…
Sekarang matahari semakin tinggi.
Lalu akan bertahta juga di puncak kepala.
Dan di dalam udara yang panas kita juga bertanya:
Kita ini dididik untuk memihak yang mana?
Ilmu-ilmu yang diajarkan di sini
akan menjadi alat pembebasan,
ataukah alat penindasan?
Sebentar lagi matahari akan tenggelam
…
“Sajak Pertemuan Mahasiswa” oleh W. S. Rendra (1977)
Gegap Gempita yang Sunyi
Ada sesuatu yang janggal dalam dunia ilmu pengetahuan kita selama satu dekade terakhir. Kampus-kampus semakin ramai dengan kegiatan seminar, jurnal dan artikel akademik semakin gemuk, dan dunia kampus merasa bangga menyebut angka ribuan publikasi yang terindeks SINTA, Scopus, atau WoS. Seluruh energi dan sumber daya seolah dikumpulkan untuk mendapatkan pengakuan formal dari sistem metrik global.
Di permukaan, semua terlihat menjanjikan. Dunia akademik tampak hidup, produktif, dan sibuk. Namun di tengah gegap gempita itu, kehidupan nyata di luar tembok kampus tak banyak berubah. Kemiskinan tetap merajalela, petani tetap kalah dalam rantai distribusi, nelayan tetap terjepit harga solar, lingkungan tetap rusak, dan pendidikan tetap terjebak dalam jargon-jargon kosong. Terdapat jurang yang menganga antara produksi teks akademik dan transformasi sosial.
Ilmu pengetahuan tampak terkurung dalam kesendiriannya: ia sibuk memproduksi teks, tapi gagal menyentuh realitas, miskin makna, dan miskin dampak. Ia menjadi seperti sungai yang kering di hulu, meskipun tampak mengalir di hilir. Para akademisi, mahasiswa, dan peneliti menjadi ahli dalam satu hal: mengutip teori orang lain.
Seolah-olah keberhasilan intelektual diukur dari seberapa lihai kita menempelkan nama-nama besar di daftar pustaka, bukan dari seberapa berani kita mengajukan pemikiran baru yang inovatif. Ia setidaknya lepas dari sedikitnya tiga aspek dasar pengetahuan: teknis, praktis, dan emansipatoris. Hasilnya, ilmu pengetahuan menemui jalan buntu. Ia stagnan, hanya berputar dalam lingkaran kutipan, tanpa keberanian membongkar asumsi lama atau tanpa keberanian untuk melahirkan gagasan yang baru.
Di titik inilah saya merasa perlu menulis esai reflektif ini—sebuah kegelisahan pribadi sebagai bagian dari dunia akademik, seorang dari pinggiran kota yang belajar di kampus besar, sebagai pengusaha kecil yang bergulat dengan realitas ekonomi, dan sebagai bagian dari Desanomia yang mencoba mencari makna lain dari ilmu: ilmu melalui mengalami, ilmu yang membumi, dan ilmu yang membebaskan.
Dari Pemikiran Orisinal ke Industri Kutipan: Sejarah yang Melenceng
Jika kita menengok sejarah, ilmu pengetahuan sejatinya tumbuh karena keberanian orang-orang untuk berpikir melampaui tradisi. Misal, tampak pada seorang Galileo yang memiliki keberanian menantang otoritas keilmuan yang dipercayai gereja. Risikonya jelas: diadili oleh inkuisisi dan dipaksa mencabut pernyataannya. Namun, sumbangsih pemikirannya membuka jalan bagi revolusi sains modern.
Marx tidak menghabiskan waktunya hanya untuk mengutip Hegel atau Feuerbach; dengan elegan dia secara terbuka menantang kapitalisme. Kartini menantang feodalisme patriarki. Pemikirannya bukan hasil kutipan dari buku teks Barat, melainkan buah dari pergumulan dan penderitaannya sendiri. Begitu pula dengan sosok seperti Gunawan Wiradi yang menantang narasi pembangunan yang merendahkan posisi desa sebagai objek pembangunan, serta mereduksi pertanian menjadi sekadar proyek ekstraktif.
Para pemikir ini bukan hanya mengutip pemikiran lama. Mereka memulai dari pengalaman, merenung, bertanya, dan akhirnya melahirkan tafsir baru atas kenyataan. Di tangan mereka, ilmu adalah alat pembebasan, bukan sekadar dokumentasi. Ilmu bukan produk kutipan, melainkan keberanian untuk berpikir dan bertindak secara radikal. Ilmu tidak pernah tumbuh dari sekadar mengulang; ia lahir dari keberanian menafsir ulang. Ilmu adalah anak kandung dari rasa ingin tahu dan keberanian menantang status quo. Berpikir melalui cara ‘mengalami’—sebagai bentuk respons atas realitas itu sendiri.
Yang liyan yang tersingkirkan, otoritas pengetahuan menegasikan pengetahuan itu sendiri.
Namun hari ini, keberanian tersebut telah tergantikan oleh rasa takut. Mahasiswa program master dan doktoral ragu untuk menulis gagasan di luar kerangka teoritis yang sudah ada karena takut ditolak reviewer atau dosen pengujinya sendiri. Para dosen lebih fokus mengejar jumlah publikasi untuk memenuhi borang akreditasi daripada mengajukan gagasan yang bisa jadi liar tapi berharga. Dalam perkembangannya, institusi ilmu pengetahuan justru sering kali menciptakan otoritasnya sendiri yang dapat menjadi represif.
Otoritas pengetahuan yang seharusnya memberikan kebebasan, justru kerap menegasikan pengetahuan-pengetahuan lain yang lahir dari pinggiran, dari pengalaman langsung, dari yang liyan (the other) yang tersingkirkan. Pengetahuan lokal, kearifan tradisional, dan pengalaman hidup sehari-hari sering dianggap tidak ilmiah dan tidak layak masuk dalam kanon akademik. Akibatnya, kutipan tumbuh, tapi pemikiran kering. Akibatnya, ilmu pengetahuan mengalami stagnasi paling tidak selama dekade ini.
Sering kali saya menyaksikan betapa mahasiswa hanya menjadi tukang jahit teori. Dia tak lebihnya hanya seorang juru bicara dari pemikir terdahulu. Mereka memungut potongan dari Foucault, Bourdieu, Derrida, atau Habermas, lalu dijahit seadanya menjadi kerangka penelitian. Hasilnya tentu saja rapuh, karena teori itu tidak tumbuh dari pengalaman mereka sendiri. Mereka hanya meminjam kacamata orang lain tanpa pernah membersihkan kacamatanya sendiri.
Budaya Akademik: Mesin Kutipan Tanpa Imajinasi
Mengapa hal ini terjadi? Jawabannya terletak pada budaya akademik kita sendiri.
Pertama, sistem penilaian dosen dan kampus membuat publikasi menjadi tujuan, bukan sarana. Semakin banyak jurnal terbit, semakin naik nilai kinerja, semakin besar peluang naik pangkat mendorong budaya publish or perish. Maka yang lahir bukanlah penelitian yang menjawab persoalan masyarakat, melainkan penelitian yang memenuhi target kuantitatif. Para akademik bersaing memperebutkan kapital simbolik: reputasi, jabatan akademik, indeks sitasi, dan pengakuan publikasi.
Kedua, dunia akademik di Indonesia terlalu terobsesi pada label ‘internasional’. Publikasi dianggap bermutu hanya jika terbit di jurnal internasional, meskipun sering kali pembahasannya tidak relevan dengan kebutuhan lokal. Sementara itu, pengetahuan lokal, epistemologi desa, dan kebijaksanaan ekologi justru dianggap remeh karena tidak bisa dinilai dengan sistem indeksasi. Ini adalah bentuk baru dari inferioritas intelektual dan mentalitas terjajah, di mana pengakuan dari ‘pusat’ (global North) dianggap lebih penting daripada kontribusi pada ‘pinggiran’ (local context).
Ketiga, ada ketakutan struktural. Budaya akademik kita dibangun dalam iklim yang feodal dan otoriter. Mahasiswa yang berani berpikir di luar pakem sering dianggap ngawur, tidak ilmiah, atau tidak memenuhi standar. Dosen muda yang berani mengambil jalan berbeda sering dikucilkan. Akibatnya, lebih menenangkan bermain di jalur aman: mengutip sebanyak-banyaknya.
Keempat, problematika pendanaan dan ekonomi politik pengetahuan. Banyak penelitian, terutama yang berbiaya besar, dibiayai oleh hibah-hibah kompetitif dari pemerintah atau lembaga donor internasional. Sering kali, agenda penelitian ini telah ditentukan dari atas (top-down), mengikuti prioritas pembangunan pemerintah atau kepentingan donor. Riset yang kritis, yang mungkin mengkritik kebijakan atau model pembangunan yang ada, sering kali tidak mendapat funding atau menghadapi kesulitan dalam publikasi. Produksi pengetahuan dipengaruhi oleh siapa yang membiayai riset, siapa yang mempublikasikan, dan siapa yang menggunakan hasilnya. Akibatnya, penelitian terjebak dalam fungsi legitimasi, menjadi pernis yang mempercantik kebijakan yang sudah ada, alih-alih menjadi mercusuar yang menerangi jalan alternatif.
Budaya semacam ini menjadikan ilmu pengetahuan kita seperti mesin ketik tua: sibuk mengetik ulang apa yang sudah ditulis orang lain, tanpa keberanian mengarang kalimat baru.
Studi Kasus Kemiskinan: 70.000 Jurnal yang Tak Mengubah Realitas
Mari kita lihat satu contoh paling mencolok: kemiskinan.
Menurut penuturan Prof. Dr Pajar Hatma, seorang Guru Besar UIN Sunan Kalijaga dalam pidatonya di Forum 2045 (01/08/2025), secara tegas dia mengatakan bahwa ada lebih dari 70.000 jurnal dan artikel penelitian di Indonesia terindeks SINTA yang membahas tentang kemiskinan. Angka ini luar biasa besar. Hampir setiap universitas punya pusat studi kemiskinan, setiap dosen pernah meneliti rumah tangga miskin, setiap mahasiswa pernah menulis skripsi tentang strategi bertahan hidup kaum miskin.
Imbuhnya lagi, secara tegas dia mengatakan bahwa peneliti sebagai subjek penelitian semakin kaya akibat publikasinya, tapi objek penelitian (masyarakat), nasibnya sama saja, tidak ada yang berubah. Ini bukan sekadar statistik, tapi ironi moral: bahwa ilmu telah menjadi industri, dan masyarakat hanya jadi objek eksotis.
Mari kita tanya secara jujur: apakah penelitian-penelitian itu berhasil mengentaskan kemiskinan? Jawabannya jelas: tidak. Data BPS menunjukkan bahwa angka kemiskinan justru cenderung stagnan, bahkan naik dalam beberapa periode krisis. Program-program yang digadang-gadang sebagai solusi—BLT, PKH, bansos, kartu prakerja—semuanya lahir dari ruang kebijakan yang justru miskin imajinasi. Mereka tidak benar-benar lahir dari penelitian, melainkan dari kalkulasi politik.
Maka 70.000 jurnal itu hanya menjadi monumen kertas. Ia ada, tapi tak berdaya. Seperti museum yang dipenuhi karya seni, indah untuk dipandang, tapi tak pernah menolong orang lapar di jalanan. Penelitian tentang kemiskinan justru menjadi industri yang menguntungkan bagi akademisi, sementara sang ‘objek’ penelitian tetap miskin.
Studi Kasus Lain: Pendidikan, Pertanian, dan Ekologi
Fenomena serupa juga terjadi di bidang lain. Di bidang pendidikan, ada ribuan penelitian tentang metode pembelajaran. Setiap tahun, mahasiswa pendidikan meneliti “efektivitas metode X terhadap peningkatan hasil belajar Y”. Namun, apakah kualitas pendidikan kita meningkat signifikan? Apakah murid lebih kritis, guru lebih kreatif, atau sekolah lebih adil? Nyatanya, pendidikan kita tetap terjebak pada kurikulum yang berubah setiap ganti menteri, sementara murid tetap dipaksa menghafal, alih-alih berpikir.
Di bidang pertanian, penelitian tentang pupuk, bibit, dan teknologi terus berkembang silih berganti. Saya yang pernah belajar perikanan tahu betul, ribuan jurnal membahas inovasi alat tangkap atau teknologi budidaya insentif. Namun ujungnya petani dan nelayan dalam lingkaran kemiskinan. Mengapa? Sebab penelitian hanya berhenti di laboratorium dan tidak menjawab persoalan distribusi, pasar, atau struktur agraria yang timpang. Mereka gagal menjawab persoalan-persoalan struktural yang sesungguhnya menghimpit petani dan nelayan. Penelitian tentang efisiensi justru sering mengabaikan persoalan keadilan.
Di bidang ekologi, situasinya sama. Ribuan artikel tentang mitigasi bencana, adaptasi perubahan iklim, konservasi biodiversitas, dan ekonomi hijau terbit setiap tahunnya. Ilmuwan kita telah memberikan semua peringatan dan data yang dibutuhkan. Namun, di luar tembok kampus, kerusakan lingkungan berlanjut bahkan kian menjadi.
Deforestasi untuk perkebunan sawit dan pertambangan terus terjadi, polusi udara dan sungai tak kunjung usai, bencana hidrometeorologi banjir dan longsor datang silih berganti, dan suhu bumi semakin panas. Ilmu pengetahuan seakan hanya sibuk menjadi pemberi peringatan yang pesimis, tapi tidak memiliki daya untuk menghentikan laju kerakusan model kapitalisme ekstraktif yang menjadi akar dari semua kerusakan ini. Pengetahuan telah menjadi sesuatu yang kita tahu (we know), tapi bukan sesuatu yang kita lakukan (we do).
Mengapa Stagnasi Terjadi?
Ada beberapa alasan mengapa ilmu kita stagnan. Pertama, masalah struktural. Ilmu dikendalikan oleh sistem birokrasi dan pasar. Kampus lebih melayani akreditasi daripada masyarakat. Ilmu telah tereduksi menjadi instrumen administratif, bukan sarana pembebasan. Selain itu, masalah fragmentasi ilmu dalam kurikulum pendidikan kita membentuk bidang ilmu yang spesifik dan kecil. Akibatnya, pengetahuan yang dihasilkan sulit menjawab persoalan kompleks yang bersifat multidimensi, karena masing-masing bidang ilmu terjebak dalam bahasa dan kerangka spesialisasi yang tidak saling terhubung. Kedua, permasalahan psikologis yang membudaya. Mahasiswa dan dosen takut salah. Lebih aman mengutip teori mapan daripada mengajukan gagasan orisinal yang sangat mungkin ditolak.
Ketiga, permasalahan kultural. Budaya akademik di Indonesia masih feodal. Mahasiswa jarang berani menantang dosen, dosen jarang berani menantang institusi. Semua secara berjamaah tunduk pada tradisi kutipan. Keempat, masalah ekonomi politik pengetahuan. Penelitian sering dibiayai proyek. Pengetahuan dijadikan komoditas, diproduksi sesuai pesanan. Sebab itu hasilnya sudah ditentukan sejak awal: untuk melayani kepentingan donor atau pemerintah, bukan masyarakat. Akibatnya, ilmu menjadi bagian dari jejaring kepentingan, bukan instrumen kritis.
Semua faktor ini membuat ilmu pengetahuan tidak pernah benar-benar merdeka. Ia seperti burung yang dipelihara dalam sangkar emas: diberi makan, dipuji karena suaranya, tapi tidak pernah terbang.
Belajar dari Dunia: Menemukan Kembali Keberanian yang Hilang
Namun, stagnasi bukan takdir. Ada beberapa contoh dari dunia yang bisa kita pelajari.
Di India, misalnya, tumbuh gerakan people’s science movement dan people’s knowledge. Gerakan ini menolak monopoli pengetahuan oleh elite akademik dan membangun kerja sama setara antara ilmuwan dan masyarakat. Mereka mengembangkan solusi pertanian lokal yang adaptif, teknologi tepat guna, dan model kesehatan komunitas yang lahir bukan dari jurnal internasional, melainkan dari dialog langsung dengan kebutuhan dan kearifan lokal petani.
Di Amerika Latin, pemikiran Paulo Freire tentang Pedagogy of the Oppressed tidak berhenti menjadi wacana di ruang kuliah. Teori itu menjadi panduan bagi praktik pendidikan kaum tertindas yang membebaskan. Ilmu pengetahuan diarahkan untuk conscientization (penyadaran) dan praksis (refleksi dan aksi untuk mengubah dunia).
Di Indonesia sendiri, sebenarnya kita memiliki khazanah pengetahuan lokal yang sangat kaya dan telah teruji selama berabad-abad—mulai dari sistem subak di Bali yang mengatur distribusi air secara adil, pranata mangsa di Jawa yang merupakan kalender musim berbasis ekologi, hingga hukum sasi laut di Maluku yang berfungsi sebagai konservasi berbasis kearifan lokal. Bukti bahwa masyarakat Indonesia secara aktif menciptakan pengetahuan untuk menyelesaikan masalah mereka sendiri. Semua itu adalah bentuk ilmu pengetahuan yang otentik, yang lahir dari hal-hal yang dialami langsung oleh masyarakat dan keberaniannya untuk membaca, memahami, dan merespons dunianya sendiri.
Sayangnya, pengetahuan yang hidup dan aplikatif ini sering dikubur hidup-hidup oleh dunia kampus yang picik. Ia dianggap tidak ilmiah, tidak teoritis, dan tidak memenuhi standar metodologis akademis Barat. Institusionalisasi pengetahuan mengasingkan masyarakat dari kebijaksanaan praktis. Inilah bentuk penjajahan epistemologi yang halus. Jalan keluar dari stagnasi selalu ada, dan kuncinya adalah satu: keberanian. Keberanian untuk berpikir mandiri, keberanian untuk menulis berdasarkan pengalaman otentik, keberanian untuk merumuskan teori baru dari konteks lokal, dan keberanian untuk melawan kutipan buta yang hanya memproduksi pengulangan.
Refleksi Pribadi: Menjadi Pemikir, Bukan Pengutip
Saya menulis ini bukan sebagai orang luar, melainkan sebagai bagian dari dunia ini. Saya pernah menjadi mahasiswa yang sibuk mencari kutipan demi memuaskan dosen pembimbing. Saya juga pernah menjadi pekerja yang melihat betapa riset perusahaan hanya menjadi formalitas tanpa mengubah cara pandang bisnis. Lalu kini, ketika saya bergulat dengan Desanomia, saya semakin sadar: ilmu harus berpihak pada kehidupan nyata.
Di situlah saya belajar pelajaran yang paling berharga: ilmu sejati itu lahir dari kehidupan, dari pergumulan langsung dengan alam dan masyarakat. Ia bukan sekadar produk dari mengutip dan merangkum buku-buku teks. Kutipan itu penting untuk berdialog dengan tradisi, tapi ia tidak boleh menjadi penjara yang membunuh daya cipta, daya imajinasi kita.
Sebab itu, saya percaya tugas generasi kita sekarang adalah mengembalikan keberanian itu. Tugas kita adalah menjadi pemikir, bukan sekadar pengutip. Menjadi penggali pengalaman langsung, bukan sekadar pencatat bibliografi. Menjadi penjelajah yang tidak takut tersesat untuk menemukan pulau pengetahuan baru, bukan sekadar turis yang berkeliling di tempat-tempat yang sudah dipetakan oleh orang lain.
Saatnya Menyalakan Api Baru: Transkonstruksi Ilmu Pengetahuan
Ilmu pengetahuan kita hari ini memang sedang mandek dan stagnan. Ia sibuk dengan kutipan, tapi lupa dengan kehidupan. Ia bangga dengan ribuan jurnal yang terindeks, tapi gagal total dalam menjawab persoalan-persoalan nyata seperti kemiskinan, pendidikan yang lumpuh, pertanian yang timpang, dan krisis iklim yang mengancam. Maka dari itu perlu adanya bentuk baru yang lebih emansipatoris melalui cara mengalami sebagai syarat memproduksi pengetahuan: transkonstruksi ilmu pengetahuan.
Ia tidak merobohkan bangunan lama untuk diganti bangunan baru. Apalagi membangun bangunan yang sama. Ia melengkapi, memperbaiki, dan memperindah bangunan lama menjadi bangunan baru yang lebih kokoh. Ia tidak berjalan dalam alam berpikir induksi dan deduksi, ia melampauinya karena mengalaminya secara langsung. Pengetahuan tidak hanya data empiris, tapi juga makna yang dialami secara langsung oleh subjek (lived experience). Sehingga stagnasi ilmu pengetahuan hilang dan terus terproduksi menjadi lebih relevan, kontekstual, dan responsif sesuai realitas yang ada.
Kalau kita hayati bersama, stagnasi ini bukanlah akhir dari segalanya. Ia justru bisa menjadi titik balik, sebuah momen refleksi kolektif, jika kita memiliki keberanian untuk menyalakan api baru: api keberanian berpikir. Kita harus berani menulis dengan jujur dari pengalaman dan pengamatan kita sendiri, karena kita mengetahui dunia bukan hanya lewat rasio, tapi pengalaman embodied.
Berani mengajukan teori, konsep, atau model yang mungkin pada awalnya terdengar aneh, ditertawakan, atau ditentang, tapi lahir dari kedalaman analisis atas realitas Indonesia. Dengan kata lain, pengalaman praksis menjadi sumber epistemologi yang melampaui logika formal. Berani menolak untuk menjadi mesin kutipan yang hanya memproduksi derivasi dan replika. Berani meruntuhkan sekat feodal antara dosen dan mahasiswa, antara kampus dan masyarakat, antara teori dan praktik.
Jika tidak, maka ilmu pengetahuan akan terus mandek dalam menara gadingnya, sementara dunia nyata di luar sana akan terus hancur oleh berbagai krisis menuju kepunahan. Pilihan ada di tangan kita: tetap menjadi kurator dari pemikiran orang lain atau menjadi pencipta pemikiran kita sendiri. Mari kita pilih untuk mencipta. Mari kita nyalakan api itu.
Suka dengan tulisan ini? Kamu bisa mengirimkan donasi kepada penulis agar penulis lebih semangat menulis.








