Hati-hati dalam berucap karena bisa menjadi kenyataan. Begitu kata-kata bijak yang kerap kita dengar dan ternyata benar adanya. Setidaknya, bagi saya. Dua tahun lalu sewaktu membaca novel Saga dari Samudra, saya menyebut Ratih Kumala sebagai penulis merangkap pendongeng lantaran gaya penceritaannya seperti sedang mendongeng di hadapan pembaca. Tak menyana tahun ini ucapan dan bayangan saya kala itu mewujud. Ratih betul-betul menjadi pendongeng tulen dengan menerbitkan fabel berjudul Koloni. Meski terilhami dengan Animal Farm karya George Orwell yang amat ia suka, lewat novel ini Ratih menyuguhkan isu sosial politik lain dan lebih kompleks dari Orwell. Dongengnya memotret pertentangan politik di satu koloni semut yang terbelah menjadi dua kubu, dan keterkaitan antara ambisi, eksistensi, tradisi.
Dalam novelnya, Orwell mempertontonkan pemberontakan para binatang terhadap manusia yang semena-mena demi merebut peternakan dan hak-hak mereka, sedangkan Ratih mempertunjukkan perebutan kuasa antarsemut ratu dengan segala intriknya. Selain itu, manusia dihadirkan sepintas lalu sebagai makhluk hidup yang tak berbeda dengan semut. Menariknya, bagi semut, aroma manusia menjijikkan. Ratih membuka dongengnya dengan kemalangan semut ratu muda bernama Darojak. Kehidupannya yang damai berubah drastis setelah kiamat meluluhlantakkan semua saudara beserta koloninya. Ia menjadi satu-satunya semut yang sukses menyelamatkan diri. Namun, takdir tidak mengizinkannya bernapas dengan lega barang sejenak. Hidupnya kian suram dan tak menentu. Lepas dari tahanan ia dihadapkan dengan kesulitan-kesulitan baru.
Adalah Mak Momong, semut pengasuh tua merangkap Kepala Departemen Pengasuhan dan Perawatan, yang menjadi pelindung sekaligus pengasuh Darojak. Di bawah asuhannya Darojak menjadi semut ratu pemberani yang tak kenal menyerah. Ia kerap diingatkan akan tugas dan identitasnya sebagai semut ratu. Ratu Gegana, ratu penguasa koloni yang menolak turun takhta dan tidak mengizinkan anak-anaknya kawin terbang dengan semut ratu dari koloni berbeda, amat tidak senang dengan keberadaan Darojak dan melakukan beragam cara untuk mengusirnya. Perjuangan berat Darojak untuk mempertahankan kelangsungan koloni tampak dari hal-hal yang dialaminya. Tak terkecuali percekcokan dan perebutan kekuasaan dengan Ratu Gegana. Mampukah Darojak bertahan serta menuntaskan tugasnya sebagai semut ratu dan menjadi ratu semut alfa?
Selama menyelisik dunia semut rekaan Ratih dan menyimak obrolan-obrolan tentang buku Koloni, saya mendapati kesadaran akan kehidupan semut yang ternyata tidak jauh berbeda dengan manusia. Lewat novel yang sedang diterjemahkan ke bahasa Inggris ini Ratih dengan gamblang memperlihatkan betapa ambisi, eksistensi, dan tradisi mampu mengguncang bukan cuma koloni, tetapi juga semut itu sendiri. Ambisi Mak Momong, Ratu Gegana, dan Darojak sekilas terlihat wajar lantaran sudah menjadi tugas semut ratu menjaga kelangsungan koloni. Namun, ambisi ketiganya secara tak langsung berimbas negatif bagi semut lain. Ambisi Mak Momong membentuk dan memimpin sebuah megakoloni tampak dari hal-hal yang ia lakukan kepada Darojak. Imbasnya, Darojak meniru apa yang dilakukan Mak Momong meski tidak persis sama terhadap anaknya, Jantung Hati dan Hari Bahagia, serta membawa dampak negatif bagi keduanya.
Lain Mak Momong, lain pula Ratu Gegana dan Darojak. Ambisi Ratu Gegana jelas paling besar dan kelihatan otoriter. Ia tidak mau ada pemimpin lain dan menghalalkan segala cara untuk menjadi ratu semut alfa. Tidak peduli lawannya sedarah ataupun dari koloni asing. Baginya, “’Hanya boleh ada satu ratu di koloni ini, dan itu adalah aku!’” (Halaman 87) Terimbas asuhan Mak Momong, Darojak seakan-akan hendak meneruskan ambisinya. Bedanya, ia tetap memikirkan koloni yang sudah terbangun dan pilihan yang diambil pun semata-mata demi melindungi Jantung Hati dan Hari Bahagia. Namun, keputusan Darojak justru menghasilkan diskriminasi, ketimpangan, perselisihan, dan kecemburuan di antara kedua anaknya. Ketiganya membuktikan bahwa memiliki ambisi tidak selamanya baik, serta mempunyai ambisi tanpa dibarengi kesadaran akan batas bisa menghancurkan diri sendiri dan orang lain.
Lain dari itu, saya melihat tugas para semut bertalian dengan eksistensi. Misalnya, dapat dilihat dari kegelisahan dan keputusasaan yang dialami Sunar akan eksistensinya sebagai semut jantan. Ia cemas tidak bisa memenuhi tugasnya sebab Ratu Gegana tidak juga menelurkan semut ratu, “’Lantas kenapa seumur hidup aku tak pernah punya kesempatan untuk melaksanakan tugasku?’” (Halaman 110) Salah satu hal yang paling menarik perhatian saya dari novel ini adalah prinsip yang kerap disebut dan dipegang teguh oleh Mak Momong, “Semut untuk koloni, koloni untuk semut.” Prinsipnya tampak seperti prinsip yang baik serta menunjukkan kesetiaan dan pengorbanan. Akan tetapi, sejatinya prinsip yang ia wariskan kepada Darojak, lalu Darojak kepada Jantung Hati dan Hari Bahagia itu telah berganti menjadi serupa tradisi yang mengekang lantaran dalam penerapannya melalaikan perasaan, kesanggupan, dan keinginan mereka.
Kekhasan yang Ajek
Ratih tidak keluar dan konsisten dengan kegemarannya mengeksplorasi dan menyatukan beragam tema dan genre dalam karya-karyanya. Koloni sendiri merupakan fabel perdananya yang mengambil tema pokok politik berbumbu fiksi sejarah dengan selipan laga. Selipan adegan perkelahian antarsemut ratu dan pertikaian sengit Ratu Gegana, Darojak, dan Mak Momong menghadapi Kumbang Penyamar membikin fabel ini terasa seperti cerita laga dan mengembalikan kegembiraan saya saat membaca novel laga Saga dari Samudra. Saya belum pernah melihat semut ratu bertarung, tetapi rasanya seperti melihat dengan mata kepala sendiri. Senang hati saya menikmati sajian aksi laga dari Ratih yang betul-betul bernyawa. Seperti pada novel sebelumnya, aksi laganya memang singkat. Namun, porsinya tepat dan mampu membikin saya ternganga sekaligus terpikat.
Kepiawaian Ratih mendeskripsikan latar, adegan, karakter, dan hal-hal kecil dengan amat mendetail belum pernah gagal membikin saya takjub. Ihwal detail ini kadang mengundang sosok di balik kumcer Senyum Karyamin, Ahmad Tohari, dalam benak saya. Baik Ahmad maupun Ratih sama-sama gemar memanjakan imajinasi pembaca. Saking detail kita pasti langsung hanyut dan terasa sungguh-sungguh berada di dunia ciptaan Ahmad. Begitu pun dengan dunia semut ciptaan Ratih. Saya bisa dengan terang membayangkan betapa sengit pertarungan antara Ratu Gegana dan Mak Momong maupun Ratu Gegana dan Ratu Darojak dalam memperebutkan kuasa dan menjadi ratu semut alfa, serta pertikaian Darojak, Mak Momong, dan Ratu Gegana dalam melawan Kumbang Penyamar. Seolah-olah saya menjelma sebagai semut pekerja yang menyaksikan pertarungannya secara kasatmata.
Kekhasan Ratih perihal detail tak bisa lepas dari riset mendalam, dan hasilnya kelihatan jelas dari awal hingga akhir cerita; dari tugas dan cara semut berkomunikasi hingga kawin terbang. Sebagai alegori bermuatan kritik, Ratih cukup berhasil memotret peristiwa politik di dunia nyata ke dalam dongeng meski pada beberapa bab terakhir saya mendapati perpindahan alur yang terasa mendadak maupun kemunculan karakter baru dalam waktu singkat. Alih-alih keanehan dan ketergesa-gesaan, saya memandangnya sebagai potret yang wajar dari masa hidup semut api yang bervariasi tergantung kelas. Mengutip kata Ratih saat live streaming di Detik Sore (13/11/25), “Semakin besar ukuran semut, umur mereka akan semakin panjang, tapi yang paling panjang adalah semut ratu. Umurnya bisa sampai 20, 25 tahun.” Hal tersebut bisa pula dipandang sebagai pelambangan kejadian saat pejabat pemerintahan daerah langsung memegang jabatan sebagai pejabat eksekutif.
Kekhasan yang ajek lainnya bisa dilihat dari karakter-karakter yang dihapus dan tidak tertebak. Dalam novel-novelnya, Ratih suka memberi kita kejutan lewat karakter yang tiba-tiba lenyap. Entah itu karakter utama, karakter pendukung, ataupun karakter kunci, kita hanya bisa pasrah dan menerima dengan tabah. Jelas sekali Ratih enggan membiarkan pembaca jemu dan menerka dengan mudah sekalipun kita mafhum akan kekhasannya ini. Sebut saja Pak Raja yang sekarat di novel Gadis Kretek. Sejak awal kita tahu pasti Pak Raja akan mati, tapi nyatanya kejutan dari Ratih tidak berhenti sampai di situ. Pak Raja bukan satu-satunya karakter yang dihapus. Kekhasan ini baru saya sadari selepas menikmati novel Koloni. Di novel ini pun sama, karakter yang “dibunuh” tidak cuma satu. Bedanya, sedikit mudah tertebak lantaran berhubungan dengan tugas semut.
Serupa dengan novel Saga dari Samudra, dalam novel ini Ratih sesekali mengadakan interaksi dengan pembaca. Dalam beberapa adegan ia mengajukan pertanyaan-pertanyaan—yang seakan-akan hendak menguji ingatan dan memantik rasa penasaran sekaligus menjaga fokus perhatian pembaca. Pada satu adegan ia menyuruh kita menebak hal terkait tokoh. Kali lain menyodorkan cerita kejadian yang melegenda dan kisah hidup tokohnya. Misalnya, pertanyaan pada halaman 176, “…baru kali ini seekor semut yang mati diantar oleh seisi koloni—semua, kecuali satu (bisa kau tebak siapa?)” Interaksi-interaksi itu tampak seperti penegasan bahwa di novel ini Ratih adalah pendongeng benaran. Di lain sisi, keserupaan gaya penceritaannya niscaya bukan kebaruan serta tak ubahnya pertukaran bentuk dan penggambaran yang lebih terang dari novel sebelumnya.
Fabel yang lahir dari kegelisahan Ratih terhadap kondisi Indonesia dan kegemasannya terhadap pemerintah menjadikan Koloni sebagai buku yang kiranya dapat membantu menanggalkan pikiran dan perasaan pembaca yang terpendam. Sejarah masa kini yang ia tampilkan pun bisa terbayangkan dengan mudah tanpa perlu bersusah payah berimajinasi. Terutama bagi pembaca yang mengikuti peristiwa politik satu tahun ke belakang. Kalau Darojak terhantam kiamat, saya terhanyut dalam kegembiraan dan kepuasan yang langka dari menyelami dongengnya. Bagi penggemar dongeng seperti saya, apalagi memiliki interes terhadap buku-buku bertema politik, fabel Koloni bisa menjadi bacaan yang menghibur dan jembatan untuk mulai (mencoba) menaruh perhatian terhadap situasi politik di Indonesia.
*Ulasan novel berjudul Koloni karya Ratih Kumala (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2025)
Editor: Patricius Sulistya Eka Apira Yogayudha
Hai, suka pada tulisan ini?
Kami paham, kehidupan yang menyebalkan sekarang sering membuat kita tak punya waktu untuk menulis, meski banyak kenyataan yang membuat kita berpikir dan bahkan yakin bahwa penderitaan ini sama pula dampaknya. Maka, mari biasakan untuk berterima kasih pada mereka yang telah meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk menuliskan keresahan serta kekecewaan kita. Dengan cara apa? Sederhana. Berilah apresiasi pada kerja-kerja sunyi mereka lewat link di bawah ini.








