YOGYAKARTA — Bertempat di Lapangan Beran Sleman, lapangan bekas pabrik gula, orang-orang berkumpul dan duduk melingkar di tengah-tengah lumpang—alat tumbuk tradisional yang terbuat dari batu, untuk berbagi cerita dan pengetahuan dalam rangkaian Festival Kebudayaan Yogyakarta 2026 pada Kamis, 17 September. Di tengah lingkaran, kelompok yang menamakan diri sebagai Laboratorium Sedusun menggelar kegiatan Rujakan ala Gunungkidulan sebagai bagian dari aktivasi Kabupaten Gunungkidul dalam Festival Kebudayaan Yogyakarta tahun ini.
Laboratorium Sedusun merupakan komunitas lokal yang berupaya mengenali kembali akar diri melalui pengetahuan-pengetahuan yang tumbuh dari lingkungan sekitar mereka, seperti kegiatan rujakan bersama ini.
“Ini jadi kebiasaan warga Gunungkidul, rujak(an) itu jadi perekat warga. Metode ini oke banget untuk ngumpulin warga, untuk bisa ngobrol bareng,” tutur Ida saat diwawancarai di tempat kegiatan.
Rujakan dibuka dengan memperkenalkan dua jenis rujak khas Gunungkidul, yakni Rujak Bebeg dan Rujak Babal. Bahan-bahan yang digunakan cukup berbeda dari rujak pada umumnya, yaitu ada jambu mete, gori—nangka muda, daun pepaya, singkong mentah, serta bumbu rujak yang dicampur dengan terasi.
Pengetahuan mengenai pangan lokal tersebut, juga dijelaskan dalam zine kecil yang mereka bagikan di sela-sela rujakan. Zine sederhana itu dinamai Sela Boga. Sebuah zine pangan yang disusun oleh Laboratorium Sedusun untuk mendokumentasikan dan mengarsipkan resep warisan lokal Gunungkidul.
“Sela Boga itu sebetulnya jadi kaya section-nya Sedusun untuk membahas tentang pangan. Ya, jadi kita pengen ngebahas pangan itu section-nya di Sela Boga,” ucap Ida.
Bagi Laboratorium Sedusun, rujakan tidak berhenti pada aktivitas makan bersama saja. Lingkaran ini membentuk ruang untuk mempertemukan orang-orang, bertukar cerita, sekaligus berbagi pengetahuan tentang pangan di sekitar mereka.
“Apa yang ada di dusun itu coba kami replikasi dan kami bawa ke sini konsepnya—ngerujak bareng sambil ngobrol,” jelas Ida.
Saat rujakan berlangsung, para pengunjung mulai mencicipi Rujak Bebeg dan Babal. Bahan-bahan yang tidak biasa untuk dirujak justru menjadi pengalaman baru bagi mereka yang hadir sore itu.
“Enggak nyangka aja, karena tadi kan pakai daun pepaya, rasanya kok enggak pahit. Terus pakai singkong mentah, kok bisa ya? Ternyata bisa dimakan secara mentah,” tutur Anya, salah satu pengunjung Festival Kebudayaan Yogyakarta yang turut mencicipi panganan khas Gunungkidul tersebut.
Melalui kegiatan ini, Laboratorium Sedusun tidak hanya mengajak mengenal kembali apa yang ada di sekitar mereka, tetapi juga melahirkan ruang untuk bertemu dan bertukar pengetahuan. Dari dusun, pengetahuan itu dibawa ke ruang publik untuk kembali dibicarakan dan dialami bersama.
Editor: Benediktus Fatubun
Hai, SAM ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membacanya sampai akhir.
Jika kamu suka dan mendapat sesuatu dari tulisan ini, mari kita apresiasi penulisnya dengan klik link di bawah ini:








