Tulisan ini bukan untuk mengulas secara kritis film Bolehkah Sekali Saja Kumenangis. Saya bukan seorang sineas, gak punya kapasitas untuk mengkritik atau sekadar ‘mencibir’ film. Nonton bioskop jarang, selalu ketinggalan series yang trending, dan gak punya akun Netflix Amazon, Disney+, atau sejenisnya. Cuma orang yang suka ngisi waktu buat nonton film kalau lagi ada waktu luang bersama pasangan. Namun, izinkan saya untuk tetap menuliskan pikiran yang berangkat dari film yang sudah tayang di Oktober 2024.
Film ini mengisahkan Tari (Prilly Latuconsina) yang punya masalah mental karena didikan ayahnya, Pras (Surya Saputra). Tari ini gak boleh nangis sejak kecil. Ayahnya Tari sering kali melakukan kekerasan fisik ke istrinya (Dominique Sanda). Perilaku kasar ayahnya Tari semakin menjadi jadi ketika dia kena masalah di tempat kerja yang berujung PHK. Tari yang stress karena lihat ibunya selalu diperlakukan kasar oleh ayahnya, akhirnya ikut support circle dan berusaha buat ngajak ibunya keluar dari rumah agar menjauh dari ayahnya yang kasar.
Bagi saya, ketika nonton film ini ada dua hal yang menarik, yaitu kerja dan kesehatan mental. Dua hal inilah yang menjadi topik bahasan saya.
Mengejar Materi, Melalaikan Cinta Kasih
Kondisi sekarang, apa-apa butuh uang. Bahkan, untuk bisa kerja aja harus ngeluarin uang dulu. Ada yang jual tanah, bahkan ada yang harus ngasih uang dulu ke orang dalem. Kerja niatnya cari uang, malah harus ngeluarin uang dulu. Ya begitulah, salah satu realita sekarang yang terjadi.
Realita saat ini juga gak bisa dijauhkan dengan sistem yang ada. Sistem yang berjalan saat ini ialah kapitalisme yang berkembang secara global dengan bentuk pasar bebas atau neoliberalisme. Neoliberalisme sangat mengedepankan budaya individualisme. Kalau kata David Harvey, individualisme membuat individu harus mandiri, produktif, dan gak boleh bergantung ke siapa pun. Neoliberalisme juga memberikan pandangan bahwa kalau mau menjadi manusia yang merdeka secara penuh, ya harus terus sehat, produktif, dan kaya. Kekayaan dibutuhin buat mempertahankan kemerdekaan. Hal inilah yang membuat manusia jadi fokus untuk mencari kekayaan.
Kondisi itu juga diperlihatkan di film. Ada dua tokoh yang memperlihatkan bagaimana mereka benar-benar mengejar materi. Bahkan, sampai menggadaikan waktu kasih sayang keluarganya.
Agoy (Kristo Immanuel) menjadi tokoh awal yang menggambarkan individu yang sangat mengejar materi. Dia salah satu teman Tari di support circle. Alasan dia masuk ke kelompok itu karena pengalaman masa lalunya. Agoy bercerita dia sangat mencintai kamera karena dikenalkan oleh orang tuanya. Cinta terhadap kameranya sampai mengantarkan dia menjadi photographer. Agoy menghabiskan waktunya untuk bekerja memotret ke sana kemari hingga tidak memberikan waktu untuk keluarganya. Bahkan, Agoy memilih menghabiskan waktu dengan kameranya dan akan memberikan uang ke orang tuanya untuk mengganti waktu atas dirinya. Namun, hal itu dia sesali ketika orang tuanya meninggal dunia. Agoy tidak dapat bertemu kembali dengan orang tuanya dan uang tidak bisa menghidupkan orang mati.
Pras, ayah Tari menjadi seorang pekerja. Tidak banyak dijelaskan bagaimana dia menghabiskan waktu untuk uang. Hal yang bisa digambarkan, Pras merasa sudah berjasa karena menafkahi seluruh keluarganya. Pras merasa dia memiliki kuasa atas kehendak keluarganya, sehingga dia memiliki hak untuk kasar dan memerintah anggota keluarganya. Bagi Pras, uang sangat cukup untuk membuat keluarganya nyaman. Namun, hal tersebut salah. Istrinya Pras sering kali mendapatkan perlakuan kasar, Tari mentalnya terdampak, dan kakaknya Tari memilih kabur dari rumah karena tidak kuat atas perilaku ayahnya. Ketika Pras tahu apa yang dia lakukan salah dan justru merusak mental anak-anaknya, dia menyesal di akhir film.
Overwork dan Stress: Keluarga yang Kena Dampaknya
Kondisi sekarang, harga apa-apa naik. Mau nikah, harga WO naik. Mau nyekolahin anak, kehambat zonasi dan akhirnya nyekolahin di sekolah swasta yang mahal. Gaji juga naik, tapi dikit. Kenaikan harga tinggi tapi gaji naiknya dikit, bikin orang makin kreatif buat memenuhi kebutuhannya. Perokok tiap akhir bulan, merek rokoknya makin aneh-aneh. Para pecinta kopi sempat ngejar diskon kopi dengan menjual harga dirinya, dengan mempraktekkan jurus anime yang dimodifikasi di salah satu coffee shop dengan logo kucing buat dapet kopi seharga 12k. Semoga video para pecinta kopi yang mengorbankan harga dirinya tidak tersebar. Namun, yang paling umum untuk tetap memenuhi kebutuhan dirinya ya dengan kerja lembur bagai kuda~~~
Kerja lembur menjadi pilihan untuk mendapatkan uang lebih. Baik buat beli kopi, nikah, atau memenuhi kebutuhan keluarganya. Kerja lembur pada akhirnya mengurangi waktu untuk keluarga. Menurut Karl Marx, kerja di bawah sistem kapitalisme hanya akan membuat manusia menjadi asing dari kehidupan. Selama bekerja, pekerja hanya akan mengikuti perintah dan perintah tanpa henti. Tidak hanya perintah, pekerja juga menjadi sasaran empuk kemarahan dari atasannya. Selama bekerja, pekerja melepaskan dirinya dari esensi seorang manusia. Hal ini yang bagi Karl Marx disebut alienasi.
Untuk memenuhi kebutuhannya, mau tidak mau pekerja mengalami overwork dan berakhir stress karena burn out. Byung-Chul Han, di bukunya yang berjudul Burnout Society, menjelaskan bahwa pekerja mengeksploitasi dirinya. Eksploitasi diri akan membuat pekerja bekerja keras untuk mendapatkan kesuksesan dan pencapaian tertentu. Apabila gagal, tetap akan bekerja, bahkan hingga lelah dan depresi. Lelah dan depresi ini, melalui penelitian Milkie dan Nomaguchi yang berjudul “Out of Sync; Work and Its Impact on Family Mental Health” juga dapat berdampak ke kesehatan mental keluarganya, seperti yang dialami Tari bersama kakak dan ibunya karena stress yang dibawa oleh sang ayah.
Ketika menonton film Bolehkah Sekali Saja Kumenangis, cukup tergambarkan bagaimana para anak muda saat ini mengalami masalah mental. Kondisi sistemlah yang membuat para pemuda semakin sulit menghadapi hidup. Namun, seperti di akhir film atau bacaan, tetap ada nilai yang bisa dipetik dan diterapkan. Support circle menjadi instrumen penting untuk mendukung Tari dan teman temanya dari trauma masa lalu. Saya tidak tahu, support circle di film itu berbayar atau tidak. Support circle harus diperluas, diperbanyak, dan difasilitasi oleh negara melalui dinas dan kampus, biar gak nambah beban ekonomi para anak muda. Kalau berbayar, ya negara gak peduli sama mental anak muda, cuma peduli uangnya.
Referensi
Han, B. C. (2024). Burn Out Society. Penerbit Independen
Harvey D. (2005). A Brief History of Neoliberalism. Oxford Press
Marx, K. (2002). Naskah-Naskah Ekonomi dan Filsafat Tahun 1844. Hasta Mitra
Milkie, M & Nomaguchi, K. (2017). Out of Sync: Work and Its Impact on Family Mental Health. Footnotes https://www.asanet.org/footnotes-article/out-sync-work-and-its-impact-family-mental-health/
*Ulasan film Indonesia berjudul Bolehkah Sekali Saja Kumenangis (Sinemaku Pictures, 2024) yang disutradarai oleh Reka Wijaya.
Suka dengan tulisan ini? Kamu bisa mengirimkan donasi kepada penulis agar penulis lebih semangat menulis 🙂








