya pada tangan Simbah.
“Tapi, Mbah…” pertahanannya runtuh. Setitik air mata jatuh ke tanah makam. “Rasanya sepi banget, Mbah. Gelar ini… toga ini…”
Ia terisak pelan.
“Buat apa Banyu jadi sarjana kalau simbah nggak ada buat liat Banyu pakai ini? Siapa yang bakal menepuk punggung Banyu dan bilang ‘Le, pintar’? Siapa, Mbah?”
Banyu menunduk, mencium nisan kayu itu lama sekali. Membiarkan air matanya menyirami tanah tempat orang yang paling dicintainya beristirahat.
Ia telah memenangkan pertarungan melawan skripsi, melawan kemiskinan kota, melawan egonya sendiri. Tapi di sini, di hadapan gundukan tanah bisu ini, ia menyadari satu hal yang paling miris.
Kemenangan ini terasa hampa. Seperti kotak kado Natal yang indah, tapi kosong melompong di dalamnya.
Ia telah menjadi “orang”, seperti yang dipinta simbah. Tapi ia adalah orang yang kehilangan separuh jiwanya.
Di kejauhan, lonceng gereja desa berdentang. Teng… Teng… Teng…
Banyu mengangkat kepalanya, menatap langit kelabu. Ia tersenyum getir.
“Selamat Natal, Mbah. Hadiah Banyu cuma ini.”
Ia meninggalkan toganya di atas makam. Biarlah Simbah yang memakainya. Ia berjalan pulang menembus gerimis, sendirian, diiringi suara langkah kakinya sendiri yang terdengar begitu hening di dunia yang terlalu bising ini.
Yogyakarta, 25 Desember 2025
Editor: Farras Pradana
Hai, SAM ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membacanya sampai akhir.
Jika kamu suka dan mendapat sesuatu dari tulisan ini, mari kita apresiasi penulisnya dengan klik link di bawah ini:








