Menghidupkan Kembali “Si Pitung” sebagai Narasi Perlawanan

Penulis

Jauh sebelum One Piece, “Si Pitung” sudah lebih dulu hadir sebagai simbol perlawanan dalam denyut nadi masyarakat Betawi. Cerita tentang “Si Pitung” mengakar menjadi warisan budaya selama puluhan tahun. Pitung, dikenal dengan nama asli Ahmad Nitikusumah, anak dari pasangan Bang Piung dan Mak Pinah yang tinggal di daerah Rawabelong. 

Menurut cerita orang tua terdahulu, Pitung merupakan pahlawan bagi masyarakat Betawi. Dia menjadi garda terdepan melawan kezaliman pemerintahan kolonial. Versi lain juga bercerita, Pitung sering kali merampok orang-orang kaya, kemudian hasil harta rampasannya akan dibagikan kepada rakyat miskin.

Pitung sangat lihai dalam hal seni bela diri silat. Hal itu tak dapat dielakkan karena dia berguru pada Haji Naipin. Di padepokan Haji Naipin pula dia mengenyam pendidikan agama. Tak heran, apabila pemerintah kolonial begitu kesulitan untuk menangkapnya, bahkan dalam salah satu sumber menyebutkan, “pihak berwenang menawarkan uang sebesar 400 gulden bagi siapa saja yang bisa menyerahkan Pitung”.

“Kompeni bangsat!” begitulah teriakannya dalam film bertajuk “Si Pitung” yang dirilis pada 1970. Meski sudah merambah dalam ranah pop culture, sejak dekade 90-an hingga kini, cerita “Si Pitung” hanya tinggal sebatas cerita yang menghiasi buku pelajaran sekolah. Menjadi cerita masa lampau yang dikenal dan diingat sebagai ‘dongeng’ untuk anak-anak. 

Merajut Wacana “Si Pitung” sebagai Simbol Perlawanan

“Si Pitung” sebagai kearifan lokal, tentu menjadi budaya yang mengakar kuat dalam masyarakat. Laiknya cerita rakyat pada umumnya, legenda ini memang salah satu dari banyaknya mitos yang tumbuh, tetapi perlukah kita mendefinisikan ulang soal mitos itu sendiri?

Roland Barthes dalam bukunya yang berjudul Membedah Mitos-mitos Budaya Massa mendefinisikan mitos sebagai suatu sistem komunikasi. Mitos semacam mengandung suatu pesan untuk disampaikan kepada khalayak. Semua hal yang terhubung dalam mitos bukanlah sebuah gagasan, ide, ataupun teori, melainkan sistem pertandaan. 

Jika kita sedikit menelisik, cerita “Si Pitung” dalam budaya masyarakat Betawi bukan hanya sekedar sebuah dongeng. Kalaupun tokoh bernama Si Pitung benar-benar tak nyata, hanya sebatas rekaan semata, perlu diingat bahwa “Si Pitung” memiliki nilai historis dalam khazanah budaya masyarakat Betawi. Artinya, mitos sebagai suatu pembicaraan tidak melewati dan masuk melalui metodologi sejarah yang kaku karena kebenaran ceritanya hingga kini masih menjadi perdebatan.

Tokoh Si Pitung sendiri punya perspektif berbeda dari berbagai kalangan dan etnis. Misalnya dalam budaya masyarakat Betawi, ia dikenal sebagai seseorang yang memiliki kepribadian luhur, sementara dalam versi cerita kolonial ia dikenal sebagai penjahat yang sering merampok harta tuan tanah. Sekilas ada semacam signs atau tanda yang ingin disampaikan dari dua cerita dengan versi yang berbeda. 

Ketokohan Si Pitung sendiri dibangun melalui karakter yang begitu dekat dengan rakyat. Ia merupakan seorang golongan kelas bawah yang murka melihat penindasan. Bahkan dalam beberapa sumber menyebut bahwa Pitung merupakan seorang petani. Ia menimba ilmu agama di padepokan Haji Naipin sembari belajar silat. Kemudian, mulai merampas harta tuan tanah dan dibagikan kepada rakyat miskin hingga menjadi buronan pemerintah kolonial. Mirip cerita Robin Hood dalam versi kebudayaan lokal.

Uniknya pemerintah kolonial merekonstruksi karakter Si Pitung bertabrakan dengan moralitas konsensus, yakni seorang pencuri nakal yang merampas harta tuan tanah. Pemerintah kolonial mencoba menggiring ‘bahasa moralitas’ ke dalam cerita karena cukup bertentangan dengan karakter ‘Si Pitung’ yang belajar agama. Bukankah seorang yang pandai agama tidak cukup memiliki motif untuk mencuri?

Versi cerita Si Pitung sebagai seorang pahlawan merupakan representasi dari apa yang disebut Barthes sebagai “mitos di sayap kiri”. Penggunaan kata melawan dan penindasan dalam narasi cerita merupakan emansipasi kaum tertindas. Akan tetapi, “mitos di sayap kanan” mengaburkan segalanya. Pembenturan moralitas soal “mencuri” sebagai tindakan tidak terpuji direduksi begitu sempit hanya dalam ranah “agama”. Kelas Borjuis mencoba untuk mengaburkan realitas menjadi sebuah ideologi.Itulah yang terjadi dengan masalah moral yang dimasukkan dalam narasi cerita ‘Si Pitung’.

Konteks wacana “Si Pitung” sebagai bentuk atau simbol perlawanan merupakan upaya anti-tesis politik pengetahuan rezim saat ini. Jika kita membicarakan pengetahuan positif, maka rezim memiliki segala bentuk sumber daya yang dibutuhkan. Seperti misalnya upaya hegemoni pengetahuan lewat penulisan sejarah resmi, jelas pemerintah memiliki akses terhadap sumber data. Misalnya juga dalam kasus rasio angka pengangguran. Pemerintah menyebut bahwa rasio angkanya terus mengecil sehingga menimbulkan kesan optimistik terhadap pengangguran kerja yang berukurang. Namun apakah dengan angka kemiskinan yang menurun, ketimpangan kelas akan hilang?

Segala bentuk wacana akan selalu didistribusikan melalui cerita atau mitos. Mitos tak hanya sekedar cerita yang sukar dipercaya, tetapi bagaimana mitos menjadi wacana epistemologi melalui sistem pertandaan. Apabila masyarakat tak bisa menjangkau pengetahuan, maka cerita dari generasi ke generasi dapat menjadi kontra wacana untuk melawan propaganda rezim.

‘Si Pitung’, Denyut Nadi Masyarakat Betawi

Kakek saya mungkin salah satu orang yang begitu terobsesi oleh ketokohan Pitung. “Belajar ngaji yang pinter tong biar kayak Si Pitung,” ucapnya kepada saya dulu. Saya ingat betul saat masih berumur 10 tahun, cerita mistis dan kesaktian tentang Pitung begitu sering dibicarakan, mulai dari meja makan, gang-gang sempit, pemancingan, hingga padepokan silat.

Cerita mistis akan kesaktiannya sangat beragam. Hal yang cukup untuk diingat sampai sekarang adalah ‘Si Pitung’ bisa berubah menjadi ayam saat ditembak oleh kompeni Belanda. Cerita itu selalu menjadi napas heroisme bagi setiap anak kampung Jakarta di tahun 2000-an. Cerita tentang kesaktiannya bukan terletak pada kesan mistika yang terkandung, tetapi bagaimana metode penceritaan menjadi denyut napas kebudayaan.

Cerita menarik lainnya versi tentang kematian Si Pitung. Ketika Pitung tertembak oleh kompeni, bagian tubuhnya dikubur secara terpisah. Badannya dikubur di daerah Rawabelong, sisanya di daerah yang lain. Saat itu, banyak orang percaya, apabila bagian tubuhnya disatukan, Si Pitung akan bangkit melawan kezaliman kompeni.

Nilai-nilai luhur ‘Si Pitung’ seperti membantu rakyat miskin dan menentang penindasan selalu menjadi pesan moral yang dibawakan. Kepemahaman terhadap suatu cerita rakyat justru lebih menyasar pada nilai-nilai praktis bukan rasionalitas seperti hal nya pengetahuan empirik. 

Orang-orang tak pernah berpikir secara ilmiah misalnya dalam sudut pandang anatomi manusia seperti bagaimana manusia dapat berubah menjadi ayam atau bagian tubuh yang sudah dimutilasi ketika disatukan dapat menghidupkan kembali rohnya. Akan tetapi, cerita rakyat yang terkesan tak masuk akal justru tumbuh subur dalam masyarakat hingga menjadi pedoman untuk menjalani hidup.

Sekarang narasi ‘Si Pitung’ sudah tak pernah lagi terdengar. Ceritanya tertimbun bersamaan dengan reruntuhan budaya Betawi lainnya yang semakin lama semakin pudar. Budaya populer seperti anime dan film superhero kini mulai menggantikannya. Cerita dari generasi ke generasi terhenti karena mungkin menganggap cerita “Si Pitung” hanya sebagai dongeng yang tak jelas kebenarannya. Namun eksistensi “Si Pitung” dalam masyarakat Betawi bukan sekedar cerita dongeng, melainkan sebagai wacana yang hidup untuk menentang pemerintahan zalim.


Suka dengan tulisan ini? Kamu bisa mengirimkan donasi kepada penulis agar penulis lebih semangat menulis.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *